
Richo bouttier:
Pagi ini aku sudah selesai bersiap dengan segala keperluanku sebelum pergi ke kantor aku juga tidak lupa jika sekarang terhitung mulai pagi ini aku akan jadi supir pribadi wanita itu.
Oh maannn jika di fikirkan kembali aku belum pernah segila ini mengejar seorang wanita biasanya mereka yang datang mengejarku saat ini aku malah di buat mabuk kepayang oleh gadis itu.
Lucu sekali jika aku akan menjadi budak cinta seperti saat ini.
Selesai sarapan aku langsung membuka handphone dan mengirimkan beberapa berkas pekerjaan melalui e-mail
kepada rekan bisnis ku yang baru.
Aku menuliskan beberapa rute pekerjaan yang akan aku lakukan hari ini di buku agenda milikku.
Buku ini meskipun mungil namun banyak sekali hal yang telah aku tuliskan di dalam nya.
Kebanyakan isinya adalah rutinitas yang akan aku kerjakan sehari hari.
Aku masih asik duduk di meja makan sembari memasukkan beberapa peralatan kerja milikku ke dalam tas.
Setelah petugas kebersihan aparterment datang aku langsung bersiap untuk pergi ke ruangan aparterment milik gadis itu.
Kamar aparterment milikku tidak jauh dari kamar gadis itu aku sengaja memilih tempat yang sangat dekat dengan kamar aparterment gadis itu.
Jika sampai Max tahu tentang kegilaan ku ini dapat di pastikan aku akan jadi bahan olokannya berbulan bulan.
Aku memencet bell ruangan yang terdapat di samping pintu masuk aparterment gadis itu sekali aku menekan bell pun berbunyi.
Namun belum ada juga jawaban dari dalam aparterment astaga kenapa lama sekali gadis itu membuka pintu sialan ini.
Aku tetap ngotot menekan bell itu berkali kali masa bodoh deh dia akan jenggah jika mendengar bell ini berbunyi terus terusan.
Dan setelah bunyi bell yang kesekian kalinya akhirnya gadis itupun muncul juga.
Aku sedikit tersenyum geli melihat raut wajahnya yang masih kusut juga rona merah di pipinya yang secara alami muncul karena kaget melihat kedatangan ku.
"Loh bapak, bapak ngapain pagi-pagi buta begini sudah menjemput saya."
Astaga wanita ini benar benar membuat aku gemas apakah dia tidur terlalu larut malam
Aku bertanya dalam hati.
Setelah mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam ruangan akupun duduk di salah satu sofa yang terletak di depan meja Kerja gadis itu.
Aku membuka majalah fashion miliknya sembari menunggu dia bersiap untuk berangkat kerja.
Sembari menunggu dia bersiap aku berdiri mengamati setiap sudut ruangan aparterment milik nya.
Segala benda juga prabotan yang dimilikinya tidak ada yang terkesan mewah namun sederhana dan terasa sangat pas dengan ruangan ini.
Segala macam benda prabotan yang dia miliki tersusun sangat rapi dalam ruangan ini beberapa kursi terlihat nyaman juga dengan warna senada dengan dinding ruangan.
Aku melihat banyak foto yang terpajang di dinding foto gadis itu mulai dari dia kecil hingga dewasa.
Tak banyak yang berubah dari wajah gadis kecil itu namun berhasil mbuat aku tertegun.
Kecantikannya membuat mata ku menjadi sejuk pancaran aura dari wajahnya
benar-benar membuat hati menjadi teduh.
Aku mengambil handphone dan segera memfoto salah satu bingkai yang terpajang di dinding.
Bingkai foto yang berisi gambar seorang gadis kecil dengan didampingi seorang tentara berpangkat sersan.
Sepertinya pria itu ayahnya jika diperhatikan ada beberapa bagian wajah yang sama persis dengan wajah gadis itu.
