LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Ingatan Masa Lalu (1)



Takdir memang tidak semuanya tahu akan seperti apa. Bahkan Chandra sendiri pun tidak tahu kehidupannya untuk kedepannya seperti apa. Bukan berarti Chandra akan pasrah atas apa yang terjadi dalam hidupnya, yang ia tahu saat ini hanya dirinya harus menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Rasa sakit telah memberi pelajaran khusus dalam hidupnya. Rasa itu memang tidak kasat mata, namun sakit hati mampu menyebabkan gejala penyakit fisik yang merugikan jika terus terjadi tanpa terkendali. Chandra bersyukur karena ia dikelilingi oleh keluarga yang sangat menyayanginya, Chandra tahu kesembuhan sakit hati hanya berasal dari diri sendiri. Keinginan untuk bangkit, menghadapi masalah adalah jalan terbaik beranjak dari keterpurukan.


Salah satu penawar sakit hati adalah membuat hati kembali bergembira. Itulah yang selama ini Chandra lakukan, ia lebih memilih untuk membahagiakan dirinya sendiri dan juga keluarganya. Chandra melakukan itu agar mentalnya sehat.


Pagi ini Chandra dan yang lainnya sedang menikmati sarapan. Terlihat mereka begitu menikmati makanan pagi ini, yang dibuat oleh Ayu. Seluruh dunia tahu kalau makanan terenak itu adalah makanan yang dibuat oleh sang ibu tercinta.


Setelah sarapan, Chandra kembali ke kamar. Ia izin untuk memeriksa email takut-takut ada perusahaan yang ingin bekerjasama dengan perusahaan yang baru dirintis olehnya.


Chandra sudah bersiap di depan layar laptopnya yang menyala. Ia mulai mengecek satu persatu email yang masuk, dan jangan sampai ada yang terlewat. Namun disaat dirinya sedang fokus menatap layar laptopnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering tanda masuknya pesan dari aplikasi hijau.


Chandra meraih ponselnya dan membuka aplikasi hijau tersebut. Dahinya berkerut saat mengetahui siapa yang mengirimkan pesan padanya.


[Deg…]


Seketika pandangan Chandra berubah nanar, perasaannya pun tidak karuan saat membuka dan membaca pesan dari Ari.


["Aku bingung harus bagaimana, Lan? Dia terus memaksa minta nomor ponsel kamu. Aku tidak mau memberikannya tanpa seizin darimu,"]


Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Arin, sahabat Chandra yang ada di kampung. Ari juga mengirimkan foto Kanza yang sedang memangku anaknya, dan tentu tanpa sepengetahuan Kanza.


Cukup lama Chandra terdiam, sampai dirinya pun larut dalam lamunannya. Sekelebatan kisah lalu yang membuat hatinya begitu terluka kembali berputar bak sebuah film layar lebar bergenre romance.


Chandra yang sedang dihadapkan oleh ujian akhir sekolah, terlihat begitu sibuk belajar agar nilai kelulusannya mendapat nilai yang tinggi. Karena Chandra sangat ingin mendapatkan beasiswa dan berkuliah di Jakarta.


Setelah beberapa hari ujian sekolah berakhir, Chandra mencoba untuk bertemu sang kekasih yang sudah hampir dua minggu tidaK pernah bertemu dengannya. Chandra tidak tahu apa sebabnya, walaupun mereka satu sekolah tetapi entah kenapa dan kemana kekasihnya itu. Hingga tidak mengikuti ujian akhir sekolah.


Chandra mencoba menemui Ari, sang sahabat yang kebetulan rumahnya dekat dengan rumah kekasihnya. Walaupun Ari rumahnya dekat dengan Kanza, pria itu juga tidak tahu kemana Kanza selama dua minggu ini. Sayangnya Chandra tidak percaya dengan sahabatnya itu, entah kenapa Chandra merasa ada suatu hal yang ditutupi oleh sahabatnya itu.


"Ar, ayo temani aku ke rumah Kanza!" ucap Chandra saat itu.


Ari nampak terkejut akan kedatangan Chandra. Bahkan ia juga panik saat sahabatnya itu mengajaknya untuk ke rumah Kanza.


"Eum, tapi…" ucapan Ari terputus saat Chandra langsung menarik tangannya.


"Sudah, ayo!" paksa Chandra. "Kamu itu setiap aku tanya soal Kanza, kayak orang banyak pikiran. Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu, Ar?" selidik Chandra yang masih terus menarik tangan Ari.


"Eh, en-enggak kok! Nggak ada yang aku tutupi darimu, Lan. Hanya saja a-aku.."


