LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Galau



Malam ini Gricella dapat tidur dengan nyenyak, itu karena ia bisa bernafas lega karena sang kakak telah bertemu dengan kekasihnya dan nantinya akan menjadi kakak iparnya. Pagi ini seperti biasa Gricella bangun dengan tubuh yang begitu segar, karena pikirannya pun sedang senang.


Pukul sembilan pagi Gricella sudah siap dengan pakaian yang rapi. Sepertinya ia sedang bersiap untuk menuju restoran utama, ada beberapa berkas yang masih harus ia cek. Terutama gaji para pegawainya. Gricella harus segera menandatangani untuk segera diserahkan ke pihak bank. Gricella tidak ingin gaji para pegawainya terlambat karena ulahnya sendiri.


Seperti biasa gadis itu mengendarai mobilnya sendirian. Terlihat wajah bahagianya, bahkan ia sesekali mengikuti nada musik yang sedang ia setel. Bernyanyi sambil sedikit menggoyangkan kepalanya. Suaranya pun tidak fals fasl banget lah, ya. Karena memang Gricella memiliki bakat bernyanyi.


Padahal dulu Naura selalu menyuruh putrinya itu untuk mengikuti ajang pencarian bakat. Karena Naura melihat bakat bernyanyi putrinya sangat baik dan bagus. Namun sayangnya, Gricella tidak mau dengan alasan ia takut menjadi terkenal. Karena jika terkenal sudah pasti banyak gosip yang bertebaran. Tidak terkenal saja dirinya sudah sering digosipin sana sini, apalagi kalau sudah menjadi penyanyi terkenal. Pikir Gricella.


Kedua orang tuanya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas saat mendengar alasan dari gadis itu. Namun mereka juga tidak memaksakan keinginan Gricella itu.


Mobil Gricella berhenti saat lampu merah menyala. Sambil bersenandung kecil, matanya melihat ke kanan dan kiri jalan. Memperhatikan pengendara lain, terutama pengendara motor. Matanya memicing saat melihat motor yang pernah ia lihat dan sangat ia kenal.


"Bukankah itu motor Chandra?" monolog Gricella.


"Siapa wanita yang dibonceng Chandra? Apakah itu kekasihnya?" Gricella kembali bermonolog dan menatap nanar pada kedua insan yang sedang berboncengan di atas motor.


Benar, itu adalah Chandra yang sedang berboncengan dengan Karina. Hari ini Chandra tidak ke kantor, dan hari ini Chandra ingin mengantarkan adik kesayangannya itu ke kampus.


Chandra dan Karina sesekali berbincang dan melontarkan candaan, hingga keduanya tertawa. Keakraban mereka membuat Gricella yang sejak tadi memperhatikan keduanya, menjadi kesal. Bahkan tanpa sadar gadis itu meremas kuat kemudi mobilnya.


Lampu merah pun telah berganti hijau, beberapa kendaraan pun mulai membunyikan klakson mereka. Gricella yang pun melajukan mobilnya dengan hati yang kesal, sakit dan cemburu bercampur menjadi satu. Sementara itu, Chandra menaikkan satu alisnya saat sekila melihat mobil yang juga ia kenal.


"Gricella?"


"Kenapa Mas?" tanya Karina saat mendengar Chandra bergumam.


"Eh, nggak ada apa-apa!" jawab Chandra dengan cepat.


Pria itu pun mempercepat laju motornya, Chandra ingin meyakinkan dirinya apakah itu benar mobil milik Gricella. Tepat berjalan beriringan dengan mobil yang diyakini kalau iti adalah Gricella. Benar, Chandra dapat melihat siapa yang mengendarai mobil tersebut. Gricella menoleh dan sempat terkejut melihat Chandra yang juga sedang menoleh ke arahnya.


Chandra membuka kaca helmnya dan tersenyum. Namun berbeda dengan Gricella yang menatap pria itu dengan tatapan kesal. Bahkan gadis itu menarik gas dan mempercepat laju kendaraannya. Menyisakan Chandra yang kebingungan dengan sikap gadis itu.


"Dia kenapa?" monolog Chandra dalam hatinya.


Sementara itu di jok penumpang, Karina menatap sinis mobil Gricella. Ia memang tidak tahu siapa yang mengendarai mobil itu. Namun entah kenapa ia begitu kesal dengan sang pengemudi.


"Gila tuh orang, main ngebut aja. Dikira ini jalanan Nenek moyangnya kali, ya?" omel Karina.


Chandra tak bisa menahan tawanya saat mendengar omelan sang adik. Ia pun tertawa dibalik helmnya. Gadis itu pun memukul pundak sang kakak, ia kesal karena ditertawakan.


"Kenapa Mas malah ketawa?" tanya Karina.


"Haha, bagaimana aku tidak tertawa? Kau mengomel seperti Nenek-nenek kurang gizi," sahut Chandra yang masih tertawa.


Karina mencebikkan bibirnya, kesal dengan jawaban dari sang kakak ia pun kembali memukul pundak Chandra. Chandra dan Karina pun kembali bercanda dan berbincang, sehingga mereka lupa dengan mobil Gricella yang mengebut.


