
Elena fergusson:
Setelah sampai di kantor aku langsung berlari secepat kilat menuju ruangan kerja milikku. aku tidak mau ada gosip gosip murahan yang menyebar karena aku pergi kerja bersama bos gendeng itu.
Bisa bahaya jika ada salah satu karyawan wanita yang memergoki kami pergi bersama. Sebenarnya aku bukan penakut hanya saja aku merasa risih jika menjadi pusat perhatian apalagi dengan embel-embel gosip.
Karena beberapa karyawan wanita di kantor ini sangat memuja Richo bahkan pertama kali aku masuk bekerja ke kantor ini.
Dan terpergok jalan makan siang bersama Richo saja sudah membuat hampir seluruh divisi kantor hotel heboh.
Belum lagi beberapa ancaman dari sesama karyawan wanita yang aku terima baik secara langsung maupun lewat e-mail.
kadang membuat aku jenggah juga sedikit was-was bagaimana jika salah satu dari mereka akan berbuat nekat maka sydah pasti aku akan ketiban sial.
Meskipun aku sudah berusaha menjauhi Richo tetap saja dengan sejuta cara dia berhasil berada di dekat ku sialan sekali bagaimana caranya agar dia bisa menjaga jarak padaku.
Aku sampai di meja kerja ku dengan selamat sentosa sedikit legah juga pagi ini tidak banyak karyawan yang sudah datang di kantor.
Sehingga aku sedikit aman dari ancaman fans fans fanatik bos gila itu.
Aku duduk di meja kerjaku entah sejak tadi pagi rasanya fikiranku melayang jauh kedasar angan-angan semua ini karena pria sinting itu yang selalu saja mengangguku.
Namun entah mengapa setiap mata kami saling menatap aku merasa seperti telah mengenal pria itu sejak lama.
Seperti aku pernah bertemu dengannya sebelum kami bertemu di pesawat yang mengantarkan kami ke Kanada.
Tapi semakin ku paksa otakku ubtuk mengingat segala hal tentang garis wajah pria itu semakin sakit rasanya kepalaku.
Karena kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu aku masih saja mengalami amnesia walaupun tidak termasuk dalam amnesia yang berat.
Hanya saja potongan gambaran dari kecelakaan itu ada yang hilang termasuk seraut wajah pria yang telah berbaik hati menolongku.
Namun antara bos gila ini dengan pria yang menolongku memiliki beberapa kesamaan meskipun itu hal yang mustahil jika Richo adalah pria yang telah menolongku saat naas itu.
Namun perasaan ku terkadang berdesir bergetar setiap aku menatap kedalam matik bola matanya yang berwarna biru sebiru safir sama seperti manik mata pria yang menolongku.
Seperti tadi pagi saat kami saling menatap namun aku mencoba mengabaikan perasaan ku.
Apa-apaan dia tiba-tiba saja sudah nonggol di depan pintu aparterment ku iiisss ternyata selain menyebalkan dia juga ahli dalam hal menguntit.
Atau menguntit adalah hobby nya, sejak aku bertemu dengannya sepertinya dia suka sekali menguntit ku, aku bahkan tidak percaya dengan segala hal kebetulan-kebetulan yang mempertemukan kami.
Dan jika aku mengingatnya kembali segala awal pertemuan kami rasanya seperti tidak ada yang kebetulan.
Dan yang membuat ku sangat heran adalah mengapa tiba-tiba dia menerapkan aturan bahwa setiap pagi dan sore kita akan pulang dan pergi kerja bersama karena alasan kami berada dalam aparterment yang sama.
Benar-benar membingungkan terkadang sifatnya sangat bossy dan terlalu angkuh namun terkadang juga menyebalkan.
Tapi kalau yang satu ini tentu saja aku sedikit girang karena aku bisa menghemat ongkos ku dengan sangat baik.
