Lost My Wedding To Find You

Lost My Wedding To Find You
Lunch with my bossy.



Elena fergusson:


Pagi-pagi sekali aku sudah bangun semalam aku tidak bisa tidur sama sekali memikirkan apa yang akan terjadi besok pagi.


Karena aku merasa belum siap untuk bertemu dengan CEO di kantor apalagi setelah kejadian tadi malam aku bertemu kembali dengan pria sinting bermata biru safir itu.


Pria itu pergi begitu saja setelah memberitahuku untuk segera pulang apakah dia tidak merasa memiliki perasaan apapun setelah percintaan panas itu.


Hem dasar laki-laki mana mungkin dia merasakan perasaan seperti yang saat ini aku rasakan pasti pria itu menganggapku sama dengan wanita lain yang mengejarnya.


Bertemu kembali dengan pria itu membuat aku susah memejamkan mata dan imbasnya pagi ini aku harus segera bersiap dengan cepat.


Meskipun mataku sulit sekali di ajak kompromi tapi alaram sudah menjerit membangunkan ku di pagi yang masih gelap ini.


Aku tinggal sendiri di aparterment ini karena moms tetap tinggal di italia mengurus butiknya sebenarnya moms tidak membolehkan aku tinggal berjauhan seperti ini.


tetapi kemauanku untuk bisa mandiri tanpa bantuan moms sangat sulit di tentang oleh karena itu moms akhirnya memperbolehkan aku tinggal di New York seorang diri.


Dengan satu catatan tidak ada laki-laki yang boleh menginap di aparterment ini. aku tersenyum jika mengingat syarat moms untuk tinggal mandiri di New York yah aku rasa aku telah mengecewakanya untuk yang satu itu.


Baiklah aku merasa cukup sekali saja aku lepas kendali dan kehilangan virgin karena kejadian yang memalukan itu di Kanada.


Aku menyerahkan virgin ku dengan laki-laki yang baru aku kenal oh god betapa bodohnya sekarang aku sangat menyesali itu semua dan akan berjanji tidak akan pernah ada yang kedua kalinya sebelum aku bisa menemukan laki-laki yang mencintaiku.


Setelah selesai sarapan aku pun bergegas keluar dari aparterment kemudian menunggu taxi.


Di dalam taxi aku mengamati kota New York di pagi hari kota ini pun sudah sangat sibuk orang-orang berlalu lalang sesuai tujuan mereka masing-masing.


Aku duduk di dalam taxi sambil menikmati segelas coffe americano aku memang pecinta kopi sudah sejak lama aku menjadi pecanduan kopi.


Karena menurut ku kopi dapat membuat ku melupakan kepahitan hidup dimana aku pernah gagal dalam sebuah hubungan pernikahan.


Dan sejujurnya sampai saat ini pun aku belum bisa melupakan kejadian beberapa hari yang lalu di hotel Kanada bayangan pria bermata biru safir itu terus menghantui ku.


Membuat aku merasakan perasaan yang aneh ketika kembali bertemu dengan pria itu dan aku masih sangat berharap jika CEO hotel itu bukanlah pria bermata biru safir.


Karena jika benar pria itu adalah CEO hotel tersebut aku masih belum yakin apakah bisa aku menyesuaikan hati untuk bertemu atau berdekatan dengan pria itu setelah kejadian gila yang pernah ia lakukan.


Sesampainya di lobi hotel aku pun segera memasukki ruangan kantor hotel karena letak kantor hotel ini berada berdampingan dengan hotel dan resort aku pun segera bergegas ke ruanganku.


Rencananya hari ini hari terakhir Bu Vika bekerja dan juga hari ini aku akan bertemu dengan CEO sekaligus pemilik hotel.


Sedikit berdebar juga sekaligus penasaran apakah benar pria sinting bermata biru itu adalah CEO tersebut apakah dia juga seperfectionis Bu Vika.


Biasa gila aku jika CEO muda itu adalah pria yang sangat aku hindari oh tuhan semoga saja laki-laki itu bukan atasan ku kelak. Setelah membereskan berkas dan juga merapikan pakaian yang ku kenakkan.


Aku pun memasuki ruangan CEO yang berada di depan meja kerjaku karena di dalam Bu Vika sudah menunggu.


Aku merasa kaget ketika memasuki ruangan CEO ini, ruangan dengan letak yang minimalis dan juga rapi wow hanya itu yang bisa keluar dari mulutku betapa semua prabotan ini pasti mahal sekali.


