
Chandra menatap dingin pada layar ponselnya saat sebuah pesan tiada hentinya masuk ke aplikasi berlogo hijau itu. Bahkan pria itu rasanya begitu enggan membalas pesan yang masuk.
"Kenapa dia malah jadi sering chat aku?" monolog Chandra
"Bahkan sampai kirim pap atau apapun yang sedang dilakukannya," tambahnya dengan ekspresi kesalnya.
Berhentilah mengirim pesan bergambar padaku! Percuma saja kau mengirimnya, karena aku tidak akan pernah membukanya.
"Penuh-penuhin memori telepon saja," celetuk Chandra.
Akhirnya Chandra membalas pesan tersebut pada Gricella yang sudah hampir satu minggu ini berkirim pesan ke Chandra. Terkadang Chandra sampai menggelengkan kepalanya saat gadis itu enggan mengetik. Gricella malah kirim voice note pada Chandra.
Kadang kala pula, Chandra tertawa kecil saat mendengarkan suara Gricella di voice note tersebut. Chandra akui suara gadis itu terdengar begitu candu. Bahkan saat gadis itu mengirim suaranya saat sedang bernyanyi.
Chandra kembali membuka pesan dari Gricella. Ya, gadis itu kembali mengirim pesan setelah menerima pesan dari Chandra yang sedikit ketus. Namun sepertinya gadis itu tidak merasa tersinggung atau sakit hati atas ketikan Chandra. Terbukti dari ekspresi wajah pria itu saat ini setelah membaca pesan dari Gricella. Gadis yang sudah membuatnya pusing.
"Apa-apaan dia ini? Sudah aku bilang jangan mengirim foto, tapi dia seakan tidak memperdulikan pesanku tadi."
Chandra mendengus kesal dengan kelakuan Gricella.
"Dasar gadis batu!"
Chandra melempar ponselnya ke atas kasur, lalu ia menaruh kedua tangannya di pinggang dan berjalan mondar mandir. Sesekali ia mengacak-acak rambutnya, lalu menyugarnya ke belakang.
Sementara itu di kamar bernuansa blue pink, Gricella menatap layar ponselnya sambil mengerucutkan bibirnya. Sepertinya ia sedang menunggu balasan pesan dari Chandra. Sudah hampir lima menit Chandra tidak membalas pesannya.
Karena baru lima menit, akhirnya Gricella kembali mengirimkan pesan ke pria itu. Gricella terkekeh geli saat membaca kembali pesan yang dikirimkannya.
Kenapa belum dibalas? Kau tahu saat ini aku sedang merebahkan tubuhku di atas kasur sambil terus memandangi kolom pesan darimu.
Besok hari Sabtu, bisakah kita bertemu?
Aku ingin mengajakmu jalan-jalan
Kamu mau?
Gricella kembali memanyunkan bibirnya. "Ish, kok belum dibalas juga sih? Apa jangan-jangan dia sudah tidur?" Gricella reflek menoleh melihat jam di layar ponselnya.
"Baru jam setengah sembilan, mana mungkin dia sudah tidur jam segini?"
Gricella kembali melihat layar ponselnya. Cukup lama ia menunggu, namun sayangnya Chandra tidak membalas pesan terakhirnya.
Karena merasa bosan menunggu balasan pesan dari Chandra. Akhirnya gadis itu memilih berselancar ke media sosialnya yang lain. Gricella lebih memilih mencari tahu tentang kabar boy group favoritnya yang berasal dari negeri ginseng.
Di tempat lain, tepatnya di kamar Chandra. Pria itu masih memikirkan jawaban dari pesan yang dikirimkan Gricella tadi. Mengenai ajakannya untuk bertemu dan jalan-jalan.
Namun disini Chandra merasa agak aneh. Aneh karena bukan dirinya yang mengajak jalan untuk pendekatan, tetapi malah gadis itu yang mengajaknya jalan. Ya, Chandra tahu kalau Gricella menyukai dirinya. Jelas pria itu tahu, karena Gricella sendiri yang terang-terangan mengatakan hal itu pada Chandra.
Bahkan Chandra sangat tahu kalau gadis itu sangat berusaha keras untuk menaklukkan hatinya yang sedikit beku dan kelam. Bahkan Chandra memiliki hati yang sulit untuk disentuh. Apakah Gricella mampu menyentuh dan mencairkan serta memberi sinar pada hati Chandra?
Maka disinilah peran Gricella, dimana ia harus berjuang mati-matian untuk membuat Chandra luluh pada gadis itu.
"Apa yang harus aku balas? Bukankah seharusnya pria yang mengajak jalan seorang wanita? Ini malah kebalikannya," monolognya.
Cukup lama Chandra berperang dengan hati dan pikirannya. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan saja pesan dari Gricella, dan tanpa perlu membalasnya.
