LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Bubu



Gricella menatap Chandra yang sedang sibuk mengecek email di ponselnya. Entah kenapa rasanya Gricella sangat ingin tahu tentang Khanza dari mulut Chandra sendiri. Saat tadi wanita itu membawakan makanan untuk mereka, Gricella tahu kalau wanita itu selalu mencuri pandang pada pria yang telah menjadi kekasihnya itu.


Chandra mengerutkan dahinya saat matanya sekilas melirik Gricella yang nampak gelisah. Chandra meletakkan ponselnya di meja, dan mengubah posisi duduknya menghadap Gricella.


"Kenapa, hmm? Sejak makan siang tadi aku perhatikan kamu sedikit gelisah," tangan Chandra terulur mengusap wajah kekasihnya itu.


"Ada apa, hmm?" tanya pria itu dengan lembut.


Gricella yang diperlakukan begitu lembut pun merasa malu, membuat Chandra tersenyum melihat wajah kekasihnya yang sudah merona. Gricella menggigit bibir dalamnya, ia sedikit meremas dress yang dikenakannya.


"Chan,"


"Hmm, kenapa Bub?"


Blusshh….


Wajah Gricella semakin merona, mendengar panggilan sayang pertama kali dari Chandra. Tentu saja mampu membuat Gricella senang, bahkan hatinya saat ini sudah dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran.


"Mulai hari ini jangan memanggil nama, aku akan memanggilmu Bubu. Terserah kamu ingin memanggilku apa?" ujar Chandra.


Gricella mengulum senyum manisnya. "Bee,"


Chandra menaikkan satu alisnya. "Tidak buruk," Chandra tersenyum lalu menarik tubuh Gricella hingga gadis itu terpekik.


"Aaahhh, Bee…." pekik Gricella saat Chandra membawanya ke atas pangkuannya.


Chandra mengeratkan pelukannya pada pinggang Gricella. Tubuh gadis itu merasa begitu kaku, dan tegang. Chandra dapat merasakan tubuh kekasihnya yang mendadak kaku, namun pria itu malah tertawa kecil. Membuat Gricella kesal dan mencubit pipi Chandra.


"Kamu benar-benar menggemaskan," Chandra memeluk erat tubuh Gricella.


Tawa gadis itu pun pecah saat merasakan geli pada bagian lehernya, karena Chandra terus menggesekkan hidungnya di ceruk lehernya.


"Geli, Bee…" ujar Gricella yang masih tertawa.


"Bee, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Gricella


Chandra menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Gricella dan menatap gadis itu. "Mau tanya apa, hmm?"


Gricella menatap lekat mata hazel milik Chandra. "Bee, apakah kamu pernah memiliki kekasih sebelum aku?" tanya Gricella dengan sangat hati-hati.


Chandra sedikit terkejut mendengar pertanyaan Gricella, namun itu hanya sekejap saja. Setelahnya Chandra tersenyum tipi. Chandra sudah mempersiapkan diri saat suatu hari nanti jika memiliki kekasih, ia akan memberitahukan siapa wanita yang telah menjadi cinta pertamanya.


Chandra mengangguk. "Iya, aku pernah mencintai seorang wanita. Tapi itu dulu, saat aku masih sekolah menengah." jawab Chandra.


Keduanya pun saling menatap begitu lekat. Gricella melihat tidak ada kebohongan dari sorot mata kekasihnya itu. Tapi, tidak dengan Chandra. Pria itu sedikit memicingkan mata, seakan tahu kalau Gricella sedang merahasiakan sesuatu darinya.


"Apakah kamu mengetahui sesuatu tentang masa laluku?" tanya Chandra sedikit curiga pada Gricella.


Gricella terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Wajahnya kembali panik dan gelisah, sementara Chandra tersenyum tipis melihat kalau kekasihnya itu tidak pandai menyembunyikan kebohongan darinya.


"Katakan, apa yang kamu ketahui tentang masa laluku? Apakah pertemuanmu dengan Karina telah membongkar fakta tentang masa laluku?" selidik Chandra.


Gricella semakin terkejut. "K-kamu…"


Chandra tersenyum lebar. "Kamu tidak bisa menyembunyikan apapun dariku, Boo. Aku tahu kamu pernah janji bertemu dengan Karina di sebuah cafe Roof & Bir,"


Gricella semakin tercengang mendengar ucapan Chandra. Gadis itu menundukkan kepalanya, karena merasa sangat malu telah diam-diam mengajak Karina bertemu tanpa memberi kabar pada Chandra. Hati dan pikiran Gricella berkecamuk, pasalnya saat pertemuan itu Karina sudah dipesankan kalau jangan memberitahukan siapapun tentang pertemuan mereka.


Beberapa hari setelah Chandra mengutarakan isi hatinya, Gricella menghubungi Karina dan mengajak gadis itu untuk bertemu. Saat itu Gricella masih belum kembali bekerja, dan Karina sendiri sedang kosong jadwal kuliahnya. Jadi mereka janjian di sebuah cafe, dimana pemilik cafe tersebut adalah salah satu klien Chandra.


Dalam pertemuan itu, Gricella terus mengorek informasi tentang masa lalu Chandra dari sang adik. Setelah mereka bertemu, Gricella meminta Karina untuk tidak memberitahukan Chandra soal pertemuan itu. Karina pun sudah berjanji untuk tidak mengatakan apapun pada Chandra.


"B-bagaimana kamu tahu aku dan Karina bertemu?" tanya Gricella.


