
Richo bouttier:
Aku menganti pakaianku dengan pakaian yang lebih santai sambil menunggu terapis yang telah aku pesan aku duduk di depan balkon kamar sembari menyeruput coklat panas milikku.
Fikiran ku melayang entah jauh kemana aku merasa ada kekosongan dalam hidupku yang tentu saja harus segera aku isi.
Aku memang memiliki segalanya mulai dari karir dan kesehatan serta keluarga namun aku tetap merasa sepi dan kosong.
Entah ini hanya fikiran konyol ataukah memang aku sudah siap memenuhi keinganan momy untuk segera menikah belakangan ini aku terfikirkan dengan ucapan momy yang ingin segera menggendong cucu.
Apakah hidupku akan terasa terisi dengan sempurna jika aku memiliki anak dan memiliki seorang istri?
Hemm aku menghembuskan nafasku kasar jenuh dengan semua pencapaian hidup yang telah aku miliki nyatanya aku masih merasa sepi juga kosong.
Tiba-tiba lamunanku terbuyarkan kerena bunyi bell aparterment sepertinya terapis yang telah aku pesan sudah tiba
aku berjalan ke arah pintu kemudian membukanya.
“maafkan saya tuan saya sedikit terlambat” sahut terapis pria yang aku pesan kemudian masuk kedalam ruanganku dan memulai menyiapkan beberapa peralatan penting untuk pijat.
Sesi pijat reflexi ini memakan waktu sekitar kurang lebih 3 jam lamanya aku benar-benar bisa meluruskan otot-otot milikku.
“saya kira tuan masih tinggal di aparterment yang sama ternyata tuan pindah ke aparterment ini”
terapis itu membuka obrolan di sela keheningan kami.
“ya saya pindah sekitar 2 hari yang lalu, entah aku rasa aku memerlukan sedikit suasana yang baru” jawabku sedikit berdusta.
Aku memang pindah dari aparterment ku sebelumnya yang terletak di kawasan bisnis elite beverhills aku pindah ke aparterment ini selain fasilitas kemanan yang sangat baik juga karena seseorang.
Alasan utamaku pindah ke aparterment ini karena aku mengikuti elena pulang kerja secara sembunyi dan besoknya aku langsung pindah menuju aparterment ini selain karena aku ingin mengetahui tentang gadis itu.
Aku juga ingin mengetahui apakah ada seorang laki-laki lain yang berhubungan dengannya namun setelah beberapa hari aku pindah aku belum juga menemukan gadis itu pulang ke aparterment dengan pria lain.
Entah mengapa sejak kejadian di Kanada beberapa minggu yang lalu aku kehilangan konsentrasiku aku tidak bisa menikmati sex dengan wanita lain karena selalu terbayang dengan sosok gadis bermata biru laut itu membuat ku sangat frustasi.
Setelah selesai dengan proses pemijitan aku merebahkan badanku di dalam bathtup berendam dengan air hangat sembari mendengarkan alunan musik sexsophone milik Kenny G.
Sesi ini adalah sesi terahir dalam kegiatan spa setelah mencampurkan beberapa rempah dalam bathtup terapis yang telah ku pesan pun pamit.
Dan tinggalah aku sendiri menikmati musik beraliran jazz yang sangat lembut di telingaku.
Terasa seperti aku sedang terbawa oleh alunan musik lembut ini sudah lama aku tidak meluangkan waktu untuk bersantai sambil memejamkan mata aku meresapi setiap alunan sexsophone.
Namun beberapa saat aku menikmati saat santai ku handphone ku berdering nyaring
oh sial !!! tak bisa kah aku menikmati waktu berharga milikku tanpa ganguan pekerjaan atau lainnya aku benar-benar kesal.
Aku segera bergegas mengenakkan handuk dan berjalan ke luar kamar menuju meja kerjaku tempat di mana aku meletakkan handphone dan berbagai peralatan kerja ku. Aku menghela nafas ketika melihat nama yang tertera di layar handphone milikku astaga Max si sinting itu mengangu aktivitas santai ku saja ada apa dia tumben sekali menelfone malam-malam.
