
Elena fergusson:
Pagi ini aku tiba di kantor ku yang baru hari pertama aku mulai bekerja kembali senang rasanya aku sudah mulai melakukan aktifitas yang sibuk.
Aku memulai melakukan pekerjaan merekap semua data mengenai Resort tersebut. Resort ini cukup menarik dari segi penataanya tata ruang yang simple minimalis bergaya klasik berpadu dengan alam sangat natural namun tetap minimalis.
Karena letak resort ini di hamparan pantai dengan di tunjang pemandangan yang nyaman dan sejuk membuat mata setiap pengunjung yang datang akan terasa seperti di manjakan oleh pemandangan yang di tawarkan resort ini.
Sepertinya sangat banyak para tamu domestik dan non domestik yang datang singah ke resort ini untuk sekedar menginap ataupun menikmati pantai Resort ini.
Setelah beberapa jam berlalu dan tanpa terasa alaram dalam perutku sudah mulai berbunyi meminta untuk mulai diisi akupun beralih dari laptop ku sekedar ingin melepas penat di lounge hotel sambil menikmati waktu Lunch.
Kesibukan bekerja membuat aku tidak sadar jika sudah memasuki jam makan siang. Wah lumayan juga nih bisa makan di beberapa leatoran yang ada di longe kantor hotel fikirku.
Ketika aku hendak beralih dari meja kerja aku melihat Bu Vika masih tetap serius menatap laptop kerjanya dengan beberapa berkas document di samping nya.
Terlihat sekali keseriusan dalam wajahnya yang memperlihatkan guratan tegas wajah angkunya.
Apakah dia tidak merasa lapar atau kah dia sedang diet extrime fikir ku? atau mungkin memang dia wanita Workholic. menghabiskan sisa hidupnya dengan hanya berkutat dengan laptopnya dan di penuhi oleh pemikiran tentang data-data pekerjaan.
Menyedihkan sekali jika aku juga akan sama sepertinya menghabiskan waktu weekend dan terus memikirkan pekerjaan.
Aku pun memberanikan diri mengetuk kubikel meja nya
“ permisi Bu Vika apakah anda ada rencana Lunch di luar bersama client atau mungkin sahabat anda ?” tanyaku.
“tidak Elena kau bisa makan lebih dulu mungkin aku akan menyusulmu setelah pekerjaan ku ini selesai.”
“ Yes madam jika seperti itu saya akan pergi lunch di sekitar Lounge hotel ini jika anda ada keperluan mendadak anda bisa memeberitahu saya.”
“ oke segeralah bergegas karena kau tahu aku tidak suka membuang waktu ku sia-sia”.
Aku pun bergegas pergi meninggalkan Bu Vika yang telah hanyut dalam rutinitasnya sendiri.
Aku duduk di sebuah resto dalam lounge hotel ini aku memilih untuk duduk dan makan siang di meja pojok dekat dengan bingkai pagar kaca besar.
Dari sana setiap pengunjung bisa melihat dengan begitu jelas keadaan di pantai debur ombak nya anak-anak kecil yang berlari bermain pasir pantai.
Meskipun tidak berada di lantai yang tinggi tapi posisi resto ini sangat pas sehingga pemandangan pantai sangat tampak jelas. Mungkin jika senja sudah beranjak resto ini akan di penuhi oleh pengunjung yang datang untuk sekedar melihat matahari terbenam.
Setelah selesai menyantap beberapa makanan yang telah ku pesan.
Aku menyenderkan pungungku ke kursi mencoba untuk duduk lebih dalam dan rilexs entah mengapa sejauh ini fikiranku masih melayang jauh kembali mengingat pria itu. Fikiranku masih membelah angan-angan masih terasa jelas suara barinton milik lelaki itu arghhh sial.
Namun secepat kilat aku berusaha segera menepisnya melupakan semua yang terjadi antara kami.
Dan beranjak bergegas kembali ke meja kerjanya karena pasti Bu Vika menungguku sekarang.
