
Elena fergusson:
Bel berbunyi sangat nyaring membuat aku segera sadar dari tidurku. Astaga siapa sih yang bertamu pagi-pagi buta begini.
Aku mengucek mataku dan berjalan kearah pintu masuk aparterment milikku.
Semalam aku dan Jimmy pulang hampir larut sekali dan karena sudah terlalu mengantuk.
Aku jadi lupa memasang alaram jam sialan aku memaki keteledoranku dalam hati.
Aku membuka pintu aparterment ku dan astaga aku hampir saja lupa jika aku sudah sepakat akan pergi kerja bersama bos gendeng ini.
Aku sedikit kaget melihat pria itu sudah berdiri di depan pintu dengan stelan kerjanya yang rapi seperti biasa kemeja lengkap dengan atribut penunjang lainnya.
Jas yang membalut badannya selalu terlihat rapi dan pas di tubuhnya juga wajahnya yang selalu bersih dari bulu-bulu halus di sekitar jangutnya.
"Bapak, bapak ngapain pagi-pagi buta sudah datang jemput saya?"
tanyaku sembari membuka sedikit cela pintu aparterment.
" Pagi ? pagi darimana ini sudah jam 7 pagi Elena."
"what? jam 7 pagi, bapak koq ga bilang dari tadi astaga saya belum mandi pak"
Aku berteriak panik sangking paniknya aku sampai lupa jika pria itu masih berdiri mematung di depan pintu aparterment.
Dan aku malah menutup pibtu itu kembali seraya bergegas menuju kamar mandi aku sangat malu sekali menampakan wajah kusutku di hadapannya.
"hey ! apa kau tidak mengizinkan aku masuk kedalam ? aku hampir pegal berdiri di sini."
Teriakan pria itu menyadarkan ku astaga bos gendeng ini membuat aku jadi serba salah saja hampir saja aku lupa jika dia masih berada di luar sana.
"Maaf pak saya lupa bapak masih di luar"
aku sedikit nyegir sembari membukakan pintu dan mempersilahkan dia untuk masuk ke dalam.
"anggap saja rumah sendiri ya pak, saya mau siap-siap dulu."
" Okey jangan lebih dari 25 menit kita ada meeting pagi ini"
jawab pria itu sembari duduk di sofa dan mengambil majalah di meja kerjaku.
"siap bos"
aku berteriak dan segera meluncur mempersiapkan diroku secepat kilat.
Setelah selesai bersiap aku menemui pria itu, dia masih duduk santai di sofa tadi dengan membaca majalah fashion milikku.
Sorot matanya menjadi lebih teduh, sorot mata sebiru safir yang selalu mengintimidasi lawan bicaranya itu menjadi lebih redup.
Apakah pria ini pria yang sama yang telah menyelamatkan aku beberapa tahin yang lalu?
Aku masih terus berusaha mengingat raut wajah pria itu. Namun semakin aku berusaha mengingat setiap jengkal raut wajah pria itu kepalaku menjadi terasa sangat pusing.
Rasa sakit yang muncul itu terasa sangat menusuk hingga sebagian kepalaku menjadi terasa berat.
Aku sedikit terhunyung saat berjalan namun aku segera berpegangan erat dengan dinding di sampingku.
"hey, apa kau baik-baik saja Elena ?"
pria itu segera mendekat dan mencengkram pinggangku dengan sangat erat.
kami saling berdekatan astaga aku sangat merindukan wangi maskulin pria ini.
arghhh sialan aku tidak bisa menetralkan perasaanku bisa gawat ini jika aku terus merasakan debaran jantungku setiap dia menatap mataku.
" saya baik-baik saja pak, ayo kita berangkat sekarang bapak tidak ingin kita akan telat meeting kan?"
aku berusaha mengalihkan perhatian pria itu dan secepat kilat melepaskan diri dari pelukan nya.
Kamipun berjalan beriringan beriringan menuju parkiran mobil, setelah tiba di depan mobil pria itu aku segera masuk kedalam mobil dan duduk di samping kursi pengemudi.
Suasana berubah menjadi hening dan kaku aku sangat menghindari situasi ini aku menjadi merasa terintimidasi oleh prilaku pria itu yang hanya diam tanpa berbicara apapun.