Dia jarang menelfone ku kecuali ada sesuatu yang sangat penting biasanya Max mengirimkan aku e-mail jika itu mengenai pekerjaan.
Aku mengusap tombol jawab dan seketika suara Max di seberang sana terdengar
“halo bos apa kau sedang sibuk saat ini?” tanya nya dengan nada yang santai.
“ya aku sedang menikmati musik jazz dan kau mengangu ku Max, katakan ada apa? Tumben sekali kau menelfone ku jam segini?” tanya ku dengan nada malas.
“bisakah kita bertemu sebentar bos di cafe langanan kita?”
“apakah kau sudah berada di New York ? Kapan kau sampai”
tanya ku dengan nada sedikit bingung sialan Max dia berkunjung ke New York dan baru memberi tahuku.
“ya bos aku sudah sampai beberapa menit yang lalu, tapi bisakah kita bertemu sebentar? Ini mengenai gadis yang telah kau tolong dari kecelakaan beberapa tahun yang lalu.”
Aku mengerutkan dahiku sedikit bingung dengan maksud Max apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Elena.
Mengapa Max ingin mengajakku bertemu dengan nya.
“baiklah tunggu aku, aku akan meluncur beberapa menit lagi.”
“kau ingin aku pesankan makanan bos?” tanya Max namun aku tidak menjawabnya dan langsung menutup sambungan telfone kami karena fikiranku sedikit kalut memikirkan apakah yang terjadi gadis bermata biru laut itu.
Aku mengusap keningku sembari berfikir ada apa ini kenapa Max ingin aku segera berjumpa dengannya sialan kau Max kau membuat aku menjadi penasaran seperti ini. Aku bergegas mengenakkan mantel tebal milikku karena di luar salju sedang turun dengan lebatnya dan demi apapun aku juga sebenarnya malas sekali melakukan aktivitas apapun di luar.
Namun ini berbeda ini menyangkut tentang gadis bermata biru laut itu mau tidak mau aku harus segera bergegas menemui Max. mengingat beberapa waktu yang lalu Stward pernah bertindak kurang ajar dengan gadis itu membuat fikiranku menjadi kalut.
Aku mengambil kunci mobil milikku dan segera bergegas keluar kamar menuju lift aparterment ketika pintu lift terbuka mataku menangkap sosok gadis bermata biru itu hati ku sedikit legah juga melihat dia pulang kerja dengan selamat.
Gadis itu memeluk tumpukan kardus paket dengan barang belanjaan miliknya sehingga menutupi sebagian wajahnya karena tumpukan belanjaan itu terlalu tinggi.
Saat aku hendak memasuki lift kardus paketan yang di peluknya itu hampir saja jatuh ke bawah lantai aku refleks menahan kardus itu agar tidak terjatuh.
Dan gadis itu sedikit terburu-buru dia berjalan cepat di samping ku tanpa menolehkan wajah atau melirik ke arah ku namun dia tetap mengucapkan kata
“terimakasih tuan maaf saya terburu-buru.” Kemudian dia berlalu begitu saja dan aku hanya menjawab perkataan nya dengan kata “ya”
sepertinya dia tidak sadar jika aku berada di dekatnya.
Oh man !!! bagaimana caranya agar dia bisa merasakan jika aku berada di dekatnya, bagaimana membuat gadis itu berpaling ke arah ku? Bahkan saat aku memasuki lift dan melihat ke arah gadis itu.
dia terus berjalan menuju arah kamar miliknya tanpa berusaha menengok kebelakang sedikitpun.
Pintu lift tertutup dan aku menekan tombol menuju bassement setelah sampai parkiran aku segera masuk kedalam mobil dan melajukannya menuju cafe langanan yang sering Max kunjungi.
Sebeneranya apa yang ingin di sampaikan oleh Max ? tadi ketika aku berpapasan dengan elena di pintu lift sepertinya gadis itu baik-baik saja aku sedikit legah juga saat melihatnya pulang dengan keadaan yang aman.