Akupun berlari- lari kecil menuju ruangan kerjaku dengan sedikit gugup takut jika Bu Vika akan komplain sedikit , karena aku terlalu lama membuang waktu istirahat yang di berikannya maklum aku masih dalam proses trainning.
Akhirnya sampai juga di meja kerja sedikit legah juga ternyata Bu Vika masih sibuk dengan kegiatannya tadi mengecek dokumen.
Aku mencoba menawarkan Bu Vika 1 cup Ice Coffe Capuccino dengan sedikit taburan Kacang almon dan juga bubuk daun mint yang tadi telah ku pesan di resto.
Taburan bubuk mint pada kopi ini membuat sensasi dingin menyegarkan menghilangkan rasa kantuk yang berat ini merupakan minuman faforit ku dengan gula yang cukup takarannya tidak terlalu manis tapi pass.
“sorry mam a coffe just for you Ice Capuccino lass sugar” tawar elena yang di sambut hangat oleh Bu Vika dengan sedikit senyuman yah setidaknya dia senyumlah daripada terlalu serius pikir ku.
“ kamu tidak sedang menyogok saya kan hahahahah” tawa Bu Vika terdengar sedikit mengelegar seketika aku sedikit terkejut ternyata seorang Workholic sepertinya bisa juga sedikit santai.
“ tentu tidak, saya hanya melihat anda terlalu serius bekerja dan itu tidak terlalu baik untuk kesehatan and This a coffe for rilexs in your body mam.”
“ ok Thanks dan kembali lah berkerja dengan teliti ingat sedikit waktu yang terbuang saya tidak menyukainya” balas nya yang segera aku jawab dengan acungan jempol.
Aku kembali berkutat dalam meja kerja ku menyusun draf- draf laporan tentang hasil penginapan resort ini sambil sekilas aku melirik ruangan di sekitar ku.
Dalam ruangan kerjaku aku tidak berada sendirian di sini karena aku juga satu ruangan dengan Lost Control Manager hotel ini seorang pria modis bernama Jimmy Petersburg.
Laki-laki dengan gaya flamboyan namun aku baru menyadari bahwa Jimmy adalah seorang gay dari beberapa karyawan kantor.
Kemarin aku tidak sengaja mendengar karyawan wanita yang bergosip ria menceritakan tentang keadaan jimmy. Beberapa wanita itu mengatakan jika Jimmy seorang gay dan mereka sangat terkejut mengetahui berita burung tersebut. Sebagian wanita pun ada yang merasa kecewa karena gaya penampilan juga wajah Jimmy yang sangat maskulin itu jika Jimmy benar-benar menjadi seorang gay.
Aku melihat ke arah Meja kerja milik jimmy sangat bersih hanya ada beberapa bingkai foto yang menampakkan wajahnya.
Dari foto itu aku tahu jika jimmy memiliki tampang yang sangat mengagumkan sangat proposional dan menunjang.
Mungkin jika aku tidak mengetahui gosip yang mengatakan bahwa dia seorang gay aku pasti akan mengaguminya.
Bagaimana tidak Jimmy memiliki pesona yang sangat memabukan untuk ukuran laki-laki normal.
Raut wajahnya sangat tegas dengan sorot mata tajam berwarna ke abu-abuan gelap dan pekat.
Seolah tatapan tajam itu bisa mengintimidasi siapapun lalu bentuk rahang yang juga tegas di lengkapi bibir yang tipis. Dari raut wajahnya sepertinnya dia sangat maskulin aku tidak percaya juga dengan gosip yang sempat aku dengar dari rekan wanita yang berada di toilet karyawan kemarin siang.
Dan satu lagi ruangan yang juga berada di dalam ruangan ku yaitu ruangan khusus CEO terletak di depan meja ku dengan di batasi sebuah pintu masuk ruangan yang sedari tadi pagi tidak pernah terbuka aku sedikit penasaran juga apakah ruangan CEO ini memang tidak pernah terbuka dan apakah CEO kami memang jarang sekali berada di tempat.
Wah pasti sangat menyenangkan jika CEO kami tidak selalu berada di kantor sehingga kerjaan kamipun bisa sedikit santai fikir ku cihuyy aku bersorak dalam hati.
