
Karina, Fedi dan Chandra menghentikan keributan mereka setelah mendengar suara meninggi dari sang ibu. Ketiganya pun menoleh dan mendapati Ayu sedang berdiri dengan kedua tangan yang berada di pinggangnya. Ketiganya cukup terkejut saat melihat wajah Ayu begitu menyeramkan.
Perlahan Karina melepaskan genggaman tangannya dari rambut Chandra. Ayu pun menghampiri ketiganya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ayu kedua kalinya dengan nada suara sedikit membentak.
Lalu ia menatap ke arah Karina yang sedang menundukkan wajahnya.
"Kamu juga Karina! Kamu itu anak perempuan. Kenapa tingkahmu itu begitu bar bar dengan Mas kamu?"
"Bisa kamu jelaskan semuanya, kenapa kamu menyerang Mas Arlan seperti itu?" Ayu kembali mencecar pertanyaan pada Karina.
Karina masih bergeming dan menundukkan kepalanya saja. Chandra merasa bersalah pada sang adik, memang karena dirinya lah Karina jadi bersikap bar bar seperti tadi.
"Arlan yang salah, Bu. Tadi Arlan yang mulai menggoda Karin terlebih dahulu," ujar Chandra mengakui kesalahannya.
Ayu menghela nafas dengan mata yang masih melotot. "Kamu tahu ini sudah malam. Kenapa malah buat kegaduhan?"
"Maaf, Bu!"
Chandra dan Karina saling melirik setelah berucap demikian secara bersamaan. Ayu hanya bisa menggelengkan kepalanya, entah kenapa sikap kedua anaknya jika selalu bersama seperti anak kecil. Kadang keduanya bercanda cekikikan, dan terkadang pula bertengkar main jambak-jambakan atau saling tarik baju.
"Ini sudah larut, sebaiknya kalian tidur. Kalian berdua besok harus ke kantor kan? Dan kamu juga harus pergi ke kampus. Jadi sebaiknya matikan PS itu!" titah Ayu.
"Baik, Bu!" ucap Karina dan Chandra.
"Iya, Budhe!" jawab Fedi.
Ayu pun kembali ke kamarnya dan meninggalkan ketiga pemuda itu. Baik Chandra maupun Fedi, pada akhirnya merapikan PS tersebut. Sementara Karina sudah menuju kamarnya.
Keesokan harinya, Gricella dibuat pusing karena dua calon pegawai yang akan direkrut hari ini mengundurkan diri karena telah mendapatkan pekerjaan lain. Terpaksa Gricella meminta Soraya untuk menghubungi dua calon yang menjadi cadangan mereka.
"Kau yakin ingin mempekerjakan wanita yang berstatus single itu?" tanya Soraya yang kesekian kalinya.
Soraya selalu bertanya mengenai salah satu calon karyawan mereka itu. Siapa lagi yang mereka bahas kalau bukan Kanza. Gricella pun menghela nafasnya.
"Terpaksa, Raya. Aku sudah malas mencari orang lagi," jawab Gricella.
Soraya tersenyum miring. "Hmm, walaupun dia belum berpengalaman sama sekali?" Soraya kembali bertanya.
"Iya, nanti kita bisa mengajarinya dari nol. Sudahlah, segera hubungi dia" jawab Gricella seraya memerintahkan Soraya.
"Oke,"
Soraya pun akhirnya kembali ke ruangannya, sepeninggalnya Soraya dari ruangannya. Gircella pun segera meraih ponselnya, aplikasi berwarna hijau pun menjadi sasarannya. Dia menscroll kontak yang dikiranya akan membalas pesannya, namun sayang sekali orang itu tidak membalas pesannya sejak semalam.
Gricella menghela nafasnya. "Bahkan dia gak balas pesanku dari semalam," keluh Gricella.
Lalu ia pun melirik jam tangan yang di tangan kirinya. Ia pun tersenyum, sambil memainkan ponselnya. Sepertinya gadis itu begitu sibuk melihat sesuatu di layar ponselnya.
"Kirimin donat saja deh, sama es kopi Americano."
"Semoga saja Chandra suka,"
Wajah Gricella nampak begitu sumringah. Sepertinya gadis itu akan kembali mengirimkan makanan untuk Chandra. Beberapa detik kemudian pesanannya pun sudah selesai, dan Gricella pun juga sudah membayarnya menggunakan saldo gopay nya.
Di tempat lain, Kanza terlihat begitu senang karena mendapat panggilan kerja dari restoran Gricella. Soraya minta pada wanita itu untuk datang siang ini setelah jam makan siang. Karena Soraya akan melakukan interview pada wanita itu.
Kanza segera memberitahukan Lisna, karena hari ini ia juga harus menitipkan kedua anaknya pada kakak iparnya itu.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu terpanggil juga. Semoga kedepannya selalu dipermudah," ujar Lisna.
