LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Rasa Tidak Enak



Gricella tertegun dan merasa kecewa atas pengusiran halus padanya oleh Chandra. Matanya pun mulai mengembun, lalu ia kembali menundukkan kepalanya.


"Sekali lagi aku minta maaf!" jawabnya terdengar lirih.


Lalu Gricella pun membalikkan tubuhnya, ia sempat melirik ke arah pintu dimana Ayu masih berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya. Diseberang sana ternyata Ayu juga melihat ke arah Gricella.


Ayu tersenyum dan melambaikan satu tangannya. Sikap Ayu yang begitu welcome membuat hati Gricella sedikit tenang. Gadis itu pun tersenyum dan ikut melambaikan tangannya sebelum ia membuka pintu mobilnya.


Gricella masuk ke dalam mobil, dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Chandra. Chandra hanya menatap datar kepergian Gricella. Pria itu pun segera menutup pintu pagar rumahnya dan masuk ke dalam. Saat berjalan masuk, tatapan matanya bertemu dengan tatapan dari sang ibu. Yang kini sedang menatapnya dengan begitu tajam.


Chandra menaikkan satu alisnya. "Ibu kenapa?" tanyanya pada sang ibu.


Ayu yang masih melipat kedua tangannya di depan dada pun menghela nafasnya. Lalu ia berjalan menghampiri sang putra.


"Kamu yang kenapa? Kenapa kamu bersikap seperti itu pada Cella?" Ayu malah balik bertanya.


Dahi Chandra semakin berkerut. "Seperti itu bagaimana, Bu? Aku gak ngerti apa yang ibu maksud," tanya Chandra yang masih kebingungan.


Ayu memijat keningnya yang tak pusing. Lalu ia pun menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu bersikap dingin pada Cella?" akhirnya Ayu pun bertanya dengan nada geramnya.


Chandra menghela nafasnya. "Arlan gak suka dia datang ke rumah kita, Bu! Terlebih lagi dia gak kasih kabar ke Arlan terlebih dahulu," jawab Chandra yang begitu kesal mengingat tingkah Gricella.


Ayu mendengus geram pada jawaban putranya itu. "Tapi tidak seharusnya kamu menunjukkan sikap ketidaksukaanmu terhadap dirinya secara terang-terangan seperti tadi, Lan! Ibu lihat dia gadis yang baik, sepertinya dia hanya ingin kenal dan bersilaturahmi dengan keluarga kamu."


Chandra bungkam mendengar apa yang baru saja dikatakan Ayu. Memang benar, tidak seharusnya Chandra menunjukkan sikap tidak sukanya pada Gricella, hanya karena gadis itu datang ke rumahnya tanpa memberitahukannya terlebih dahulu.


Seharusnya tadi ia langsung mengajak Gricella bicara berdua dan menanyakan perihal kedatangan gadis itu. Tapi karena ia begitu kesal dan malas melihat gadis itu, akhirnya Chandra keluar setelah melaksanakan sholat Isya.


"Ibu atau pun Almarhum Bapak mu, tidak pernah mengajarkan kamu maupun adikmu untuk bersikap tidak sopan pada tamu yang datang ke rumah kita. Besok temui dia dan mintalah maaf pada gadis itu!" Ayu segera masuk ke dalam setelah memberi titah pada sang putra.


Ayu berjalan dan melewati Karina juga Fedi yang masih berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Karina dan Fedi pun saling melirik.


"Sepertinya Ibu sangat marah sama Mas Arlan," ujar Karina seraya berbisik.


"Iya, kamu benar!" jawab Fedi.


Keduanya pun masuk ke dalam dan segera pergi ke kamar mereka masing-masing. Tidak lama Chandra pun ikut masuk ke dalam, dan ia memilih langsung masuk ke dalam kamar. Padahal niatnya Chandra ingin berbincang kecil bersama keluarga. Seperti apa yang sering mereka lakukan, namun nampaknya harus diurungkan. Mengingat sang ibu yang sedang kesal dengan dirinya, karena bersikap tidak baik terhadap Gricella.


Chandra merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Menatap ke atas langit-langit ruang kamar. Tatapan ya sedikit menerawang saat dimana ia bersikap dingin pada Gricella.


Aarrrggg…


Chandra mengacak-acak rambutnya sambil mengusap wajahnya kasar. Lalu ia pun bangun dengan penampilan yang kusut.


Chandra menghela nafasnya. "Kenapa juga kamu datang kerumahku, Gricella? Seandainya aku tahu kau akan datang ke sini, aku gak akan bersikap seperti tadi!" Chandra berdecak kembali mengingat kejadian sore ini.


