
Kabar kecelakaan Naura malam itu tersebar begitu cepat. Bahkan Chandra pun terkejut mendengar berita itu. Saat mengetahui kabar tersebut, Chandra langsung kepikiran dengan Gricella. Ia tahu kalau wanita itu saat ini sedang tidak baik-baik saja. Chandra bahkan bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dia jadi memikirkan gadis arogan dan sombong itu.
Berkali-kali Chandra berperang dengan hati dan pikirannya. Antara mengunjungi ibu dari wanita yang sudah membuat dirinya kesal atau tidak. Hingga ia tersadar dengan ucapan Fedi.
"Fedi tidak tahu apa masalah antara Mas Arlan dengan Nona Gricella. Tetapi ingatlah Mas, bagaimanapun juga Mas sudah terikat perjanjian kerjasama dengan Nona Gricella. Lebih tepatnya perusahaan Mas dengan restoran wanita itu,"
Cukup lama Chandra mempertimbangkannya, dan akhirnya pria itu memilih untuk menjenguk orang tua Gricella sembari melihat kondisi wanita itu. Pagi ini Chandra sengaja berangkat lebih dahulu, ia juga sudah berpesan pada Fedi untuk langsung datang ke kantor saja. Sekitar jam 7 pagi, Chandra sudah tiba di rumah sakit. Tadi juga Chandra sempat menghubungi Gricella, dan mengatakan kalau dirinya akan segera tiba di rumah sakit.
Setelah tiba, Chandra segera mengirim pesan pada Gricella dan mengatakan kalau ia telah sampai di lantai dimana ruangan Naura dirawat. Chandra menunggu wanita itu di kursi tunggu yang tidak jauh dari ruang rawat Naura. Tidak lama suara pintu terbuka dan mengalihkan eksistensi Chandra.
Chandra menoleh sekilas dan tersenyum tipis saat melihat Gricella keluar dari ruangan tersebut. Ada rasa iba saat melihat penampilan Gricella saat ini. Chandra yakin semalaman wanita itu menangis, terbukti dengan mata Gricella yang terlihat begitu sembab.
"Kamu datang sendiri?" tanya Gricella dengan suara parau.
Chandra sedikit canggung saat mendengar wanita itu menyebut kata 'kamu' pada dirinya.
Chandra sedikit berdehem guna menghilangkan rasa canggungnya. "Hmm, iya. A-aku membawakan buah dan beberapa cemilan, dan juga membawakan sarapan untukmu," jawab Chandra seraya menyerahkan sebuah kotak makan pada Gricella. Pria itu masih begitu gugup dan agak canggung pada wanita di hadapannya itu.
Gricella nampak memperhatikan kotak makan tersebut. Dengan rasa ragu, wanita itu akhirnya mengambilnya. Ia juga tidak ingin Chandra merasa tersinggung jika ia menolak pemberian pria itu.
"Tadi Ibuku yang memasaknya. Aku harap kamu suka. Ibuku juga titipkan salamnya untukmu dan keluargamu," ucap Chandra.
Mata Gricella berbinar, tanpa sadar ia pun tersenyum lebar. Entah kenapa rasanya begitu senang saat mengetahui bahwa makanan itu pemberian dari ibunya Chandra.
"Terima kasih, sampaikan salamku kuga untuk Ibumu. Aku jadi tidak enak dengan Ibumu," jawab Gricella terdengar lirih.
"Tidak apa, Ibuku akan senang jika masakan buatannya dimakan dan dihabiskan. Jadi lebih baik kamu makan saja, aku tahu kamu belum sarapan."
Memang benar Gricella belum sarapan apapun karena dia baru saja bangun, dan semalam ia tidak bisa tidur karena rasa khawatirnya terhadap sang mommy. Chandra menuntun Gricella untuk duduk di kursi yang tadi ditempatinya.
"Kamu berjaga sendirian?" tanya Chandra.
Gricella menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku bersama Daddy. Tapi saat ini Daddy sedang ada urusan di kantor," jawab Gricella.
"Kau sudah menghubungi Kakak mu?" tanya Chandra lagi.
Gricella menghentikan menyendok makanannya. Sejenak ia terdiam, tatapannya pun berubah sendu. Ingin rasanya ia menangis karena rasa takut yang kembali dirasakannya. Lalu tidak lama ia mengangguk pelan.