Aku mengetuk-ketukan jariku di stang kemudi sembari menenangkan fikiran ku yang sedikit kacau, beruntung suasana jalanan kota saat ini tidak ramai karena salju yang turun mulai deras.
Banyak jalanan kota yang mulai tertutup oleh salju pantas saja jalanan terasa sepi karena banyaknya salju yang turun membuat sebagian orang tentu sangat malas berada di luar rumah.
Dan karena Max yang menyebalkan itu membuat aku panasaran jadilah aku harus keluar malam-malam dingin seperti ini sialan kau Max aku benar-benar kesal lihat saja aku akan memberimu pelajaran nanti maki ku dalam hati.
Setelah sampai di cafe aku langsung memarkirkan mobilku dan menerobos masuk ke dalam cafe selain udara di luar sangat dingin aku juga sedikit penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Max.
Setelah masuk kedalam cafe aku langsung menuju ke arah meja yang telah di tempati oleh Max tanpa basa basi aku langsung duduk di hadapannya dan bertanya.
“ada apa Max? Apakah ada hal yang serius yang ingin kau katakan?.”
Tanyaku langsung sembari memangil pelayan aku ingin memesan segelas capucino hangat perut ku sangat ingin sekali di isi oleh segelas air hangat karena cuaca saat ini bisa membuat tubuh terasa beku.
“calm down dude, pesanlah sesuatu yang kau ingin kan ya tentu aku ingin berbicara mengenai gadis yang telah kau tolong itu, tapi aku dengar sepertinya gadis itu bekerja mengantikan Bu Vika apakah itu benar?.”
“astaga Max yang benar saja apakah kau hanya ingin bertanya tentang itu? kau membuang waktu berharga ku max, ya dia karyawan baru di resort ku penganti Bu Vika namanya Elena.”
“what?? This girl name is Elena bearti benar dugaan ku berarti gadis malang yang terjebak itu benar gadis yang telah kau tolong.”
Ucapan max benar-benar membuat aku bingung siapa yang di jebak?
“kau terlalu berbicara berbelit-belit max langsung saja pada intinya siapa yang kau maksud di jebak?”
tanya ku sembari melempar tissu yang telah aku pakai ke arahnya.
“baiklah dengarkan aku baik-baik bos, aku tidak sengaja mendengar obrolan seorang pria dengan Stward Joseph mantan tunangan gadis itu di salah satu resto yang berada di Bali.
Dan aku melihat Stward memberikan satu lembar check kepada pria itu karena telah berhasil meniduri Elena.
Apakah kau tidak bertemu gadis itu di pesta pertunangan Rikoll Smith bos ? aku sangat kaget sekali mendengar percakapan mereka terlebih ketika aku tahu jika karyawan baru mu itu adalah gadis malang itu.”
Aku melihat raut wajah kesal Max baru kali ini aku melihat Max begitu simpati terhadap suatu masalah biasanya Max selalu cuek mengenai masalah apapun.
“apakah kau yakin pria itu suruhan Stward Joseph? Kita tidak bisa menuduhnya tanpa bukti yang akurat Max.”
“aku sudah merekamnya bos dan apakah kau ingin mendengar rekaman amatiran milikku?” Max memberikan aku sebuah recorder kecil seperti walkment hanya lebih kecil.
Aku mengambilnya dan mendekatkan ke telingaku memperhatikan setiap kata yang mereka berdua katakan secara detail kurang ajar dasar laki-laki mental banci entah rasanya darah ku berdesir panas mendengar percakapan mereka.
“kau tak perlu kahwatir tentang ini Max, tapi rekaman ini aku harus membawanya dan menyimpannya sebagai bukti jika di kemudian hari Stward berani mengangu dan mengancam ketenangan gadis itu.”
“entah mengapa aku masih belum bisa tenang setelah mendengar percakapan mereka aku merasa sangat kasihan dengan gadis itu jika apa yang di katakan pria itu benar menimpa dirinya bos.”
