LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Pantai



Gricella tersenyum penuh kemenangan saat Chandra memakaikannya helm. Walau ekspresi Chandra terlihat begitu datar dan terkesan dingin, tapi dia tahu kalau Chandra berhati lembut. Bahkan Gricella selalu berpikir kalau Chandra bersikap begitu karena gengsi yang tinggi. Tapi sayangnya ia tidak tahu sikap dingin Chandra pun ada sebabnya.


Chandra takut jatuh cinta lagi, lalu sakit hati dan membuatnya kembali terpuruk. Bahkan saat menyatakan cintanya pada Vesha dulu, sesungguhnya ia telah menyadari kalau itu bukan cinta yang sesungguhnya. Chandra hanya suka dan kagum pada sosok Gavesha. Wanita pemilik hati lembut yang memiliki cinta tulus untuk pria yang sangat ia cintai.


Kini keduanya telah meninggalkan pelataran parkir restoran milik Gricella. Tanpa mereka sadari, ada sosok wanita yang menatap nanar kepergian mereka. Kanza, bergegas keluar setelah Soraya mengatakan kalau sesi interview nya selesai. Kanza keluar dari restoran itu dan hendak memastikan kalau yang ia lihat itu benar-benar Chandra.


"Aku yakin itu kamu, Lan."


Kanza bergumam pelan, ia terus menatap kepergian Chandra dan Gricella sampai motor yang mereka naiki menghilang di persimpangan jalan.


Chandra mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, sejak tadi ia agak risih saat Gricella langsung memeluknya dari belakang ketika Chandra mulai mengendarai motornya. Tapi entah kenapa Chandra tidak bisa menolak apa yang dilakukan Gricella. Walaupun sedikit risih, namun ada rasa nyaman saat gadis itu memeluknya. Dia dapat merasakannya itu, namun lagi-lagi ego dan gengsinya sangat besar. Chandra segera menepis semua rasa nyaman itu.


Chandra melirik tangan Gricella yang melingkar di pinggangnya. "Dia tidak memakai jaket?" monolog Chandra dalam hatinya.


"Gadis bodoh, dia ternyata ceroboh sekali." lanjutnya berkata dalam hati.


Chandra membuka kaca helmnya. "Tidak bisakah kamu melepaskan pelukanmu? Berpeganglah pada body motor bagian belakangmu!" Chandra berkata sedikit berteriak meminta Gricella melepaskan pelukannya.


"Tidak mau!" tolak gadis itu dengan penuh penekanan.


Chandra hanya menghela nafasnya kasar dengan perasaan geramnya yang selalu ia tahan.


"Kau juga tidak memakai jaket!" bentak Chandra.


Gricella baru sadar kalau memang dirinya tidak memakai jaket. Bukan karena lupa, tapi karena memang dia tidak pernah memakai jaket. Karena gadis itu selalu pergi dengan membawa mobil. Dengan sangat kesal, Chandra pun mempercepat laju kendaraanya. Namun sepertinya apa yang dilakukan Chandra justru malah membuat Gricella semakin mengeratkan pelukannya, dan membuat gadis itu semakin kegirangan.


Gricella memperhatikan Chandra dari belakang tubuh pria itu. Tatapan penuh cinta dengan senyum tulus di wajahnya.


"Bisakah kita seperti ini untuk selamanya, Chan? Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertemuan kita yang kesekian kalinya. Walau itu dalam rangka jalin kerjasama antara perusahaanmu dan restoranku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!"


Gricella kembali mengeratkan pelukannya setelah bergumam dalam hatinya. Perlakuan gadis itu tentu saja semakin membuat Chandra gelisah, nafasnya mulai terasa sesak. Gelenyar aneh itu kembali datang dalam diri Chandra.


"Sial! Kenapa dia semakin mengeratkan pelukannya? Ini juga, ada apa dengan tubuhku. Kenapa begitu sulit melepas pelukan Cella? Kenapa rasanya begitu nyaman? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" gumam Chandra dalam hatinya.


Beberapa jam kemudian, keduanya telah tiba di sebuah pantai. Chandra menepikan motornya di area parkir, keduanya pun turun dari kendaraan tersebut.


Chandra berjalan menuju arah pantai tanpa menggenggam tangan Gricella. Tentu saja gadis itu merengut karena harus berjalan dengan langkah lebar, hanya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Chandra.


"Kau tahu, aku sangat suka dengan pantai. Apalagi senja, aku sangat suka melihatnya." kata Gricella.


Namun Chandra tidak menanggapi ocehan gadis itu. Pria itu terus berjalan mencari tempat untuk mereka duduk. Chandra sengaja mencari tempat yang memiliki spot terbaik di pantai itu. Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Chandra memilih tempat yang mempermudah mereka melihat sunset di senja hari.


