Lost My Wedding To Find You

Lost My Wedding To Find You
Pertemuan



Jimmy Petersburg:


Aku melajukan kendaraan memecah jalanan kota hari ini aku berencana mengunjungi Rikoll Smith untuk berbicara mengenai pembangunan manshion.


Beberapa tahun berkerja bersama Richo aku bisa menabung dengan sangat cukup untuk mendirikan sebuah manshion yang akan aku tempati jika aku berhasil menemukan pendamping hidup.


Tapi sepertinya itu terdengar konyol bagaimana bisa aku menemukan pendamping hidup jika wanita itu masih sukses menghantui fikiran ku.


Saat memasuki jembatan Brooklyn yang menghubungkan kota Manhattan dengan New York city.


Aku melihat sosok wanita yang selama ini aku cari wanita yang mampu membuat debaran jantungku bekerja lebih cepat.


wanita yang beberapa tahun ini selalu Melintasi fikiran ku sangat sulit melepaskan wanita itu dia sudah memenuhi setiap rongga memori otak ku.


Meskipun dalam keadaan jauh seperti ini pun aku sangat yakin jika wanita itu adalah dia.


tapi bisa saja aku salah mengenalinya dan bisa saja jika wanita ini bukan dia karena kami tak pernah saling bertemu sejak beberapa tahun terakhir.


Tapi kata hatiku mengalahkan segala keraguan ku dan aku sangat yakin jika wanita yang berdiri di sana itu adalah dia.


Meskipun sangat jarang sekali ada wanita yang berdiri mematung di samping pembatas jembatan pagi hari seperti ini.


kecuali jika wanita itu tidak waras atau ingin bunuh diri sial mana mungkin dia akan melakukannya.


Dengan rasa penasaran yang tinggi aku menepikan mobil di sisi jalan kemudian keluar dan menghampiri wanita yang ada di pinggir jalan itu.


Wanita itu masih mematung di samping pembatas jembatan dengan pandangan yang lurus menatap permukaan danau yang terlihat luas dan dalam.


Aku mencoba mendekatinya memandang sekilas samping wajahnya memastikan jika wanita ini adalah dia yang selama ini ingin aku temui.


Dan rasa penasaran ku terjawab wanita ini memang gadis itu namun pipinya semakin tirus dari sebelumnya dari terakhir kali aku bertemu dengannya.


Apakah dia terlalu banyak beban fikiran atau sedang dalam masalah yang sangat sulit, ataukah dia melakukan diet ekstrim hingga tubuhnya semakin kurus dan wajahnya sayu.


Fikiranku semakin kacau setelah aku semakin dekat kearah wanita itu dan tanpa sengaja melihat sebulir air mata jatuh di pipinya.


Percia Andersson wanita polos dan mengemaskan selalu ceria dan penyemangat.


Duniaku benar benar runtuh saat melihat kondisinya saat ini membuat aku hampir tak mengenalinya.


Percia Andersson sangat jauh berubah jika aku tak mengikuti kata hati ku mungkin aku tak akan pernah tahu jika wanita ini adalah dia.


Astaga beberapa tahun tak bertemu dengannya dan waktu mengubahnya menjadi sangat menyedihkan seperti saat ini.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi hingga dia menjadi seperti orang yang kehilangan arah tujuan hidupnya.


"Hey kau nona Andersson apa yang kau lakukan disini ? "


aku menegurnya sembari menatap wajahnya yang sendu dan sangat tirus bahkan sepasang pipi bulat itu saat ini terganti dengan sepasang tulang yang menonjol.


Wanita itu sedikit kaget dan segera menghapus jejak air mata di pipinya dengan punggung tangannya.


Gerakannya sangat cepat namun aku telah berhasil melihat jejak air mata itu.


"Hey Jimm apakah benar ini kau ?


astaga aku pasti bermimpi dan tak mungkin jika ini kau Jimm.


