
Elena fergusson:
Aku dan Stella sampai di ballroom hotel yang telah ramai oleh para tamu undangan kebanyakan mereka rekan kerja Stella dan Rikoll. Aku berpisah dengan stella aku duduk di meja tamu yang telah disediakan dan stella berjalan menuju tempat dimana Rikoll telah menunggunya.
Aku lihat Rikoll memeluk pinggan stella dan mengecup keningnya setelah mereka selesai bertukar cincin aku merasa sangat bahagia akhirnya stella bisa bertunangan dengan seorang laki-laki yang baik.
Setelah prosesi tukar cincin berjalan dengan baik para tamu undangan di haruskan untuk turun ke lantai dansa berdansa bersama pasangan stella dan Rikoll.
Oh god bagaimana ini aku datang hanya seorang diri bagaimana mungkin aku berdansa aku bahkan tidak memiliki pasangan hem sudah aku duga seharusnya aku tak datang.
Aku duduk dan tetap pada posisi ku di meja tamu dengan sedikit perasaan yang gundah saat musik dansa baru berbunyi aku merasa pergelangan tangan ku di tarik oleh seseorang yang ternyata dia adalah pria bermata biru itu.
Aku mengikuti langkahnya yang berbaur dengan pasangan dansa yang lain di lantai dansa sebenarnya mau apa dia menyeret ku ke lantai dansa apa dia ingin mengajak ku berdansa?.
Cara yang dia pakai sangat terkesan jauh dari kata romantis bagaimana bisa mengajak wanita berdansa dengan menariknya kau benar-benar gila fikirku.
Dan apakah pria ini salah satu rekan bisnis Rikoll mengapa dia juga berada dalam pesta ini?.
Aku terus berfikir sambil mengikuti arah langkah kakinya tapi jika dia tidak di undang tidak mungkin dia datang bearti benar dia adalah rekanan bisnis Rikoll mati aku.
Oh god telan lah aku dalam-dalam aku sudah salah sangka dengan pria ini aku kira dia sengaja mengikuti ku hingga ke hotel ternyata dia juga salah satu tamu undangan Rikoll.
Bunyi musik dansa telah mengalun lembut pria itu memeluk pingang ku sangat erat dan memandangku dengan tatapan yang sangat dalam seakan-akan dia ingin memakanku.
“wow romantis sekali tuan anda mengajak wanita untuk berdansa dengan menyeretnya ke lantai dansa sangat mengagumkan” sindirku aku sengaja menyindirnya untuk menghilangkan perasaan gugup ku ini.
Dan pria itu hanya tersenyum dan menyeringai kepada ku membalas sindiran yang aku berikan kepadanya tadi ya tuhan tolong jangan sampai bunyi detak jantung ku ini terdengar olehnya ini sangat memalukan.
Kami berdansa cukup lama dan aku mengalungkan lengan ku di lehernya dia memeluk ku erat tubuh kami saling berdekatan.
Aku bisa melihat dengan jelas raut wajahnya yang tampan dari sudut mata ku dan juga aku bisa merasakan bagaimana hangat hembusan nafas yang keluar dari lubang hidungnya yang mengenai permukaan rambut ku.
Oh shiit mengapa aku selalu terjebak dengan pria sinting ini aku sangat gugup dan kakiku terasa seperti jelly saat ini aku berdekatan dengannya sangat tidak nyaman membuat jantungku berkerja sangat cepat.
Akhirnya musik dansa selesai dan pria ini masih tidak melepaskan pelukannya di pinggang ku. Sangat menyebalkan fikirku dia menarik tubuhku mendekat dengannya lalu membisikan kata di telingaku
“i want you nona.”
Bisikan itu terdengar sedikit serak dan mengodda oh benar-benar memalukan elena ingat kau jangan tergoda olehnya otak ku berbicara kepada ku menyadarkan aku untuk tidak terbuai oleh sentuhan nya.
“jangan terlalu percaya diri tuan” balas ku sambil menatapnya dengan tatapan tajam lalu menginjak kakinya dan menghempaskan pelukannya.
Aku berhasil melepaskan diri dari pelukannya kemudian menjauh darinya aku berjalan melewati para tamu undangan. Mencoba untuk berbaur dengan mereka dengan harapan agar pria itu tidak bisa mencariku.
Aku harus menghindarinya karena berdekatan dengannya membangunkan perasaan aneh dalam diriku.
Secepat kilat aku memasukki lorong yang menghubungkan ballroom dengan toilet. Karena aku terlalu banyak minum soda tadi sehingga rasanya kantung kemih ku penuh dan aku tidak bisa menahannya lagi aku harus segera menuju ke toilet saat ini.
Setelah berjalan menyusuri lorong ballroom aku menemukan toilet wanita hem akhirnya aku sudah tidak tahan lagi untuk segera pipis. Betapa terkejutnya aku ketika memasuki ruangan toilet aku lihat ada sepasang kekasih pria dan wanita sedang bercumbu di depan westafel mereka bercumbu dengan panas sampai tidak sadar bahwa ada orang lain yang memergoki mereka.
