
Chandra kembali datang ke kampusnya dulu, untuk menjemput sang adik. Karina sudah setengah jam menunggu kedatangan Chandra, hingga gadis itu merasa sangat kesal. Sementara itu Chandra hanya bisa mendengus kesal karena jam makan siangnya tertunda karena harus menjemput adiknya yang manja itu.
Chandra berhenti tepat di depan Karina. Satu alisnya terangkat seraya menatap Karina dengan tatapan heran.
"Kenapa itu muka ditekuk begitu?" goda Chandra dan mampu membuat Karina semakin kesal.
Gadis itu pun mendengus seraya memutar bola matanya malas. "Lama!" sahutnya yang begitu kesal.
Chandra hanya terkekeh kecil melihat adiknya sudah mulai kesal dengannya.
"Ngambek mulu, jelek tau!"
"Biarin!" sewot Karina.
Chandra tertawa terbahak-bahak. Karima mendelik tidak suka ditertawakan oleh sang kakak yang terus mengejeknya.
"Sudah, jangan ketawa terus! Udah siang ini, perut aku sudah lapar banget."
Chandra menghentikan tawanya, lalu ia memberikan helm pada Karina.
"Mas juga belum makan. Tadi baru mau makan kamu sudah telepon minta dijemput," jawab Chandra yang tak mau kalah juga.
Karina mencebikkan bibirnya. "Ya udah, mendingan makan di restoran aja. Aku sudah lapar ini!" rengek Karina.
"Iya… kita ke restoran tempat klien Mas saja. Disana makanannya enak-enak dan pas dikantong," ucap Chandra.
Mata Karina berbinar. "Wah, boleh tuh! Aku jadi gak sabar mau coba makanan disana," seru Karina.
"Sekalian Mas mau kenalin kamu sama pemilik restorannya. Siapa tahu nanti kamu bisa berteman dan punya niat mengembangkan usaha seperti dia," kata Chandra.
Karina mengernyitkan dahinya. "Eum, pemilik restorannya perempuan atau laki-laki?" tanya Karina.
"Perempuan, namanya Gricella. Dia adiknya Bryan Heinzee," jawab Chandra.
"Bryan Heinzee," beo Karina seperti gumaman.
Seketika itu juga matanya melotot. "Wow, ternyata Mas bisa kenalan sama pengusaha terkenal juga ya!" kagum Karina.
Chandra hanya tersenyum menanggapi ucapan Karina. "Jadi makan gak? Nanti keburu siang," tanya Chandra.
"Oalaahh, ya jadi lah Mas!"
Karina pun memakai helm pemberian Chandra, lalu ia pun naik ke motor Chandra.
"Pegangan!" titah Chandra.
"Ck, bawel."
Chandra tersenyum lebar hingga menampilkan cengiran di wajahnya. Motor pun melaju keluar dari area kampus dan segera menuju restoran milik Gricella. Chandra tahu kalau gadis itu ada di restoran utama.
Beberapa menit berlalu, motor yang dikendarai Chandra pun telah tiba di parkiran restoran milik Gricella. Setelah memarkirkan motornya, Chandra dan Karina berjalan beriringan masuk ke dalam restoran tersebut.
Salah satu pegawai restoran itu pun menyapa keduanya dengan begitu ramah. Baik Chandr dan Karina hanya tersenyum membalas sapaan ramah dari pegawai tersebut. Banyak mata menatap kagum pada keduanya, bahkan ada yang berpikir kalau mereka sepasang kekasih dan terlihat begitu serasi. Karena raut wajah mereka sekilas terlihat begitu mirip. Namun pada kenyataannya mereka salah, karena Candra dan Karina adalah kakak beradik yang hanya berbeda lima tahun.
Karina mengagumi interior restoran milik Gricella. Sejak awal masuk ia tidak berhenti mengagumi tempat itu.
"Tempatnya bagus ya, Mas!"
Chandra hanya menanggapi dengan senyuman dan anggukan kepalanya. Chandra dan Karina memilih duduk di kursi yang dekat dengan kolam ikan, dan ada sebuah taman yang berukuran mini untuk para tamu berfoto-foto. Seorang waiters membawakan buku menu makanan restoran itu, lalu kembali ke tempatnya menunggu Chandra dan Karina melihat menu tersebut sebelum memesannya.
Setelah memesan beberapa menu makanan, kino keduanya harus menunggu beberapa menit. Sambil menunggu pesanan mereka keduanya kembali sibuk memainkan ponsel. Karina sibuk berselancar di media sosialnya. Sementara itu, Chandra sibuk menghubungi dan mengirim pesan pada Gricella.
Berkali-kali Chandra mencoba menghubungi gadis itu, namun tidak diangkat.
"Sepertinya dia sedang sibuk," batin Chandra.
"Mas," panggil Karina.
Chandra pun mendongakkan kepalanya. "Hmm, apa?" tanya Chandra.
"Katanya mau ngenalin aku sama pemilik restoran ini," ujar Karina.