Akupun bernafas legah akhirnya setelah terjebak selama setengah jam oleh situasi dingin yang tidak mengenakan kamipun sampi di bassement parkiran hotel kantor.
Dan secepat kilat aku berusaha keluar dari mobil pria itu namun dia berhasil menarikku dan mecegahku keluar dari dalam mobil.
" Hey tunggu ada yang ingin saya bicarakan bisa kan tidak langsung pergi dan sedikit beramah tamah ? Terima kasih atau apalah"
Aku mengerenyitka kening ku hufft mulai lagikan sifat bossy nya itu aku sangat kesal jika mood nya sudah berubah menjadi membosankan seperti ini.
" Terimakasih pak, tapi saya agak buru-buru"
Aku sudah hampir bersiap melepaskan sabuk pengaman namun dia tetap mencengkram lengan ku.
"Tunggu saya ingin bicara"
Ya tuhan raut wajahnya yang dingin dan kaku itu berubah menjadi lebih tegas dan serius.
Apalagi yang ingin dibicarakannya ? Aku jadi bertanya-tanya di dalam hati.
Astaga jangan-jangan dia ingin menyatakan perasaannya astaga mati aku bisa gawat ini.
Aku memukul keningku mencoba menghapuskan fikiran-fikiran konyol yang melintas dalam otakku.
"Ba pak mau bicara apa ya pak ? "
tanyaku dengan nada yang mulai gugup karena situasi tidak nyaman ini.
Dia tetap memandang kedalam bola mataku dan aku merasa terhanyut masuk menembus dinding pertahanan pria itu membuat nafasku tersenggal.
"Sebelumnya bisa gak jangan manggil saya bapak ?"
"Astaga bapak cuma mau nyuruh saya melakukan hal itu ?"
Akupun nyengir sembari melepaskan helaan nafas legah.
" ya salah satunya itu. Tapi bisakan panggil saya dengan nama saja Richo atau apalah saya risih kamu pangil bapak terus."
Jawab pria itu sembari mulai melepaskan pegangan tangannya di lengan ku.
" Baik akan saya coba meskipun saya rasa itu tidak etis pak, ekh salah maksud daya Richo."
Aku mulai melepaskan sabuk pengaman mobil namun pria itu dengan sangat cepat langsung menarik tanganku.
Keseimbangan tubuhku mulai runtuh dan wajah kami saling berdekatan tanpa hitungan detik.
Bibir pria itu sudah mendarat sempurna di bibirku astaga apa-apaan ini.
Segarusnya aku menolak memukul atau menampar wajah pria itu. Namun yang ku lakukan malah sebaliknya aku malah menikmati setiap proses ciuman kami ini benar-benar memalukan.
"hey elena bodoh segera sadar sebelum kau jatuh ke lubang penyesalan."
Otak ku mencoba mengingatkan aku agar segara melepaskan bibirku namun hasrat sudah menutupi segala kewarasan ku.
Pria itu masih terus ******* bibirku kemudian aku segera berusaha berperang melawan hasrat ku.
Aku berhasil melepaskan bibir pria itu dan segera berlari keluar dari mobil pria itu.
Namun dia hanya diam dan mematung melihat aku berlari masuk ke dalam kantor.
Aku berlari langsung menuju toilet wanita setelah sampai di toilet wanita aku masuk kedalam bilik dan langsung menguncinya rapat.
Ya tuhan jantungku serasa seperti berhenti berdetak bagaimana ini aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana rasa manis bibir pria itu .
Aku membenci diriku sendiri yang tidak tahu malu selalu mendamba sentuhan pria itu aku benar-benar marah merasa jijik kepada reaksi tubuh milik ku.
"ya tuhan aku sudah menghindarinya aku telah menjauhinya dan telah meninggalkannya tapi mengapa mengapa selalu saja dia datang dalam hidup ku.
Aku tidak ingin jatuh kembali dalam jeratan sakit karena mencintai pria seperti Richo.
Aku tidak pernah bermimpi mendapatkan seorang laki-laki yang memiliki kekuasaan atas apapun seperti dia."
Aku mengegam erat tas ku dan memeluknya kedalam pelukan ku erat badanku menjadi sangat lemas.