Aku berdehem nyaring agar mereka menghentikan aktivitas menjijikan mereka dan saat pria itu menoleh ke arahku aku benar-benar tidak percaya bagaimana tidak pria itu adalah Stward Joseph.
Mantan tunanganku terdahulu stward menatap ku dengan raut wajah yang kaget tidak bisa terbaca dan wanita yang bersamanya itu menatap ku dengan pandangan tak suka.
Hey apakah aku mengangunya seharusnya merekalah yang menganguku ini sangat memalukan mengapa stward tidak membawa Percia Andersson ke pesta ini.
Dan malah berbuat mesum dengan wanita lain padahal percia sedang mengandung anaknya dasar laki-laki mesum fikirku.
“hey sedang apa kau apa kau memang suka melihat orang lain berciuman?” kata wanita yang bersama stward menyadarkan lamunanku.
Whatt aku sama sekali tak tertarik dengan kegiatan mereka malahan aku sangat jijik melihat mereka berdua saat ini bukan karena aku masih mencintai stward.
Tapi karena sifat playernya dengan gadis-gadis lain yang membuat aku sangat benci dengannya.
“ini tempat umum siapapun bebas melakukan apa saja disini, lagi pula seharusnya kau lanjutkan aktivitas mu itu di hotel berbintang nona bukan di toilet rendahan seprti ini.”
Aku membalas perkataan gadis itu dan berlalu di depan nya menuju bilik toilet yang tersedia di samping westafel bodo amet mereka akan menganggap aku apa atau berfikir tentang aku seperti apa.
Karena saat ini aku benar-benar sudah kebelet dan tak bisa menahanya lagi untuk mencari toilet yang lain.
Oh god apa yang mereka lakukan di sini apakah stward sudah tidak mampu menyewa hotel atau pria itu benar-benar sudah gila lagipula kenapa juga dia melakukan hal intim di tempat umum seperti ini.
Sepertinya stward memang sudah gila aku mendengar desahan dari wanita itu apa-apaan ini jangan-jangan mereka make-out di toilet oh shitt dasar stward laki-laki ashole. Aku menekan tombol penyiram toilet di closed setiap kali aku dengar wanita itu mendesah sehingga suara wanita itu tergantikan oleh suara siraman dalam toilet.
Aku benar-benar tidak tahan lagi mendengar desahan wanita itu tapi aku juga tidak mungkin keluar dari sini aku sangat malu melihat mereka melakukannya.
Aku berada di dalam bilik toilet ini sangat lama sekitar setengah jam aku berada di atas closed aku dengar sepertinnya mereka sudah keluar karena suara desahan wanita itu sudah tidak ada lagi.
Apakah dia mabuk mengapa dia melakukan hal-hal gila dan memalukan seperti ini dasar pria mesum apakah dia tidak tahu jika ini toilet wanita aku rasa dia tahu tapi untuk apa lagi dia masuk ke dalam.
Bukankah sesi mesumnya telah usai dengan wanita itu bahkan wanita itu sudah tidak berada di sini lagi stward berjalan mendekat ke arah ku dan aku semakin panik aku takut stward akan melakukan hal-hal gila di luar nalar ku.
Stward semakin dekat dan menarik tubuh ku dia menatap ku dengan tatapan lapar yang siap menerkam ku kapan saja dia mendekatkan bibirnya kepada ku mencoba untuk mencium ku.
Namun aku menolaknya sekuat tenaga mendorong tubuhnya memukul dadanya dan berbuat membabi buta seperti gadis bar-bar. Tapi kekuatan ku kalah dengan kekuatan tubuhnya stward dengan leluasa mencium leher ku lalu tangannya mencengram erat tubuhku bibirnya semakin lama semakin liar di leher ku lalu perlahan turun menuju payudara ku.
Kurang ajar aku mengigit bahunya dengan keras namun stward tetap tak bergeming ya tuhan tolong aku saat ini hilangkanlah aku dari tempat ini.
Aku tidak bisa di rendahkan seperti ini aku berteriak
“hentikan Stward sentuhan mu membuat ku jijik lepaskan aku”
aku menginjak kakinya namun dia membalas dengan mencengkram tanganku keras dan mencoba mencium bibir ku.
“ kau sangat mengodda elena berikanlah tubuh indah mu ini kepada ku sayang, aku akan membawa mu ke surga malam ini” ucapan stward terasa benar-benar menjijikan. Saat aku hampir mengerang karena sentuhan stward aku melihat sesosok laki-laki masuk menarik tubuh stward dan memukul stward.
Pria itu adalah pria bermata biru yang berdansa dengan ku tadi kemudian dia menghajar stward memukulnya tepat di wajah stward pria itu benar-benar marah aku lihat ada sorot kemarahan yang mendalam dari pancaran iris birunya yang memandang tajam ke arah stward.
Pria itu tetap menghajar stward dengan pukulan bertubi-tubi hingga stward terjatuh ke lantai dan berteriak lantang
“ jangan ikut campur urusan ku tuan richo wanita itu adalah milik ku.”