Tangannya terkepal, lalu terangkat sambil memukul pelan keningnya dengan tangan itu.


Sementara itu, Gricella masih mengendarai mobilnya. Wajahnya masih terlihat begitu murung, sesekali ia menghela nafas sesaknya. Teringat akan sikap dingin Chandra yang mampu membuatnya gelisah dan tidak enak hati. Benar, saat ini gadis itu benar-benar merasa bersalah. Ia akui itu, mengakui kalau dirinya salah telah datang tanpa kabar.


Keesokan harinya, suasana restoran seperti biasa. Tidak terlalu ramai, namun tamu silih berganti masuk dan keluar untuk menikmati menu masakan di restoran milik Gricella.


Tepat pukul sepuluh pagi, gadis itu sedang melakukan interview pada sepuluh orang yang melamar pekerjaan di restorannya. Kegiatan itu cukup memakan waktu lama, mengingat ada beberapa wawancara yang harus mereka jawab untuk dapat lolos dan diterima bekerja di restoran tersebut.


Sekitar pukul 2 siang, Gricella dan Soraya pun akhirnya memutuskan menerima kandidat 8 orang dan 2 menjadi cadangan. Takut-takut salah satu dari 8 yang terpilih memundurkan diri atau sudah diterima di tempat lain.


"Kau yakin akan memilih dia?" tanya Soraya seraya menunjuk ke salah satu berkas si pelamar kerja.


Gricella menaikkan satu alisnya dan mengangguk. "Iya," jawabnya singkat.


Soraya pun menghela nafasnya. "Tapi dia seorang single parents," celetuk Soraya.


Gricella tersenyum miring. "Kan hanya cadangan saja! Belum tentu juga terpilih," sahut Gricella.


"Kalau salah satu dari kedelapan ini ada yang mengundurkan diri, bagaimana? Mau gak mau kan kamu menghubunginya dan memintanya untuk bekerja di sini," Soraya kembali berceletuk menanggapi ucapan atasannya itu.


Gricella menaruh kedua tangannya diatas meja sambil menopang dagunya. "Aku masih bisa menghubungi yang satunya. Berdoa saja semoga dari 8 pilihan kita tidak ada yang mengundurkan diri!" jawab Gricella seraya tersenyum tipis.


Soraya menggelengkan kepalanya. "Terserah kau saja," pasrah Soraya.


"Oh, ya.. bagaimana hubunganmu dengan Tuan Chandra?" goda Soraya seraya menaikkan kedua alisnya.


Gricella mendelikkan matanya. "Hubungan apa? Biasa saja, bukankah kita masih bekerja sama dengan perusahaannya?" Gricella berusaha mengelak pertanyaan Soraya.


Soraya tersenyum usil. "Tidak usah membohongiku, aku tahu kau sering mengirimkannya makan siang. Apa kau menyukai Tuan Chandra?" Soraya kembali tersenyum menggoda Gricella.


Gricella mencebikkan bibirnya, namun rona merah di wajahnya membuat Soraya yakin kalau jawabannya adalah 'iya'.


Soraya tersenyum lebar. "Tidak perlu menjawab! Aku sudah tahu jawabannya apa," ujar Soraya seraya berdiri dari posisi duduknya.


Gricella mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu? Jangan berpikir yang macam-macam, Soraya!" elak Gricella.


Soraya tidak menjawab ucapan Gricella, wanita itu memiliki terus berjalan menuju pintu sambil melambaikan tangannya.


Soraya keluar tanpa berpamitan, dan meninggalkan Gricella yang masih bingung dengan ucapan wanita itu. Sebenarnya bukan hanya karena malas menjawab pertanyaan Gricella, tetapi Soraya memang harus segera kembali ke ruangannya. Karena ia harus menyiapkan beberapa berkas dan data untuk karyawan baru mereka. Sementara itu Gricella kembali menatap ke arah berkas yang ditinggalkan oleh Soraya di atas meja kerjanya. Ia pun meraih salah satu berkas itu, yang ternyata berkas mengenai data dua orang yang tadi sedang dibahas olehnya.


Mata jeli Gricella terus mengamati foto dan data dari salah satu karyawan cadangan itu. Alisnya pun bertautan saat membaca salah satu data yang tadi dikatakan Soraya mengenai status pernikahan wanita yang ada di dalam berkas tersebut.


"Jadi dia baru beberapa bulan bercerai," gumam Gricella.


Gricella kembali membalik kertas tersebut dan melihat foto yang menempel di berkas itu.


"Khanza Dwika,"