LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Membujuk Ibu



Udara dingin pagi ini mulai masuk ke dalam ruang tamu melalui celah jendela yang terbuka sejak subuh tadi. Rintikan gerimis melengkapi dinginnya udara hari ini. Chandra berdiri di depan jendela sambil menaruh kedua tangannya di depan dada, mendekap dirinya agar tubuhnya  tidak terlalu dingin.


Chandra berbalik badan, menatap ke sekeliling ruangan dalam tiap sudut rumahnya. Ya, kini Chandra sudah tinggal di rumahnya sendiri. Setelah hampir tiga bulan rumah itu direnovasi, kini Chandra sudah bisa menempati rumah tersebut. 


"Rumah ini terlihat sangat sepi saat hanya ditinggalkan seorang saja. Sepertinya aku harus mengajak Ibu dan Karina untuk tinggal di sini," gumam Chandra. 


Chandra pun segera menghubungi sang ibu. Panggilan pertamanya tidak mendapatkan jawaban, namun beberapa kali mencoba akhirnya sang ibu menjawab panggilan telepon darinya. 


"Assalamualaikum, Bu." 


"Waalaikumsalam, ada apa Nak?" 


"Bagaimana kabar Ibu dan Karina di sana?" tanya Chandra. 


"Alhamdulillah, Ibu dan adikmu disini baik-baik saja. Kamu sendiri gimana, apa betah di sana?" 


Chandra terkekeh kecil. "Alhamdulillah, baik juga Bu. Tentu saja disini Arlan betah, Bu. Arlan 'kan bukan sehari atau dua hari tinggal disini. Arlan sudah beberapa tahun tinggal di Jakarta, jadi ya Arlan betah Bu." jawab Chandra yang masih terkekeh kecil. 


Disana sang ibu pun ikut terkekeh mendengar jawaban dari putranya. Ya, memang benar apa yang dikatakan Chandra. Kalau dirinya memang sudah beberapa tahun tinggal di kota metropolitan tersebut. Chandra juga memanggil namanya dengan panggilan kecilnya, yaitu Arlan. Nama Arlan diambil dari nama lengkap Chandra, nama itu juga pemberian dari sang ayah. Entah kenapa dulu sang ayah lebih suka memanggil dirinya Arlan ketibang Chandra. 


"Lalu, ada apa kamu menghubungi Ibu? Apa ada masalah disana?" 


Pertanyaan dari sang ibu pun mengalihkan perhatian Chandra kembali dengan tujuan utamanya menghubungi sang ibu. 


"Eum, disini semuanya baik-baik saja Bu. Hanya saja, Arlan sangat ingin Ibu dan Karina tinggal di sini bersama Arlan. Arlan juga membutuhkan Fedi untuk menjadi asisten Arlan disini, Bu." jawab Chandra. 


Hening….


Sejenak terjadi keheningan di antara komunikasi Chandra dan sang ibu. Namun detik berikutnya, suara sang ibu pun terdengar. 


"Kalau Ibu dan Karina tinggal bersamamu di Jakarta, bagaimana dengan usaha perkebunan dan peternakan disini?" 


Akhirnya pertanyaan yang sejak tadi Chandra tahu keluar juga dari bibir sang ibu. Maka dari itu Chandra sudah menyiapkan jawaban atas pertanyaan sang ibu. 


"Ada Paklik Tono dan Bulik Zahra, Bu. Serahkan semuanya pada mereka, Arlan yakin Paklik dan Buklik tidak akan pernah mengecewakan kita. Mereka tidak pernah bersikap serakah seperti Pakdhe Darto dan Budhe Sulastri," jawab Chandra agak sedikit ketus saat menyebutkan nama pakdhe dan budhe nya. 


Terdengar helaan nafas di seberang sana, Chandra tahu kalau sang ibu saat ini masih merasa begitu berat dan agak gelisah. 


"Nanti Ibu pikirkan lagi, dan Ibu juga harus membicarakan hal ini pada adikmu. Ibu tidak ingin mengambil keputusan sepihak," jawab sang ibu di sambungan telepon tersebut. 


Chandra tersenyum dan mengangguk, seolah sang ibu dapat melihatnya saat ini.