Kanza tersenyum. "Aamiin. Makasih ya, Mbak. Mbak selalu mendukung dan mendoakan aku," jawab Kanza.
"Sama-sama, Mbak akan selalu mendukungmu dan selalu ada untuk kamu dan anak-anakmu. Nanti anak-anak biar sama Mbak saja," ujar Lisna.
Kanza mengangguk. "Iya, Mbak. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih untuk semuanya," jawab Kanza.
*
"Tumben," celetuk Chandra.
Fedi tersenyum kecut. "Bukan dari aku, Mas. Tapi dari Mbak Cella," jawab Fedi.
Chandra membulatkan matanya, lalu ia menatap kotak donat tersebut. Alisnya terangkat satu, ia baru teringat kalau sejak tadi malam ia tidak memegang ponselnya.
"Mau diterima atau tidak, Mas? Kalau Mas Arlan tidak mau, biar aku kasih ke Mela dan yang lainnya." cetus Fedi.
Chandra tersadar dan langsung menatap tajam ke arah Fedi. "Tunggu sebentar, aku mencari ponselku!" sahut Chandra.
Fedi pun menghela nafasnya, lalu ia kembali membawa kotak donat dan es kopi Americano itu ke meja yang tidak jauh dari posisi Chandra saat ini. Chandra masih terus memperhatikan apa yang dilakukan Fedi. Setelah ponselnya ketemu, Chandra segera melihat pesan dari Gricella. Chandra cukup tercengang saat melihat isi pesan dari gadis itu yang begitu banyak, dan terpaksa ia pun membalas pesan dari Gricella.
Kamu yang mengirim donat dan es kopi itu?
Beginilah isi pesan dari Chandra untuk Gricella, lalu tak menunggu begitu lama. Gricella segera membalas pesan dari Chandra.
Iya, aku harap kamu suka. Aku beli dua es kopinya, yang satu untuk kamu dan satunya lagi untuk Fedi. Donatnya dimakan, ya!
Chandra memutar bola matanya malas membaca pesan dari Gricella. Lalu ia pun kembali terlihat membalas pesan dari gadis itu.
Sudah aku katakan padamu, berhentilah mengirim sesuatu untukku di kantor! Aku tidak membutuhkan itu,
Balasan pesan Chandra untuk Gricella terbilang sinis. Namun sayangnya gadis itu tidak peduli dengan isi pesan dari Chandra.
Iya. Tapi untuk hari ini donat sama es kopinya dihabiskan, ya!
Aku tidak ingin kamu telat makan. Karena aku sangat sayang sama kamu, Chandra Arlando.
Tolong jangan tolak perhatianku ini, aku tidak ingin kamu sakit 🥺
Chandra spontan mendekap mulutnya dengan mata melotot setelah membaca pesan dari Gricella. Bahkan ponselnya tak sengaja dilepas begitu saja. Ia pun menyandarkan punggungnya di sandaran kepala kursinya. Tanpa ia sadari tangannya terulur mengusap dada kirinya.
Gelenyar aneh pun ia rasakan dalam detak jantungnya yang berdebar begitu kencang.
"Aneh," gumamnya pelan.
"Perasaan apa ini?"
Chandra menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tanpa ia sadari sejak tadi Fedi terus memperhatikan sikap pria itu.
"Mas Arlan kenapa toh?" selidik Fedi dengan tatapan penuh tanya.
Chandra tersadar dari sikapnya yang terbilang aneh. Lalu ia pun membenarkan posisi duduknya, dan menatap Fedi dengan tatapan malu.
"Eung… g-gak ada apa-apa!" sahut Chandra dengan suara tergagap.
Fedi mengerutkan dahinya. "Yakin?" selidiknya.
Chandra mengangguk dengan cepat. "Iya," jawabnya singkat.
Fedi pun ikut mengangguk-anggukkan kepalanya sambil membalikkan tubuhnya. Ia baru teringat kalau kedatangannya kesini hanya untuk meminta donat pada Chandra.
"Ini mau gak, Mas?" tanya Fedi seraya mengangkat kotak donat yang tadi ia taruh di atas meja.
Chandra pun diam sejenak sambil menatap kota donat tersebut.
"Kamu makan saja, aku tidak mau!" tolak Chandra.
Senyum kemenangan terbit di wajah Fedi. "Dari tadi dong, bilang begitu! Kan bisa aku bawa ke ruangannya si Mela," celetuk Fedi.
"Aku bawa, ya! Makasih lho, Mas."
Fedi terkekeh geli setelah menggoda Chandra. Ia pun pergi dari ruangan atasannya itu sambil membawa satu kotak donat dan dua es kopinya. Chandra menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fedi. Sepeninggalnya Fedi, Chandra kembali melihat layar ponselnya.
"Sepertinya aku harus menegurnya langsung!"