
Keduanya masih berdiam diri, hingga pada akhirnya seorang pegawai toko membawakan pesanan Satria. Satria pun menerimanya dan mengatakan terima kasih pada pegawai tersebut.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan." ujar Chandra.
Satria hanya mengangguk saja, lalu ia pun ikut keluar dari toko tersebut bersama Chandra. Keduanya berjalan bersamaan menuju parkir mobil. Satria kembali menelisik kendaraan yang dimiliki oleh Chandra, lebih tepatnya kendaraan pribadi pria itu. Berbeda dengan dirinya, karena saat ini Satria sedang membawa mobil milik bosnya. Ya, satria saat ini ekerja sebagai sopir pribadi.
"Tunggu!" Satria menghentikan Chandra yang hendak masuk ke dalam mobilnya.
Chandra menaikkan satu alisnya. "Ada apa?" tanyanya datar.
Satria menelan salivanya, kali ini ia sudah memantapkan dirinya untuk mengatakan apa yang selama ini mengganjal di dalam hati dan pikirannya.
"Maafkan saya!" jawab Satria.
Chandra mengerutkan alisnya. "Maaf untuk apa?" tanyanya lagi.
"Maaf, karena aku telah merebut Kanza darimu. Maaf karena telah membuat hatimu hancur," jawab Satria.
Chandra terdiam sejenak tanpa langsung menjawab ucapan Satria.
"Itu kisah lalu, yang sudah saya kubur dalam-dalam. Bahkan saya sudah memaafkan kalian semua sebelum kalian minta maaf pada saya dan juga pada kedua orang tua saya. Saya dan keluarga bukanlah tipikal orang yang mendendam," ujar Chandra tulus.
"Saya juga berharap kalian bahagia, langgeng sampai nenek, kakek." tambah Chandra lagi.
Disini Chandra sengaja berpura-pura tidak tahu tentang kondisi pernikahan Satria dan Kanza. Karena ia tidak ingin Satria berpikir kalau dirinya akan kembali mengejar Kanza.
Satria mengerutkan dahinya. "Apakah kamu tidak tahu, Lan? Kalau aku dan Kanza sudah berpisah dua bulan yang lalu," kata Satria.
Chandra berpura-pura terkejut. "Benarkah?" tanya Chandra dan dibalas anggukan kepala oleh Satria.
"Sangat disayangkan sekali," ujar Chandra lagi.
Sempat terjadi keheningan diantara mereka, namun Chandra kembali berkata dan membuat Satria merasa bersalah mendengar perkataan Chandra.
"Sabar ya, Mas! Jika Allah masih menghendaki kalian berdua bersama, suatu saat kalian akan dipertemukan kembali. Banyak-banyak berdoa dan istikharah," ujar Chandra seakan memberi semangat pada Satria.
Hati Satria mencelos begitu saja saat itu juga. Bahkan saat ini ia merasa begitu rendah di hadapan Chandra. Satria terkejut saat Chandra menepuk pundaknya.
"Lupakan semuanya, aku sudah memaafkan kalian semua. Kalau begitu saya permisi!" ucap Chandra.
"Lan," Chandra kembali menoleh saat mendengar Satria memanggilnya lagi.
"Eum, boleh saya minta nomor ponsel kamu?" dengan keberanian Satria bertanya pada Chandra.
Chandra menaikkan satu alisnya, dan kemudian ia tersenyum. Chandra terlihat mengeluarkan dompetnya, dan mengambil satu kartu nama milik perusahaannya.
Chandra menyerahkan kartu nama itu pada Satria. "Itu nama perusahaan saya, disitu juga ada nama saya dan asisten saya. Juga disitu ada nomor yang bisa Mas hubungi," jawab Chandra sedikit menyombongkan dirinya.
Tak apalah sedikit sombong, asal tidak terlalu. Selagi dalam porsi yang pas dan tidak berlebihan. Satria semakin tidak menyangka kalau nyatanya Chandra pemilik dari perusahaan yang bergerak di bidang supplier.
Satria pun mengangguk dan tersenyum. "Kamu sekarang sudah sukses ya, Lan! Aku bangga padamu, kerja kerasmu tidak sia-sia." kagum Satria.
Tanpa mereka sadari juga kalau pembicaraan mereka yang tadinya formal, kini berubah menjadi informal. Tidak ada kecanggungan diantara mereka berdua.
Chandra tersenyum. "Ini juga berkat doa dari kedua orang tua saya, Mas. Berkat mereka saya bisa mewujudkan keinginan mendiang Bapak saya," balas Chandra.
"Ya, kamu benar. Terima kasih, ya!" ujar Satria.
Chandra mengangguk. "Baiklah, kalau begitu saya harus segera pergi. Karena tunangan saya sudah menunggu," ucap Chandra tanpa sadar.
"Tunangan? Kamu akan segera menikah, Lan?" tanya Satria yang begitu terkejut.
Chandra baru tersadar apa yang baru saja diucapkan barusan. "Iya, doakan saja ya, Mas. Biar semuanya dipermudah jalannya," jawab Chandra tersenyum kaku.
Satria mengangguk dengan cepat. "Pasti, pasti saya doakan. Tapi jangan lupa undang saya di pernikahan kamu," ujar Satria.
