LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Bantuan Karina



Tiga hari telah berlalu, kondisi Gricella pun sedikit membaik. Hanya tinggal lemasnya saja, Bryan benar-benar menepati janjinya pada gadis itu untuk tidak memberitahukan keadaannya pada kedua orang tuanya. Selang infus pun sudah tidak menempel lagi di tangannya. Dokter baru saja mencabutnya kemarin.


Gricella memiliki alasan kenapa kedua orang tuanya tidak boleh tahu kalau dirinya sakit. Itu akan membuat keduanya menjadi lebih posesif terhadap dirinya. Gricella bisa membayangkan seandainya kedua orang tuanya tahu, sudah pasti baik Naura maupun Sean akan selalu bawel dan akan membatasi seluruh kegiatan Gricella. Terutama dalam pekerjaan.


Selama Gricella sakit Bryan, Devano dan Chandra lah yang selalu ada untuknya. Namun tidak dengan hari ini, Chandra tidak dapat ke apartemen Gricella karena harus menghadiri rapat di perusahaannya. Maka dari itu, Chandra minta tolong pada Karina untuk datang menjenguk gadis itu.


Karina menekan tombol pintu unit apartemen Gricella, sebelumnya Gricella sudah tahu kalau Karina akan datang. Karena Chandra sudah memberitahukannya terlebih dahulu.


"Assalamualaikum," ujar Karina saat memasuki unit apartemen Gricella.


Sementara itu di dalam kamar, Gricella hanya berucap pelan membalas salam dari Karina. Tubuhnya masih terasa sangat lemas, namun ia berusaha untuk bangun dari tidurnya dan duduk bersandar pada headboard tempat tidur.


Karina masuk ke dalam kamar Gricella yang sengaja dibuka oleh Bryan, agar mempermudah Gricella atau siapapun keluar masuk ke dalam kamar. Terkadang walau badannya lemas, Gricella sering bangun untuk berjemur diri di pagi hari.


Kedua gadis itu tersenyum saat kedua mata mereka bersitatap. Karina menghampiri Gricella dengan membawa beberapa bungkusan.


"Bagaimana keadaan Mbak Gricella? Apa sudah lebih baik?" tanya Karina.


Gricella mengangguk pelan. "Agak lebih baik, tidak seperti beberapa hari yang lalu." jawab Gricella.


"Tapi kelihatannya Mbak Gricella masih agak lemas, ya?" pertanyaan Karina hanya dibalas dengan anggukan kepala saja.


Karina tersenyum, "Baiklah. Kalau begitu aku akan menyiapkan makan siang untuk Mbak. Setelah itu minum obat dan vitamin ini," ujar Karina.


"Karina,"


"Ya!"


Gricella tersenyum tipis. "Bisakah kamu memanggilku Kakak saja? Rasanya aku agak gimana gitu kalau dipanggil Mbak," Gricella tersenyum kaku.


Karina sedikit tercengang dengan permintaan Gricella, tapi itu hanya sebentar. Lalu gadis itu memasang wajah datar dan dinginnya, persis seperti Chandra. Gricella tertegun melihat ekspresi wajah Karina, ia lupa kalau gadis itu adalah adiknya Chandra. Jadi wajar kalau mereka terlihat sangat mirip. Di sisi Karina sangat mengerti akan keinginan Gricella, mungkin karena Gricella lahir di kota dan Karina sedikit tahu kalau gadis di depannya ini cukup lama tinggal di luar negeri.


Gricella menyadari apa yang dikatakannya, ia sedikit merasa tidak enak dengan keinginannya itu.


"Maaf, Karina. Aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu. Hanya saja a-aku merasa kalau panggilan itu terlalu tua untukku. Sementara usia kita hanya beda beberapa tahun saja, kan? T-tapi itu terserah kamu saja," Gricella kembali terkekeh getir.