Aku mengira akan bisa move on dan bisa secepat kilat menghapus segala perasaan ku kepada pria itu namun aku salah debaran dalam jantungku menunjukkan perasaan yang berbeda terhadap itu.
Aku segera membersihkan riasan make up di wajahku dan segera bergegas keluar dari dalam bilik toilet.
Namun langkah kaki terhenti saat aku mendengar ada suara langkah sepatu wanita yang masuk ke dalam toilet menuju arah westafel.
Telinga ku mendengar salah satu dari wanita itu yang sedang berbicara kepada teman nya.
"eh kalian pada tahu gak gosip yang lagi beredar belakangan ini? "
Jawab wanita yang lain aku berfikir mungkin ada sekitar 3 orang wanita di dalam toilet ini.
"seriusan nih kalian belum pada tahu ? Itu si anak baru yang gantiin bu Vika kayak nya tuh anak mulai dekat sama pak Richo deh."
" astaga seriusan nih loe ? Boleh juga tuh anak punya nyali berapa dia ngadepin para pacar nya pak Richo yang segudang itu."
"ahahahahah aku sih ga yakin tu anak baru bisa nandingin pacar pacarnya pak Richo palingan juga beberapa minggu kedepan dia bakalan di buang sama pak Richo."
Dan aku merasa sepertinya ini suara wanita ketiga diantara wanita-wanita itu.
Sialan sekali aku sudah berusaha menutupi kedekatan kami namun sepertinya di kantor ini gosip adalah bahan pokok.
Tidak ada sedikitpun celah agar gosip tidak berkembang menjadi luas.
Namun mendengar pembicaraan mereka hatiku seperti tertusuk sembilu benarkah Richo seperti perkataan mereka ?
Pria yang suka mengganti wanita layaknya pakaian.
Kupingku sudah tidak tahan lagi mendengar cekikikan tawa para wanita itu.
Aku segera keluar dari dalam bilik dan langsung menatap tajam ke arah mereka bertiga.
Wajah mereka langsung pucat pasi saat melihat aku keluar dari dalam bilik toilet.
"eh ibu sudah di kantor selamat pagi bu"
Sahut wanita yang memakai seragam receptionis yang aku rasa sebagai suara wanita nomer satu tadi.
Aku tidak membalas sapaan basa basi wanita itu aku langsung melangkah keluar dari ruangan toilet dengan wajah angkuh.
Aku berusaha terlihat seolah aku tidak peduli terhadap penilaian mereka kepadaku.
Memangnya siapa mereka berani sekali menilai sikap ku sesuka hati mereka kita lihat saja nanti apakah benar Richo akan membuang aku begitu saja.
Aku sampai di meja kerjaku dan sudah mendapati segelas kopi hangat aroma kafein memenuhi rongga hidungku.
" Segelas kopi untuk wanita yang manis,
btw muka loe kenapa ele kusut amet kayak nya jarang sekali aku melihat wajahmu tersenyum di pagi hari."
Aku hanya mengelengkan kepala mendengar ucapan Jimmy kemudian memberikan senyuman kearahnya
" thanks ya kopinya enak."
Aku menyeruput dalam kopi buatan Jimmy aliran kafein memenuhi setiap rongga mulutku.
Aku bersandar di kursi sembari mencoba memusnahkan segala perkataan wanita wanita yang telah menelanjangi ku dengan cap rendahan yang mereka sematkan untukku.
Apa-apaan aku ini jelas di depan mataku jika Richo adalah pria player sama seperti Stward mantan tunangan ku.
Seharusnya aku menjauhkan diri dari predator seperti mereka berdua itu.
Bukannya malah memuja sosok pria itu sepenuh hati dasar wanita bodoh dan ***** aku memaki diri ku sendiri.
"permisi apakah Richo bouttieer ada di ruangan? "
Suara barinton khas milik seorang lelaki menyadarkan aku dari lamunan panjang ku. Astaga laki-laki ini sangat tampan dengan wajah penuh senyuman ramah tamah.
Stelan jas yang rapi dan sepatu mengkilatnya membuat aku hampir terpanah melihat sosok pria ini.
Bola matanya berwarna cokelat terang dengan garis sudut mata yang tajam seperti se ekor elang.
" em maaf sir, tadi tuan mencari siapa ya ?"
