LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Makan Bersama



Beberapa hari berlalu, hubungan Chandra dan Gricella terlihat baik-baik saja.  Seperti dua pemuda yang sedang dilanda jatuh cinta, keduanya terlihat sudah saling terbuka. Bahkan Chandra pun telah mengungkapkan rasa cintanya pada gadis itu. Bagaimana reaksi Gricella? Tentu saja gadis itu begitu bahagia, bahkan ia sampai menampar dan mencubit pipinya. Gricella pikir itu adalah mimpi, namun pada kenyataannya itu benar terjadi saat Chandra kembali mencium bibirnya. 


Chandra berniat mengajak Chandra untuk makan siang bersama di restorannya. Tapi


kali ini Gricella sedang berada di restoran cabang B miliknya. Sementara di kantor, Chandra tersenyum lebar setelah membaca pesan dari sang kekasih. 


Saat hendak menaruh ponselnya, tiba-tiba saja ponsel Chandra kembali berdering. Sebuah pesan masuk membuat Chandra mengerutkan dahinya. Pesan dari nomor yang terasa asing baginya. 


"Mas Satria," gumam Chandra. 


Tangan kekar itu sibuk mengetikkan beberapa kata untuk membalas pesan dari nomor Satria. Setelahnya, Chandra menyimpan nomor pria itu. 


Mengingat nama Satria, Chandra jadi teringat dengan pertemuan mereka kemarin. Chandra juga mengingat saat ia bertemu dengan Kanza di pusat perbelanjaan sekitar seminggu yang lalu. Sepertinya memang Chandra harus  berdamai dengan bagian dari  masa lalunya, pada orang-orang yang sempat membuatnya sakit. Bagaimanapun Chandra harus siap untuk kedepannya dalam bersikap lebih dewasa lagi. 


Itu baru dua orang yang ia temui, masih ada beberapa orang yang belum ia temui dari masa lalunya. Akankah kelak ia dapat bertemu dan mampu memaafkan orang itu? Chandra menghela nafasnya, ia mengusap wajahnya kasar saat teringat kata-kata yang begitu menyakitkan saat orang itu menghina dirinya dan kedua orang tuanya dulu. 


"Kalian itu keluarga miskin, seharusnya kalian sadar diri. Kalian tidak akan bisa bersanding dan hidup berjajar dengan keluarga kami. Terutama kamu, Chandra. Jangan mimpi untuk menjadi menantu dalam keluarga Dwika," 


Tangan Chandra terkepal kuat saat memory nya mengingat ucapan dari Pak Parman Dwika, ayah Kanza. Setelah acara pernikahan Khanza dan Satria berlangsung. Malam harinya, Parman dan beberapa orang kepercayaannya datang ke rumah Chandra. 


Walau masih terasa sakit akan perlakuan dari Parman, namun kedua orang tua Chandra masih bersikap sabar dan ramah terhadap Parman. Mereka juga tahu siapa Parman. Dia adalah orang terkaya ketiga di kampung mereka, Parman juga sangat disegani oleh warga dikampung. 


Kedatangan Parman ke rumah Chandra, bukan untuk minta maaf. Akan tetapi ia datang hanya untuk menghina keluarga Chandra. Awalnya Chandra sangat ingin menghajar Parman, namun dengan cepat Fedi dan Ari menahannya. Sejak saat itu tanpa disadari dalam diri Chandra tertanam rasa kebencian dan dendam teramat dalam pada Parman dan keluarganya. 


Sejak saat itu pula, Chandra bertekad untuk bangkit dan membuktikan pada semua orang bahwa keluarganya bisa sukses, dan Chandra mampu mengangkat derajat kedua orang tuanya serta keluarganya. Chandra bertekad membuktikan kalau dirinya mampu mengubah kehidupannya yang terbilang pas-pasan itu ke jenjang yang lebih sukses dibanding mereka, orang-orang yang telah menghina keluarganya. 


Chandra melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Satu jam lagi waktunya makan siang, akhirnya Chandra memilih untuk berkutat sebentar dengan beberapa berkas sebelum ia pergi ke restoran Gricella. 


Sementara di restoran, Gricella meminta Surya untuk menyiapkan dua menu makan siang. Gricella meminta untuk diantarkan ke ruangannya saja. Sesekali ia ingin suasana private bersama Chandra. Walaupun disana ada ruang VIP, tetapi Gricella lebih suka mengajak Chandra ke ruangannya.


Di sini Gricella masih belum sadar kalau kedatangan Chandra nantinya akan membuat hati seorang wanita merasa sedih. Di dapur Khanza membantu menyiapkan menu makanan untuk Gricella dan calon suaminya. Ya, tadi Surya mengatakan kalau hari ini calon suami atasan mereka akan makan siang bersama Gricella di ruangannya. 


Tentu saja kabar tersebut disambut antusias oleh para karyawan restoran tersebut. Mereka juga penasaran siapa calon suami dari atasannya itu. Ada beberapa yang menduga kalau calon suami dari bos mereka adalah Chandra. Karena mereka tahu kalau bos mereka sangat dekat dengan pria itu. 


