
Elena fergusson:
Aku mencoba menyadarkan kembali fikiranku astaga sepertinya ini bukan kamar milikku. Aku mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi beberapa jam yang lalu dengan sedikit rasa pusing aku berhasil mengingat nya.
Setelah menegak minuman yang di berikan oleh pria yang duduk di samping ku dan mengajakku berbincang aku merasa kepalaku sangat berat.
Pandangan mataku menjadi sedikit tergangu dan seketika suhu di ruangan ballroom hotel menjadi sangat panas.
Sebenarnya minuman jenis apa itu mengapa efeknya sangat mengerikan dan ketika aku mulai sadar aku sudah berada di kamar bercinta dengan pria sinting bermata biru itu.
Aku benar-benar shock dan sedikit kaget aku masih meningat dengan jelas bagaimana awal kejadian sial itu aku benar- benar malu bahwa kenyataanya akulah yang mengoda pria itu.
Oh god aku benar-benar sudah kotor sekarang sudah tidak ada lagi hal yang dapat aku banggakan setelah bercinta dengan pria asing itu.
Bahkan aku masih mengingatnya ketika dia mengecup puncak kepala ku setelah usai bercinta denganku bahkan bayangan tubuhnya tanpa sehelai benangpun masih berseliweran dalam ingatanku.
Benar-benar memalukan setelah usai bercinta denganku pria itu meninggalkan ranjang dan menuju kamar mandi.
Aku segera berdiri dengan berusaha menahan rasa nyeri di pangkal paha ku dan secepat kilat memakai pakaianku.
Aku harus bergerak dengan cepat agar pria itu tidak sadar jika aku akan segera meninggalkan hotel ini.
Aku menelusuri ruangan kamar hotel miliknya mencoba mencari beberapa pakaianku yang hilang.
"sialan di saat genting seperti ini mengapa sulit sekali aku berkonsentrasi"
aku menggerutu dalam hati sembari menelusuri ranjang tempat tidur.
Aku masih tidak bisa menemukan dimana aku meletakkan underwear milikku aku hanya menemukan bra dan juga dress milikku.
Aku terus mencari di bawah ranjang, di bawah meja, dimana-mana namun tidak menemukannya sial sekali hari ini.
Yang benar saja masa iya aku keluar dari kamar ini tidak mengenakkan dalaman bagaimana jika aku berpapasan dengan orang di luar sana.
Baiklah aku memutuskan membuka lemari pakaian pria itu, aku sedikit terkejut menemukan beberapa gantungan pakaian yang tersusun rapi.
kemudian aku menemukan selembar celana pendek miliknya lalu aku segera memakai boxer milik pria itu dan bergegas menigalkan kamarnya.
Setelah mengambil koper milikku di kamar aku langsung menyelesaikan administrasi penginapan hotel dan segera memesan taxi menuju bandara internasional kota ottwa. karena aku akan melakukan penerbangan menuju New York malam ini juga.
Aku harus segera menjauh dari hotel karena bisa saja pria itu mengikutiku, sebenarnya aku tidak merasa takut berada di sampingnya.
Namun entah mengapa berada di dekatnya jantung ku selalu berdebar keras perasaan yang belum pernah aku rasakan dengan pria manapun.
selamat tinggal kanada selamat tinggal pria sinting aku berharap tidak akan pernah menemukan mu lagi. Meskipun jauh dalam lubuk hatiku aku ingin sekali menatap manik mata miliknya lebih lama.
Dan disinilah aku sekarang duduk sambil memakan satu chess double burger yang telah aku pesan di salah satu kedai yang ada di bandara sambil menikmati burger milikku aku membuka handphone menghubungi stella dan berpamitan denganya.
" astaga apa kau benar-benar gila babe kau pergi tengah malam buta seperti ini? mengapa tidak menunggu sampai acaraku selesai? " suara Stella di sebrang telfone.
" no babe aku harus segera menuju New York untuk interview pekerjaan. aku minta maaf jika sudah membuat beberapa kegaduhan dalam pesta kalian. "
" tidak apa aku maklum dan aku harap dari pesta ku kau bisa menemukan pria idaman mu babe. "
aku tersedak mendengar ucapannya astaga jika saja dia tahu jika malam ini aku telah kehilangan kegadisan ku pasti akan sangat menggemparkan.
"babe are u okey? jangan lupa kabari aku jika kau sudah tiba di hotel dan jangan lupa kabari aku bagaimana rupa bos baru mu aku menunggu cerita mu sesampai di New York." dan sambungan telefone pun langsung terputus begitu saja salah satu kebiasaan Stella langsung menutup telfone tiba-tiba.
Aku benar-benar lapar sekali saat ini bagaiman tidak dalam sehari ini aku lupa tidak mengisi perutku dan hanya memakan disert yang di berikan oleh hotel ketika acara pesta pertunangan stella.
sayang sekali aku tidak banyak makan hidangan hotel yang di sajikan dalam pesta pertunangan Stella itu semua karena pria sinting sialan itu.
menyebalkan juga jika mengingat kembali tingkah laku konyol pria itu apalagi jika dia mulai menggikutiku aku tersenyum mengingat segala kekonyolan pria itu.