"Aaah, sudahlah! Biarkan saja, lebih baik aku main PS saja di bawah sama Fedi."
Tanpa pikir lagi, akhirnya Chandra keluar dari kamar dan meninggalkan ponselnya di atas kasur. Chandra pun memilih untuk memanggil Fedi di kamarnya. Namun setelah ia ke kamar Fedi, adik sepupunya itu tidak ada di dalam kamar.
"Ternyata kamu disini, Di!" seru Chandra seraya berjalan menghampiri kedua adiknya.
Baik Karina maulin Fedi pun segera menoleh ke arah Chandra. Lalu keduanya kembali fokus pada layar tv yang sedang menampilkan balap mobil.
"Kenapa, Mas?" tanya Fedi yang masih fokus pada gamenya di layar berukuran 42 inch tersebut.
Chandra tak menjawab, ia pun duduk di sofa belakang Karina dan Fedi. Ia terus menatap layar tv tersebut.
"Aku juga mau main PS," cetus Chandra.
"Hmm, sabar ya! Jangan sekarang, karena ku masih belum mengalahkan si bocah tengik ini." celetuk Karina.
"Nanti gantian sama aku saja. Untuk sementara waktu jangan ganggu kami. Karena kami sedang bermain," sambung Karina sedikit agak protes.
Chandra hanya mendengus mendengar ocehan sang adik. Ia pun memperhatikan cara Karina dalam bermain PS, terutama dalam memegang stik PS tersebut.
Pfffttt … Chandra langsung mendekap mulutnya dengan satu tangan. Ia tak ingin Karina mendengar dirinya yang ingin menertawakannya. Chandra masih terus memperhatikan Karina, pada saat superhero nya melompat tangan Karina yang memegang stik PS pun ikut terangkat. Karina dan Fedi pun kembali memilih permainan, dan kali ini mereka memilih game pertarungan. Mereka kembali fokus dalam bermain, namun beberapa detik kemudian…….
Gelak tawa Chandra tak bisa tertahan lagi. Pria itu tertawa cekikikan melihat cara main adiknya yang baru pertama kali bermain PS.
Karina menoleh dan merenggut kesal menatap Chandra. Tambah lagi superhero nya telah kalah oleh superhero milik Fedi.
"Mas menertawakan Karin? Gara-gara suara tawa Mas, Karin jadi kalah sama si Fedi!" pekik Karina.
Karena sudah sangat kesal, Karina pun melempar Chandra dengan bantal sofa yang sejak tadi dipegangnya. Chandra pun segera menangkap bantal tersebut.
Chandra menjulurkan lidahnya. "Kalau kalah, ya kalah saja!" Chandra kembali tertawa terbahak-bahak.
Fedi pun jadi ikut tertawa melihat kekesalan Karina. Karina yang merasa sendirian dan tidak ada yang membelanya, akhirnya ia pun berdiri dan menghampiri Chandra.
Karina pun menyerang Chandra. "Rasakan ini! Gara-gara Mas Arlan, aku jadi kalah…" Karina terus mengoceh sambil memukul dan menarik kerah kaos Chandra.
"Hahahah…iya, ampun… ampun, Na..!" mohon Chandra yang masih tertawa.
Pada akhirnya, Karina pun menghentikan kegiatannya. Dengan ekspresi wajah yang masih sangat kesal, ia akhirnya duduk di sebelah Chandra sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Chandra pun menghentikan tawanya, lalu ia menghadap ke arah Karina.
"Mas minta maaf, ya!" Chandra memohon sambil mengusap lembut kepala sang adik.
Karina pun mendelik dan menatap sinis pada Chandra. "Jangan lupa transfer, kalau mau Karin maafin Mas!" sahut Karina seraya menjulurkan telapak tangannya.
Chandra dan Fedi melongo mendengar ucapan Karina. Tetapi gadis itu malah tersenyum licik pada sang kakak. Karina memainkan telapak tangannya yang berada di depan Chandra.
"Cepat, Mas. Tf sekarang juga ke rekening Karin!" ujar Karina.
Chandra berdecak sebal dengan sikap sang adik yang mulai perhitungan. Chandra pun meraih tangan Karina dan bersalaman.
"Nanti Mas Tf," jawab Chandra yang langsung berpindah tempat duduk.
Kini tempat Karina digantikan oleh pria itu. Chandra kembali menoleh ke arah Karina.
"Kalau Mas ingat, ya!" Chandra kembali tertawa mengejek sang adik.
Karina pun kembali tersulut emosinya, gadis itu kembali menghampiri Candra da menjambak rambut pria itu. Hingga Chandra memekik kesakitan, Fedi pun segera membantu memisahkan Karona dan Chandra.
"Ada apa ini? Kenapa malam-malam kalian malah berisik?"