
Gricella sedikit terhenyak saat Chandra membentak dirinya. Chandra menatap gadis itu dengan rasa kesal, begitupun juga dengan Gricella yang menahan rasa kesalnya sejak tadi dengan mengepalkan kedua tangannya.
Chandra menghela nafasnya, ia pun pada akhirnya melepaskan helmnya kembali. Sejak tadi kang juru parkir memperhatikan keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Kang juru parkir pun menghampiri keduanya.
"Maaf Mas, Mbak nya. Kalau punya masalah sebaiknya diselesaikan saja dulu dengan cara baik-baik," ucap juru parkir tersebut.
Chandra dan Gricella pun menoleh, Chandra merasa tidak enak dengan kang parkit tersebut.
"Maaf ya, Mas!" ucap Chandra yang merasa tidak enak hati.
"Gak apa-apa, Mas! Diselesaikan saja dulu masalah sama Mbak nya ini,"
Chandra mengangguk dan tersenyum. "Iya, Mas."
Kang juru parkir pun pergi ke tempat duduknya kembali melanjutkan ngopinya bersama temannya. Chandra menoleh ke arah Gricella yang sejak tadi hanya menunduk.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu bahas!" kata Chandra dan kali ini pria itu berkata sedikit lembut.
Gricella mendongakkan kepalanya menatap Chandra. Sedikit terkejut dengan suara lembut pria itu.
"Wah, ternyata pria ini bisa bicara lembut juga." batin Gricella.
Gricella masih terus menatap Chandra, rasanya gadis itu sangat betah melihat wajah tampan dan manis milik Chandra. Bahkan tatapan gadis itu berubah menjadi hangat, dan membuat Chandra sedikit salah tingkah. Chandra berdehem guna menetralkan rasa gugupnya.
"Hei, cepat katakan! Aku ingin pulang," ujar Chandra kedua kalinya, namun Gricella masih melamun menatap wajah Chandra.
Chandra pun mengibaskan tangannya di depan wajah Gricella. Tetapi gadis itu masih saja melamun, hingga Chandra terpaksa menyenggol lengan gadis itu.
"Hei!"
Gricella tersentak saat mendengar teguran dari Chandra. Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali, dipalingkannya pandangan ke arah lain guna menghilangkan rasa gugupnya.
Chandra kembali menghela nafasnya. "Aish, kau melamun sambil menatap wajahku yang tampan ini. Hati-hati Nona jangan sampai kau terpesona dengan wajah tampanku ini!" Chandra menaikkan satu alisnya sambil menggoda Gricella.
Gricella mencebikkan bibirnya. "Cih, pede sekali kau!" sahutnya.
Chandra tertawa sinis. "Lalu kenapa kau menatapku seperti tadi, hoeh? Terus apa yang ingin kau bicarakan, sampai kau mencegahku untuk pergi?" selidik Candra pada Gricella.
Gricella pun tersadar dan hampir melupakan tujuan utama dirinya meminta Chandra untuk jangan pergi.
"Oh, itu…. Kenapa kamu membayar pesananku? Apa yang kau rencanakan? Apa kau pikir aku tidak sanggup membayar pesananku, heoh? Bahkan seluruh cafe ini aku bisa membelinya," oceh Gricella mencecar beberapa pertanyaan pada Chandta dengan gaya pongahnya.
Chandra menaikkan satu alisnya. "Oh, benar. Aku lupa kalau wanita sombong sepertimu bisa membeli seluruh cafe ini." sinis Chandra.
"Tetapi asal kau tahu aku tidak ada maksud apapun terhadapmu, itu hanya pikiran dangkal mu saja. Aku membayarnya karena memang aku menginginkannya, karena aku seorang pria."
"Jika kau tidak suka aku bayarkan pesananmu, kau bisa menggantinya dengan cara memberikannya pada anak jalan yang ada di sana!" tunjuk Chandra dengan dagunya.
Tanpa sadar Gricella pun mengikuti arah tunjuk Chandra. Ya, di seberang jalan sana ada dua anak jalanan yang sedang duduk sambil makan bersama dalam satu bungkus nasi.
"Jika sudah tidak ada hal yang ingin kau bicarakan, sebaiknya aku pergi dan tolong menyingkirlah dari motorku!"
Lagi-lagi Chandra mengusir Gricella, dan tentu saja gadia itu tidak tinggal diam. Gricella kembali menahan Chandra.
Chandra memutar bola matanya malas. "Aku tidak menghinamu sama sekali tidak ada niatan untuk menghinamu, Nona. Karena aku tahu wanita seperti apa dirimu ini," jawab Chandra dengan penuh penekanan.
"Memangnya kau tahu aku seperti apa, heoh?" Gricella kembali membentak Chandra.
Chandra menyatukan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri. "Sstt, kecilkan suara cemprengmu itu! Sungguh suaramu sangat merusak gendang telingaku. Lebih baik aku mendengar suara knalpot motor milik Langit dari pada harus mendengar suara jelekmu itu," tunjuk Chandra pada wajah Gricella.