Kan lumayan sekali aku bisa mencicil biaya pembukaan restoran jika aku sudah memiliki restoran aku akan berhenti bekerja dan mengelolah restoran ku dengan baik.
Tapi tentu saja aku akan terus berhadapan dengan wajah menyebalkan itu setiap hari. Catat ya every day with bos gendeng omgggg bisa gila aku kalau begini terus huftt.
Wajah ku benar-benar kusut sekusut benang ruwet entah sampai kapan aku bisa menghindar dari pria sinting itu.
emang sih dia ganteng tapi sifatnya itu sangat menyebalkan dan juga bossy banget kalau sudah berhadapan dengannya pasti tensiku jadi naik benar-benar menyebalkan.
“kau baik-baik saja ele? Atau kau belum sarapan? Kenapa wajah mu jadi kusut begitu?”
tanya Jimmy sembari meminum kopinya.
Aku mendongakkan wajah menatap Jimmy di depan meja kerja ku
“aku baik-baik saja hanya sedang terlintas sesuatu kenapa Jimm?”
tanya ku kepada Jimmy dan dia hanya memandangku sembari mengangukkan kepalanya setelah mendengar jawabanku.
Setelah beberapa jam aku fokus bekerja memeriksa e-mail dan juga data-data keperluan meeting yang akan di adahkan oleh Richo beberapa hari kedepan.
Tiba-tiba langkah sepatu highhelss terdengar mengema di telinga ku bahkan suaranya hampir memenuhi setiap ruangan kerjaku tumben sekali ada wanita yang masuk ke ruangan kami fikirku.
Akupun masih asik mengerjakan beberapa laporan yang telah Jimmy berikan padaku lewat e-mail sampai suara melengking perempuan membuat konsentrasiku buyar.
“kau, kau wanita yang berada dalam pesawat itu kan? kau sedang apa di sini heh?”
tanya wanita itu dengan nada tinggi penuh penekanan seolah dia sedang merendahkan ku.
Dan saat mata ku beralih dari layar monitor aku baru sadar ternyata wanita menyebalkan ini adalah wanita menduza kekasih abal-abal si bos sialan itu.
Lengkap sudah kesialan ku hari ini satu lagi makhluk tuhan yang sangat aku benci dan aku hindari kini telah berdiri manis di depan meja kerja ku.
“hey helloo kau ini tuli atau berpura-pura tidak mendengar ku? Aku bertanya padamu sedang apa kau di sini mengapa bisa kau disini?”
Akupun membalas pertanyaannya dengan santai.
“bukankah kau bisa melihatnya sendiri, aku bekerja disini dan kau pasti ingin bertemu kekasih mu kan, dia ada di dalam dan jangan mengangu ku bekerja pergi sana”
Setelah selesai menjawab pertanyaanya aku kembali memfokuskan diri pada pekerjaanku.
“what !! berani sekali kau berkata tidak layak dengan ku, asal kau tahu wanita jalang Richo adalah kekasih ku dan jangan sekalipun kau berniat untuk mengodanya atau kau akan berhadapan dengan ku dasar kau wanita jalang.”
Setelah itu wanita itu pergi dan masuk menuju ruangan Richo cihh apa-apaan dia seharusnya dia katakan itu pada kekasihnya. Jelas-jelas laki-laki itu yang menganggu ku malah aku yang diberi peringatan sepertinya dia salah sasaran.
Dasar wanita menduza yang malang batin ku sembari memeriksa laporan harian Jimmy.
“ele kau tidak apa-apa kan? kau jangan dengarkan omongan rancau Lindha gadis itu sangat bar-bar”
jimmy menghampiriku dengan segelas kopi hangat akupun tersenyum mendengar perkataanya.
“kau tak perlu kahwatir Jimm, im okey . oh ya aku tinggal dulu ya aku harus memeriksa beberapa laporan biaya bersama Camelie.” Kataku sembari melangkah menjauhi Jimmy menuju ruang presentasi disana Camelie pasti sudah menunggu ku.
