
Pagi-pagi sekali Chandra sudah meninggalkan apartemen Gricella. Sebelum ia benar-benar berangkat ke kantor, terlebih dahulu Chandra menyiapkan sarapan untuk Gricella. Kini pria itu duduk termenung sambil mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan sebuah pulpen di tangannya. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan saat ini, namun jika dilihat dari ekspresi wajahnya.
Chandra terlihat begitu kesal, karena saat ini wajah tampannya itu tercetak jelas rahang yang mengeras dan tangan sebelahnya yang terkepal kuat. Ketukan pulpen di meja itu semakin kencang, hingga akhirnya pria itu melempar benda tersebut ke lantai.
Arrrrhgghh….
Pria itu mengerang kesal sambil memukul-mukul udara disekitarnya. Nafasnya berburu dengan dada naik turun, lalu ia berdiri dengan kedua tangan yang berpegang pada meja.
"Siapa Ben? Kenapa Gricella terlihat sangat senang saat orang itu menghubunginya?" monolog Chandra yang masih sangat kesal.
Jadi, ini masalah semalam saat Ben menghubungi Gricella. Astaga, Chandra… kelakuannya benar-benar lucu dan menggemaskan. Sepertinya pria itu benar-benar cemburu saat melihat Gricella berbincang dengan pria lain dan terlihat begitu akrab.
Ya, semalam setelah Gricella keluar dari kamar mandi. Ben kembali menghubunginya, Ben adalah teman sekaligus sahabat Gricella sejak ia berkuliah di London.
Keduanya sempat berbincang cukup lama hingga tanpa sadar Gricella mengabaikan keberadaan Chandra. Chandra yang merasa terabaikan, akhirnya memilih duduk di sofa depan televisi sambil melihat pertandingan bola.
Tawa Gricella terdengar begitu bahagia, Chandra dapat mendengarnya karena gadis itu tertawa begitu kencang. Hampir setengah jam mereka berbincang, dan tentu membuat Chandra semakin terabaikan. Pria itu menghela nafasnya, rasanya sangat ingin marah pada gadis itu. Namun ia tahan, karena tidak ingin membuat Gricella tidak nyaman berada didekatnya.
Pada akhirnya Chandra memilih untuk mematikan televisi dan keluar dari gedung apartemen Gricella.
Brakk…
Gricella terkejut mendengar pintu dibenturkan dengan kencang. Ia pun segera keluar dari kamar dan melihat ke sekelilingnya. Hatinya langsung merasa tidak karuan saat menyadari Chandra sudah keluar dari apartemennya.
"Cella,"
Terdengar suara Ben saat memanggil gadis itu. Gricella pun tersadar dan langsung meminta maaf pada Ben, dan mengakhiri obrolan mereka.
Gricella merasa gelisah dan bersalah karena mengabaikan Chandra. Gadis itu segera menghubungi ponsel Chandra. Namun sayangnya ponsel pria itu tertinggal di sofa. Gricella pun menghela nafasnya pasrah.
"Maafkan aku, Chan!" gumam Gricella.
Gricella memilih duduk di sofa sambil menunggu kedatangan Chandra. Ia sangat yakin kalau pria itu akan kembali, karena ponselnya tertinggal. Gricella mengacak-acak rambutnya, ia merutuki diri sendiri. Karena begitu bodoh telah mengabaikan keberadaan Chandra dan malah asyik berbincang dengan Ben.
Walau ia akui bahwa dirinya sangat merindukan Ben, sahabatnya itu. Ben menghubungi Gricella karena pria itu saat ini sedang berada di Bandung, Indonesia.
Cukup lama Gricella menunggu Chandra kembali, hingga gadis itu terlelap di sofa. Sekitar pukul 11 malam, Chandra kembali masuk ke apartemen gadis itu. Saat masuk ia melihat Gricella sudah tertidur di sofa.
"Apa dia menungguku?" Chandra berdecak kesal.
Pria itu mau tidak mau harus memindahkan Gricella ke kamarnya. Setelah memindahkan Gricella ke tempat tidur, Chandra segera keluar dari kamar gadis itu. Awalnya ia hanya ingin kembali untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Namun karena tubuhnya sudah mulai terasa lelah, akhirnya ia pun merebahkan tubuhnya di sofa.
Pagi-pagi sekali pria itu sudah berada di kantor, dan seperti saat ini kondisinya masih terlihat uring-uringan. Chandra melirik jam tangannya, dirinya kembali berdecak kesal saat melihat jam baru menunjukkan pukul 9 pagi. Rencananya ia akan melihat Gricella lagi saat jam makan siang. Tetapi rasa kesal dan pemasarannya terhadap si Ben itu membuat ia tidak bisa tahan untuk mengetahui hubungan antara Gricella dan pria bernama Ben itu.
Chandra segera mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dari ruangannya. Fedi sempat melihatnya keluar, dan mengerutkan dahinya saat menyadari kalau kakak sepupunya itu terlihat buru-buru sekali.
Fedi pun berhasil mengejar Chandra. "Mas, mau kemana?" tanya Fedi dengan nafas ngos-ngosan.