Gricella semakin panas mendengar ucapan Chandra. "Kau benar-benar menyebalkan!" Gricella menghentakkan kakinya karena sudah kepalang kesal dengan Chandra.
"Itu kau tahu. Kalau sudah tahu aku menyebalkan sebaiknya kau segera menyingkir dariku. Huuusss… husss… cepat menyingkirlah!" usir Chandra sembari mengibaskan tangannya.
Kepala Gricella terasa mendidih, mungkin jika digambarkan dalam sebuah film, kepalanya sudah mengeluarkan asap dengan wajah yang memerah. Gadis itu menatap nyalang pada Chandra, namun yang ditatap hanya bersikap santai dan tidak takut.
"Aku sangat membencimu, pria brengsek! Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi," umpat Gricella yang masih dapat di dengar Chandra.
"Ya, ya, terus saja mengumpat seperti itu. Jangan menyesal kalau suatu saat kau justru yang sangat ingin bertemu denganku," sahut Chandra yang begitu percaya diri.
"Cih, amit-amit!"
Chandra hanya tersenyum sinis menanggapi jawaban Gricella, bahkan pria itu sudah melambaikan tangannya sebelum ia pergi meninggalkan Gricella sendirian di area parkir. Tidak sendirian sih, karena kang juru parkir sudah berdiri di tidak jauh dari motor Chandra.
Gricella masih begitu kesal menatap punggung Chandra yang sedang mengendarai motornya keluar dari parkiran. Gadis itu kembali menghentakkan kakinya sebelum ia melanjutkan langkahnya menuju mobil.
"Aaarrrgg… dasar kurang ajar, pria brengsek!" pekik Gricella setelah masuk ke dalam mobilnya.
Gricella benar-benar tidak menyangka kalau dalam satu hari dirinya berhasil dibuat kesal oleh orang yang sama. Bahkan Gricella juga merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apapun di hadapan Chandra. Entah kenapa saat berhadapan dengan Chandra, Gricella merasa lemah dan mati kutu tidak bis berkata apapun. Padahal rasanya ia sangat ingin memaki pria itu.
Baru tiba di tanah air, dirinya sudah dibuat kesal oleh orang-orang yang baru ditemui olehnya dalam satu hari ini. Niat hati ingin bersenang-senang dan menghilangkan rasa penatnya, akan tetapi semuanya tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi dalam dirinya.
Rasa kesal dan benci Gilricella pada diri Chandra pun semakin bertambah. Bahkan gadis itu berharap sekali tidak pernah dipertemukan kembali oleh pria itu.
Gricella pun segera keluar dan meninggalkan cafe tersebut. Dia tidak akan pernah kembali lagi ke cafe itu setelah kejadian tadi. Saat melintasi jalan tidak jauh dari cafe itu, mata Gricella tidak sengaja melihat orang yang sudah berhasil membuatnya kesal.
Di pinggir jalan itu Gricella melihat Chandra turun dari motor dan berjalan mendekati dua orang anak jalanan yang sedang duduk di trotoar.
Mata gadis itu memicing dan memelankan laju mobilnya dan sedikit menepi di pinggir jalan. Gricella pun mematikan mesin mobilnya. Dahinya sedikit berkerut saat melihat Chandra mengajak kedua anak jalanan itu menuju tukang nasi goreng yang sedang mangkal. Gricella masih terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Chandra.
Sementara itu Chandra yang memang sengaja mengajak kedua anak jalanan itu untuk membeli beberapa bungkus nasi goreng. Cukup lama Chandra dan kedua anak tersebut duduk sambil berbincang dan tertawa bersama. Setelah menunggu beberapa menit pesanan mereka pun jadi. Chandra membayar lima bungkus nasi goreng itu dan kembali mendekat ke arah anak jalanan tersebut.
"Ini untuk kalian," ujar Chandra seraya menyodorkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan pada kedua anak jalanan tersebut.
Kedua anak jalanan itu pun saling menatap, tidak lama kedua menggeleng.
"Tidak usah, Kak. Kakak membelikan kamu nasi goreng ini saja sudah cukup," tolak salag satu anak itu.
Chandra tersenyum dan mengusap lembut kepala anak itu. "Tidak apa, Kakak ikhlas memberikannya pada kalian. Kalian bisa memberikannya pada Ibu atau Bapak kalian. Memang tidak banyak, tapi setidaknya bisa sedikit meringankan kalian. Jadi ambillah!" uhar Chandra seraya memberikan uang itu kembali pada kedua anak bersaudara itu.
Akhirnya anak itu pun mengambil uang dari tangan Chandra. Chandra tersenyum karena ia dapat membantu kesulitan orang lain.
Di dalam mobil Gricella tidak berhenti menatap kagum pada sosok Chandra. Entah kemana rasa benci dan kesalnya terhadap Chandra tadi? Author saja sampai pusing dengan sikap labil Gricella.