
Elena Fergusson:
Hampir saja aku merasakan getaran jantung ku berhenti ketika mendengar pernyataan gila yang keluar dari bibir bos gendeng itu.
Tidak ada kata kata lain yang keluar dari mulutku aku tak bisa berkata apapun dan otak ku menjadi beku sialan.
" apa bapak kurang waras atau telingga saya yang bermasalah? Apakah pernyataan barusan itu cuma lelucon pak."
Aku terus memberondong dia dengan segudang pertanyaan yang aku sendiri juga binggung jawabannya apa.
" saya serius kamu mau kan bantu saya jadi pacar saya dalam acara itu juga dalam beberapa waktu ke depan."
Dia masih menatap mataku dalam sambil terus mencengkram jemari tangan ku.
Andai dia tahu jika aku mulai merasa hanyut ke dalam bola mata biru safir miliknya.
Aku masih diam tidak bisa menjawab apapun.
Apakah laki laki ini sudah tidak waras atau sepertinya otaknya memang sedikit miring.
" kalau saya tidak bisa bagaimana pak?"
Aku masih kekeh dengan pendirian ku,
enak saja dia memangnya aku benda bisa di permainkan sesuka hatinya.
" please tolong bantu saya untuk kali ini setelah itu kamu bisa bebas saya tidak akan menganggu kamu ataupun mengikuti segala kehidupan kamu bagaimana? "
Hemm kedengarannya asik juga jika dia benar benar menepati janji nya.
Apakah dia bisa memegang teguh janji nya itu karena asik juga jika aku bisa bebas tanpa harus selalu di buntuti olehnya.
Aku berfikir keras otak ku terus berpacu dengan segala hal gila yang akan aku lakukan nanti.
Yeah menjadi pacar gadungan dari bos gila entah bagaimana nasib ku ke depannya otak ku sama sekali buntu tidak bisa untuk berfikir.
" tapi ini hanya sandiwara kan? Saya ga mau ya jika nanti bapak beneran suka sama saya."
Perkataan ku lolos begitu saja tanpa bisa aku kendalikan.
Sebenarnya kesal juga ternyata selama ini dia berusaha manis kepadaku karena ingin aku masuk ke dalam rencana palsu ini.
Seketika ini aku benar benar sadar jika siapa aku sebenarnya di mata laki laki itu.
Aku tidak lebih dari seorang karyawan biasa yang berkerja untuk perusahaan nya.
Lagipula laki laki penuh kuasa seperti dia tidak akan mungkin segampang itu jatuh hati kepada wanita buruk rupa seperti ku.
Ada rasa kecewa yang menyelinap masuk ke dalam relung hati ku.
Rasa ini muncul tanpa bisa aku cegah meskipun aku berusaha menutupi semua pesona pria ini tetap saja tubuh ku selalu mendambanya.
Argggghhh mati aku sejak kapan perasaan ini muncul dalam hati ku aku benar benar bisa jadi gila jika terus memikirkan pria ini.
" saya tidak bisa memastikan untuk satu hal itu tapi saya selalu profesional dalam hal pekerjaan.
Tenang saja saya tidak mungkin suka atau jatuh hati dengan wanita seperti kamu elena jadi kamu aman.
Kamu cuma perlu datang ke acara itu dan kita mainkan peran ini sampai batas waktu yang aku tentukan gimana deal kan ? "
Dasar kau laki laki gila aku benar benar di buatnya kesal apa apaan dia memangnya aku serendah itu di matanya.
" jadi jika saya tidak menarik untuk bapak lantas kenapa bapak tidak menjalankan misi bapak dengan model papan atas itu pak. "
Dia tertawa dan terus melihat bola mataku benar benar membuat aku muak ingin rasanya aku menancapkan kuku kuku indahku di wajah tampan miliknya itu.
" maksud kamu Lindha? Jadi kamu masih kurang suka dengan dia atau diam diam kamu cemburu sama dia?."
Apa apaan dia malah balik bertanya kepada ku tentang wanita menduza itu lagian aku sama sekali tidak cemburu dengan wanita menduza itu.
Aku benar benar sudah kehilangan stock sabar bisa bisa aku meledak dan penuh emosi jika terus meladeni misi konyol ini.
"oh jadi wanita menduza itu bernama Linda sepertinya anda berdua sangat serasi pasangan ideal untuk misi konyol bapak itu."
Aku sengaja berlagak bodoh dan berpura pura tidak mengenal wanita siluman itu. Karena suasana hatiku sangat kacau aku terus menghabiskan jus ku yang ternyata sangat kecut.
"menduza? Apakah Lindha terkesan seperti itu yeah terserah kau saja elena.
Jadi bagaimana apa kau setuju dengan rencana ini jika kau setuju aku akan menuliskan beberapa syarat kontrak kerja kita."
Dia tersenyum manis di depan wajah ku dan aku benar benar muak kesal dan segala emosi jiwa ku sudah tidak bisa terbendung.