Di samping jendela besar itu ada beberapa kursi dan meja menghadap pemandangan kota di sanalah Bu Vika sudah duduk dengan laptop yang sudah menyala di meja.


" Kau sedikit terlambat elena untung saja mr Richo belum datang bisakah kau lebih pagi jika nanti kau berada di posisi ku ”


“ baik mam saya akan perbaiki lagi kualitas kerja saya”.


Setelah selesai berbicara pada bu vika aku duduk di samping bu vika dan tiba-tiba suara langkah kaki dengan sepatu terdengar sosok dewa yunani itu benar-benar nyata.


Astaga rasanya jantung ku seperti tidak pada tempatnya saat aku melihat laki-laki itu.


Kenyataan yang membuat aku merasa kaget bahwa laki laki tadi malam yang menegurnya itu memang CEO dari resort ini.


Oh shitt !!!! bagaimana bisa aku menghindarinya jika dia adalah atasan ku sendiri oh betapa bodohnya aku maki elena dalam hati.


Astaga !! jatung ku seakan mau copot ya tuhan tolong telan saja aku hidup-hidup betapa malunya.


Kemarin malam itu pakaian ku sangat tidak pantas sekali dan juga aku masih belum melupakan kejadian di Kanada.


" perkenalkan saya Richo Bouthier COE resort dan hotel ini saya harap kamu dapat mengantikan Vika dengan pekerjaan yang baik . karena saya membutuhkan senior manager yang memiliki pekerjaan yang cukup memuaskan."


memang selama ini Bu Vika tidak pernah bekerja dengan kesalahan makanya richo merasa keberatan saat bu vika mengajukkan resign yang di karenakan anakanya sakit dan butuh dirinya untuk merawatnya.


"Baik sir "


hanya kata itu yang bisa keluar dari bibirnya lidahnys terasa kelu badannya seketika kebas ternyata pria itu tetap bertingkah dingin dan merasa seolah mereka tidak saling mengenal kurang ajar batin elena menjerit.


Elena pun bersalaman dengan richo tangannya begitu nyaman lebih besar dari tangan ku dan sekejap saja aku kembali mengingat bagaimana sentuhan tangan itu begitu lembut membelai tubuhnya beberapa waktu yang lalu.


Seketika fikiranku melayang jauh mengingat apa yang telah mereka lakukan di hotel Kanada aku merasa sangat gugup ketika mengingat kembali percintaan panas mereka.


Lamunan ku terbuyarkan ketika aku kembali sadar dan melepaskan dengan cepat tanganku yang masih bersalaman dengan pria itu.


Kau tidak boleh masuk ke dalam lubang kali ini elena kau harus bisa menjaga dirimu lebih baik lagi dan tidak membuat malu dirimu sendiri otak elena mengingatkannya.


Setelah selesai berkenalan dengan CEO yang menjadi atasannya selama bekerja di hotel ini elena pun segera bergegas keluar dari ruangan CEO itu.


Berada di dekat pria itu lama-lama membuat otak ku terus memikirkan hal-hal aneh dan itu tidak baik untuk jantung ku yang selalu berdebar sangat membingungkan.


Setelah bu Vika selesai membereskan barang-barangnya diapun berpamitan kepada elena dan juga Jimmy untuk segera pergi ke bandara.


Rencananys dia akan melakukan penerbangan ke singapura untuk pengobatan anaknya.


Elena pun kembali termenung di depan laptopnya dan segera beranjak dari meja kerjanya mencoba mengubah posisi kerjanya mengahadap ke jendela besar yang ada di belakang meja kerjanya.


Rasanya lebih menyenangkan bekerja sambil menikmati pemandangan kota New York seperti ini.


“Hey kau karyawan baru penganti Vika kita belum berkenalan darling” ucap jimmy membuatku sedikit terkejut ternyata wajah pria ini jauh lebih tampan dari foto yang berada di meja kerjannya.


Dia memiliki bola mata keabu-abuan dengan di bingkai hidungnya yang sedikit tinggi dan rahang tegasnya sangat di sayangkan sekali jika jimmy adalah seorang gay melihat postur tubuhnya yang sexsy.


“sudah puas menatapku darling? Kau tahu aku tidak berselera dengan gadis” jawabnya sembari tersenyum mengejek.


“no jim, aku tidak sedang mengagumimu hanya saja aku sedang memperhtikanmu.


oh ya perkenalkan aku Elena Fergusson” sahutku sambil membalas tangan jimmy yang sedari tadi sudah terulur di depanku dan kamipun bersalaman.