Chandra dan Karina telah tiba di kampus dimana dulu Chandra dan The Genk berkuliah. Banyak pasang mata menatap kehadiran alumni kating mereka, ada beberapa teman Chandra yang masih berkuliah di tempat itu, dan mereka pun mengenali sosok Chandra yang begitu humble. Mereka pun saling menyapa dan bersalaman.


"Sudah lama sekali aku tidak kesini," ujar Chandra pada temannya itu.


"Kau merindukan kampus ini?" tanya balik pria yang kini duduk di sebelah Chandra.


"Hemm, tentu akan selalu aku rindukan." jawab Chandra.


Terdengar desisan dari pria di sebelah Chandra. "Malah aku sangat bosan berada di kampus ini lagi. Rasanya aku ingin pindah saja," keluh pria itu.


Chandra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Tangannya terulur menepuk punggung pria itu.


"Sabar, Bro. Aku doakan semoga tahun ini kau lulus. Teruslah belajar dengan giat, Sen."


Chandra memberi semangat pada teman lamanya itu yang bernama Husen. Husen hanya tersenyum miring, entahlah rasanya sangat tidak bersemangat sekali. Husen adalah salah satu mahasiswa yang gagal dalam ujian skripsi. Maka dari itu Chandra dan para sahabatnya sangat bahagia karena mereka lulus dengan nilai terbaik. Mereka adalah mahasiswa yang sangat beruntung, dan juga pekerja keras.


Setelah lama berbincang, akhirnya Chandra pun berpamitan. Ia memilih kembali ke rumahnya, sambil mengecek beberapa laporan yang dikirim oleh Fedi. Besok adalah hari Sabtu, dan Chandra berencana mengajak sang Ibu dan juga kedua adiknya untuk jalan-jalan.


Di tempat lain, Gricella terlihat begitu uring-uringan. Sejak masuk ke dalam restoran, wajahnya selalu ditekuk. Membuat para pegawai dan asistennya menatap bingung pada gadis itu.


Gricella berjalan mondar mandir sambil menggigit kuku ibu jarinya.


"Siapa sih gadis itu? Apakah benar Chandra sudah memiliki seorang kekasih?" monolog Gricella.


"Uuh, aku harus bertanya pada siapa? Apa aku harus bertanya pada Vesha?"


"No! Tidak, tidak, itu sangat memalukan dan terlihat sangat terang-terangan kalau aku menyukai Chandra."


Gricella terus berbicara pada dirinya sendiri. Gadis itu semakin terlihat begitu frustasi, karena bingung harus bertanya pada siapa. Sementara dirinya tidak mengenal teman-teman Chandra.


Merasa lelah karena bolak balik seperti setrikaan, akhirnya gadis itu pun menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa dalam ruangannya itu.


Aarrrggghh….


Gricella menghentakkan kaki dan mengayunkan kedua tangannya. Kemudian saat itu juga tangannya mengacak-acak rambut panjangnya. Gadis itu benar-benar terlihat sangat galau dan juga kacau. Belum berjuang sudah langsung dipatahkan semangatnya, mungkin begitulah istilah perasaannya saat ini. Dirinya belum juga memulai untuk berjuang mendapatkan cinta Chandra, tetapi sudah kandas terlebih dahulu karena ada sosok wanita lain. Wanita yang tadi baru dilihat olehnya.


Saat siang hari, asisten Gricella bernama Soraya pun masuk kedalam. Memberitahukan kalau akan ada penambahan karyawan. Gricella pun menyetujui akan hal itu, lalu Soraya menyerahkan beberapa calon karyawan yang akan mereka rekrut untuk bekerja di restoran cabang.


"Ada sepuluh kandidat. Tapi kita hanya membutuhkan delapan orang saja. Masing-masing cabang membutuhkan dua orang pegawai baru," ujar Soraya seraya menyerahkan berkas berisikan CV kesepuluh kandidat.


Gricella pun mengambil berkas tersebut. "Oke, nanti aku akan memeriksa data mereka. Apakah stok persediaan bahan pokok masih banyak?" tanya Gricella.


"Ada beberapa persediaan yang sudah menipis. Nanti aku akan merekapnya dan menyerahkannya padamu," jawab Soraya.


"Hmm, lebih cepat lebih baik. Karena kita harus segera memberitahukan perusahaan Arland's Supplier,"


Soraya pun mengangguk. "Baik, Nona!" jawabnya.


Ada perubahan nama dari perusahaan yang Chandra bangun. Itu dilakukan oleh si pemilik perusahaan, karena memang itulah bidangnya yang menjadi background di perusahaan Chandra saat ini.


"Sudah waktunya makan siang. Apakah kamu mau aku pesankan makanan?" tanya Soraya.


Gricella tersenyum. "Tidak perlu, nanti saja. Aku juga belum sangat lapar," jawab Gricella.


Soraya hanya mengangguk, lalu ia pun pamit untuk kembali ke ruangannya. Sepeninggalnya Soraya dari ruangan tersebut, Gricella kembali terlihat murung. Sebenarnya perut gadis itu sudah sangat lapar, namun nafsu makannya menghilang saat mengingat Chandra dan gadis yang dibonceng di motornya itu.