Aku sangat merindukanmu boy, Sialan sejak kapan kau tiba di New York ? "


Wanita itu tersenyum dan memelukku erat.


Namun aku tahu senyuman itu di paksakan agar menghapus aura sendu di wajahnya menutupi kerapuhan hatinya.


Bola mata hazelnut itu bahkan tak memancarkan sedikit kilatan tak seperti saat aku mengenal wanita itu.


Di sekitar kelopak matanya menghitam namun dia berhasil menutupinya dengan sentuhan make up yang sedikit gelap.


Rambutnya masih sama namun hanya lebih pendek dari sebelumnya dan menjadi sedikit bergelombang.


Warna rambutnya masih sama cokelat seperti warna matanya rupanya wanita itu tak pernah menganti warna rambutnya.


Aroma sampo yang tercium olehku ketika dia memeluk ku pun masih sama seperti beberapa tahun yang lalu.


Astaga ini benar benar gila bagaimana mungkin aku masih mengingat dengan jelas segala detail wanita ini ya tuhan bagaimanapun ini sangatlah konyol.


"Aku memutuskan pindah kembali ke sini beberapa tahun yang lalu setelah kau pergi dan sepertinya aku akan menetap di sini."


"Wow sangat mengejutkan kau bahkan tak pernah memberikan aku kabar .


Ku fikir kau mungkin akan tetap tinggal di Austria aku tak menyangka akan bertemu dengan mu di sini."


Aku tersenyum mendengar ucapannya ternyata wanita itu masih menunggu kabar dariku.


Hatiku menjadi sedikit lebih hangat setidaknya dia tak melupakan aku.


" Maaf aku fikir kau sudah melupakan aku ms Andersson, yah aku memang tak berencana pindah ke New York waktu itu namun Richo menyuruhku segera pulang kembali ke sini dan yah aku menurutinya ."


Dia langsung memukul lenganku ketika mendengar jawabanku


"Bagaimana mungkin bisa aku melupakan mu begitu saja itu sangat tidak mungkin.


Oh ya bagaimana jika kau sekalian berkunjung ke rumah Oma dia pasti senang melihatmu kembali."


"Apakah Oma masih di New York aku fikir kau dan Oma pindah ke Los angeles dan menetap di sana."


"Rencana awalnya seharusnya seperti itu namun ceritanya sangat panjang dan aku tak mungkin bercerita padamu di tempat seperti ini.


Ayo kita segera menuju ke rumah dan Oma pasti akan sangat senang bisa bertemu kembali dengan mu."


Aku menyetujui usul wanita itu dan membukakan pintu mobilku kepadanya mempersilahkan agar dia masuk kedalam mobil.


Sepanjang perjalan menuju rumah oma keadaan semakin hening aku mencoba untuk tetap fokus menyetir.


Namun berbagai pertanyaan menghantam benak ku berdesakkan memenuhi otak ku.


"Bagaimana kabarmu selama ini ? Apakah kau sudah bertemu cinta pertama mu ? "


Dan pertanyaan bodoh ini keluar begitu saja dari mulut ku aku menyesalinya namun sudah terlambat.


" Yah aku sudah bertemu dengannya namun hubungan kami sangat buruk dan aku tak berniat melanjutkannya."


Dia menjawab pertanyaan ku sembari menatap jendela mobil dan berusaha menghindari pandangan mataku.


Aku yakin pasti ada sesuatu yang telah terjadi padanya entah apapun itu yang pasti ini bukan salah satu masalah yang kecil.


"Lalu untuk apa kau berdiri memandangi danau seorang diri ? Kau tak berniat bunuh diri kan ? "


Dan gadis itu hanya menundukkan wajahnya menatap jari jari kukunya yang bermain di lipatan dress yang dikenakan nya ketik ku mengajukkan pertanyaan kepadanya.


" Okey aku tak memaksa kau untuk menceritakan tentang masalahmu saat ini, namun bisakah kau memberitahu ku nanti jika kau merasa sudah baik."