" oke saya deal tapi ada satu syarat ketika semua rencana anda berhasil maka anda harus menepati janji.
Saya tidak ingin di buntuti, saya tidak ingin terus di ikuti dan satu hal lagi saya ingin kompensasi yang cukup baik dalam sekenario drama konyol ini."
Hahahahaha akhirnya segala uneg uneg ku berhasil keluar rasanya aku cukup pantas kan jika meminta kompensasi yang besar dari perjanjian ini.
Lumayan juga aku bisa meningkatkan modal untuk pembukaan lestoran ku di Italia nanti dan setelah drama ini usai aku bisa resign dan kembali tinggal di Italia.
" okey tidak ada masalah dengan kompensasi saya tidak keberatan sama sekali tapi untuk batas waktu saya yang tentukan."
Nah ini yang paling tidak aku suka batas waktu drama gila ini dia yang tentukan bagaimana aku bisa lepas dari pria gila ini.
Jika aku sendiri saja tidak tahu kapan batas kontrak drama bodoh ini akan berahir.
"hei elena rupanya kau bukan hanya bodoh saja tapi kau benar benar *****"
Aku merutuki diri ku sendiri.
" Bagaimana jika drama ini kita mulai dari nanti sore."
" Apa ? Kenapa bisa jadi secepat kilat gini saya belum siap masih banyak hal yang harus saya pertimbangkan."
Aku belum selesai berfikir dan tiba tiba saja dia ingin mulai secepat ini.
Haduh bagaimana ini apakah aku harus menerina tawaran bodoh ini? Bagaimana jika kedepannya aku yang akan terperangkap di dalam permainan ini?
Sialan ayolah otak berfikir.
" Kau ini dari tadi hanya apa apa saja jawaban mu Elena tak perlu histeris begitu lagipula apalagi yang harus kau pertimbangkan?
Kita bisa berlatih dari sekarang kan untuk membangun chemistery."
Dan mendengar jawaban pria itu seketika perit ku menjafi mulas sangat mulas aku gugup aku tidak bisa berfikir oh ya tuhan malang sekali nasib ku.
" Saya sakit perut pak sepertinya saya harus ke toilet saya permisi dulu."
Aku langsung kabur secepat kilat menuju toilet karyawan.
Sampai di dalam toilet aku langsung masuk dan merebahkan badan ku bersandar di belakang pintu toilet.
Astaga kenapa harus seperti ini jadinya mengapa aku selalu terjebak dalam permainan laki laki.
Aku fikir dia merasakan getaran perasaan yang sama yang aku rasakan namun nyatanya tidak sialan benar benar sialan.
Aku harus memadamkan perasaan ini jika aku setuju dalam drama bodoh itu.
Di tambah lagi dengan beberapa pekerjaan menumpuk dari Jimmy sangat melelahkan.
Tapi syukur juga si bos gila itu tetap berada di dalam ruangan kerja nya sehingga wajah menjengkelkan nya tidak tampak di mataku.
"ele sore ini apakah kau ada janji ?"
Suara Jimmy menyadarkan aku dari rutinitas pekerjaan ku.
"sepertinya tidak Jim, ada apa?"
"wah kalau begitu bagus sekali aku ingin mengajak mu hang out bareng kalau kau tidak sibuk."
" sorry Jim aku ingin sekali pergi namun hari ini aku ingin segera pulang ke rumah aku agak meriang"
Yeah lagi lagi aku berdusta sebenarnya aku ingin lekas kabur dari kantor.
Aku menghindari bos gila semena mena itu aku menghindari tawaran gila ini.
"oh okey no problem next time deh kalau kau tak sibuk kabari aku ya. Btw aku duluan ada yang mau aku urus bey."
Aku hanya melambaikan tangan mengiringi kepergian Jimmy.
Hem satu lagi kesialan ku hari ini Jimmy tiba tiba kabur dan aku sendirian hanya berdua di ruangan ini dengan bos gila itu.
Walaupun kami terpisah pintu ruangan tetap saja aku malas berdekat dengan pria itu.
Aku meyelesaikan pekerjaan ku secepat yang aku bisa agar aku bisa lekas kabur pulang ke rumah karena aku belum memiliki jawaban untuk rencana konyol itu.
Dan satu lagi kesialan ku hari ini baru saja aku selesai mematikan perangkat komputer ku dan pria sinting ini sudah berdiri di hadapan meja kerjaku.
" Sore ini seperti nya saya pulang sendiri pak ada beberapa urusan rumah yang harus saya selesaikan. Kalau anda ingin duluan pulang tidak apa apa saya pulang dengan taxi saja"
Untung saja lidah ku sudah pandai berdusta tanpa bergetar aku bisa memuluskan rencana ku untuk kabur dari pria gila ini.
" Sepertinya kau belum cukup pikun untuk lupa akan jawaban dari rencana saya elena. Atau kau sengaja menghindari saya ?