Selain Jimmy dan Camelie aku juga berteman dekat dengan beberapa karyawan bagian Ob juga beberapa Security yang kadang mencarikanku taxi untuk pulang kerja.
Aku tiba di ruangan presentasi dan langsung memeluk Camelie ketika bertemu dengannya
“kau tahu aku sangat bahagia el”
satu lagi pangilan khusus yang di sematkan untukku.
“oh ya ada apa Camelie? Aku tidak sabar ingin mendengarkan cerita bahagia mu itu”
akupun duduk di depannya kemudian dia mengeluarkan sebuah alat tespeck dari dalam saku kemejanya.
Aku pun kaget dan tertawa bahagia sangking girangnya aku langsung memeluk camelie kembali.
“kau berhasil darling selamat”
ucapku sambil terus memeluknya.
“terimakasih el ini semua berkat dukungan mu kau menyemangatiku untuk terus memakan sayuran cambah itu meskipun aku tak menyukainya dan aku benar-benar hampir mati rasa karena setiap hari selalu memakanya.”
“oh God aku hampir lupa jadi kau mempraktekkan segala saran ku astaga Camelie aku benar-benar tak menyangka.”
“ya aku melakukannya el dan kau lihat aku sangat senang sekali aku berhasil memilikinya, tuhan sangat baik kepada ku dan kemungkinan dalam minggu depan aku akan cuti sampai melahirkan.”
“ya aku rasa seharusnya juga begitu. Mengingat kandungan mu sangat istimewa kau tidak boleh terlalu capek dan stres tapi apakah mr Richo mengizinkan cuti kerjamu?”
“ya dia mengizinkanku. Dan aku juga memperoleh pesangon darinya dan aku sudah menandatangani kontrak kerja ku jadi 2 minggu setelah melahirkan aku bisa kembali bekerja seperti sedia kala.”
“Syukurlah aku legah mendengarnya, oh ya apakah kau sudah menyiapkan data yang aku butuhkan untuk pembangunan resort?”
“tentu sudah aku siapkan ini berkasnya kau bisa mempelajarinya tapi aku tak bisa menemanimu disini karena aku masih harus menyelesaikan beberapa laporan.”
“tak apa Camelie pergilah aku akan mempelajari berkas ini dan aku akan mengirimkan beberapa resume mengenai data resort kepada mu.”
Setelah Camelie kembali ke meja kerjanya aku masih berada di ruangan presentasi biasanya ruangan ini digunakan untuk meeting direksi atau pembahasan mengenai kemajuan resort yang telah Richo kelolah.
Aku membuka laptop dan juga buku notes yang tadi aku bawa sambil mempelajari beberapa data yang di berikan oleh Camelie aku menyalakan musik dari laptop dengan volume rendah.
Aku memang suka berkerja sembari mendengarkan musik entah musik klasik atau aliran R n B aku suka sekali musik membuat fikiran ku menjadi tenang dan stabil.
Sambil mendengarkan musik dan membaca berkas documen jari-jari tangan ku sudah menari indah di atas keyboard laptop mengetik apa saja yang memang aku butuhkan.
Aku sibuk dan larut dalam pekerjaanku berjam jam lamanya aku masih sibuk dengan berkas yang akan kami perlukan untuk pembangunan resort.
Aku bahkan melewatkan jam makan siangku begitu saja hari ini sangking sibuknya aku bekerja. Tangan ku masih saja sibuk menari di atas keyboard laptop sambil sesekali menyeruput kopi yang di kirimkan Jimmy padaku.
Terkadang aku heran juga entah mengapa Jimmy begitu baik padaku, seperti hari ini ketika aku sibuk dengan pekerjaanku dia masih sempat saja mengirimkan kopi hangat untukku.
Dan beberapa hari sebelumnya pun dia juga selalu menawariku untuk makan siang bersama namun aku berhasil menolaknya.