"Eum, sepertinya dia sangat sibuk. Mas dari tadi mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat. Mas juga sudah mengirim pesan, semoga saja nanti dia sempat membaca pesannya." jawab Chandra.
Karina menganggukkan kepalanya, ia juga mengerti kalau Gricella pasti sangat sibuk. Secara dia adalah seorang pebisnis, yang mengelola beberapa restoran peninggalan orang tuanya.
Sementara itu di dalam ruangan Gricella, terlihat gadis itu baru saja selesai melaksanakan shalat dzuhur. Setelah merapikan peralatan shalatnya, Gricella melihat ponselnya yang sejak tadi berdering. Matanya membulat sempurna saat mengetahui siapa yang telah menghubunginya.
"Chandra, kenapa dia menghubungiku?" monolognya.
Wajahnya pun semakin terkejut setelah membaca pesan dari pria itu yang mengatakan, kalau pria itu saat ini ada di restorannya. Bahkan Chandra juga bertanya sudah makan atau belum di isi pesan itu.
Gricella nampak gelisah, ia pun segera merapikan penampilannya. Sebelum ia keluar, terlebih dahulu Gricella membalas pesan dari Chandra. Tidak lama gadis itu pun keluar dari ruangannya, senyum gadis itu terus mengembang dari sebelum keluar sampai dia melangkah menghampiri Chandra.
Saat di lorong ruangannya, Gricella berpapasan dengan Soraya. Wanita anak dua itu pun mengatakan kalau mereka sudah menunggu dirinya.
"Chandra juga sudah memesankan makanan untuk kamu. Tadi dia menanyakan dirimu sudah makan atau belum, jadi aku bilang saja kalau kamu belum makan," kata Soraya.
Gricella pun berdecak kesal. "Ck, kenapa kau mengatakan kalau aku belum makan?"
Soraya membalikkan tubuh Gricella dan sedikit mendorongnya. "Sudahlah! Sebaiknya kau cepat temui mereka. Mereka sudah menunggumu sejak dari tadi," ujar Soraya.
Gricella masih ingin bertanya, ia sedikit bingung kenapa tadi Soraya mengatakan 'mereka'.
"Apakah Chandra datang bersama Fedi?" Gricella. kembali bermonolog.
Gricella terus berjalan dan mencari keberadaan Chandra. Senyumnya kembali melebar, kala melihat sosok pria yang sejak tadi pagi sudah membuat hatinya galau. Dengan langkah cepat Gricella menghampiri Chandra.
Chandra tanpa sengaja menoleh dan mendapati Gricella sedang berjalan sambil tersenyum padanya. Namun langkah gadis itu semakin pelan saat melihat seorang wanita tiba-tiba duduk di kursi depan Chandra. Wanita yang sama, yang ia lihat tadi pagi. Senyum yang lebar itu kini luntur begitu saja, saat menyadari hal itu.
Chandra berdiri dan membuat Karina mengerutkan dahinya. Karina baru sadar kalau ada seseorang yang mendekat ke meja mereka. Karina pun hanya bisa memperhatikan Gricella dari atas sampai bawah.
Bahkan ia juga memperhatikan interaksi antara Chandra dan Gricella. Karina pun akhirnya ikut berdiri karena Chandra sudah terlebih dulu berdiri dari posisi duduknya.
"Apakah kau sedang sibuk?" tanya Chandra pada Gricella.
"Eum, a-aku.."
"Apakah Mbak ini yang Mas mau kenalkan sama aku?"
Pertanyaan Karina membuat Gricella menghentikan ucapannya dan langsung menoleh ke arah Karina.
"Tadi dia manggil aku apa? Mbak? Terus dia manggil Chandra Mas? Apakah mereka memang sepasang kekasih?" monolog Gricella dalam hati.
Gricella menatap bingung pada Karina, Chandra pun tersenyum dan tahu kalau Gricella bingung dengan pertanyaan Karina.
"Iya, ini Gricella. Dia pemilik restoran ini dan juga rekan bisnis Mas," jawab Chandra.
Lalu tatapan Chandra pun bertemu dengan Chandra. Pria itu tahu arti tatapan Gricella, hingga akhirnya pria itu pun memperkenalkan Karina dengan Gricella.
"Dia adikku. Namanya Karina," ucap Chandra.
Gricella tercengang mendengar ucapan Chandra. Lalu ia pun melihat ke arah Karina yang sedang tersenyum lebar padanya. Karina menjulurkan tangannya di depan Gricella, dan tanpa ragu gadis itu pun membalas uluran tangan Karina.
"Karina,"
"Gricella,"
Keduanya pun saling berkenalan. Gricella semakin tersenyum lebar, ternyata sejak tadi pagi pikirannya itu salah. Kini ia bisa bernafas lega, karena nyatanya Karina bukanlah kekasih Chandra. Melainkan adik kandung pria itu. Gricella merasa senang karena akhirnya dia bisa mengejar cinta Chandra. Gricella akan berusaha keras untuk mendapatkan hati pria yang baru dikenalnya itu. Walaupun baru beberapa kali bertemu, entah kenapa Gricella merasa sangat nyaman saat bersama Chandra.