Namun ada beberapa yang menyangkalnya, terutama Khanza. Khanza tahu Chandra yang mereka maksud itu adalah Arlan. Wanita itu juga sangat berharap kalau bukanlah Chandra yang menjadi calon suami dari bos nya itu. Karena Khanza sudah bertekad untuk mengejar kembali cinta Chandra. Bahkan ia sudah mendapatkan nomor ponsel Chandra. Khanza berencana untuk menghubungi dan mengajak Chandra bertemu malam ini. 


Seulas senyum terbit di wajah Khanza. Ia yakin rencananya akan berjalan lancar saat pertemuan nanti. Karena ia sudah mempersiapkan semuanya untuk bertemu kembali dengan Chandra. Dia akan berdandan cantik saat bertemu Chandra nanti. 


Chandra sudah berada di jalan menuju restoran Gricella. Selama perjalanan pria itu terus tersenyum dengan jantung yang terus terpompa tidak beraturan. Tingkahnya seperti anak ABG yang baru merasakan cinta. Chandra berhenti di sebuah toko buka yang bersebelahan dengan toko coklat. 


Pertama Chandra membeli satu buket bunga mawar untuk Gricella, lalu setelah membayar bunga tersebut Chandra berpindah ke toko sebelahnya. Dapur coklat adalah pilihan kedua Chandra untuk membeli sekotak cokelat praline tinpack yang berisikan  28 cokelat. 


Chandra kembali melanjutkan perjalanannya menuju restoran Gricella. Beberapa menit berlalu, kini dirinya telah tiba di depan restoran tersebut. 


Chandra berjalan masuk ke dalam sambil membawa buket bunga dan cokelat dalam genggamannya. Saat masuk ke restoran tersebut, Chandra disambut oleh salah satu pegawai restoran. Chandra mengatakan kalau dirinya sudah ada janji makan siang bersama Gricella. Pegawai tersebut pun langsung mengantarkan Chandra ke dalam ruangan Gricella. 


"Untukmu," Chandra memberikan bunga dan cokelat tersebut ada Gricella. 


Mata gadis itu pun bersinar cerah. "Uuh, so sweet banget  calon suami aku. Terima kasih, Sayang!" Gricella menghadiakan Chandra sebuah kecupan di pipinya. 


Chandra mengerucutkan bibirnya. "Kamu menggodaku, hmm?" Chandra menaikkan satu alisnya. 


"Nggak, iihh…!" sahut Gricella dengan cepat, namun nampak semburat merah di wajahnya. 


Gricella langsung memilih duduk dan menaruh bunga  dan cokelat tersebut di meja kerjanya. Chandra terkekeh geli melihat tingkah malu-malu kekasihnya itu. Lalu Ia pun ikut menyusul Gricella duduk di sebelahnya. 


Bersamaan itu, pintu ruangan Gricella kembali diketuk. Setelah Gricella mengizinkan masuk, pintu pun terbuka. Surya masuk bersama dua orang anak buahnya. 


"Selamat siang Tuan Chandra," sapa Surya. 


Chandra tersenyum. "Selamat siang juga Tuan Surya," jawabnya. 


Surya pun tersenyum dan Chandra masih belum sadar akan kehadiran seorang yang sejak tadi meliriknya. Lalu tanpa sengaja Chandra mendongakkan kepalanya dan pria itu nampak terkejut saat melihat Khanza. 


"Silakan Tuan, Nona!" 


Deg….


Gricella langsung menoleh ke arah Khanza dan juga melirik ke arah Chandra.  Gricella merutuki dirinya, kenapa bisa seceroboh itu. Ia lupa kalau Khanza ada di restoran ini. Dengan hati yang berdebar tidak karuan, ia kembali melirik ke arah Chandra yang nyatanya juga sedang memperhatikan Khanza. 


"Terima kasih!" jawab Chandra terdengar datar dan dingin. 


Gricella mengerutkan dahinya, saat menyadari cara bicara kekasihnya itu yang terkesan begitu dingin. 


"Selamat menikmati Tuan Chandra," ucap Surya. 


Chandra mengangguk dan tersenyum tipis pada Surya. "Terima kasih Tuan Surya," jawab Chandra. 


Surya, Khanza dan satu rekan kerja Khanza pun akhirnya keluar. Gricella masih terdiam sambil sesekali melirik Chandra yang bersikap biasa saja. Chandra merasa gadis itu hanya diam saja pun akhirnya menatap Gricella dengan dagi berkerut. 


"Ada apa? Kenapa jadi diam saja? Kamu tidak lapar, hmm?" tanya Chandra. 


Gricella pun segera menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa. Ayo, makan! Aku sudah sangat lapar," Gricella segera mengalihkan rasa gelisahnya dengan segera mengajak Chandra makan. 


Mereka menikmati makan siang bersama sambil sesekali melayangkan gurauan. Chandra yang lebih sering membuat Gricella tersipu malu karena gurauan dan gombalan yang dilontarkan oleh pria itu. 


Sementara di toilet wanita, Khanza berusaha meredam rasa sakit hatinya. Ternyata itu yang ditakutinya, Chandra yang dimaksud adalah Arlan. Pria yang masih dicintainya.