Dia tersenyum sembari berkata kepadaku “hem aku sangat bersyukur memiliki teman satu ruangan dengan mu karena kau tahu ele vika sangat membosankan” jawabnya sembari duduk di meja kerjannya.


dengan rapi dan juga teliti aku mengerjakannya mengingat pesan bu Vika jika Richo sangat perfectionish.


Aku menyusun beberapa berkas yang akan di tanda tangani oleh Richo.


Aku menghela nafas panjang sebenarnya aku sangat tidak ingin bertemu dengannya tapi aku terjebak dengan pekerjaan sialan ini.


Aku beranjak dari meja kerja dengan langkah gontai memberanikan diri untuk memasuki ruangan dewa yunani itu sebenarnya fikirannya masih belum tenang jika harus bertatapan langsung dengan richo.


Elena pun mengetuk pintu ruangan CEO tersebut .


“Ok masuk”


terdengar suara richo dari dalam dengan sedikit serak dan basah sangat mengoda astaga hentikan fikiran konyol ini Elena.


Setelah memasuki ruangan aku berjalan hingga meja depan richo “ sir ini adalah berkas document yang telah saya kerjakan menurut data saya resort ini mengalami kenaikan sebesar 50% dari tahun sebelumnya.”


ucapku panjang lebar dengan menjelaskan tabel presentasi dari laptopku.


Richo pun mendengarkan dengan seksama namun tatapannya terus menatapku tanpa henti apakah hanya perasaan ku saja sepertinya dia tidak berhenti untuk menatapku batinku dalam hati.


Tapi aku tetap tidak memperdulikan tatapannya dan tetap melanjutkan pekerjaanku membuka berkas-berkas document yang harus segera di tanda tangani olehnya.


Huft akhirnya selesai juga akupun bergegas membuka pintu ruangan dan segera kembali ke meja kerja ku tapi tertahan ketika dia menegurku mengajakku untuk ikut lunch bersamanya.


“Elena aku rasa kau pasti laparkan karena kita sudah seharian ini bekerja membereskan beberapa document dan lebih baik jika kita makan siang dulu sebentar di lounge hotel.” aku pun melihat jam tangan ku ternyata sudah pukul 3 siang dan aku juga belum makan siang tapi apakah bisa aku makan siang dengannya?.


Berada di dekatnya saja membuat badanku terasa kebas bagaimana bisa aku menahan indra penciumanku yang mencium harum maskulin dari tubuhnya aku juga hanya wanita biasa pikirku dalam hati.


“em maaf sir bukan maksud saya menolak tetapi masih ada beberapa berkas yang harus saya selesaikan” dusta ku ntuk menghindarinya.


“bukankah kau juga belum makan? Ayo makan siang dulu bersamaku,aku tidak mau ada karyawanku yang terlihat kurus karena lelah bekerja.”


“tapi sir saya rasa saya masih sedikit kenyang.”


“baiklah jika kau menolak maka konsekuensinya gaji kau bulan depan akan aku potong bagaiman hemm apa masih kau menolak ?”


ancamannya sangat tidak etis pikirku “baiklah sir."


Akhirnya hanya itu kata yang keluar dari mulutku.


Aku mengikutinya untuk lunch di salah satu resto yang ada di lounge hotel ini kami berjalan beriringan dan tatapan karyawan hotel ini sangat tajam.


Ohhh shitt aku sangat membenci keputusanku yang menerima tawaran makan bersamanya aku benci menjadi pusat perhatian.


Bagaimana tidak kami sangat jauh berbeda sekali dewa yunani ini sangat mempesona, dingin, dan seksi sedangkan aku hanyalah itik buruk rupa yang berjalan di sampingnya. Dasar bodoh kau sangat bodoh elena maki ku dalam hati.


Banyak sekali mata kaum hawa yang ingin memakannya aku sangat risih dengan apa yang ada di sekelilingku mereka menatap richo dengan tatapan memuja sedangkan sebagiannya menatapku seperti mereka ingin membunuhku tidak rela jika aku berjalan di sampingnya.


Kami sampai di resto yang dituju oleh richo resto ini berada di sebelah resto yang aku kunjungi beberapa hari lalu.


Tempatnya pun cukup lumayan hanya saja sedikit lebih mewah dari resto yang aku kunjungi kemarin bahkan penataan meja dan kursinya terlihat begitu mewah dengan cat ruangan yang didominasi warna emas dan juga merah maron.