Chandra tersenyum miring sambil mengangkat kedua bahunya. "Awalnya aku memang tidak tahu, tapi pemilik cafe itu yang memberitahukannya." jawab Chandra dengan santai.


Chandra tersenyum dan mengangguk. "Tentu aku mengenalnya. Nama Roy, dia adalah sepupu dari Marvin. Kamu pasti kenal sahabatku itu kan?" Gricella mengangguk mendengarnya.


"Roy menunjukkan rekaman CCTV cafe nya, dia bertanya tentang kalian karena dia mengenal Karina. Ya, aku jawab seadanya saja." jawab Chandra.


"Seadanya bagaimana?" sahut Gricella.


"Ya, aku jawab itu kamu dan Karina. Hanya itu tidak lebih,"


Gricella mengerucutkan bibirnya. "Padahal aku sudah merahasiakan ini sama Karina dari kamu, Bee. Tapi, kamu malah tahu dari temanmu itu. Tidak adil," keluh Gricella


Chandra tertawa mendengar gerutuan Gricella. Pria itu menggelengkan kepalanya, merasa sangat lucu melihat kekasihnya menggerutu seperti itu.


"Lain kali kalau ada yang ingin kamu ketahui dariku, tanya langsung saja padaku. Jangan sembunyi-sembunyi mencari informasi dari orang-orang!" Chandra menoel hidung Gricella.


"Habisnya kamu dulu sangat dingin terhadapku, Bee. Bicara saja rada ketus gitu. Bagaimana aku mau bertanya kalau kamu saja seperti itu?" celetuk Gricella yang berhasil membuat Chandra kembali tertawa.


"Benarkah aku seperti itu?" tanya Chandra yang tak percaya.


Gricella mengangguk cepat. "Iya, bahkan kamu terlihat sangat menyebalkan. Untung aku cinta sama kamu," sahut Gricella.


"Ciyee, yang cinta banget sama aku. Bucin nih yee….!" goda Chandra pada Gricella.


"Iihhh, nyebelin banget sih!"


"Cepat jawab pertanyaan aku tadi!" sarkah Gricella.


Chandra menautkan kedua alisnya. "Pertanyaan yang mana?" tanya balik Chandra.


Gricella melototkan matanya, dan membuat Chandra kembali tertawa.


"Lama-lama itu mata keluar deh dari tempatnya,"


Gricella langsung memukul pundak Chandra, bukannya kesakitan pria itu malah tertawa kembali.


"Oke, oke, aku akan menjawabnya. Tapi berjanjilah apapun yang aku ceritakan, jangan pernah meninggalkan aku. Percayalah padaku, karena saat ini dan seterusnya kamu adalah pemilik hati ini seutuhnya!" Chandra berkata begitu serius dan tulus.


Tidak ada kebohongan dari tiap kata uang diutarakan oleh Chandra. Gricella dapat tahu itu, karena ia bisa melihat dari sorot mata Chandra. Gricella mengangguk dan membuat Chandra tersenyum.


"Kamu pasti sudah tahu 'kan kalau Khanza adalah cinta pertamaku. Dia adalah wanita pertama yang berhasil membuat aku merasakan perasaan yang pertama kali aku rasakan sebagai seorang pria," ujar Chandra.


Lalu, mengalirlah cerita dimana dirinya pertama kali jatuh cinta pada Khanza. Kisah masa putih abu-abu, dimana Chandra begitu bahagia telah berhasil menjadi pria yang dicintai Khanza. Hingga sampai peristiwa menyakitkan itu terjadi. Tidak ada cerita yang dibuat-buat oleh Chandra, semua yang dialaminya sudah diceritakan olehnya. Gricella percaya bahwa Chandra tidak melebihkan atau mengurangi cerita tersebut, karena semuanya sama persis dengan yang diceritakan oleh Karina.


Bahkan Chandra juga menceritakan dirinya yang pertama kali bertemu dengan Khanza setelah sekian lamanya. Chandra juga bercerita kalau dirinya telah bertemu dengan mantan suami Khanza saat di toko kue waktu itu.


"Jadi kamu juga sudah bertemu dengan mantan suami Khanza?" tanya Gricella yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Chandra.


"Bahkan kami sudah bertukar nomor ponsel," jawab Chandra.


Gricella menganggukkan kepalanya lagi. "Lalu, bagaimana dengan Khanza? Maksudku, bagaimana kalau nanti Khanza mengajakmu bertemu dan membahas kisah kalian?" tanya Gricella dengan tatapan sendu.


Chandra tersenyum seraya menyelipkan rambut ke belakang telinga Gricella. "Tinggal temui saja, kita pergi bersama saat menemuinya. Karena aku tidak ingin nantinya ada kesalahpahaman diantara kamu dan aku. Bagaimanapun juga aku harus menjaga hati dan perasaanmu. Karena kamu adalah kekasihku," jawab Chandra begitu tenang.


Gricella tersenyum mendengar ucapan Chandra. Chandra pun merasa lucu melihat wajah kekasihnya itu. Tak lama ia pun mendekatkan wajahnya pada Gricella, bahkan tangan Chandra sudah menekan tengkuk Gricella. Ciuman pun terjadi, Chandra ******* lembut bibir Gricella. Tangan gadis itu pun meremas rambut belakang Chandra.


Chandra melepaskan pagutan keduanya, ia tersenyum melihat Gricella kehabisan pasokan udara.


"Mulai besok aku yang akan mengantar dan menjemput kamu," ujar Chandra seraya meremas lembut tangan kekasihnya itu. Gricella hanya membalas anggukan kepala menjawab ucapan Chandra.




Khanza Dwika