LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Tidak Menyerah



Chandra mengernyitkan dahinya saat mendengar gadis di seberang sana menjeda ucapannya dalam sambungan telepon.


"Tapi apa?" tanya Chandra


Gricella sedikit menghela nafasnya. "Apakah kamu tidak kedinginan? A-aku takut kamu masuk angin a-tau alergi udara dingin," suara Gricella terdengar begitu gugup dan khawatir.


Chandra merasa gelenyar aneh mendengar apa yang baru saja dikatakan Gricella. Ada rasa seperti senang karena mendapat perhatian dari gadis itu.


"Aku tidak apa-apa. Lagi pula aku juga sudah terbiasa dengan angin malam," jawab Chandra sedikit menyinggung.


Gricella pun terdiam, ucapan Chandra sedikit menyentuh hatinya. Gadi itu masih terdiam, dirinya juga merasa sedikit gugup karena ini pertama kali mereka berkomunikasi cukup lama di dalam sambungan telepon. Hingga akhirnya Chandra sendirilah yang mengakhiri sambungan telepon tersebut.


"Tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Sebaiknya kamu istirahat, dan mandilah dengan air hangat!" titah Chandra.


Setelahnya Chandra langsung menutup teleponnya dan kembali dengan transaksinya di minimarket. Sementara itu Gricella hanya bisa menatap nanar pada layar ponselnya. Rasanya tidak rela jika harus mengakhiri sambungan telepon mereka.


Gadis itu menghela nafasnya, lalu ia pun memilih masuk ke dalam kamar dan membersihkan tubuhnya. Ia melakukan sesuai dengan apa yang tadi Chandra perintahkan. Gricella benar-benar mandi dengan air hangat.


Pukul 12 kurang Chandra baru saja tiba di rumahnya. Beruntung Fedi masih membuka matanya, jadi dia tidak perlu menekan bel rumah terlalu lama. Sempat terjadi percakapan diantara keduanya, hanya sekedar 'mengapa baru pulang?'


Setelah menjawab pertanyaan Fedi, akhirnya Chandra bisa langsung menuju kamarnya.


Setelah membersihkan diri, Chandra segera berpakaian dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sejenak matanya memejam, guna menetralkan rasa lelahnya itu.


Saat matanya terpejam ia terkejut dan langsung membuka matanya, ketika bayangan sosok gadis yang telah membuatnya risih selama beberapa bulan ini.


"Gricella," gumamnya


Chandra langsung segera bangun dan duduk bersandar di headboard tempat tidur. Ia mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangannya.


"Ada apa denganku? Kenapa bayangan tatapan itu kembali nyata?"


Iya, saat terpejam tadi Chandra begitu jelas melihat tatapan sedih dari Gricella. Tanpa sadar ia meremas pelan dada kirinya saat merasakan rasa nyeri setelah melihat tatapan sedih itu.


"Kenapa rasanya begitu nyeri saat melihat Cella menangis?" Chandra bergumam dengan perasaan yang masih bingung.


Chandra pun dengan cepat menggelengkan kepalanya. Ia kembali meyakinkan dirinya kalau ia tidak ingin begitu peduli atau memikirkan Gricella.


Tidak ingin larut dalam pikirannya, akhirnya ia memilih memejamkan kembali matanya. Beberapa menit kemudian, akhirnya Chandra berhasil masuk ke dalam mimpinya.


Sementara itu, di sebuah kamar apartemen. Gricella masih membuka matanya, gadis itu duduk sambil menopang kepalanya di atas kedua lututnya yang terlipat. Tatapannya terlihat begitu sendu.


Sepertinya Gricella masih teringat dengan kata-kata yang telah dilontarkan oleh Chandra saat di pantai tadi. Kata-kata yang mampu menggoyahkan semangatnya dalam mengejar cinta pria itu.


Gricella menghela nafasnya, tatapannya masih sama seperti tadi. Ia menyandarkan kepalanya pada headboard tempat tidur dengan tangan yang menutupi wajahnya.


"Aku gak bisa kayak gini!" Gricella mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ayo, Cella! Kamu pasti bisa meluluhkan hati Chandra. Jangan patah semangat setelah mendengar ucapan pria itu," ucapnya dengan penuh semangat.


Gricella mengangkat tangannya yang sudah terkepal. Menunjukkan kobaran api semangatnya telah kembali. Sejak awal dirinya memang sudah bertekad untuk mendapatkan hati, cinta dan tubuh Chandra. Maka dari itu kini ia tidak akan peduli dengan semua yang dikatakan oleh Chandra, agar dirinya menjauh dan berhenti berharap padanya tentang cintanya itu.


*


Satu minggu berlalu, Kanza pun telah bekerja di restoran cabang milik Gricella. Wanita itu bekerja dengan sangat baik, hingga semua laporan mengenai kinerjanya membuat Gricella tersenyum.