"Ya sudah, kalau begitu kamu bicarakan hal ini dulu sama Paklik dan Buklik kamu. Nanti kalau kamu sudah bicara ke mereka, ibu juga akan membicarakannya kembali dan menjelaskan semuanya. Biar tidak ada kesalahpahaman nantinya," 


"Iya, Bu. Kalau begitu Arlan tutup sambungan teleponnya dulu. Nanti kalau sudah fix Arlan hubungi Ibu lagi," 


Panggilan pun terputus, setelah Chandra mengucapkan salam pada sang ibu. Chandra pun kembali sibuk dengan ponselnya, ia mencoba menghubungi saudara sepupunya itu. 


Setelah sambungan telepon tersambung, Chandra pun segera mengutarakan keinginannya pada Fedi dan kedua orang tuanya. Awalnya sang paklik menolak, karena mengingat itu adalah usaha sang kakak yang dibangun sendiri tanpa bantuan dari keluarga maupun orang tua mereka dulu. 


Namun Chandra memberi penjelasan dan membicarakan apa saja tugas dari paklik dan buklik nya itu. Chandra pun juga meminta Fedi untuk menjadi asistennya di Jakarta. Setelah melewati obrolan panjang kali lebar. Akhirnya mereka setuju dengan permintaan Chandra. 


Chandra dapat bernafas lega, karena paklik dan bukliknya setuju. Kini tinggal menunggu kabar dari sang ibu dan juga adik perempuan satu-satunya yang dimilikinya itu. 


"Aku harap Ibu dan Karina mau tinggal di sini bersamaku. Biar rumah ini tidak terasa sepi," gumam Chandra. 


Pria itu pun segera menuju ke arah dapur. Pagi ini ia ingin membuat sarapan, karena perutnya sejak tadi sudah berbunyi. 


"Haisshh, seandainya aku memiliki istri. Mungkin saat ini aku hanya tinggal duduk manis sambil menyaksikannya membuatkan aku sarapan," Chandra terkekeh geli menghayal yang bukan-bukan. 


Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Di tempat lain, Gricella dan sang mommy sudah mendatangi kantor yang dipimpin oleh Bryan. Dengan langkah begitu pongah keduanya berjalan melewati beberapa karyawan yang menyapa mereka, namun hanya dibalas dengan senyuman tipis saja. 


Vesha agak  terkejut melihat kedatangan kedua wanita beda generasi itu. Namun dengan cepat Vesha bisa bersikap biasa saja. Sementara ia tahu kalau Bryan tidak ada di kantor, karena pria itu baru saja berangkat ke Paris. 


Tidak lama Vesha pun dipanggil oleh Naura. Disinilah mereka bertiga dalam satu ruangan, ruang kerja sang CEO. Di dalam sana Vesha harus mendapatkan cacian dan makian dari Naura, sementara Gricella hanya menyimak sambil duduk manis di sofa. 


Gricella memperhatikan semua apa yang dikatakan oleh sang mommy. Jujur ia merasa sangat tidak tega saat perkataan Naura begitu tidak pantas. Gricella sangat menyayangkan semua tutur kata yang diucapkan oleh Naura. 


"Apakah ini tidak keterlaluan? Kenapa Mommy jadi ingin memecatnya? Ini tidak sesuai dengan apa yang direncanakan saat di rumah tadi," gumam Gricella dalam hatinya. 


Wanita itu kembali menatap Vesha yang hanya diam, dan bahkan tidak melawan. Hingga ia tertegun dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Vesha. Kata yang begitu menyinggung perasaan, dan terkesan sangat ketus. 


"Wah, wanita ini ternyata tangguh juga ya!" Grisella kembali bergumam dalam hatinya. 


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Kak Bryan, jika benar wanita itu akan pergi dari perusahaan ini. Haahhh…. Sudah dapat aku baca kalau nantinya Kak Bryan akan marah padaku dan Mommy," 


Gricella menatap nanar ke arah Vesha, tidak lama seorang pria masuk kedalam ruangan itu setelah Naura menghubunginya. 


"Astaga, Mommy benar-benar melakukannya. Apa yang harus aku perbuat? Tidak mungkin aku menghubungi Kak Bryan, karena dia masih berada di dalam pesawat. Maafkan aku yang tidak bisa berbuat apapun, Kak. Maaf!" 


Sungguh kali ini Gricella merasa sangat bersalah, membiarkan Naura melakukan apa yang tidak semestinya. Gricella menghela nafas gusarnya, wanita itu memilih untuk diam saja dan tidak ingin berkomentar.