Karina mengatupkan bibirnya. "Baiklah, Kak. Aku akan memanggilmu Kakak," jawab Karina seraya tersenyum.


Gricella pun tersenyum, ia pikir hal itu akan menyinggung atau membuat Karina protes padanya. Namun kenyataannya tidak, gadis itu tidak mempermasalahkan hal sekecil itu. Karina pun mempersiapkan makan siang untuk Gricella dan juga dirinya. Selagi Karina menyiapkan makanan untuk mereka. Tanpa Karina tahu, Gricella diam-diam bangkit dan berjalan sambil meraba dinding agar tubuhnya tidak limbung. Gadis itu ingin makan di ruang televisi.


Karina terkejut saat melihat Gricella yang sedang berjalan sempoyongan. Ia segera menaruh piring dan air minum diatas meja. Lalu membantu Gricella untuk duduk di sofa.


"Kenapa gak bilang kalau mau keluar kamar? 'Kan biar Karin bantu Kakak," ujar Karina.


"Tidak apa! Kakak hanya ingin terbiasa kalau tidak ada orang. Lagipula kamu juga sedang sibuk," jawab Gricella.


Karina berdecak kesal. "Jangan seperti itu, Kak. Ada Karina disini, jangan merasa sungkan minta tolong selama Karina ada di apartemen untuk menemani Kakak!" cetus Karina.


"Iya, maaf!"


"Kenapa minta maaf? Kakak tidak melakukan kesalahan. Aku berkata seperti itu, karena aku melakukannya dengan tulus dalam menjaga Kakak. Jadi Kakak tidak perlu sungkan minta bantuan padaku. Aku juga sudah menganggap Kakak sebagai Kakakku sendiri,"


Gricella tersenyum dan merasa tersentuh mendengar ucapan Karina. Ia tidak menyangka kalau Karina akan menganggap dirinya sebagai bagian dari keluarganya. Karina begitu telaten menyiapkan makanan untuk Gricella. Bahkan gadis itu menyuapini Gricella sampai makanan itu habis. Awalnya Gricella menolak disuapi Karina, mengingat gadis itu juga harus makan. Akan tetapi Karina menjawab dengan penuh ketegasan.


"Aku bisa makan setelah menyuapimu, Kak. Jadi tidak perlu khawatir," ujar Karina.


Kini giliran Karina yang makan makanan siangnya. Geicella tersenyum memperhatikan cara makan gadis yang duduk di sebelahnya. Saat itu juga sekelebatan sosok Karina berubah menjadi Chandra. Gricella menggelengkan kepalanya sambil mengucek matanya.


"Chandra," gumamnya dalam hati.


"Entah kenapa aku sangat merindukannya," tambahnya yang masih bergumam dalam hati.


Karina telah selesai dengan makan siangnya. Gricella pun baru sadar kalau Karina sudah berada di dapur. Tak lama Karina datang setelah mencuci piring kotor bekas mereka makan. Lalu gadis itu duduk di sebelah Gricella, sambil mengeluarkan obat untuk Gricella.


"Karina,"


"Kenapa, Kak?" tanyanya.


Gricella sedikit menggigit bibir dalamnya, rasanya ia sedikit ragu untuk menanyakan Chandra. Karina menaikkan satu alisnya, merasa ada sesuatu yang sangat ingin diketahui oleh Gricella.


"Apakah ada hal yang ingin Kakak tanyakan?" selidik Karina.


"Eh," Gricella sedikit gelagapan. "Eum, i-itu …" keraguan pun kembali menyelimuti hati dan pikirannya.


"Apa yang ingin Kakak katakan? Apakah ini menyangkut soal Mas Arlan?"


Jleeeebb….


Ucapan Karina membuat Gricella terdiam, tepat sasaran. Memang Gricella sangat ingin bertanya soal pribadi Arlan alias Chandra.