"Entahlah Jimm aku rasa kau akan sangat kecewa dan pasti membenciku atau kau bahkan tak akan pernah mau menemui aku lagi."


"Seharusnya seperti itu tapi aku buta hati Jimm otak ku tak bekerja pada saat itu dan sialnya segalanya sudah aku lakukan membuat aib keluarga apalagi kalau bukan itu."


"Memangnya ada apa dengan aib apa kau malu memiliki aib ? Semua manusia pasti memilikinya hanya saja itu tersimpan di balik bantal tidur mereka."


Dia hanya tersenyum mendengar ocehan ku dan akupun memutuskan untuk tak banyak bertanya padanya saat ini.


Mungkin fikiranya masih belum tenang dan masih banyak gejolak amarah yang belum padam di dalam batinnya aku mencoba untuk memaklumi hal itu.


Aku kembali fokus pada jalanan di depan ku suasana hening kembali menyapa kami dan aku sangat membenci situasi yang menghimpit ini.


Tidak ada suara canda atau tawa padahal kami dulu tak pernah merasa canggung seperti ini.


Kami tidak pernah merasa harus saling membisu seperti yang sedang kami lakukan saat ini.


Aku heran tiga tahun tidak bertemu dengannya ternyata mampu membuat wanita ini jauh berubah.


Aku kehilangan wajah polos keceriaan dan binar mata indah hazel miliknya.


Saat ini yang aku dapatkan hanya wajah sendu dengan kulit yang sedikit pucat membalut sepasang tulang pipi menonjol dan juga sepasang mata panda di tutupi riasan wajah yang tebal.


Perjalanan menuju rumah oma terasa sangat panjang dan memakan waktu dari biasanya dulu jika aku akan berkunjung meskipun jauh namun terasa sangat dekat.


Saat ini aku merasa sangat jauh begitu pula dengan wanita ini aku merasa sangat jauh tidak mengenal wanita ini padahal dia adalah gadis yang sama.


Tapi perubahan yang terjadi padanya membuat aku kehilangan sebagian yang ada pada diri wanita itu.


"Saat ini apa kegiatan mu apakah kau bekerja pada salah satu perusahaan atau kau memiliki beberapa pekerjaan ?"


Aku mencoba mencairkan suasana yang beku dengan yah lagi lagi pertanyaan yang bodoh.


"Ada beberapa projects yang akan aku kerjakan rencananya tapi aku mengambil cuti setahun untuk tidak terlibat dalam kegiatan apapun."


What ? Baru saat ini aku mendengar jika seorang Percia Andersson kehilangan minatnya pada karir biasanya dia wanita yang sangat tekun juga berhati baja.


" Apakah kau sakit perci ? Atau ada sesuatu hal yang membuatmu memutuskan untuk cuti selama itu. "


" Yah aku sakit Jimm aku tidak sehat."


"Tapi sepertinya kau dalam kondisi yang normal Perci dan aku sangat kaget melihat begitu banyak perubahan besar dalam dirimu."


"Fisik ku memang tidak terluka Jimm tapi jiwa ku mungkin sudah hancur atau bahkan sudah tidak pada tempatnya."


Aku menghentikan laju kendaraan dan mobilku berhenti di sisi jalan yang sepi.


"Sorry Perci"


"Sorry untuk apa Jimm ? "


"Untuk segala hal yang seharusnya tidak aku lewatkan begitu saja. "


Aku menatap wajahnya dan dia sedikit terkejut ada rasa rindu teramat dalam rindu yang selalu tersimpan rapi di benak ku.


Perasaan menggebu keluar seperti badai yang siap memporak porandakan kehidupkan ku.


Aku tahu hatiku masih tertambat untuk wanita ini dan rasa itu tak bisa aku hindari meskipun aku pergi menjauh darinya saat ini juga.


"Kau tak bersalah Jimm aku yang salah seharusnya aku mengikuti kata hati ku bukan keegoisan ku."