Aku hampir tergagap melihat wajah pria itu.
" apakah Richo bouttier ada di ruangannya?" dia mengulangi pertanyaan nya kepadaku.
"ya sir tuan Richo ada di ruangannya.
Tapi maaf nama anda siapa ya sir?
Saya akan menelfone tuan Richo dahulu."
"Sepertinya kau karyawan baru ya? "
Dia bertanya kepadaku sembari tersenyum ramah.
Astaga baru kali ini aku melihat pria setampan dia namun tidak pelit tersenyum tidak seperti bos gendeng itu sangat menyebalkan aku mengerutu dalam hati.
"iya sir saya karyawan baru. Jika boleh tahu siapa nama anda tuan ? "
Aku kembali bertanya dengan nya.
" perkenalkan saya Daren Brylee CEO dari jhonshon empire saya ingin membicarakan beberapa materi tentang pembangunan resort di Florest."
Pria itu mengulurkan tangan kepadaku dan aku segera menyambut uluran tangan pria itu.
"sebentar sir saya akan menghubungkan anda dengan tuan Richo segera."
Aku langsung menelfon ke ruangan kerja Richo memberitahu jika ada tamu yang ingin menemuinya.
Aku menutup sambungan telefone dan segera mengantarkan tuan Daren ke ruangan Richo.
Setelah sampai aku segera berjalan secepat kilat keluar dari ruangan Richo namun Daren menahan langkahku.
" terima kasih lain kali aku akan membawakan mu sesuatu jika aku berkunjung kembali."
"terima kasih banyak tuan Daren dan tidak usah repot repot."
Aku langsung berjalan keluar dari ruangan milik Richo.
Entah setelah kejadian tadi pagi dia berhasil mencium ku dengan mudah aku menjadi sangat kesal melihat wajahnya yang tengil.
Apalagi sepanjang hari ini aku selalu teringat perkataan para wanita yang mengecap aku sebagai wanita gampangan mbuat aku sangat kesal dan marah.
Aku langsung menuju ke ruangan pantri karena jam makan siang sudah hampur berahir namun perutku baru terasa sangat lapar.
Biasanya jika sudah memasuki jam berahir istirahat makan siang seperti ini suasana pantri sudah sepi sehingga aku bisa makan siang dengan damai.
Tanpa harus menghindari tatapan tajam para karyawan wanita dari berbagai divisi kantor hotel ini.
Aku sampai di pantri dan langsung membuka makanan yang telah di sediakan oleh office girl kantor.
Aku makan nasi milikku namun sepertinya nafsu makan ku sedikit bermasalah.
Aku mengaduk aduk nasi di depan ku seperti perasaan ku saat ini yang terasa di aduk aduk oleh emosi.
" makan sendirian aja boleh saya duduk."
Astaga lagi lagi bos gendeng ini datang mau apalagi dia, gara gara dia nafsu makan ku bermasalah.
Aku masih tidak menjawab pertanyaan nya dan dia langsung duduk manis di hadapan ku.
" Saya bisa minta tolong sama kamu?"
Aku mengerenyitkan kening mendengar pertanyaan pria itu.
Pasti ada sesuatu yang ga beres dengan pria itu kenapa tiba-tiba dia jadi berubah sedikit manis begini.
"kalau boleh tahu bapak mau minta tolong apa pak? Eh salah maksud saya Richo."
Aku menatap wajahnya sembari mengusap bibirku yang terkena peecikan kuah soto.
" Saya mau minta tolong kamu mau kan temani saya ke pesta perlombaan resort besok malam."
" sepertinya bisa saya kabari deh nanti jika saya tidak ada kegiatan besok malam."
"okey saya tunggu kabar dari kamu nanti sore saya sudah harus tahu jawabannya."
Hemmm benar-benar menyebalkan sangat bossy sekali dasar pria gila aku mengerutu sembari membersihkan peralatan makan ku.
" Oh Ya ada lagi satu hal."
Aku menatap pria itu sembari memberikan tatapan bertanya kepadanya.
" Bisakan kamu jadi pacar saya nanti."
Whaaat dan seketika rasanya jantungku mulai lepas dari tempatnya.
Ataukah telingga ku yang mulai bermasalah mendengar perkataan nya.