Tapi kenapa aku rasa wajah pria itu tidak asing bagiku apakah aku pernah melihat pria itu? Tapi dimana? Aku mencoba mengingat sosok wajah pria itu namun tidak menemukan jawabannya.
Ah sudahlah sepertinya aku salah melihat, aku kembali duduk di sofa dan membuka majalah fashion.
Aku mendapati nama seorang editor majalah yang sangat aku kenal Stella Cambrige tunangan Rikoll Simth.
Sepertinya wanita itu memang berjodoh dengan Rikoll karena majalah ini sangat menarik, lugas, dan sistematis.
Majalah ini berisi berbagai info seputar dunia fashion namun tidak terkesan membosankan ketika membacanya.
Cara kerja Stella hampir sama dengan Rikoll tak heran jika kedua nya terlihat sangat serasi berdampingan.
Aku asik dengan majalah ku sampai elena datang dengan sedikit terhunyung apakah wanita itu sedang sakit? Jika dilihat dari ekspresi wajahnya sepertinya dia sedang berjuang melawan rasa sakit.
" apakah kau baik-baik saja atau sakit? "
Aku refleks dan langsung memeluk pinggang gadis itu sebelum dia jatuh menabrak dinding.
Berdekatan kembali dengan wanita ini membangkitkan segala perasaan yang telah aku kubur dalam dalam.
Hasrat ku tak bisa aku bendung aku memandangi manik mata biru gadis itu ya tuhan detik ini aku tahu aku mulai menyukainya.
" saya baik-baik saja pak, ayo kita berangkat sekarang bapak tidak ingin kita akan telat meeting kan?".
Aku tahu dia berusaha melepaskan diri dari pelukan ku dan akupun segera melepaskan pelukan ku di pingangnya.
Kami berjalan beriringan menuju parkiran aparterment entah kenapa rasanya bibirku menjadi sangat kelu.
Aku berfikir mengapa dia selalu menghindariku?
Apakah dia tidak merasakan perasaan apapun seperti aku merasakannya?
Sialan karma apa ini mengapa aku jadi mengejar wanita seperti ini.
Banyak hal terlintas di fikiranku di dalam mobil pun aku tidak bisa menyetir dengan fikiran yang jernih dan tenang.
Kami sampai di parkiran kantor hotel dan seperti biasa gadis ini sedang bersiap siap untuk segera kabur dari mobilku.
Aku menahan pergelangan tanganya ketika dia ingin membuka sabuk pengaman.
" jangan langsung kabur saya mau bicara dengan kamu bisa kan."
Aku menahan pergelangan lengan gadis itu dan raut wajahnya penuh dengan pertanyaan.
"Ba bapak ma ngomong apa ya pak."
Gadis itu bicara terbata bata dan beberapa bulir keringat jagung muncul di wajahnya. Astaga apakah dia gerogi atau malah takut karena aku berada di dekatnya seperti ini.
Hem aku jadi heran setiap aku ingin berbicara serius dengan gadis ini dia malah selalu gugup.
"Bisa kan kalau manggil saya nama aja jangan panggil bapak pangil Richo aja saya risih kamu panggil bapak terus."
"astaga cuma itu pak. Saya kira apaan baik saya akan coba meskipun kurang etis pak eh maksud saya Richo."
Gadis itu menghela nafas legah astaga aku gemas sekali apakah wajah ku selalu mengintimidasi gadis itu hingga sepertinya setiap dia menatap ku jatungnya akan copot.
"Ada satu hal yang ingin saya bicarakan tapi saya tidak membutuhkan jawaban kamu."
" Ba pak mau bicara apa ya pak?"
" bisa kan jangan pakai pak lagi Richo saja tanpa embel embel pak. Saya belum setua itu tahu."
Gadis itupun tertawa nyaring sembari menganggukan kepalanya.
Dan rasa gairah ku mulai naik ke ubun ubun ketika aku terus menatap kedalam manik mata biru laut miliknya.
Oh ayolah mengapa dari sekian banyak gadis yang mengejarku aku malah menjadi gila dengan wanita ini.