Karina tersenyum, lalu memiringkan tubuhnya menghadap Gricella. "Jadi, apa yang ingin Kakak ketahui tentang Mas Arlan, hmm?" goda Karina sambil menaikkan satu alisnya.


Gricella menunduk malu, Karina terkekeh melihat tingkah Gricella. Lalu ia kembali memperbaiki posisi duduknya.


"Tanyakan saja apa yang Kakak ingin tanyakan. Insyaallah aku akan menjawabnya," ujar Karina kembali.


Gricella pun menghela nafasnya. "A-aku, hanya ingin bertanya mengenai Chandra. I-ini bersifat pribadi, dan aku harap kamu bisa merahasiakannya dari Chandra." ujarnya yang terlihat gugup.


"A-apakah d-dia memiliki seorang kekasih?" tambah Gricella.


Karina spontan langsung menoleh menatap Gricella dengan wajah seriusnya. Membuat Gricella merasa tidak enak dan sedikit takut kalau Karina akan kesal dengan dirinya. Namun perasaan itu tertepis begitu saja saat melihat senyuman Karina.


"Hanya itu?" tanya Karina dan dibalas anggukan kepala dari Gricella.


Karina terkekeh kecil. "Mas Arlan sudah lama menjomblo, Kak." Jawab Karina.


"Terakhir dia pacaran itu saat SMA dulu. Semenjak lulus Mas Arlan tidak pernah terlihat dekat dengan seorang perempuan selain aku dan Ibu," tambah Karina dengan tatapan sendu.


Gricella tertegun saat melihat tatapan sendu Karina. Ia dapat merasakan ada luka mendalam yang entah apa sebenarnya terjadi.


Karina tersenyum dan menatap Gricella, bahkan tangan gadis itu menggenggam erat tangan Gricella.


"Tapi saat aku tahu kalau Mas Arlan dekat dengan Kak Gricella. Entah kenapa aku merasa sangat senang. Aku harap Kakak mampu meluluhkan hati Mas Arlan yang telah lama beku!" ujar Karina lirih dan penuh makna.


"Karina," lirih Gricella.


Karin menghela nafasnya. "Dulu, saat Mas Arlan masih SMA. Dia sangat mencintai seorang gadis bernama Kanza," ujar Karina dengan pias wajah sendu.


Deg….


"Kanza," beo Gricella dalam hatinya.


Gricella menepis pemikirannya itu. "Tidak, mungkin saja hanya namanya yang sama. Bukan Kanza yang bekerja di restoranku itu. Walau aku tahu darimana Kanza berasal," Gricella kembali bergumam dan berperang dengan pikirannya.


"Kanza adalah cinta pertama Mas Arlan," Karina pun melanjutkan kembali ceritanya mengenai kisah Arlan dan Kanza.


Katina bercerita sesuai apa yang terjadi, tanpa dilebih-lebihkan. Gricella menutup mulutnya dengan satu tangannya. Ia tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu, terlebih dikhianati dan dihina di depan umum. Sungguh keterlaluan, pikir Geicella. Gadis itu pun merasa sangat kesal dengan sikap kedua orang tua Kanza yang telah menghina Chandra. Bahkan gadis itu merutuki kedua orang tua yang bahkan belum ia kenal itu dengan makian-makian kurang enak didengar. Namun sayangnya makian itu hanya diucapkan di dalam hatinya saja.


"Mereka tega sekali, tidak seharusnya mereka menghina keluarga kamu seperti itu. Andaikan aku ada disana saat itu, sudah dapat aku pastikan mereka akan kena batunya!" kesal Gricella.


"Rasanya aku sangat kesal sekali!" Gricella kembali mendengus kesal saat mengetahui apa yang dilakukan oleh keluarga Kanza pada keluarga calon suaminya.


Eh, calon suami. Gricella mengulum senyumnya saat berpikir Chandra sebagai calon suaminya. Uh, pasti dia akan merasa sangat bahagia. Jika menikah dengan Chandra.