
Richo bouttier:
Pagi ini aku sengaja bangun lebih pagi bukan tanpa alasan, aku sudah mematai jadwal jam pergi ke kantor gadis itu beberapa hari yang lalu dan aku yakin 5 menit lagi dia akan membuka pintu kamarnya.
Dan disinilah aku sekarang di depan pintu kamar milik gadis bermata biru laut itu. berusaha menyambut paginya dengan seulas senyuman aku merasa benar-benar seperti orang yang bodoh saat ini.
Aku menghitung dalam hati 1,2,3,4,5,6 dan tara gadis itu keluar dari pintu kamarnya dengan ekspresi wajah yang kaget dan aku ingin sekali tertawa melihat ekspresinya itu.
“astaga bapak ngapain di sini? Ngagetin aja”
what kenapa malah pertanyaan itu yang muncul dari mulutnya sialan
“saya pindah ke aparterment ini karena aparterment saya sedang di renofasi.
Dan saya lihat kemarin kamu masuk ke kamar ini jadi saya Cuma mau ngajak kamu berangkat ke kantor bareng karena kita kan searah juga daripada kamu nunggu taxi lagi nanti telat.”
Jawab ku asal arghh aku benar-benar merutuki diriku sendiri kenapa saat ketemu dengan gadis ini aku malah jadi gengsi dan menjaga wibawa sialan maki ku dalam hati.
“oo gitu saya ga ngerepotin bapak nih kalau bareng?”
tanya gadis itu polos tumben sekali dia tidak menolah mentah tawaran ku bagus deh kalau begitu.
Kami pun jalan beriringan menuju bassement setelah di dalam mobil aku kembali memecah keheningan kami
“kamu tumben ga nolak tawaran saya biasanya kamu punya sejuta alasan buat ngehindarin saya.”
Tanya ku sedikit penasaran juga
“ya kalau untuk yang satu ini saya ga mungkin nolak pak karena saya hafal banget nanti kalau saya nolak bapak bakalan potong gaji saya”
aku tertawa mendengar penjelasan konyolnya.
“ko bapak ketawa? Emang bener kan bapak ngancamnya ga etis sih jadi saya nurut aja itung-itung hemat ongkos pak.”
“oke kalau gitu mulai besok kita berangkatnya barengan dan saya ga mau ada penolakan dari perintah saya kamu ga mau kan saya potong gaji kamu.”
Gadis itu hanya memutar bola matanya dan mengacungkan jempolnya dasar gadis aneh dalam seketika ekspresi wajahnya selalu berubah-ubah membuat aku gemas ingin mencium lesung pipinya.
Setelah mobil memasuki halaman parkiran kantor dengan secepat kilat elena keluar dari mobil dan mengucapkan terimakasih belum sempat aku memangilnya gadis itu sudah secepat kilat meninggalkan aku sendiri di dalam mobil.
Astaga gadis konyol itu apa dia tidak bisa bersikap sedikit manis benar-benar membuat aku sangat gemas dengan tingkahnya.
Aku keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju lounge hotel memeriksa resto milik mom dan mengambil beberapa laporan bulanan mengenai pemasukan resto.
Setelah selesai dengan urusan resto milik mom aku langsung menuju ke ruangan kerjaku entah kenapa semua mata menatap ku heran.
Mungkin gosip tentang kedekatan ku dengan Elena sudah menyebar aku harap gadis itu tidak menerima tatapan sinis dari karyawan wanita yang lain.
Hey aku bukannya terlalu percaya diri namun sejak insiden karyawan ku yang saling cakar mencakar karena berebut dokument untuk di antarkan ke ruangan ku entah mengapa aku jadi sedikit kahwatir dengan posisi Elena.
Setelah melewati meja kerja gadis itu aku sedikit tersenyum ketika sedang bekerja seperti ini wajahnya terlihat sangat serius dan sedikit jutek.
Aku masuk menuju ruangan ku di iringi oleh Jimmy
“bagaimana pembangunan manshion milik mu apakah berjalan lancar aku dengar dari mom kau membangun manshion di sekitar manhattan?” tanya ku kepada Jimmy.
“yah lumayan proggres saat ini berjalan lancar, hanya saja sepertinya aku memerlukan jasa Rikoll smith untuk mempercantik manshion yang akan aku tinggali nanti.”
“baiklah akan aku kirim contact person Rikoll kepada mu nanti jika aku sudah selesai memepriksa laporan meeting hari ini.”
“oh ya sepertinya kau mulai dekat dengan ele?”