Sudah cukup basa basinya saya cuma perlu jawabannya saja."
Urrrrrgggh dan dia masih saja membahas rencana gila ini kenapa dia tidak amnesia saja benar benar merepotkan dan lesabaran ku mulai habis.
" Bisa ga sehari saja kamu ga ganggu saya? Saya masih belum ketemu jawabanya apa."
" Bukannya tadi siang kamu hampir setuju ya? Terus apa lagi yang menjadi pertimbangan mu?"
" Banyak hal yang harus saya pertimbangkan apalagi ini menyangkut komitmen saya ga bisa terlalu berkomitmen."
Ayolah otak berfikirlah di saat genting begini kenapa aku jadi lemot.
" Jalani saja dulu baru kira fikirkan dengan komitmen terima saja dulu tawaran saya. Saya yakin deh ga akan ada ruginya jadi pacar kontrak saya."
Aku menghela nafas jengah dasar pria gila selain menyebalkan dia sangat pemaksa baiklah sepertinya aku harus menyerah sialan sekali.
" Okey deal saya mau jika setelah selesai menjadi pacar kontrak ini saya bisa bebas dari prilaku bossy bapak saya setuju.
Jadi mulai kapan missi bodoh bapak ini mau di jalankan?"
" Kalau bisa sih dari sekarang "
"Whatt sekarang kenapa musti buru buru?"
" Kita harus banyak berlatih terutama membangun chemistry biar orang yakin kalau saya dan kamu itu ada hubungan. Kalau saya sih ga perlu belajar tapi saya rasa kamu patut belajar gimana caranya lembut sama pasangan."
Aku mendelik mendengar ucapannya
" Lembut ? Saya harus lemah lembut sama bapak jangan mimpi bangun pak udah sore"
Aku langsung meninggalkan pria itu menuju mesin abssensi karyawan dan dia terus mengejar ku di belakang.
Tak lama dia sudah berdiri di sampingku aku benar benar kesal kapan pria gila ini berhenti mengacaukan kehidupan ku.
" Ayo ikut saya ke parkiran"
" Tapi saya mau pulang sendiri pak, ada beberapa hal yang harus saya beli."
" Ya sudah sekalian aja barengan saya juga ada yang mau di beli."
argggghhh lagi dan lagi pria ini yang menentukan kehidupanku tangan nya menyeret lengan ku dan aku terpaksa mengikuti langkah kakinya yang berjalan sangat cepat.
" Bisa ga sih jalan nya jangan narik narik lengan gini badan aku sakit semua tahu"
aku masuk ke dalam lift sembari melotot padanya dia hanya tersenyum kecil sembari melepaskan tangannya di lengan ku.
" Terus kamu mau nya gimana mau aku peluk? atau aku gandeng biar ga jatuh? hemm"
" Ogah mending jalan sendiri deh"
aku masih sebal dengan raut wajahnya yang selalu menampilkan wajah dingin dan mengejek.
Kami sampai di bassement parkiran dan aku langsung berjalan cepat ke arah mobil pria gila itu.
Untung susana kantor sudah sepi jika masih ada yang berkeliaran di kantor bisa bisa seisi kantor bisa ramai dengan gosip skandal murahan kami.
" Kamu ngapain bengong disitu ayo masuk ke dalam atau mau saya bukain pintu mobil juga"
" Bisa ga jangan sok lebay sok manis gitu saya geli pak "
aku masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi penggemudi.
kami diam selama beberapa menit di dalam mobil entah harus mulai darimana agar suasana hening ini bisa hilang.
Aku memperhatikan setiap sudut jalanan kota yang kita lewati.
" Kita mau kemana? sepertinya ini bukan arah jalan pulang"
" Kencan "
" Apa kencan? apa bapak sudah gila mana ada kencan dengan baju kerja seperti ini."
" Udah nurut aja entar juga kamu tahu."
Aku kembali diam dan mobil richo pun berbelok ke arah halaman parkir dari sebuah butik ternama di New York.
Dan semakin binggung lah aku di buat olehnya mau apa dia tiba tiba menggajak ku mampir ke butik ini.
" Mau sampai kapan kamu benggong di sana ayo masuk kita cari baju buat kamu ke pesta besok malam."
" Sepertinya terlalu mahal saya pakai baju yang saya punya aja. Lagipula saya ga mungkin sanggup bayar gaun itu dalam waktu dekat ."
aku masih di berdiri di samping mobil milik Richo tak yakin jika aku akan menjajakan kaki ku ke dalam butik itu.
Sebenarnya kalau hanya untuk pesta saja aku memiliki beberapa gaun tapi bagaimana bisa menolak pria gila ini jika kita sudah berdiri di depan butik.
" Kamu yakin ga mau masuk ke dalam di sini dingin atau kamu mau saya gendong masuk ke dalam."
dan dia mulai mendekatiku astaga dasar pria gila sepertinya aku harus bertindak.