"Iya, Mas. Insyaallah,"
*
Chandra sudah tiba di apartemen Gricella. Pria itu masih belum memberitahukan ke Gricella kalau dirinya sudah ada di parkiran apartemen. Namun baru saja ingin menekan tombol lif, ponselnya berdering.
"Assalamualaikum," ujar Chandra dengan berpura-pura memasang suara agak malas.
"Waalaikumsalam, Chan. Apakah kamu sibuk?" tanya Gricella di seberang sana.
"Kenapa?" bukannya menjawab proa itu malah balik bertanya.
Gricella menghela nafasnya. "Chan, apakah kamu marah padaku?" tanya Gricella.
Chandra tersenyum licik, dan Gricella tidak tahu akan hal itu. "Menurutmu?"
"Chan," lirih Gricella.
"Kenapa, apakah kamu sudah tahu letak kesalahanmu?"
"Chan, maafkan aku! Aku bisa menjelaskannya padamu,"
Chandra menghela nafasnya. "Apa yang ingin kamu jelaskan padaku, heoh?"
"Chan, semalam aku menerima telepon dari Ben. Dia adalah sahabatku saat di London dulu. Dia menghubungiku hanya untuk menyampaikan kalau dirinya saat ini sedang berada di Bandung. Ben sedang melakukan perjalanan bisnis bersama Daddy nya di kota itu. Dia juga menyampaikan kalau setelah dari Bandung, Ben dan Daddy nya akan datang berkunjung ke Jakarta…."
"Untuk bertemu denganmu dan keluargamu," celetuk chandra.
Gricella terdiam sejenak, memang benar apa yang dikatakan Chandra. Ben dan daddy nya akan datang berkunjung ke rumah kedua orang tuanya. Tapi mereka hanya berkunjung, tidak lebih. Karena pada kenyataannya memang begitu, tidak ada ikatan selain persahabatan diantara mereka berdua.
"I-iya, mereka akan datang ke rumah. Ya, seperti seorang teman datang bertamu, hanya itu saja, Chan." ujar Gricella mencoba memberi penjelasan.
"Aku dan Ben tidak ada ikatan apapun, kmi hanya berteman. Itu saja, tidak lebih. Aku mohon kamu jangan salah paham terhadapku dan Ben!"
"Tolong, jangan marah terhadapku! Aku minta maaf untuk semalam karena telah mengabaikanmu,"
Gricella terdiam, karena di seberang sana Chandra hanya diam tanpa bersuara atau berkomentar apapun.
"Chan, kamu masih disana?"
Gricella semakin gelisah, ia melihat layar ponselnya lagi. Panggilan masih berlangsung, tapi Chandra tidak menjawabnya.
"Halo, Cha…."
"Udah ngocehnya?" tanya Chandra yang membuat Gricella diam.
Tidak lama pintu apartemen gadis itu terbuka. Gricella pun ikut menoleh saat pintu terbuka, betapa terkejutnya dia saat melihat Chandra tengah masuk dengan menenteng sebuah bungkusan dan tangan masih memegang ponsel di telinganya.
Gricella segera bangun dari posisi duduknya. Lalu ia pun segera berhambur menghampiri Chandra dan ….
Brug…
Chandra hampir terhuyung ke belakang saat tiba-tiba saja Gricella berhambur memeluknya. Beruntung Chandra memiliki keseimbangan yang cukup baik, jadi dia bisa menahan tubuhnya sendiri.
"Maafkan aku, Chan. Maaf!" lirih Gricella saat berada dalam pelukan Chandra.
Chandra tersenyum, idenya berhasil membuat gadis itu menangis. Chandra pun membalas pelukannya, dan Gricella semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh pria itu.
"Kamu memelukku sangat erat, Cella. Kamu ingin membuatku sesak nafas, hmm?" bisik Chandra.
Gricella menghentikan tangisannya, lalu merenggangkan pelukannya. Gricella mendongakkan kepalanya dan menatap Chandra.
Chandra tersenyum lebar saat melihat wajah Gricella yang sudah banjir dengan air mata, dan hidung yang memerah. Tangan pria itu terulur mengusap air mata di wajah gadisnya itu.
"Wajahmu lucu sekali jika menangis seperti ini," tawa Chandra pun pecah.
Membuat Gricella merengut kesal, gadis itu pun memukul pelan dada bidang Chandra. Chandra meraih tangan Gricella dan kembali membawa tubuh itu ke dalam pelukannya.
"Ssst, sudah. Jangan menangis lagi, nanti cantiknya hilang!" kekeh Chandra yang kembali mendapat pukulan di punggungnya dari Gricella.
Tanpa mereka sadari, keduanya semakin larut dalam menyalurkan kasih sayang dan cinta mereka. Terlebih Chandra, pria itu tanpa mengucapkan kata cinta pada Gricella sudah dapat merasakan bahwa ia jatuh cinta pada gadis yang berada di dalam pelukannya.
"Sepertinya memang benar, kalau aku sudah jatuh cinta pada gadis ini. Entah sejak kapan, tapi aku dapat merasakan cemburu saat ada pria yang menghubunginya. Ya, aku cemburu saat Gricella berbicara dengan pria lain selain aku. Kini aku sudah memantapkan hati, bahwa aku mencintainya."