Gricella tersenyum lebar, hatinya begitu terharu saat menyadari kalau Chandra memilih tempat yang bagus dan pas. Ia melirik Chandra yang sudah mendaratkan bokongnya di atas pasir tanpa alas.


"Tempat yang pas. Bagaimana kamu tahu tempat yang bagus untuk melihat sunset?" tanya Gricella seraya mendudukkan tubuhnya di sebelah Chandra.


Pertanyaan gadis itu sukses membuat Chandra menoleh. Tak lama kemudian, ia pun tersadar sambil melihat ke kanan dan kirinya. Chandra berdecak dalam hatinya, ia pun merutuki dirinya sendiri karena tanpa sadar mencari tempat yang membuat Gricella senang.


Pada akhirnya Chandra memilih diam dengan ekspresi datarnya. Gricella semakin terpesona saat melihat wajah datar milik Chandra. Gadis itu pun tersenyum sambil menopang dagu dengan satu tangan, dan menghadap ke samping kanan dimana Chandra berada.


Chandra langsung menoleh menatap gadis di sebelahnya yang masih tersenyum dengan tatapan memuja. Sejenak Chandra tertegun dengan senyuman dan wajah cantik milik Gricella. Wajah blasteran Spanyol Indonesia, yang hampir mirip dengan Bryan itu. Benar-benar memiliki daya tarik luar biasa, namun Chandra segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Tapi aku tidak menyukaimu!" ketus Chandra.


Gricella mengerucutkan bibirnya dan menatap ke arah depan. Tapi tak lama ia pun kembali tersenyum dan menoleh kembali ke arah Chandra.


"Aku tidak peduli kau menyukaiku atau tidak! Yang jelas aku akan tetap menyukaimu dan mencintaimu. Walaupun kamu terus menolakku, ingat itu Tuan Chandra!" jawab Gricella yang tak gentar sama sekali.


Chandra menghela nafasnya kasar. "Terserah kau saja, kita lihat saja sampai kapan kamu akan bertahan untuk mencintaiku." ujar Chandra seakan menantang Gricella.


"Oke, aku akan membuktikannya!" sahut Gricella yang merasa tertantang dengan ucapan dan sikap Chandra.


Chandra tak peduli, ia lebih memilih menatap arah air laut dengan ombak kecil yang menghantam beberapa batu karang di depan sana.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu mengajakku ke pantai?" tanya Gricella.


Baru saja Chandra ingin menjawab pertanyaan gadis itu. Tiba-tiba saja Gricella lebih dahulu berucap kembali.


"Oh, jangan bilang kamu ingin aku menemanimu melihat sunset ya?" goda Gricella.


Chandra mengernyitkan dahinya, cukup terkejut mendengar pertanyaan dari gadis itu.


Chandra berdecak. "Cih, percaya diri sekali kamu ini!" celetuk Chandra tersenyum sinis pada gadis itu.


Gricella melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Memang aku sangat percaya diri. Kalaupun memang benar kamu ingin aku menemanimu, aku sangat siap. Bahkan aku siap 24 jam untukmu," jawab Gricella sambil mengerjapkan matanya lucu.


Chandra tertawa sinis sambil menggelengkan kepalanya. "Aku mengajakmu kesini hanya ingin mengatakan kalau aku sangat risih dengan sikapmu itu," ujar Chandra dingin.


Gricella terkejut mendengar jawaban Chandra. Ada rasa nyeri dalam hatinya, namun ia masih menepis rasa sakit itu.


"Berhentilah mengirimkanku makanan atau minuman ke kantor. Aku tidak suka, karena itu terlalu berlebihan!" celetuk Chandra lagi.


"Tapi…"


"Kita hanya rekan bisnis, tidak lebih. Aku tidak ingin ada orang atau siapapun berpikir kalau aku hanya memanfaatkan dirimu atas sikapmu itu padaku. Terlebih aku baru saja merintis usahaku ini dan langsung mendapat kesempatan bekerjasama dengan restoran besar milikmu itu," potong Chandra. dengan cepat.


Gricella tak bisa berkata apa-apa lagi, rasanya tenggorokannya mulai terasa tercekat. Bahkan nafasnya berburu cepat saat menahan semua rasa sakit akibat ucapan yang Chandra lontarkan.


Gricella memilih menatap lurus ke arah laut lepas di depannya. Gadis itu seketika mendongakkan kepalanya saat merasa air matanya mulai membendung. Sementara itu Chandra sedikit menyesal setelah mengatakan hal tersebut. Pria itu menyempatkan melirik ke arah Gricella yang sedang menoleh ke arah kirinya, membelakangi Chandra.


Chandra tertegun saat melihat tangan Gricella mengusap wajahnya. Ia yakin gadis itu telah menangis dengan diam, dalam hati ada rasa sesal dengan ucapannya.


Chandra Arlando