“siapa ele Jimm? Aku tidak sedang dekat dengan gadis manapun”
jawabku sembari mengerutkan keningku bingung dengan maksud Jimmy.
“ele si Elena karyawan baru di kantor kita heleh pakai ngeles segala kau terlihat sepertinya menyukainya man sepertinya aku harus mundur jika bersaing dengan mu” jawab Jimmy sembari mengambil beberapa dokument dari meja kerja ku.
“kali ini aku suka dengan gadis pilihan mu man, daripada si model cerewet itu yang selalu membuat kepala ku pening”
kata Jimmy sembari berjalan ke arah pintu keluar aku hanya tertawa saja mendengar celotehannya.
Yah ternyata tidak hanya diriku saja yang direpotkan dengan tingkah Lindha yang terkadang terkesan seperti anak-anak itu ternyata Jimmy juga merasa kewalahan mengingat tingkah Lindha yang selalu posesif terhadap ku.
Ternyata berimbas juga kepada Jimmy salah satu tingkah konyol Lindha pasti menelfone Jimmy untuk menanyakan aktivitas apa saja yang aku lakukan benar-benar konyol.
Aku kembali membuka laptop kerjaku memeriksa semua e-mail yang masuk dan membaca sebagian yang menurut ku penting lalu mulai mencatat apa saja yang akan aku lakukan beberapa minggu kedepan.
Entah mengapa sampai saat ini aku belum juga mengunakan jasa seketaris aku lebih suka melakukan semua pekerjan ku sendirian termasuk menjadwal ulang pertemuan-pertemuan ku.
Kemudian aku mulai membuka beberapa amplop dukument yang di kirimkan dari resort ku yang terletak di dubai aku membukanya dan mempelajari beberapa laporan dari resort itu.
Setelah selesai aku langsung memberikan beberapa laporan ke e-mail elena untuk segera di pelajari dan menyusunnya dalam draft berbentuk exel agar aku mudah menjelaskannya ketika presentasi untuk meeting minggu depan.
Sepertinya jadwal ku dalam beberapa minggu kedepan tidak padat aku akan memberitahu Max tentang rencana kunjungan kerja yang akan aku lakukan minggu depan.
Aku membuka e-mail dan mengirimkan surat tugas yang akan aku lakukan beberapa minggu ke depan. Aku juga menyuruh Max untuk menyiapkan 2 kamar karena rencananya aku akan pergi dengan Elena. Sekali-kali mengajak gadis itu bekerja dan berlibur pasti menyenangkan dengan begitu aku bisa lebih dekat denganya.
Saat aku sedang asik dengan beberapa rencana mengenai pekerjaanku di Florest nanti tiba-tiba saja pintu ruangan ku di ketuk dari luar dan saat pintu terbuka aku melihat sosok gadis yang paling menyebalkan.
Baru saja aku dan Jimmy membahas mengenai gadis itu, kini dia sudah berdiri di hadapan ku dengan senyuman palsunya aku yakin pasti dia memiliki tujuan lain saat ini. Entah mungkin mengajakku berkencan kemudian meminta aku untuk membelikan sesuatu barang yang menjadi incaranya aku sangat hapal sekali dengan tingkah laku Linda dia akan mencoba merayuku untuk membelikan apa saja yang dia inginkan.
“ada apa kau datang kemari tumben sekali?” tanya ku tanpa basa-basi kemudian dia melangkah ke arah ku dan langsung duduk di pangkuan ku ini benar-benar memuakkan.
“aku merindukan mu hooney, apa kau tak merindukan ku kau bahkan tak memberikan kabar mu kepada ku”
jawabnya sembari mencium pipi ku tanpa permisi seperti biasa menyentuh ku tanpa rasa malu.
“Aku sedang sibuk Lindha aku banyak pekerjaan , dan jika kau kemari untuk menganggu pekerjaan ku maka pergilah aku tidak merindukan mu”
jawabku acuh sembari melepaskan lengannya yang bergelayut maja di leher ku.
“kau jahat sekali kenapa kau jadi berubah seperti ini? Apa karena gadis jalang itu mulai berkerja di kantor mu?”
tanyanya sembari mendudukan tubuhnya di meja kerja ku.
“siapa yang kau maksud jalang? Dia Elena karyawan baruku penganti Vika”
“jadi jalang itu bernama Elena bagus sekali tentu saja kau senang berada di kantor karena bisa terus berdua denganya.”
Mendengar jawabnya aku benar-benar muak “hey bukankah kita tidak memiliki status apapun kau bukan kekasih ku Lindha.
kita hanya patner in sex tidak lebih dan cara bicara mu ini seperti seorang kekasih yang sedang cemburu saja.”
