LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Ingatan Masa Lalu (2)



Parman mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Chandra sambil memberi tatapan tajam pada remaja itu.


"Asal kau tahu, saya tidak pernah menyetujui putri saya untuk berhubungan denganmu. Mau itu sebagai teman atau sepasang kekasih. Sampai matipun saya tidak akan pernah merestuinya, ingat itu!" bentak Parman.


Suara pria itu begitu lantang, membuat semuanya terkejut dan menatap iba ke arah Chandra. Kedua orang tua Ari pun segera menghampiri mereka.


"Ari, Arlan," panggil bapak Ari.


Ketiganya pun menoleh, tidak lama kedua orang tua Chandra pun juga datang. Mereka diberitahu oleh salah satu warga kalau Chandra datang ke rumah Kanza yang sedang melangsungkan pernikahan. Jujur saja mereka terkejut karena Chandra datang tanpa sepengetahuan mereka.


"Nak,"


Chandra menoleh saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Chandra pun menoleh, dan terkejut melihat kedua orang tuanya sedang menghampiri dirinya.


"Nak, ayo pulang!" ajak Ayu saat ia sudah di sebelah Chandra.


"Iya, Nak. Sebaiknya kita pulang saja, kita tidak layak untuk datang ke sini." tegas Dailami pada putranya.


"Ya, sebaiknya kalian pergi dari rumah saya. Saya sudah muak melihat wajah orang miskin macam kalian. Kau sebagai orang tua seharusnya bisa menasehati anak kalian, beritahu dia kalau keluarga kalian itu tidak pantas bersanding dengan orang seperti keluarga saya ini," ketus Parman sambil berkacak pinggang.


Chandra mengepalkan kedua tangannya, rasa sakit sekali mendengar hinaan dari pria yang menjadi orang tua dari wanita yang dicintainya itu. Chandra menatap nyalang pada sosok Parman yang sedang menatapnya dengan sorot mata menghina.


"Anda tidak pantas berkata seperti itu di depan kedua orang tuaku, Tuan. Anda boleh menghinaku, tapi tidak dengan keluargaku. Ingat Tuan, karma itu berlaku dan selalu akan ada di setiap kehidupan. Mungkin sekarang kami miskin, tapi suatu saat nanti saya yakin kehidupan kita akan bertukar. Ingat itu Tuan Parman!" Chandra berkata tak kalah lantangnya dengan suara Parman.


Seakan alam mendukung atas apa yang baru saja diucapkan oleh Chandra, langit dalam sekejap berubah menjadi mendung. Sinar matahari pun mulai meredup, tidak lama terdengar gemuruh petir menyambar saling bersahutan. Semuanya orang yang ada disana pun merasakan aura mencekam, seakan mereka semua akn mendapatkan balasan atas apa yang telah mereka lakukan.


Ada beberapa tamu undangan yang berhamburan, berpamitan pulang kerumah masing-masing setelah merasakan hujan rintik-rintik mulai turun membasahi jalan dan menetes mengenai tubuh mereka.


Nafas Chandra berburu cepat, ia sempat melirik ke arah dimana Kanza dan suaminya serta beberapa saudaranya berdiri tidak jauh dari dirinya. Setelah itu Chandra pergi meninggalkan rumah kedua orang tua Kanza dengan rasa sakit yang begitu mendalam karena hinaan dari orang tua wanita itu. Dendam, tentu saja ada.


Apalagi yang menghina atau yang memarahinya adalah orang yang lebih atas darinya, baik usianya, kedudukannya, pekerjaannya, jabatannya dan lainnya sebagainya, dimana dia tak dapat membalasnya, bahkan tertunduk diam, malu, gemetaran, keluar keringat dingin dan lain sebagainya. Runyam itu yang saat ini Chandra alami. Kedua orang tua Chandra pun langsung menyusul putra mereka. Ari dan kedua orang tuanya pun juga hendak menyusul Chandra. Mereka tidak ingin sesuatu terjadi pada Chandra, karena bagaimanapun juga keluarga Chandra sudah banyak membantu keluarga Ari dengan mempekerjakan ayah Ari di perkebunannya.


Semenjak saat itu Chandra yang terkenal ramah, ceria, dan murah senyum itu kini telah berubah 180°. Atas perubahan sikap Chandra itu, membuat kedua orang tuanya selalu memikirkan pria itu. Bukan hanya mengurung diri saja, terkadang Chandra juga hampir tidak pernah makan.