Wow hanya satu kata yang dapat aku ucapkan astaga mau apa dewa yunani ini mengajakku kesini dari segi penampilan ruangannya saja sudah terlihat mahal apalagi menu yang akan di sajikan nanti.


Pelayan pun datang membawakan kami buku menu akupun berusaha mencari menu makanan yang sesuai dengan kantongku karena aku tidak berniat membuang uangku untuk sebatas makanan mewah itu suatu pemborosan.


Oh god yang benar saja semua daftar yang ada di buku menu ini tidak ada yang sesuai dengan isi dompetku aku memutar bola mata ku dan ahirnya aku memilih makanan yang harga nya sedikit lebih murah di bandingkan makanan lainnya.


“carbonara spageetti dan lemon tea please sugar free” akhirnya hanya itu yang bisa aku pesan menginggat semua harga yang ada di menu ini sangat tidak bersahabat denganku.


“kau yakin tidak ingin mencoba yang lain tenang saja kali ini aku yang akan membayarnya” sahut richo sambil memesan makanan yang akan dia makan.


“ bolognise rice dengan saos barbeque dan juga orange splash."


Setelah selesai memesan makanan pelayan itupun meninggalkan kami berdua.


“mengapa kau tidak mencoba menu lain? kali ni aku yang mentraktir mu” tanya richo memecah kesunyian diantara kami.


“ tidak mungkin sir, saya memesan makanan dengan mengunakan uang anda itu sangat tidak etis menurut saya”.


Jawaban dari elena pun membuat fikiran richo melayang astaga jika saat ini richo mengajak lunch Lindha atau wanita lain sudah pasti mereka akan memesan makanan yang jauh lebih enak dan mewah.


Tapi mengapa wanita ini tidak seperti mereka bahkan dia menolakku secara halus untuk membayarnya.


Richo pun berfikir sambil sedikit tertegun tak lama kemudian makanan mereka pun datang bau dari aroma masakan ini sangat mengugah selera.


Elena pun segera menyuapkan spagetti kesukaannya itu kedalam mulutnya ohh benar saja jika aroma ini terlihat sangat sedap karena memang masakan ini sangat sedap meskipun hanya spagetti.


Saos tomat carbonara dan di campur dengan sedikit daging sapi panggang yang telah di potong berbentuk dadu kecil ini sangat mengugah selera dengan taburan keju mozarella yang tidak terlalu banyak.


Sehingga rasanya sangat pas dan tidak membuat eneg di lidah.


Hemmm sepertinya aku akan mencoba makan lagi di resto ini. Tentunnya tanpa pria sinting ini karena makan bersama richo tidak bisa membuat jantung ku berkerja secara normal bagaimana tidak sedari tadi kami duduk di resto ini richo terus menatapku sepertinnya aku ini adalah makanan yang lezat.


Hey !!! aku bukan merasa percaya diri dengan apa yang dilakukan richo hanya saja tatapan tajam matanya itu sangat memabukkan.


Oh god cukup aku tidak boleh terlena karena dia hanya atasan dan wajar saja jika dia memperhatikkan ku mungkin dia ingin melihat bagaimana cara ku bekerja.


Kamipun telah selesai makan siang dan setelah berdebat dengan richo akhirnya akupun hanya bisa menurut saja ketika dia tetap memaksa ingin membayar makanan kami berdua.


“baiklah pak saya akan membayar nya jika nanti ada kesempatan makan siang lagi dengan bapak dan trimakasih banyak”


dia pun hanya menjawabnya dengan senyum dan juga kedipan mata.


Oh god mata itu seakan-akan menyihirku lebih dalam bagaimana ini baru awal berkerja dengannya saja aku sudah hampir tertarik olehnya.


Tapi secepat kilat aku harus membuang rasa ini karena richo juga berlaku baik dan sopan terhadap karyawan yang lain jangan sampai aku merasakan perasaan lebih karena itu hanya membuatku merasa sakit nanti.


Ohh c'mon elena bangun dari mimpimu dia hanya bos dan kau hanya karyawan biasa mana mungkin dia akan tertarik dengan mu batinku mengingatkan ku agar fikiran-fikiran konyolku segera hilang.


“hem baiklah aku menerima tawaranmu bagaimana jika kau mentraktir ku lain kali?” katanya sambil menatapku.


“tentu aku akan mentraktir anda nanti setelah aku menerima gaji pertama ku”


jawabku Kamipun keluar dari resto dan kembali ke ruangan kami masing-masing berkutat dengan pekerjaan kami.