Aku semakin gila dan hilang kendali aku menarik lengan wanita itu dan dia mulai kehilangan kendali tubuhnya.
Aku mencium bibirnya astaga rasanya seperti candu semakin dalam aku menikmatinya semakin sulit untuk aku melepaskannya sialan.
Dan dia tidak menolak ku dia memberikan aku akskes lebih untuk menjelajahi setiap inci rongga bibirnya yang manis dan lembut.
Ya tuhan jika begini aku bisa benar benar kehilangan kendali diri.
Mengapa hanya dengan wanita ini aku tidak bisa mengendalikan semua kegilaan ini.
Arghhh sialan saat aku sedang berusaha melawan segala hasrat yang ada di dalam fikiran ku wanita ini malah mencoba melepaskan ciuman kami.
"maaf saya harus segera bersiap kita akan meeting pagi ini kan."
Dia masih berusaha melepaskan sabuk pengamannya kemudian bergegas membuka pintu mobil namun aku menariknya kembali.
" Saya rasa bapak benar benar sudah tidak waras permisi pak."
Gadis itu keluar dan membanting pintu mobil ku dengan sangat keras kemudian berjalan secepat kilat memasuki ruangan kantor.
Astaga dan dia menolak kembali segala pesona ku mentah mentah catat mentah mentah.
Harus bagaimana lagi aku mendekati wanita judes ini aku hampir kehabisan akal.
Dan handphone ku berdering nyaring sialan aku mengangkat telfone dengan nada kasar.
"ya hallo ada apa ? Ya aku sudah tiba di kantor 2 jam lagi kita bisa mulai meeting nya jangan lupa aku tidak ingin kau terlambat lagi seperti beberapa minggu yang lalu."
Aku mematikan sambungan telfone kemudian berjalan langsung menuju ruangan kerjaku.
Aku melewati meja kerja gadis itu namun dia tidak bearada di sana mungkin dia sedang sarapan di pantri pikirku.
Aku masuk kedalam ruangan kerja kemudian menyiapkan beberapa berkas yang akan aku ajukkan kepada rekan kerja ku nanti.
Aku mulai sibuk dengan beberapa aktivitas pekerjaan ku mulai dari mengecek e-mail yang masuk.
kemudian menulis dan merubah kembali beberapa jadwal pekerjaan ku di buku notes.
sembari menunggu Daren.
Beberapa jam berlalu dan Daren belum juga tiba di ruangan ku astaga anak ini benar benar masih seperti bocah saja.
Aku dan Daren sudah lama saling menggenal ketika aku mulai mendirikan resort di italia.
Pria flamboyan yang tidak ingin menikah itu sangat di puja oleh banyak kalangan wanita kelas atas di Italia.
Namun aku dan dia tidak pernah bertukar pasangan kencan selama kami berteman kurang lebih sekitar 8 tahun kami sudah saling kenal akrab.
Telfone kantor ku berbunyi aku segera menganggkatnya mendengar suara di sebrang telfone aku sudah hafal jika gadis itu menelfone ku.
Secepat kilat dia memberitahu ku jika Daren ingin bertemu dengan ku dan aku pun menyuruhnya untuk mengantar Daren ke ruangan kerja ku.
Daren masuk dengan diiringi elena di sampingnya dan lagi lagi gadis itu berusaha menghindari pandangan mataku ke arahnya.
Kemudian dia langsung berjalan secepat kilat keluar dari ruangan kerjaku.
Astaga elena kau benar benar membuat aku penasaran dengan segala perasaan mu kepada ku.
"hai sobat lama tidak bertemu ternyata kau pandai juga mencari karyawan baru."
"sialan kau daren, aku merekrut dia karena kualitas kerjanya yang cukup baik seperti bu vika."
" aku rasa tidak hanya itu kau menerimanya, mungkin juga karena senyuman milik wanita itu membuat bulu kuduk menajadi meremang."