Meskipun ini hari pertama aku bekerja di hotel ini aku sedikit penasaran juga bagaiman rupa dari seorang CEO hotel ini yang katanya masih berusia sangat muda.
Aku sempat membaca sedikit biografi menegenai hotel dan resort ini yang di bangun mulai dari nol dan akhirnya bisa berjalan sukses berkat seorang CEO muda ini.
Dan juga Bu Vika sudah memperkenalkan aku kepada beberapa karyawan hotel dengan berbagai divisi yang berbeda termasuk bagian receptionis sampai security terkecuali dengan CEO tersebut membuat Elena semakin penasaran.
Tanpa terasa jam sudah berlalu sangat cepat senja pun sudah mulai larut tergantikan oleh sinar bulan dengan semburat -semburat cahaya bulan ruangan senior manager ini sangat nyaman karena kaca besar itu tepat berada di belakang kursi kerja.
Aku pun beranjak dari meja kerja kemudian menarik pembatas tirai yang menutupi jendela setelah membuka tirai jendela tampak dengan jelas jalanan kota New York di malam hari.
Gedung-gedung tinggi menjulang mencakar langit dan juga orang-orang yang berlalu lalang memecah kota berjalan kesana kemari sesuai tujuan mereka.
Biasan cahaya bulan menyinari setiap sudut kota, kota ini hampir tidak pernah tidur selalu ada saja orang yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
“elena besok saya sudah harus resign saya harap kamu bisa mengerti dan memahami setiap pekerjaan yang di berikan dengan cepat. Dan kemungkinan besok pagi saya akan memperkenalkan kamu kepada Pak Richo CEO hotel ini, aku harap kamu tidak terlambat datang kerja karena dia sangat perfectionis semua pekerjaan harus bisa kamu selesaikan dengan baik.”
“ sure madam saya akan melalukan tugas saya dengan baik dan apakah bu Vika sudah ingin pulang?.
“ya, saya ingin membereskan beberapa barang pribadi saya di ruangan kerja saya dulu kemudian bergegas pulang.
apakah ada pekerjaan lain yang tidak kau mengerti? kau bisa menanyakan beberapa data kepada Jimmy jika aku sibuk dengan pengobatan putra ku nanti” ucap bu vika sembari mengambil tas miliknya.
“ baik Bu, semoga pengobatan putra ibu berjalan dengan lancar dan dia lekas membaik”.
Setelah itu bu Vika langsung menghilang dan bergegas ke ruangannya membereskan berbagai barang-barang pribadinya.
Aku tetap tinggal sendiri dalam ruangan ini karena aku harus segera mempelajari beberapa dokument pekerjaan.
Aku pun memindahkan laptop dan juga berkas document yang lain menghadap kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota.
Aku duduk sembari mengerjakan berkas yang tertunda tadi sambil mengamati pemandangan kota aku menghela nafasnya dengan sedikit gusar entah kenapa malam ini rasanya aku malas sekali untuk beranjak pergi dari meja kerja.
Tangan ku dengan lincah mengetik di atas laptop, baju ku sudah mulai tidak rapih seperti tadi pagi aku datang.
kini kemeja itu sudah tak beraturan dengan beberapa kancing terbuka di atas kemudian rambutku aku ikat asal kebelakang menyisakan rambut tipis di samping telinga.
Saat asik dengan pekerjaanku aku mendengar derap langkah sepatu yang tergesa-gesa entah siapa yang datang di malam selarut ini ? bukankah tadi Bu Vika sudah pulang terlebih dahulu ? ataukah ada barang lain yang tertinggal di ruangan Bu Vika.
Aku rasa tidak mungkin bukankah semua sudah di kemas oleh Bu Vika aku semakin bingung tapi aku tidak berniat untuk melihat siapa yang datang.
Aku tetap asik dengan pekerjaanku sambil membelakangi meja kerja aku memilih berkerja dengan melihat pemadangan kota di balik kaca besar ini.