"S-sudah. Daddy yang menghubungi Kak Bryan," jawabnya.
"Oh, apa saat ini Bryan sedang dalam perjalanan?" tanya Chandra lagi.
"Iya," jawab Gricella dengan cepat.
Chandra hanya mengangguk dan tidak ingin bertanya lagi, lalu ia berdiri dan berjalan ke arah ruangan dimana Naura masih terbaring tidak sadarkan diri. Gricella hanya memperhatikan apa yang dilakukan Chandra. Gadis itu terlalu menikmati sarapan yang dibawakan oleh Chandra. Entah masakan Ayu memang enak atau karena Gricella sangat lapar, tapi sepertinya keduanya lah yang dirasakan oleh Gricella saat ini.
Chandra memandang lurus ke dalam ruang ICU, dimana Naura masih betah memejamkan matanya. Tidak lama Chandra pun kembali melihat ke arah Gricella yang sedang sibuk merapikan kotak makan pemberian Chandra. Tatapan keduanya pun bertemu, lalu Gricella tersenyum. Chandra tertegun melihat senyuman Gricella, jantungnya berdetak cukup kencang. Chandra menghela nafas beratnya, guna menghilangkan rasa gugupnya.
"Makanannya enak, terimakasih sudah membawakannya untukku." ucap Gricella yang sedikit gugup.
Chandra mengangguk, lalu ia pun berjalan menghampiri Gricella dan duduk kembali di sebelah gadis itu.
"Eum, sama-sama. A-aku tidak lama, karena aku harus ke kantor. A-apakah kau membutuhkan sesuatu?" tanya Chandra.
Gricella menoleh dan menggelengkan kepalanya. "Tidak," jawabnya seraya tersenyum.
Chandra langsung mengalihkan pandangannya sambil mengangguk. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa hubungi aku atau Fedi." jawab Chandra.
Gricella hanya mengangguk. "Terima kasih," jawabnya malu-malu.
Chandra mengangguk dan tersenyum kaku. Lalu ia pun memilih untuk pergi dan meninggalkan Gricella sendirian di rumah sakit. Sepeninggalnya Chandra dari rumah sakit. Senyum Gricella tidak pernah luntur, bahkan gadis itu sesekali melirik ke arah Tupperware yang sudah kosong isinya. Gricella menepuk keningnya saat mengingat kalau Chandra lupa membawa kembali kotak makan itu.
Gricella ingin segera menghubungi Chandra untuk kembali dan mengambil kotak makannya. Namun segera ia urungkan mengingat kotak makan itu belum dicuci olehnya.
"Sebaiknya aku mencucinya terlebih dahulu," gumam Gricella.
Akhirnya gadis itu terlebih dahulu membawa masuk bingkisan yang berisikan buah dan beberapa makanan ringan pemberian Chandra ke dalam kamar yang dikhususkan untuk Gricella atau Sean beristirahat. Mengingat Naura masih berada di ruang ICU dan belum bisa sering-sering ditengok. Jadi Sean menyewa satu ruangan untuk mereka beristirahat saat menjaga Naura.
Sepanjang perjalanan, Chandra terus memikirkan sikap Gricella tadi. Chandra sedikit aneh saat merasakan kalau sikap wanita itu agak sedikit lembut. Chandra berdecak seraya menggelengkan kepalanya.
"Mungkin karena dia saat ini sedang bersedih, jadi sikapnya agak sedikit berubah lembut. Ya, mungkin karena itu!" gumam Chandra.
Namun tiba-tiba ia teringat saat melihat wajah panik bercampur khawatir di wajah Gricella saat Chandra menanyakan soal Bryan. Chandra dapat merasakan kalau ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Gricella.
"Aku merasa Gricella sedang menyembunyikan sesuatu, tapi apa? Apakah hubungan Vesha dan Bryan baik-baik saja?"
Chandra kembali bergumam dalam monolognya. Namun dengan cepat pupa ia menggelengkan kepalanya. Mengingat ia tidak boleh ikut campur dalam hubungan Vesha dan juga Bryan. Chandra sudah ikhlas dengan apa yang terjadi dalam hidupnya, terutama mengikhlaskan Vesha bersama dengan orang lain.