“yah mungkin kau hanya menganggap aku sebagai patner in sex. namun bagi ku kau lebih dari itu jika aku tidak bisa mendapatkan mu maka jangan harap wanita lain akan bisa memilikimu ingat itu tuan Bouttier aku tidak akan melepaskan mu dengan mudah.”
“oh yah menarik sekali silahkan saja jika kau berani macam-macam dengan ku atau berani menyentuh Elena kau akan berurusan langsung dengan ku.”
“dengan senang hati darling aku akan tunjukkan siapa diri ku kau tidak bisa meremehkan ku begitu saja hooneey”
kemudian Lindha pergi meninggalkan ruanganku.
Namun saat aku melihat seringai licik dari bibirnya ketika dia menutup pintu ruangan ku entah mengapa aku menjadi sedikit waspada aku tahu Lindha bukan wanita biasa dia bisa saja berubah menjadi makhluk paling menakutkan.
Bahkan sampai saat ini aku masih penasaran dengan wanita yang pernah aku ajak berkencan mereka rata-rata ada yang secara terang-terangan tidak ingin berkencan dengan ku kembali.
Dan aku teringat aku pernah mendengar berita mengejutkan dari salah satu patner bisnis yang pernah kencan dengan ku ketika pulang dari kantor dia di cegat oleh orang yang tidak di kenal.
Alhasil dari cegatan itu dia di beri peringatan untuk tidak mendekati dan berhubungan apapun dengan ku bahkan kontrak kerja yang telah terjalin pun akhirnya harus putus begitu saja.
Awalnya aku tidak yakin jika Lindha yang dengan bar-bar akan melakukan hal segila itu mengancam semua wanita yang dekat dengan ku namun saat aku mencoba mendekati Vivian dan memintanya berterus terang tentang dalang dari pencegatannya.
Dia berkata jika Lindha lah yang menyuruhnya untuk menjauhi ku dan membatalkan segala kontrak kerja dengan ku.
Aku tahu dia sangat bar-bar dan bertindak agresif namun aku tidak ingin gegabah dengan bertindak cepat untuk membongkar keburukannya tapi setalah dia mengancam ku sebaiknya aku perlu waspada dan menjaga jarak dengannya.
Setelah beberapa jam aku pun membereskan beberapa pekerjaanku termasuk jadwal perjalanan ku menuju Florest sepertinya aku harus bertemu dengan Vivian.
Aku ingin memastikan apakah benar dalang dari penyergapannya satu tahun yang lalu adalah Lindah jika benar perempuan itu yang melakukannya maka aku harus segera melenyapkannya.
Aku menghubungi Vivian dan mengajaknya untuk makan siang bersama meskipun dia membatalkan proyek bersama ku namun hubungan kami tidak pernah putus.
Meskipun wanita itu sangat susah untuk ku ajak bertemu dan jika kita akan bertemu maka dia pasti akan membawa beberapa bodyguard yang mendampinginya.
Namun beberapa bulan setelah kejadaian aku terus memaksa dan berusaha melakukan cara apapaun agar dia mau bertemu dengan ku.
6 bulan setelah kejadian naas itu barulah Vivian mau bertemu denganku itupun dengan pengawalan yang super ketat saat pertama kali aku melihatnya aku sedikit shock juga karena beberapa luka belum bisa hilang dan dia berencana ingin melakukan operasi plastik.
Operasi itu dilakukan untuk menghilangkan beberapa luka yang panjang dan dalam di bagian pipi kirinya akupun langsung memberikan selembar check untuk biaya pengobatnnya.
Meskipun awalnya gadis itu menolak namun aku tetap memaksanya karena menurutku kejadian naas itu merupakan kesalahan ku juga yang tidak bisa mengantarkanya pulang dari kantor malam itu.
Setelah membuat janji temu dengan Vivian aku langsung membereskan beberapa pekerjaan ku dan bergegas keluar dari ruangan kerjaku.
“Jimm jika ada tamu katakan padanya aku ada urusan di luar dan kemungkinan tidak kembali lagi ke kantor jika ada meeting nanti sore tolong ubah jadwal meeting jadi besok pagi”
“baiklah aku akan menghendel beberapa pekerjaan mu tenang saja berkas akan aku siapkan besok pagi di meja mu”
“okey aku tinggal”
Aku langsung menuju bassement parkir kantor dan menuju resto tempat Vivian menunggu ku resto itu terletak di kawasan utara central park.
Jadi membutuhkan beberapa jam perjalanan menuju ke resto itu kami memang sengaja bertemu di tempat yang cukup jauh.