“itu tidak terjadi Max tenang saja kau tidak perlu kahwatir semua yang di katakan oleh pria itu hanya kebohongan. dia mencoba meraup keuntungan dari Stward dengan membodohi pria itu.”
“kenapa kau bisa seyakin itu bos apakah kau mengetahui tentang rencana ini?”
tanya Max dengan wajah sangat serius.
Aku tahu sepertinya aku tidak bisa menutupi semua yang terjadi antara aku dan Elena dari Max.
“ kau tahu Max mungkin ini terdengar sedikit kejam tapi aku benar-benar bersyukur telah menyelamatkan gadis itu dari laki-laki sialan itu.”
“sepertinya aku banyak ketinggalan berita mengenai hubungan kau dan gadis itu bos, sebenarnya apa yang terjadi antara kalian berdua dalam pesta itu? Dan aku sedikit terkejut dengan jawabanmu barusan apakah kau menyelamatkannya?.”
Aku menyeruput segelas capucino hangat milikku sembari menceritakan segala yang terjadi dalam pesta itu.
“mungkin Stward meras tidak terima karena Elena menolaknya dan kebetulan saat itu aku berhasil memergoki Stward yang telah memaksa ingin mencium Elena.
melihat pemadangan menjijikan itu di dalam toilet wanita benar-benar membuat aku muak malam itu aku sukses membuat wajah tampan milik Stward babak belur.”
“astaga bos kau juga terlibat dalam kekacauan ini? Lalu untuk apa kau berada dalam toilet wanita apakah kau sudah mulai kurang waras atau mabuk?.”
“sialan kau Max aku tidak mabuk sama sekali malam itu karena aku memang tidak berniat untuk mabuk. yah aku akui kesalahan konyolku karena mencari Elena dalam toilet wanita hanya saja firasat ku mengatakan gadis itu berada di dalam toilet wanita, jadilah aku menunggunya di luar.”
“aku kira kau mulai bertingkah tidak waras bos”
kata Max sambil tertawa kencang
“kau benar-benar menyebalkan Max jika kau tertawa lagi aku akan memotong semua tunjangan milik mu coba saja kau akan menyesal Max.”
Aku mengancam nya agar dia berhenti menertawai segala tingkah konyolku karena gadis itu aku juga tidak tahu mengapa aku bertindak sangat konyol malam itu.
“oh boss tenang kau selalu saja sensitif jika berbicara mengenai gadis itu. apakah kau mulai menyukainya ayolah jika memang dia telah mencuri hati mu bos akui saja dia gadis yang cukup menarik untuk di kagumi bos.”
“entahlah Max aku juga masih sedikit bimbang dengan perasaan ku terhadap gadis itu, bahkan setelah kejadian di hotel kanada itu dia selalu menjauhiku seolah-olah kejadian itu tidak pernah terjadi.”
“memangnya apa yang telah kau lakukan sehingga dia selalu menghindarimu seperti itu bos?”
“aku tidak sengaja menidurinya Max oke aku salah karena memanfaatkan keadaannya yang mabuk saat itu.
namun Aku tidak bisa menahannya karena gadis itu juga berada di dalam pengaruh obat perangsang sialan itu dan sejak kejadian itu entah mengapa aku sulit melupakannya Max.”
“whatt? Jadi hubungan mu sudah sejauh ini bos?”
tanya max sambil sedikit berteriak selalu seperti itu ekspresinya ketika dia sedang kaget.
“pelan kan suara mu itu Max !! kau membuat para pengunjung di sini sedikit terkejut kau seperti ibu-ibu menang undian saja mendengar cerita ku”
jawabku sedikit kesal karena kami nyaris menjadi pusat perhatian para pengunjung saat ini.
“syukurlah bos jika kau yang memanfaatkanya bukan laki-laki sialan itu. aku tidak bisa membayangkan jika laki-laki itu yang melakukanya pasti dia akan sangat terpuruk saat ini.”
“ya tapi sejak saat itu dia seolah membangun tembok besar agar kami tidak saling berdekatan Max. aku benar-benar frustasi saat ini.”