Kanza mengusap peluh keringat di keningnya, lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya merapikan piring dan meja bekas pengunjung. Hari ini restoran terlihat begitu ramai, ditambah satu jam lagi sudah memasuki jam makan siang.


Hari ini Marvin dan Langit datang ke restoran cabang dimana Kanza bekerja. Keduanya telah duduk dan sedang melihat menu makan siang di restoran tersebut.


"Chandra jadi datang ke sini?" tanya Langit.


Marvin mendongakkan kepalanya dan mengangguk menatap Langit. "Mereka sedang dijalan," jawab Marvin.


"Dia datang bersama asistennya?" Langit kembali bertanya dan dibalas anggukan oleh Marvin.


"Iya, tapi aku tidak tahu seleranya si Fedi. Yang aku tahu hanya seleranya si Chandra saja," sahut Marvin.


"Hmm, karena kita sudah cukup lama kenal Chandra. Apalagi kita juga sering jalan dan makan bersama," celetuk Langit.


"Sudahlah, pesankan saja sama seperti Chandra!" cetus Langit lagi.


Marvin pun mengangguk menyetujui ucapan Langit. Setelah semua pesanan diorder, tak lama Chandra dan Fedi tiba. Keduanya masuk ke dalam, dan tanpa mereka sadari Kanza melihat kedatangan mereka.


"Arlan, Fedi," gumam Kanza yang baru saja mencatat pesanan pelanggan.


Chandra dan Fedo menghampiri meja dimana Marvin dan Langit menunggu. Keduanya pun duduk setelah saling menyapa. Kanza memberanikan diri untuk mendekati meja dimana Chandra berada.


"Kanza,"


Wanita itu menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Seorang pria yang dikenal sebagai asisten dari atasannya itu pun berjalan menghampiri wanita itu.


"Pak Surya," ujar Kanza.


"Bisakah kamu membantu di bagian kitchen? Disana sepertinya sedang sangat sibuk," Surya berkata seraya bertanya.


"Mmm, tapi disini juga sedang ramai, Pak!" jawab Kanza.


"Tidak apa, lagipula dua jam lagi shift pagi kamu akn habis. Disini biar saya yang menangani!" ujar Surya.


Kanza terdiam, menolak atau membantah pun tidak mungkin. Tak lama ia pun menganggukkan kepalanya dan berpamitan setelah menyerahkan buku catatannya pada Surya.


Dengan perasaan kesal dan wajah tertekuk Kanza masuk ke dalam kitchen, beruntung ia segera memakai masker. Jadi wajah kesalnya itu bisa tertutup oleh masker yang digunakannya.


Sementara itu Surya tanpa sengaja melihat Chandra dan asistennya sedang tertawa bersama kedua sahabatnya. Surya pun akhirnya menghampiri mereka.


"Selamat siang Tuan Chandra, Tuan Fedi," sapa Surya tersenyum ramah.


Chandra dan Fedi yang posisinya menyamping pun menoleh dan tersenyum ramah. Chandra dan Fedo pun berdiri sejajar.


"Selamat siang juga Tuan Surya. Apakabar?" tanya Chandra sambil bersalaman.


"Alhamdulillah, saya baik. Anda juga baik kan, Tuan?" tanya Surya kembali.


Surya pun bersalaman pada Marvin dan juga Langit. Chandra sedikit terkekeh mendengar pertanyaan Surya.


"Iya, saya baik-baik juga. Apakah anda sudah makan siang, Tuan Surya?" tanya Chandra.


Surya pun mengangguk. "Sudah Tuan, santai saja. Sebaiknya kalian menikmati makanan di restoran kami," jawab Surya.


Tidak lama Surya berucap, pesanan mereka pun datang. Surya berpamitan dan kembali membantu anak buahnya dalam mencatat pesanan para pelanggan.


Kini Chandra dan lainnya pun sedang menikmati makan siang hari ini. Sudah cukup lama Chandra tidak berkumpul bersama kedua sahabatnya itu. Apalagi bersama Sagara maupun Vesha, karena kesibukan masing-masing.


"Aku dengar Vesha akan melaksanakan lamaran dengan Bryan di Surabaya," cetus Marvin.


Chandra terkejut mendengarnya, ia pun langsung menghentikan mengunyahnya. "Kapan? Aku tidak tahu soal ini. Vesha pun juga tidak memberi kabar padaku," ujar Chandra.


"Mmm, memang Vesha belum memberitahukannya. Tapi aku dengar dari Shena, katanya mereka akan melangsungkan acara lamaran sekitar tiga minggu lagi," jawab Marvin.


Chandra menganggukkan kepalanya. "Kalian akan datang ke sana?" tanya Chandra.


Marvin dan Langit pun saling melirik sati sama lain.


"Eum, lihat nanti saja! Aku tidak bisa janji akan menghadiri acara lamaran Vesha dan Bryan," jawab Marvin.


"Benar, karena akhir-akhir ini showroom sedang ramai sekali!" tambah Langit.