"okey lupakan, bisa kita mulai saja meeting kita hari ini.
Agar kau bisa kembali secepatnya ke habitat mu."
" oh calm down dude, aku senang akhirnya kau bisa emosi juga ahahahahaha ku pikir kau tidak bisa emosi selama ini ternyata kau sensitif juga."
"yah terserah kau saja, aku sudah membuatkan beberapa rancangan dasar untuk resort itu."
Dan kamipun menghabiskan banyak waktu membahas beberapa keperluan juga design yang akan aku gunakan untuk konsep resort ku nanti di Florest.
" apa kau tidak ikut bersama ku makan siang di luar? Kebetulan aku sudah mengatur janji temu dengan Max."
" no daren sepertinya aku tetap stay di kantor ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Tapi kenapa Max tidak memberiku kabar jika dia masih berada di New york aku kira dia sudah kembali ke Bali dasar sialan kau Max. "
Daren hanya mengangkat bahunya
" entahlah aku tidak tahu terkadang Max sulit di pahami.
Okey jika kau tidak ingin pergi aku jalan sekarang.
O iya sampaikan salam ku kepada seketaris cantik mu itu."
" Coba saja kalau kau berani"
Aku menatap nya tajam dan Daren hanya nyengir kuda membalas perkataan ku sembari menutup pintu ruangan kerjaku.
Jika di lihat dari gelagat anak itu sepertinya dia juga menyukai Elena, sialan kau Daren segala gadis saja kau pacari.
Astaga aku hampir lupa jika aku juga bagaian dari pria brengsek itu.
Selesai dengan pekerjaan milikku aku langsung keluar dari ruangan dan target utamaku tidak berada di meja kerjanya.
Hem kemana Elena aku mencarinya ke arah pantri, tempat dimana karyawan makan siang.
Aku masuk kedalam ruangan pantri seketika itu pula beberapa karyawan satu persatu mulai meninggalkan ruangan pantri.
Astaga apakah aku begitu menyeramkan melihat aku masuk ke pantri beberapa karyawan ku langsung melesat pergi.
Aku mendekati gadis itu yang sedang sibuk mengaduk aduk makanannya.
Apakah makanan nya tidak enak?
Ataukah dia yang tidak nafsu makan ?
Dari tadi yang ku lihat hanya dia memutar mutar sendoknya di mangkuk.
" makan sendirian aja boleh saya duduk?"
Aku mencoba basa basi dengannya agar dia tidak menghindariku.
Dan eksperesi wajahnya kental dengan rasa kaget aku ingin tertawa melihatnya namun dia tetap diam tidak menjawab pertanyaan ku.
Aku duduk berhadapan dengannya agar bisa mengintimidasi fikirannya
"saya bisa minta tolong sama kamu?"
Aku mencoba mengambil sisi sopan agar dia tidak menolak rencana ku mentah mentah.
"kalau boleh tahu, bapak mau minta tolong apa pak? Eh salah maksud saya Richo."
Aku mulai serius dalam pernyataan ku mencoba berusaha agar tidak ditolaknya.
"saya mau minta tolong kamu mau kan temani saya dalam acara perlombaan resort besok malam."
Dia terlihat berusaha berfikir sembari menjawab
"sepertinya bisa, saya kabari nanti deh jika saya tidak ada kegiatan besok malam."
"Okey saya tunggu kabar dari kamu, nanti sore saya sudah harus tahu jawabanya."
"oh ya, ada satu hal lagi yang ingin saya katakan."
Aku menarik tangan wanita itu dan dia menatap mataku dalam dalam.
Raut wajahnya memberikan kesan bertanya kepadaku.
" kamu mau kan jadi pacar saya nanti."
Dan perkataan itu meluncur dengan jelas tanpa ada jeda sedikitpun.
Jemari wanita itu menjadi sangat dingin sedingin es
"whattt ..? "
Dan hanya jawaban itu yang keluar dari mulut wanita itu benar benar mengesalkan.