Dailami dan Ayu semakin gelisah dengan perubahan sikap Chandra. Hingga Dailami memutuskan untuk bicara dengan putranya itu.


"Ingat, Pak. Jangan sampai ikut emosi dan membuat Arlan semakin berubah sikapnya!" pesan Ayu pada sang suami.


Keduanya sempat terkekeh kecil sebelum Dailami benar-benar pergi menemui Chandra di kamarnya.


Dailami menghela nafasnya sebelum ia benar-benar mengetuk pintu kamar sang anak. Setelah mengetuk pintu kamar Chandra, Dailami pun akhirnya masuk ke dalam setelah Chandra memintanya untuk masuk.


"Kamu sedang sibuk?" tanya Dailami saat melihat sang anak sedang menatap ke layar ponselnya.


Chandra pun menoleh dan tersenyum. "Tidak, Pak. Arlan hanya sedang mencari tahu universitas yang nantinya akan menjadi tempat Arlan melanjutkan pendidikan," jawab Chandra.


"Kau jadi melanjutkan kuliah di Jakarta?" tanya Dailami kembali.


Chandra pun mengangguk. "Iya, Pak. Mungkin memang sebaiknya Chandra harus pergi dari desa ini, agar tidak terus memikirkan perihal yang telah terjadi dalam hidupku." lirih Chandra.


"Walau rasanya masih belum bisa melupakan atas apa yang telah mereka lakukan pada keluarga kita. Bahkan aku merasa sangat ingin membalas dendam pada mereka. Tapi, aku tahu kalau itu tidaklah baik." sambung Chandra.


Dailami menepuk pundak putranya. Keputusannya untuk bicara pada putranya itu benar. Memang putranya ini sangat memerlukan penataan hati, perlu ketenangan hati, perlu ketajaman mata hati.


"Pilihan yang bagus, Nak. Yang jelas, jangan terlalu berlarut dalam keadaan patah hati dan sakit hati. Dihina bukan akhir perjalanan hidup, dihina oleh orang lain tidak menyebabkan kematian. Dihina, tidak menghancurkan kehidupanmu," ujar Dailami.


"Jadi mengapa kita harus sakit hati karenanya karena hinaan dari orang lain? Kenapa harus ada dendam juga? Bukankah dendam hanya menambah penyakit dalam hatimu? Kamu hanya perlu ketajaman mata hati. Karena hati yang matanya tajam, tak akan mudah tersinggung dengan berbagai hinaan, caci maki, celaan atau 'cap' apapun yang bernada buruk."


"Hati yang tajam adalah hati yang penuh dengan keikhlasan, hati yang penuh dengan nada-nada kasih sayang dan kelembutan pada apa dan siapapun. Termasuk pada orang-orang yang menghina, mencaci maki, dan mencela. Orang yang penuh keikhlasan dalam hatinya, akan mendoakan orang yang menghinanya agar mendapat taufik dan hidayahNya. Agar orang yang tadinya penuh dengan kata-kata kasar, akan berubah 180 derajat menjadi sangat lembut dan sangat santun. Maka dari itu jangan pernah berhenti untuk mendoakan mereka agar lebih baik,"


Dailami menutup tausiahnya dengan senyuman dihadapan Chandra yang saat ini juga sedang tersenyum. Rasanya begitu tenang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh sang bapak.


Mata Chandra pun mulai memanas. "Terima kasih, Pak!" remaja itu pun langsung memeluk Dailami.


Dailami pun tersenyum. "Jadilah anak laki-laki yang kuat, Bapak akan selalu bangga memiliki putra sepertimu." bisik pria itu. Chandra pun semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh pria paruh baya itu.


Tanpa sadar air mata Chandra menetes, pria itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Bayangan masa lalu itu membuat dirinya teringat akan kasih sayang seorang bapak yang saat ini dirindukannya.


"Bapak…" lirih Chandra.


Tangisnya pun pecah, rasa rindu dan penyesalan terhadap sang bapak kembali dirasakannya. Chandra sangat menyesal karena disaat terakhir Dailami menghembuskan nafasnya, ia tidak ada di sisinya. Karena saat itu Chandra sudah berada di Jakarta dan melanjutkan pendidikannya.