Aku harus bergerak cepat dan juga berwaspada aku sedikit takut jika pria sinting itu juga akan melakukan penerbangan di bandara ini. meskipun itu tidak mungkin terjadi tapi jika mengingat dia selalu saja berpapasan dengan ku maka aku harus extra waspada.
Aku makan dengan perasaan tidak tenang karena fikiranku selalu menyeruak tentang pria sinting itu. oh sial bagaimana aku ingin hidup tenang jika fikiranku selalu berusaha mengingat dan selalu waspada akan pria sinting itu.
Aku kemudian menuju kabin pesawat ketika suara pramugari pesawat yang akan aku naiki memberikan pengumuman lewat pengeras suara yang berada di ruangan boarding di bandara jika pesawat akan segera Take off.
Aku memasuki kabin pesawat dan mencari bangku tempat duduk milikku yang sesuai dengan nomer yang tertera di tiket pesawat.
Setelah menemukan tempat bangku yang sesuai dengan no yang tertera di tiket milikku aku meletakkan tas tanganku di kabin pesawat dan duduk bersandar di bangku pesawat.
Aku benar-benar lelah sekali hari ini entah mengapa seharian ini perasaan ku bergejolak sangat tak menentu berawal saat aku melihat Stward bersama wanita lain di toilet wanita.
Melihat pria itu bersama wanita jalang aku tidak merasakan sakit atau cemburu hanya perasaan jijik yang bisa aku rasakan karena perasaan ku yang tak menentu membuat aku melakukan hal bodoh menghabiskan waktu ku dengan meminum minuman sialan itu.
Aku bersyukur aku tidur dengan pria bermata biru itu dan tidak tidur dengan laki-laki berengsek yang menjebakku.
Tapi tidur dengannya malah membuatku semakin gila dengan bayangan-bayangan pria itu sialan.
Aku merebahkan tubuhku dan memejamkan mataku memanfaatkan sisa waktu penerbangan dengan tidur karena aku tidak bisa menahan lagi gejolak mataku yang ingin terpejam.
Aku memejamkan mataku dan mulai berkelana ke dalam alam mimpi terlelap dalam tidur ku malam ini meskipun aku tidur di pesawat entah kenapa rasanya sangat nyaman.
Aku bangun meregangkan otot badanku yang sedikit kaku akibat tidur di kursi pesawat. Aku menguap dan segera memakan roti isi daging panggang yang telah di sajikan oleh pramugari pesawat.
Pagi ini lumayan cerah aku baru saja tiba menjajakan kaki di bandara Internasional Jhon F Kenedy New York.
Setengah tidak sadar akhirnya aku kembali lagi ke kota ini kota yang menyimpan banyak kenangan luka dan juga cinta tapi aku segera sadar bahwa aku kembali lagi kesini dengan satu janji bahwa aku harus bisa mandiri.
Bekerja sukses dan juga membangun keluarga kecil yang bahagia meskipun aku pernah gagal dan jatuh bangun sebelumnya. Namun aku sudah membulatkan tekad bahwa aku tidak boleh kembali jatuh dalam lubang yang sama di sini.
Sebelum kembali lagi ke New York aku sudah mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari seperti penyewaan aparterment dan juga lamaran kerjanya.
Sehingga aku tidak perlu mengangur terlalu lama di kota ini karena aku kembali lagi kesini untuk menyibukkan diriku dan juga fikiranku agar bisa segera melupakan kejadian pahit itu secepatnya.
Karena dalam waktu 2 tahun ini aku masih saja terus mengingatnya dan tidak berani membuka hatiku untuk pria lain karena dalam hati masih ada rasa trauma dan takut akan kegelapan masalaluku.
Tapi semua berubah ketika aku melihat stward dengan wanita lain yang berada di toilet wanita di hotel kanada seketika perasan benci itu berubah menjadi rasa menjijikan.
Dan aku merasa sangat bersyukur dengan pembatalan pernikahan kami dan membebaskan diri dari laki-laki ******** seperti stward. Tuhan memang sangat menyayangiku setidaknya meskipun aku telah merasakan luka namun aku tidak kehilangan harga diri ku sebagai wanita.
Setelah sampai di apartermen aku langsung membersihkan diriku dan berkeliling sebentar mengamati beberapa ruangan apartemen milikku. meskipun tidak besar namun tempat ini sangat nyaman dan sepertinya aku harus membeli beberapa prabotan agar tidak terlalu lenggang.
pemandangan yang tersaji cukup cantik aku bisa menikmati pemandangan beberapa gedung tinggi dari atas balkon.
kota ini memang tidak pernah berubah sedikitpun selalu penuh dengan hiruk pikuk kehidupan perkotaan.
sambil menyeruput segelas capocino aku kembali merenung membayangkan pria sinting itu.