"Kali ini jika kau perlu apapun aku ada di sini Perci kau bisa menghubungi aku kapanpun dan dimanapun."


"Thanks Jimm aku tahu kau yang terbaik."


Dan dia tersenyum hangat namun aku tahu beban itu masih bergelayut pada hatinya jika saja aku tahu pria mana yang berhasil membuat dia kacau.


Mungkin akan ku patahkan batang lehernya atau akan ku beri dia pelajaran berharga agar tidak berbuat semaunya.


Aku kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah oma dengan hati yang masih bimbang juga sedikit bersalah.


Yah aku memang bersalah karena tak pernah memberi kabar apapun pada Percia karena aku fikir dia telah bahagia dengan lelaki pilihan nya.


Dan aku memang berusaha menjauhinya berniat tidak menggangu kebahagian dia bersama lelaki itu namun ternyata aku salah.


Aku kembali fokus pada jalanan di depanku dan Percia sudah lebih nyaman dan tidak termenung seperti sebelumnya.


Jika saja aku tak bertemu dengannya tadi entah apa yang telah terjadi padanya seandainya aku terlambat menemukannya.


Aku bergidik membayangkan bagaimana jika aku terlewat dan tak menemukannya apakah mungkin dia akan melakukan tindakan yang sangat di luar batas normal.


Sebenarnya beban berat apa yang dialami olehnya sampai bisa merubah segala kehidupan yang pernah dimiliki wanita ini.


Percia Andersson wanita cerdas aktif juga sangat menarik aku akui itu namun saat ini di luar perkiraan ku.


Ku fikir dia bisa lebih sukses daripada sebelumnya karena dia wanita yang sangat


Luar biasa.


"Bagaimana karir mu di sini Jimm apa kau merasa nyaman kembali lagi ke kota ini ? "


"Yah lumayan aku rasa aku mulai nyaman dengan kota ini juga lebih mudah untuk bisa berjumpa kembali dengan mu."


"Dasar tukang gombal aku tak percaya jika kau tak pernah berkencan dengan wanita selama kau kembali ke New York."


"Kau mana mungkin percaya tapi seperti itulah kenyataannya aku tidak berkencan nona Percia Andersson."


Dia hanya tertawa dan mencubit lengan tanganku sepertinya kebiasaan nya masih melekat di dalam dirinya.


"Kau masih suka tidur dengan kaos kaki atau sudah mengenakan lingerie ? "


"Sialan kau Jimm terus saja kau mengejek cara ku tidur tapi kau harus mencoba nya ."


"Mencoba apa ? "


" Tidur dengan kaos kaki rasanya sangat nyaman hangat jika kau mencoba nya sekali kau pasti ketagihan."


"Tidak terima kasih pasti sangat sulit jika tengah malam aku ingin ke kamar mandi Perci."


"Kau masih mengingat dengan jelas arah rumah Oma Jimm ? "


"Yah lumayan masih sangat jelas dalam ingatan ku Perci setiap hal yang melekat tentang dirimu."


Dan dia hanya dia mematung kembali hanyut dalam gilirannya sendiri astaga apakah aku salah berbicara seperti itu padanya.


Ya Tuhan sampai kapan dia bisa faham dan mengerti jika hati ku selalu ada untuk wanita ini.


Aku membelokkan stang kemudi menuju jalanan yang lebih sepi dari sebelumnya hanya ada pohon pohon Cemara yang tinggi menjulang di sisi kanan dan kiri jalan.


Masih terasa sangat segar dalam ingatan ku bagaiaman aku melalui jalanan ini setiap Minggu pagi untuk mengantar Percia mengunjungi Oma .


Wanita tua yang lembut itu membuat aku merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu dan sudah sangat lama aku tak pernah berjumpa kembali dengannya.


Aku menghentikan mobil ku tepat di depan rumah Oma rasanya nafasku semakin sesak banyak kata yang ingin ku keluarkan kepada wanita tua itu seperti rasa rindu.