Aku masih fokus menyusun daftar anggaran biaya di laptopku sampai pesan yang masuk kedalam handphone ku mengangu konsetrasiku.
Hufft siapa sih yang mengirimkan ku pesan di jam-jam segini palingan hanya operator kartu atau iklan lewat.
Setelah beberapa kali hanphone ku berdering karena bunyi pesan yang tak kunjung aku baca dan ku balas pesannya kini gantian bunyi telfone yang masuk ohh benar-benar menjengkelkan.
Aku mengambil handphone ku dan mengernyitkan keningku ketika melihat nama yang tertera dalam layar astaga ngapain pria sinting itu menelfone ku? Bukankah dia tadi pagi sedang asik dengan kekasihnya fikirku.
Akupun menjawab telfone nya dengan sedikit nada malas
“ya halo ada apa pak?”
“okey saya akan balik ke aparterment nanti setelah pekerjaan saya selesai. Tidak apa saya balik sendiri toh masih banyak taxi pak”
Akupun langsung mematikan sambungan telfone.
Apa-apaan ini baru tadi pagi dia bilang akan pulang dan pergi ke kantor bersama ini sudah menyuruhku pulang kerja sendiri dan tidak usah menunggunya.
Memangnya siapa dia aku harus menunggunya terkadang sikapnya itu membuatku bingung dan yang lebih menyebalkan lagi karena ahir-ahir ini bayangan tentangnya selalu bertebaran di fikiran ku.
Karena kesal aku langsung menutup berkas kerjaku dan mematikan laptop membereskan pekerjaanku dan kembali ke ruangan kerjaku. Dia benar-benar bisa membuat mood ku berubah dengan cepat baru saja mendengar suaranya membuat ku jadi malas melakukan apapun.
Dan kalau sudah begini manamungkin aku bisa fokus mengerjakan data yang di berikan Camelie padaku sialan dasar laki-laki sialan maki ku dalam hati.
Setelah sampai di ruangan kerjaku aku melihat jam yang melingkar di tanganku sudah pukul 5 sore sepertinya aku harus segera pulang selain lelah aku juga merindukan ranjang empukku.
“tumben sekali kau belum pulang Jimm apa pekerjaan mu menumpuk?”
tanyaku kepada Jimmy yang sedang menanda tangani beberapa berkas.
“tidak juga ele ini hanya beberapa pekerjaan Richo yang aku handdell beberapa persiapan untuk meeting besok pagi.”
Aku hanya mengangukan kepalaku dan menuju meja kerja ku kemudian Jimmy bertanya kepada ku
“ jika kau tak keberatan bagaimana kalau malam ini kita hang out bersama? Aku punya tempat yang bagus untuk kita bersantai” Jimmy menutup berkas document miliknya kemudian berjalan ke arah meja kerja ku dan duduk di kursi depan meja kerja ku.
“baiklah aku akan ikut hang out bersama mu Jim, lagipula aku juga merasa perlu suasana baru untuk menjernihkan fikiran ku”
kataku sembari merapihkan riasan wajahku di cermin.
Aku mengusapkan selembar tissu basah di sekitar wajahku karena wajahku terasa sedikit berminyak mungkin akibat aku salah memakai foundation yang baru aku beli kemarin.
Seharusnya aku memakai foundation dengan oil free sehingga tidak membuat wajahku terasa berat karena kandungan minyak di wajah ku yang berlebihan ini.
Setelah selesai aku segera mengambil tas tanganku kemudian memasukkan tissu basah dan cermin milikku kedalam tas.
Lalu aku beranjak dari kursi kerjaku dan mengenakkan mantel berwarna abu-abu gelap milikku berhubung cuaca di New York sangat dingin akhir minggu ini karena musim salju baru saja tiba, jadi aku selalu membawa mantel kemanapun aku ingin pergi.