Semua karena Vivian yang masih sedikit trauma untuk bertemu dengan ku.
Resto yang akan aku tuju itu sangat terkenal di kawasan Seven Avenue atau yang biasa di kenal sebagai Adam Clayton Powell Jr.Boulevard.
kawasan ini merupakan jalanan raya di West Side Borough kota Manhattan yang mengarah ke seletan di hilir Central Park dan jalan dua arah di utara taman.
Jalanan ini dipotong oleh Central Park yaitu sebuah taman yang cukup luas di kota New York taman yang di penuhi berbagai jenis tumbuhan ini sangat ramai meskipun malam hari.
Bahkan dari dalam taman kau akan menikmati pemandangan yang menakjubkan di mana gedung-gedung pencakar langit bertebaran dan juga pohon-pohon rimbun yang membuat suasana menjadi sangat sejuk.
Jika musim semi atau gugur banyak sekali orang yang akan datang berkunjung di taman kota ini sekedar berfoto atau menikmati semilir angin yang berhembus menerpa kulit.
Setelah sampai di depan resto aku langsung menemui Vivian resto ini terletak pas sekali di depan taman Central Park sehingga para pengunjung yang datang dapat menikmati pemandangan yang ada di taman.
“hey bagaimana kabar mu dude?”
tanya Vivian gadis itu memelukku sembari menyerahkan buku menu kepadaku.
“aku baik,namun ada beberapa hal penting yang ingin aku tanyakan kepadamu dan dimana bodyguard mu tumben sekali mereka tidak mengikuti mu?”
“kau ingin bertanya tentang apa dude? Kau salah aku selalu pergi bersama mereka. Hanya saja saat ini mereka sedang aku suruh berjaga di sekitar central park aku kasihan kepadamu sepertinya kau membutuhkan privasi dengan ku.”
“oh god thank’s Vi aku memang memerlukan privasi denganmu karena ini mengenai Lindha.”
“ya tuhan gadis Bar-bar itu lagi, ada apa? apa dia membuat masalah kembali? Bukankah kau sudah ku peringati untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita Pysicopat itu.”
Aku hampir saja tersedak minuman ketika melihat ekspresi wajah Vivian saat kami membicarakan Lindha dan aku sangat yakin sepertinya Lindha adalah wanita yang sangat berbahaya.
“aku tidak menjalin hubungan apapun dengannya Vi, namun dia berhasil mengancam ku tadi pagi”
“oh ya? Dia mengancam mu dengan apa?” tanya gadis itu sembari meniup cangkir cappucinonya.
“tadi pagi dia datang ke kantor ku dan aku menolaknnya untuk berkencan kemudian dia marah dan mengatakan JIKA AKU TIDAK BISA MENDAPATKAN MU MAKA WANITA MANAPUN JUGA TIDAK AKAN BISA MENDAPATKAN MU.
Seperti itulah ancamannya kepadaku aku juga tidak terlalu menangapinya dengan serius awalnya namun tiba-tiba aku teringat dengan kejadian yang menimpa mu.
Makanya aku menghubungimu aku ingin tahu apakah benar Lindha adalah gadis yang telah menyergapmu dan melakukan tindakan kriminal itu ? ”
“ya, memang gadis itu lah dalang dari penyergapanku malam itu dan aku telah memiliki bukti yang sangat kuat yang masih aku simpan saat ini.
Aku belum pernah membuat laporan apapun ke polisi mengenai perbuatan kriminalnya karena dalam setahun belakangan ini dia tidak pernah meneror ku lagi.
Apalagi setelah aku memutuskan semua kontrak kerja dengan mu dia sama sekali tidak pernah mengangu ku namun aku tetap menyimpan bukti itu untuk berjaga-jaga saja.”
“oh ya? Kau masih memiliki bukti tindakan kriminalnya syukurlah Vi, kau bisa sangat membantuku untuk menjebloskannya ke penjara.
Jika dia berani mengangu atau menteror orang yang berada di dekat ku.”
“jika di lihat dari gelagatmu sepertinya kau sedang dekat dengan seorang gadis lagipula Lindah tidak mungkin berang jika kau tidak menjalin hubungan dengan wanita lain dude.”
“yah tebakan mu memang benar Vi, aku memang sedang berusaha mendekati seorang gadis kau tahu kan momy sangat mengharapkan aku untuk segera menikah.”
Percuma saja menutupi segala sesuatu dari Vivian kami sangat dekat meskipun pernah gagal dalam sebuah hubungan namun Vivian tetap mengangap aku sebagai patner nya dan juga dia lumayan dekat dengan momy.