Langkah keduanya berhenti, Ari menggigit bibir bawahnya saat melihat ke arah rumah yang sedang ramai. Lalu Ari menoleh dan memperhatikan Chandra yang sedang menatap heran pada rumah yang ingin dikunjunginya.


Ari nampak panik, membuat Chandra semakin curiga kalau sebenarnya sahabatnya itu tahu tentang Kanza. Chandra melepaskan tangan Ari yang sejak tadi di pegangnya. Tanpa berkata apapun lagi, Chandra langsung berjalan cepat masuk ke rumah Kanza, dan melewati beberapa tamu yang sedang duduk di depan halaman rumah kekasihnya itu, rata-rata mereka adalah tetangga sekitar rumah Kanza. Semuanya menatap bingung dan ada juga yang menatap iba pada Chandra, karena mereka tahu kalau Kanza adalah kekasih Chandra.


Langkah Chandra melemah saat ia mendengar nama kekasihnya yang disebut oleh pria lain saat ijab kabul. Detik berikutnya langkahnya berhenti saat indera pendengarannya mendengar kata 'SAH' dari para saksi dan tamu undangan. Chandra merasa tubuhnya tidak bertulang, beruntung Ari sigap mengejar Chandra dan menopang tubuh sahabatnya itu yang hampir jatuh.


"Lan," lirih Ari.


Chandra masih bergeming, seakan tidak mendengar panggilan Ari. Detak jantung Chandra bertabuh begitu kencang, semakin lama ia merasa pasokan udara dalam paru-parunya semakin berkurang. Perlahan ia kembali berdiri, dan dengan langkah beratnya Chandra terus masuk kedalam rumah Kanza.


Semua menatap terkejut melihat sosok Chandra sudah berdiri di depan pintu. Begitupun juga dengan Kanza, wajah wanita itu terlihat sangat terkejut dan ada juga rasa sedih saat menatap wajah sendu Candra.


"Kanza,"


"A-Arlan,"


Keduanya saling memanggil nama, suara keduanya terdengar begitu lirih. Seorang pria yang diketahui sebagai ayah dari Kanza pun bangkit dari posisi duduknya. Kanza mulai terlihat panik saat melihat sang ayah menghampiri Chandra. Kanza hendak bangun dan menyusul sang ayah, namun tangannya dicekal oleh pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.


"Ikut saya!" Ayah Kanza menarik paksa tangan Chandra.


Ari pun mau tidak mau mengikuti ayah Kanza dan Chandra. Semua tamu berdiri dan ada beberapa yang dari dalam keluar untuk melihat apa yang akan terjadi pada Chandra dan Ari. Kedua orang tua Ari yang memang ada disana juga ikut mendekat, mereka takut anaknya ikut diperlakukan tidak baik oleh ayah Kanza.


"Mau apa kau kesini? Mau merusak pernikahan putriku, heoh?" bentak pria paruh baya itu.


Ari melirik Chandra yang masih bergeming, lalu ia mencoba menjawab dan menengahi keduanya.


"Maaf, Pakdhe. Kita nggak ada maksud untuk melakukan apa yang Pakdhe Parman katakan tadi. K-kita kesini hanya untuk melihat Kanza, karena dia sudah dua minggu tidak masuk sekolah. Kanza juga tidak ikut ujian akhir sekolah," jawab Ari yang terpaksa berbohong pada Parman.


Chandra menatap bingung pada Ari, lalu ia kembali menatap ke arah Parman. Parman menatap tajam pada kedua pria muda itu.


"Sebaiknya kalian pergi dari rumah saya! Saya tidak ingin ada pengganggu di hari bahagia putri saya, dan kamu.." Parman menunjuk ke arah Chandra yang masih dia menatapnya.


"Jangan pernah kamu menampakkan wajahmu di rumah ini, dan jangan pernah mengganggu kehidupan rumah tangga putriku. Karena dia sudah bahagia bersama suaminya yang sudah mampu membiayai semua kebutuhannya dan juga kebutuhan kami. Bukan seperti kau yang miskin dan tidak memiliki apapun yang bisa diharapkan untuk membahagiakan putri saya,"


[Deg…]


Sakit sekali rasanya hati Chandra mendengar apa yang dikatakan oleh pria yang sudah dianggap ayah angkat olehnya. Bahkan Chandra merasa sangat bingung kenapa sikap ayah Kanza seperti itu. Bukankah dulu ia sangat setuju kalau Kanza berhubungan dan menjadi tunangannya. Tapi kenapa hari ini pria itu berkata sangat menyakitkan untuk Chandra.


"K-Kenapa, Yah?" tanya Chandra dengans uara agak tercekat.


"Jangan panggil saya dengan sebutan seperti itu, karena saya bukan ayahmu!"