Max hanya tertawa mendengar segala keluh kesahku
“ wow bos sepertinya gadis itu terlalu istimewa buat mu aku yakin dia pasti akan sangat cocok mendampingimu dan kau terlalu bergerak lambat untuk menyusun pendekatan bos, kau harus segera mendekatinya sebelum kau kehilanganya. Segeralah menikah bos mengingat umurmu yang sudah setengah abad itu aku pasti akan dengan senang hati menyiapkan paket bulan madu kalian berdua.
kali ini aku pasti menyiapkan paket hooneymoon terbaik untukmu.”
" Sialan kau Max berhentilah mengoda ku.
kau terlalu senang melihat aku menderita seperti ini bagaiman bisa mengajaknya hooneymoon Max. jika dia selalu kabur ketika aku mendekatinya.”
Jawabku percuma saja membohongi Max tentang perasaanku karena Max sangat tahu isi hatiku dan apa yang aku fikirkan karena kami telah berteman cukup lama.
Dan dialah orang yang paling mengerti tentangku sejauh apapun aku menutupi sesuatu pasti dia bisa menciumnya.
katanya raut wajahku selalu mudah di tebak sialan Max.
“baiklah jika tidak ada lagi hal yang ingin kau sampaikan, aku akan kembali menuju aparterment”
“kembalilah bos kau pasti sangat lelah beristirahatlah yang cukup.”
“kau ini benar-benar menyebalkan Max mengapa tidak bicara langsung saja lewat telfone, kau malah membuatku penasaran saja”
ucapku dengan nada kesal karena kelakuan Max yang satu ini.
“cool dude, aku hanya ingin melihat ekspresimu saja ketika kita membicarakan tentang gadis itu”
“lalu menurutmu bagaimana ekspresiku ? apakah sudah bagus sesuai dengan ke inginan mu?”
jawabku kesal aku sedikit malas menangapi pertanyaan aneh Max.
“aku cukup puas di lihat dari gelagatmu sepertinya kau menyukainya. jika tidak mana mungkin kau pindah dari aparterment kesayanganmu dan memilih tinggal bertetangga dengan gadis itu.”
Oh shitt max pasti selalu tahu apa saja yang aku sembunyikan dasar manusia kardus apapun yang aku lakukan pasti dia tidak pernah ketinggalan berita.
“aku rasa berita kepindahan ku sudah menjadi gosip hangat di New York”
jawabku asal sembari menaruh beberapa lembar uang untuk membayar pesanan kami di meja.
“hahahaha kau tahu bos aku selau mematai mu apalagi mengenai kisah percintaan mu sangat sayang jika di lewatkan begitu saja. saran ku cepatlah lamar gadis itu pemandangan di florest sangat sayang jika kau lewatkan tanpa mengajak pendamping hidup mu.”
Dasar sialan Max kau seperti tenaga marketing resort atau marketing jasa pariwisata saja membuat aku sedikit kesal bagaimana mau menikahinya jika setiap kami bertemu dia menjaga jarak kepadaku sial.
“ya terserah kau saja Max, kali ini kau menang”
jawabku sembari meninggalkan Max yang masih duduk di meja tempat kami semula dan tertawa nyaring melihat tingkahku.
Aku melajukan mobilku kembali menuju aparterment entah mengapa aku terus memirkan perkataan Max mengenai hubungan ku dengan Elena apakah aku harus menyatakan sebenarnya yang aku rasakan arghhh aku benar-benar putus asa.
Setelah sampai di basement aparterment aku memasuki lift dan menuju kamar milikku setelah keluar dari lift aku melewati pintu kamar gadis itu.
Entah ekspresi apa yang akan dia tunjukan kepadaku ketika besok pagi dia mendapati aku sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Sepertinya ini akan jadi kejutan yang menarik aku segera masuk kedalam kamarku yang terletak tepat bersebalahan dengan kamarnya.
Setelah masuk ke dalam kamar aku langsung melepaskan pakaianku dan bersiap merebahkan tubuhku di atas ranjang nyaman bergelung selimut siap menjemput mimpi.