“yeah aku tahu jika aunty Jess sangat menginginkan cucu, tapi apakah gadis itu bisa mentahlukkan tantangan aunty? Aku rasa sepertinya dia akan mundur juga kalau masalah memasak.”
“hahahaha entahlah kalau dalam hal itu aku juga masih belum yakin apakah gadis itu sesuai dengan kriteria mantu idaman momy, tapi tidak ada salahnya kan jika aku mencoba memulainya.”
“ya, jika kau berhasil jangan lupa untuk mengenalkanya kepada ku”
setelah berbincang cukup lama aku dan Vivian pun menikmati hidangan makan siang kami.
“setelah ini kau ingin kemana?”
tanya gadis itu sembari mengelap sisa makanan di sekitar bibirnya dengan tisu.
“aku tidak ada acara apapun sampai nanti malam memangnya ada apa? Apa kau ingin mengajakku berkencan?”
tanya ku sembari mengedipkan mata ku dengan tatapan jahil.
“dasar kau gila aku tidak sudi ya melakukan operasi plastik lagi jika wanita mu itu cemburu nanti”
Jawab Vivian lalu melempar bekas tisu ke arah ku.
“hahahaha kau salah gadis bermata biru laut itu tidak seperti Lindha yang pecemburu malah dia terkesan sangat cuek.”
“oh ya? Benarkah? Aku tidak sabar sekali ingin berkenalan dengannya pasti sangat menyenangkan, oh ya jika kau tidak sibuk bagaimana jika kau mengajak ku bertemu Aunty Jess aku sudah lama tidak menemuinya.”
“baiklah aku akan mengajak mu bertemu dengan momy kebetulan mereka sudah kembali dari Italia beberapa bulan yang lalu.”
Setelah selesai membayar makanan yang telah kami pesan aku mengantar Vivian menuju Manshion milik Dady yang terletak di sekitar kota Rochester kota yang ada di New York.
New York memiliki lima kota di wilayahnya yaitu:
New York City tempat pusat perkantoran dan juga resort yang indah dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit, kemudian masih ada lagi beberapa kota yaitu: Buffalo,Rochester,Yonkers, dan Syracuse.
Dan diantara kota-kota tersebut memang New York City lah yang memiliki pusat kehidupan kota yang hampir tidak pernah tidur meskipun tengah malam buta.
Bahkan sangking padatnya New York City sempat dikira ibu kota Amerika Serikat karena di tunjang dengan banyaknya wisatawan yang datang untuk sekedar wira-wiri setiap harinya di kota ini.
Jadi tidak heran jika kau akan melihat New York sebagai pusat perbelanjaan dan wisata karena memang kota ini sangat ramai dan padat bahkan jalanan pun terasa penuh setiap harinya.
Dan jika kau ingin mengunakan Taxi kau harus menyebutkan alamat New York dengan lengkap jika tidak kau akan sangat susah mendapatkan taxi.
Karena New York dan New York City berbeda wilayahnya New York City merupakan bagian kota yang paling padat dengan urutan ke-4 di kota New York.
Setelah berkendara beberapa jam dari pusat jalanan di kota Manhattan aku dan Vivian pun sampai di depan Manshion milik Momy. Ketika pintu gerbang mulai terbuka aku melihat Momy dan beberapa Maind (pelayan Rumah Tangga) sedang menata beberapa bunga mawar.
Kamipun keluar dari dalam mobil dan menyapa momy
“hey kenapa tidak menghubungi Aunty jika kau akan datang kemari Vi”
tanya momy sembari memeluk Vivian.
“ kan mau kasih aunty surprise gimana keadaan aunty sehat?”
“yah aunty sehat sayang, ayo kita masuk ke dalam kita ngobrol di dalam”
kamipun berjalan masuk ke dalam manshion bertiga menuju ruang keluarga.
“oh ya richo kamu mau kemana sayang? Momy masih ingin ngobrol bareng, kamu koq udah mau nyelonong pergi.”
“richo istirahat dulu mom, beberapa minggu ini waktu istirahat ku agak tergangu.”
Akupun berlalu pergi meninggalkan momy dengan Vivian di ruang keluarga dengan langkah cepat.
Aku sengaja menghindari momy karena aku sedang tidak ingin momy menanyakan prihal tentang pernikahan.
Begitu sampai di kamar milikku aku langsung merebahkan badan ku di atas ranjang nyaman sekali rasanya beberapa otot dalam tubuhku bisa beristirahat sejenak.
Sangking nyamanya ranjang akupun terlelap jauh masuk ke dalam alam mimpi alam di bawah sadarku yang menyeretku sangat dalam.