Astaga aku benar-benar sudah gila rasanya padahal sejauh ini aku sudah meninggalkannya namun bekas sentuhannya tidak pernah hilang dari dalam otakku. sepertinya aku membutuhkan pesekiater agar bisa segera melenyapkan wajahnya.
kemudian aku bergegas menyiapkan diriku menuju tempat interview pekerjaan yang telah aku lamar sebelumnya.
aku bergegas mencari taxi menuju ketempat Hotel dan Resort terbesar di kota New York disanalah aku sudah berjanji akan bertemu dengan senior manager hotel tersebut.
Tiba di hotel aku langsung menuju ke lobi hotel yang terasa sunyi aku masih sedikit bingung mematung dalam diam di meja tunggu resepcionist.
entah mengapa lama sekali aku menunggu Ibu Vika Senior Manager yang rencananya akan Resign dan akan di gantikan olehku.
Dari semalam pun aku sudah tidak sabar menanti hari pertama bekerja di salah satu Resort dan Hotel terbesar di New York City. Pasti akan sangat menyenangkan jika bisa berkerja di salah satu hotel ternama di New York city.
2 tahun yang lalu aku pindah ke italia dan akhirnya kembali lagi ke kota ini kota yang mensajikan banyak kenangan yang seakan ingin ku kubur dalam dan tak akan ingin aku buka lagi.
Aku harus bisa memulai kehidupan yang baru bukankah hidup harus terus di jalani dan mencoba rasa yang lain.
rasa yang mungkin tidak akan pernah sama seperti rasa sebelumnya, rasa yang sampai saat ini belum pernah aku temukan dari laki-laki manapun setelah pengalaman pahit itu berlalu.
Lamunan Elena terbuyar karena suara Ibu Vika yang menyebutkan namanya
“Elena Fergusson that’s Your Name Miss?”
“ Yes Sure madam” jawab Elena setengah tergugup.
"okey kau bisa mengikuti saya miss, aku akan mengajak mu berkeliling menuju beberapa divisi yang ada di dalam resort ini. "
Aku mengikuti langkah Bu Vika mengekorinya menuju ruangan Senior Manager sepanjang jalan Bu Vika tetap diam dan sedikit dingin mungkin memang seperti itu perawakannya.
Sebelum menuju ruangan senior manager bu vika mengajak ku berkenalan kepada beberapa karyawan yang bekerja di divisi kantor hotel.
Setelah berkelilingan selama lebih dari 2 jam dan berkenalan dengan para karyawan kami langsung menuju ruangan senior manager.
Bu Vika memiliki raut wajah yang tegas dengan tubuh yang sedikit tinggi dan berisi tidak terlalu kurus.
ia mengenakkan pakaian stelan kemeja rapih dengan celana kain panjang kemudian blezer berwarna hitam dan tak lupa sepatu silleto nya yg hitam mengkilat mungkin dia seorang pekerja yang bersih dan rapih tipikal perfectionis Boss.
“ok Elena kau akan tranning pekerjaan dengan ku mulai besok pagi dan satu hal aku sangat tidak menyukai pekerjaan yang kurang rapih atau kurang teliti. Dan satu lagi jangan sampai aku datang duluan dan kau belum datang karena aku sangat membenci menunggu.
Maka selesaikan tugas-tugas mu dengan baik sebelum aku memintanya kepada mu.
jangan mengajak ku mengobrol atau membicarakan sesuatu hal yang tidak penting ketika aku mulai bekerja.
selain masalah pekerjaan karena aku tak suka membuang waktu ku untuk hal-hal omong kosong ku harap kau mengerti dan cepat faham atas apa yang akan aku ajarkan kepada mu.”
Ucapan Bu Vika sangat jelas tanpa ada yang bertele - tele dan semua itu hanya ku jawab dengan angukan kepala.
Tanda bahwa aku telah memahami apa yang di katakan oleh Bu Vika sepertinya itu adalah perjanjian pekerjaan dengan nya.
“ meja kerja mu berada di depan pintu ruangan CEO bersebelahan dengan rekan kerja yang bernama Jimmy Petersburg namun hari ini dia sedang ada dinas keluar kota mungkin akan kembali lusa”
kata bu vika sambil menunjuk meja kerja milikku.
Setelah memahami penjelasan Bu Vika kami pun saling berjabat tangan.
"jangan lupa besok adalah hari pertama kau mulai berkerja bersama kami. aku berharap kau dapat betah di sini. "
aku hanya tersenyum manis menjawab perkataan Bu Vika sembari keluar dari ruangan kerjanya.
Aku berjalan menyusuri lobi kantor resort dan hotel pemandangan dan juga letak prabotan di sekitar lobi sangat memanjakan mataku.
aku masih sedikit tidak percaya juga bisa di terima bekerja di salah satu hotel yang sangat mewah ini.
Di sepanjang lobi ini banyak beberapa karyawan dari berbagai divisi yang berjalan hilir mudik silih berganti. dan semuanya terlihat sangat rapi juga sibuk suasana yang cocok untuk ku. aku sangat membutuhkan suasana yang sibuk agar fikiran ku tidak kacau dan agar aku bisa melupakan pria sibting bermata biru safir itu.