"Aku mau ke apartemen Gricella sebentar, aku titip kantor padamu. Setelah jam makan siang aku akan kembali," jawab Chandra yang langsung masuk ke dalam mobil.
Fedi tercengang mendengar jawaban Chandra, dipikir Fedi ada masalah dirumah atau apalah. Tapi ternyata ini karena Gricella, pria itu hanya bisa pasrah dan menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan kakak sepupunya itu.
"Lama-lama ada yang bucin juga," gumam Fedi sambil tertawa kecil.
Sepeninggalnya Chandra dan mobilnya, Fedi pun segera kembali masuk ke dalam kantor. Sementara itu di apartemen Gricella, gadis itu sedang duduk termenung. Gadis itu menggigit kuku jarinya, karena merasa begitu gelisah. Sejak tadi pagi ia terbangun tidak menemukan sosok Chandra.
"Maaf," ujar Chandra.
Pria itu pun langsung masuk ke dalam dan meninggalkan pria yang nampak usianya lebih tua darinya dengan dahi berkerut.
"Sepertinya aku mengenalnya. Tapi dimana, ya?" guman pria itu sambil menatap belakang punggung Chandra.
Chandra berdiri di kasir, ternyata toko itu hari ini cukup ramai. Pria yang tadi bertabrakan dengan Chandra pun berdiri di belakang Chandra. Tanpa Chandra ketahui pria itu memperhatikan dan menelisik penampilan Chandra. Penampikan Chandra yang begitu berubah, bahkan tubuh yng dulu ia lihat sangat kecil dan kurus. Kini terlihat tinggi, dan sedikit berisi.
Tambah lagi dengan otot lengan Chandra yang terlihat menunjukkan urat-urat kekarnya, karena saat ini Chandra hanya menggunakan kaos hitam lengan pendek dengan celana jeans birunya, serta spatu kets bermerk. Pria itu merasa menciut saat melihat pakaian yng menempel pada tubuh Chandra. Karena semua yang dipakai Chandra sangatlah mahal harganya.
"Tolong kue coklatnya 2," ujar Chandra saat kasir menanyakan pesanannya.
"Dibungkus atau makan disini?" tanya kasir tersebut.
"Dibungkus saja," ujar Chandra.
"Baik, atas nama siapa?"
"Chandra,"
"Totalnya jadi tujuh puluh lima ribu rupiah!"
Chandra pun memberikan kasir tersebut selembar uang merahan. Sementara pria itu belakang Chandra cukup terkejut mendengar nama pria itu.
"Ternyata benar, dialah pria itu! Chandra Arlando," gumam pria yang masih berdiri di belakang Chandra dalam hatinya.
Chandra menyingkir dan duduk di kursi untuk menunggu pesanannya disiapkan. Tidak lama seorang oetugas toko membawakan pesanan Chandra. Chandra segera keluar dari toko tersebut, namun langkahnya terhenti saat sesorang memanggilnya.
"Arlan,"
Chandra menautkan alisnya, dan berbalik badan. Ia ingat pria yang memanggilnya itu yang tadi tanpa sengaja bertabrakan padanya. Pria itu tersenyum sambil menghampiri Chandra, dan membuat Chandra mengerutkan dahinya bingung.
"Maaf mengganggu anda, Tuan Arlan. Apakah anda masih ingat saya?" tanya pria itu.
Chandra tersenyum tipis. "Maaf, saya tidak ingat!" jawab Chandra.
Pria itu ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Saya Satria Wicaksono. Anda pasti tidak asing dengan nama saya," dengan percaya dirinya pria itu berkata demikian.
[Deg…]
Chandra sempat terkejut, namun keterkejutannya itu dapat ia tutupi dengan ekspresi wajah datar dan dinginnya. Ya, Chandra ingat dengan nama itu. Nama pria yang telah mempersunting kekasihnya dulu. Chandra menatap intens pria yang berdiri di hadapannya itu. Pria yang ia kenal sebagai mantan suami Kanza. Tapi, yang menjadi pertanyaan Chandra saat ini adalah. Kenapa Satria bisa ada di Jakarta, begitupun juga dengan Kanza. Apakah mereka kembali untuk rujuk? Atau… aaahh… Chandra mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia tidak ingin ambil pusing dengan urusan keduanya.
Chandra kembali menatap Satria, lalu tersenyum tersenyum tipis. Saking tipisnya, bahkan Satria tidak tahu kalau Chandra tersenyum.
"Ya, saya ingat!" jawab Chandra dengan santai.
Satria tertegun mendapati Chandra bersikap begitu santai padanya. Bahkan saat ini Satria lah yang merasa kebingungan dalam dirinya. Bahkan rasa canggung mulai menguasai pikirannya.
"Kenapa dia malah bersikap begitu santai, seakan tidak pernah terjadi apa-apa dalam hidupnya. Apakah dia tidak memiliki dendam padaku sama sekali? Apakah dia tahu kalau aku dan Kanza sudah bercerai? Apakah mereka sudah saling bertemu?" monolog Satria dalam hatinya.