“ apakah kau senior manager yang baru? mengapa kau belum meninggalkan kantor ini sudah larut malam?.” aku hampir tersedak mendengar suara barinton milik laki-laki dengan sedikit serak namun aku mengenal dan sangat hafal dengan pemilik suara ini.
Apakah aku sudah benar-benar gila mengapa sepertinya bayangan pria sinting bermata biru itu terus mengikutiku dan kini aku malah mendengar suara dari pria itu dasar sial aku mengumpat dalam hati.
Aku memberanikan diri untuk melihat sosok pria yang menegurku kemudian membalikkan badanku menghadap ke arah pria itu.
sedikit gugup juga mana mungkin pria sinting itu juga berada di sini itu mustahil fikirku.
Aku melihat sosok laki-laki yang menegurku dengan pakaianya yang rapi dan jas yang membalut tubuhnya dengan sempurna. menampilkan sosok maskulin dan mengoda dan dasi yang sudah terlihat longgar karena kancing kemejanya sudah di lepaskan.
Matanya biru jernih sebiru safir dengan bulu mata dan alis tebal membingkai mata indahnya rahangnya tegas dengan sedikit bulu tipis dan rapi.
Apakah mungkin dia adalah CEO hotel ini ? astaga betapa malunya aku saat ini bahwa CEO itu adalah pria sinting bermata biru yang telah bercinta denganku.
Mengapa pria ini selalu saja bertemu denganku di saat yang tidak tepat.
Aku berbalik kearah pria itu dengan sedikit gugup “ya Sir saya adalah penganti Bu Vika apakah ada yg bisa saya bantu?.”
“em tidak ada saya rasa ini sudah sangat malam lebih baik kau pulang tidak perlu lembur untuk pekerjaan yang tidak dateline karena jalanan malam sangat berbahaya untuk wanita seperti mu dan juga perbaikilah letak kancing baju mu itu.”
perintahnya tegas membuat aku bingung dan malu dengan cepat aku langsung mengancingkan bajuku dengan rapi.
Astaga kenapa aku harus bertemu lagi dengan pria sinting ini.
Lalu laki-laki itu kembali pergi meninggalkan aku sendiri mematung bingung di ruangan kerja.
fikiran ku terlalu kalut dan masih belum siap bertemu kembali dengan pria iru.
Aku bergegas segera mematikkan laptop kerja ku dan memberesakan document yang akan aku kerjakan besok pagi.
Setelah selesai aku memakai blazer faforietnku dan menenteng tas louise volutein bewarna cokelat aku memang pengila warna pastel dan warna lembut.
Sambil berjalan keluar ruangan kantor hotel aku menelfone taxi yang tadi pagi mengentarku bekerja.
Karena jalanan New York akan terasa sepi jika sudah malam dan sangat susah mencari taxi yang lewat maka tadi pagi aku memutuskan untuk meminta contact persone supir taxi tersebut.
Selain itu aku merasa sedikit nyaman dengan supir taxi tersebut karena memperlakukan prlanggan dengan sopan.
Setelah beberapa saat menunggu taxi pun datang dan aku segera masuk duduk di kursi penumpang.
Supir taxi ini adalah seorang pria paruh baya yang menyenangkan ia sangat ramah membuat aku tidak bosan selama di perjalanan menuju aparterment.
Bapak supir itu banyak bercerita tentang kehidupannya selama ia tinggal di New York karena sebelumnya ia tinggal di Moscow bersama keluarganya namun setelah kebakaran hebat melanda tempat tinggalnya bapak itu kehilangan istri dan juga anak-anak nya.
Pantas saja di dalam taxinya dia selalu memajang foto keluarganya di atas kap mobilnya pasti sangat berat perjalanan hidupnya kehilangan anggota keluarga yang sangat di sayanginya.
Ahirnya aku tiba di apartermentku aku pun berpamitan dengannya dan mengucapkan selamat tinggal kepadanya.
Tiba di apartermen aku langsung merebahkan tubuhku memejamkan mataku setelah bertemu kembali dengan pria itu.
Rasanya segala tubuhku menjadi lemah dan jantung ku terus berdebar memberikan rasa gugup argggh sialan kenapa dia lagi aku menggerang dan tertidur.