Setelah selesai berteriak pria itu langsung memberikan 1 pukulan keras di pelipis mata stward “cepat pergi dari sini stward atau kau akan pulang dengan kondisi yang memalukan.”
Stward berdiri dengan sedikit terhuyung-huyung menuju pintu keluar toilet dan meninggalkan kami berdua setelah mendengar ancaman pria itu.
Aku memandang legah setelah melihat stward keluar dari toilet dan berniat untuk segera keluar juga dari ruangan toilet sialan ini.
Namun belum sempat aku keluar dari ruangan pria gila bermata biru ini langsung menarik pergelangan tangan ku dan mengurung tubuhku dengan kedua tangannya.
“Mau kemana nona? Apa kau tidak terbiasa dengan mengucapkan tanda terima kasih” katanya sambil menaikan sebelah alisnya sialan masih saja dia mengodaku.
“terima kasih tuan” ucap ku singkat dan membuang tatapan wajah ku ke cermin aku sangat gugup saat ini aku tidak bisa menatapnya.
“itu tidak cukup nona”
“lalu kau mau aku melakukan apa lagi?” jawab ku aku sangat kesal sekali dengan pria ini yang tidak berhenti mengoda ku.
“aku ingin satu atau mungkin lebih dari itu” jawabnya sambil mencengram tanganku “jangan mimpi tuan” balasku dengan kasar dan pria itu langsung menarik tangan ku.
Mendekap tubuhku dengan erat dan memcium bibirku dia melumat bibirku dengan lembut namun semakin terasa liar dan menuntut. Sial aku tak bisa mengendalikan tubuhku seharus nya aku bisa menolaknya tapi mengapa aku malah menikmatinya dan membalasnya.
Otak ku terus berkerja dan mengingatkan aku bahwa aku tidak boleh terus menikmati ciuman pria gila ini aku mendorong tubuhnya sekuat tenaga. Namun pria itu semakin liar lidahnya menerobos masuk ke dalam rongga mulut ku mencicipi setiap sentinya dan membelit lidah ku dengan panas lalu melepas ciuman kami secara tiba-tiba.
Membuat nafas ku tersengal-sengal apa-apaan pria ini lalu dia mendekatkan bibirnya kearah telinga ku dan menciumnya kemudian mengatakan “sampai bertemu kembali nona” suaranya sangat paru dan mengoda.
Oh tidak elena kau harus segera membuang fikiran mesum mu ini kata-kata pria itu benar-benar membuat bulu kuduk ku meremang aku hanya terkejut dan setengah melamun saat pria itu meninggalkan aku berjalan menuju pintu keluar toilet.
“jangan harap kita akan bertemu kembali tuan kau sangat percaya diri” bisik ku pelan saat laki-laki itu sudah keluar dari ruangan toilet dasar laki-laki ashole jerk.
Bisa-bisanya dia mengambil ciuman pertamaku ,aku tak mengharapkan berciuman dengan pria di tempat sepeeti ini ku.
Aku selalu mengharapkan ciuman pertama ku dengan romantis atau mungkin saat diner malam di temani lilin-lilin kecil tidak berahir tragis di toilet seperti ini sialan.
Aku memang berpacaran lama dengan Stward tapi aku tidak pernah melakukan kontak fisik apapun termasuk berciuman di bibir seperti barusan.
Karena aku sangat menjaga apa yang aku punya aku selalu memposisikan diri ku sebagai wanita terhormat dan seketika kedudukan ku sebagai wanita terhomat hilang sudah karena pria gila bermata biru itu.
Aku keluar dari ruangan toilet dan berjalan gontai menuju meja bar yang tersedia di pesta yang diadahkan stella fikiran ku masih berkecamuk dalam otak ku menari-nari membuatku sangat jengah.
Bagaimana bisa aku bertemu 2 pria sinting dalam sekejap malam ini aku benar-benar sial setelah sampai di bar aku duduk di kursi samping pria yang juga sedang asik dengan minumannya.
Aku memesan minuman cooktail jus karena aku tidak menyukai minuman beralkohol rasa nya sangat pahit di lidah dan bau yang di timbulkan membuat aku pusing.
Aku berbincang-bincang dengan pria yang berada di sebelah ku dan mencicipi sedikit minuman yang di tawarkannya kepadaku rasanya sedikit dominan dengan anggur yah meskipun tidak terlalu beralkohol.
Setelah meletakkan gelas minuman ku aku masih merasa benar-benar sadar dengan apa yang aku lakukan dan masih bercerita dengan pria itu.
Tapi semakin lama kenapa kepala ku terasa sedikit berat aku sangat yakin aku tidak mabuk karena aku tidak meminum alkohol satu gelaspun.
Semakin lama tidak bisa aku tahan rasanya sangat panas dan menggantuk entah mengapa suhu ruangan ini terasa sangat panas aku mengibaskan tangan di depan muka ku.
Dan tiba-tiba tubuhku ambruk brugkk!!! Aku tidak bisa mengendalikan tubuh ku lagi di menit-menit berikutnya aku tumbang tapi masih tetap sadar hanya saja fikiran ku merasa sangat ingin tertawa bebas melayang jauh ke awan.