LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Merindukannya



Suasana hati Chandra benar-benar galau. Jemarinya sejak tadi tidak bisa diam mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Tatapannya tidak beralih sama sekali dari kotak makan di hadapannya. 


Ya, kotak makan milik Gricella. Siang ini Gricella kembali mengirimkan makanan untuk dirinya. Tambah lagi tadi ada kurir gojek baru saja mengirimkan minuman es cappucino untuk dirinya dan juga Fedi. 


Chandra menghela nafasnya. "Kenapa dia masih mengirimkan makanan untukku?" Chandra bermonolog sambil menyandarkan kepalanya ke kepala kursi. 


"Apakah aku harus meminta maaf padanya atas sikapku kemarin?" gumamnya kembali. 


Matanya masih menatap  lurus ke arah kotak makan berwarna biru itu. Beberapa detik kemudian, ia pun meraih dan membuka kotak makan tersebut. Seulas senyum tipis tercetak di wajah pria itu, saat melihat isi menu makan siang yang dikirim oleh Gricella. 


Menu yang selalu ia sukai, ayam teriyaki dan salad sayur. Walau hanya dua menu itu saja Chandra sudah sangat senang. Chandra menyentuh perutnya yang sudah berbunyi. Akhirnya ia pun makan dengan lahap masakan Gricella hari ini. 


Biarlah dia dibilang munafik. Chandra hanya ingin menghargai setiap pemberian orang saja. Hanya itu yang ada di pikiran Chandra saat ini. Walaupun orang yang memberikannya berpikir terlalu jauh atau macam-macam, itu terserah. Selagi tidak mengusik dirinya dan mencemarkan nama baiknya, Chandra tidak akan pernah mempermasalahkan hal itu. Kecuali orang itu memberi dan memiliki niat jahat dan mengusik hidupnya. Barulah ia bertindak. 


Di tempat lain, tepatnya di sebuah kontrakan kecil. Seorang wanita sedang sibuk menyuapi  putranya berusia sekitar 6 tahun. Wanita itu begitu telaten dalam mengasuh putranya. 


"Bunda, nanti Dio juga sekolah di sini ya?" tanya anak itu. 


Sang bunda pun tersenyum penuh arti. "Maafkan Bunda ya, Mas. Sepertinya nanti Mas Dio akan bunda les-in saja di Mbak Ratna," jawab sang bunda. 


"Bunda juga belum mendapatkan pekerjaan. Lagipula, nanggung kalau Mas Dio sekolah ke TK atau PAUD di sini. Beberapa bulan lagi kan Mas Dio akan sekolah SD dan umur kamu juga sudah memasuki usia 7 tahun," tambah sang bunda. 


Anak bernama Dio itupun mengangguk, seakan mengerti apa yang dibicarakan oleh bundanya. 


"Baiklah, Bunda. Sementara ini Dio akan minta bimbingan belajar sama Mbak Ratna saja," jawab Dio. 


Ratna adalah kakak sepupunya yang kini duduk di bangku sekolah menengah atas. Suara tangis balita berusia dua tahun pun mengalihkan perhatian mereka. Wanita anak dua itu pun menoleh ke arah sumber suara. Seorang balita baru saja masuk ke dalam rumah sambil menangis. 


Tidak lama di belakangnya seorang gadis berusia 8 tahun ikut masuk ke dalam, menyusul balita itu. 


"Uuh, sayangnya bunda. Kenapa nangis?" wanita itu meraih tubuh mungil sang anak dan memeluknya. 


Tangis balita itu pun semakin kencang. 


"Cha Cha minta permen, Tante. Tapi gak Wardah kasih. Karena Wardah takut Cha Cha batuk lagi," sahut anak perempuan yang mengikuti Cha Cha. 


Wanita yang memeluk Cha Cha pun tersenyum sambil mengusap lembut wajah putrinya itu. Menghapus air mata yang membasahi wajahnya. 


"Sudah, ya! Jangan menangis lagi, Cha Cha harus mendengar apa yang dikatakan Mbak Wardah. Permen itu gak bagus untuk Cha Cha, karena Cha Cha baru saja sembuh. Kalau Cha Cha sakit lagi, bunda jadi sedih. Cha Cha gak mau kan lihat bunda sedih?" Wanita itu pun berpura-pura menampilkan wajah murungnya. 


Balita itu seakan mengerti apa yang baru saja dikatakan sang bunda. Cha Cha pun mengangguk. 


"Aa-aap Nda," jawab Cha Cha seraya menangkup kedua tangannya di depan dada. 


Sang bunda pun langsung memeluk balita yang menurutnya semakin pintar dan menggemaskan. 


Tidak lama, seorang perempuan masuk ke dalam kontrakan kecil itu sambil mengucapkan salam. Wanita itu membawa sesuatu dan diberikan pada bundanya Cha Cha. 


"Bagaimana dengan acara cari kerjanya, Za?" tanya wanita itu.


Wanita bernama Kanza itu pun menghela nafasnya. "Belum dapat kabar, Mbak. Kemarin aku sudah melamar di sebuah restoran. Aku harap mereka tidak mempermasalahkan status perkawinan ku  yang kini sudah menjadi seorang janda," jawab Kanza. 


Wanita yang duduk di sebelah Kanza pun mengusap punggung wanita itu. 


"Mbak selalu berdoa untuk kebaikanmu dan anak-anakmu," ujar wanita itu. 


"Aku takut kalau statusku itu akan mempersulit diriku dalam mencari pekerjaan, Mbak Lis." lirih Kanza. 


"Kamu baru mencoba melamar di satu restoran saja kan? Kamu belum mencoba ke tempat lainnya. Kamu tidak boleh pesimis begitu. Yakinlah kalau Allah akan selalu mempermudah jalanmu dalam mencari rezekinya, karena semuanya sudah diatur olehnya. Maka dari itu janganlah berhenti menjalankan kewajibanmu sebagai seorang muslim," imbuh Lisna memberi ketenangan pada Kanza. 


Kanza pun tersenyum dan mengangguk. Ia beruntung karena masih memiliki kakak yang begitu menyayangi dan memperhatikannya.  Walaupun disini Lisna hanya kakak ipar saja, namun bagi Kanza tidak seperti itu. Lisna baginya adalah kakak kandungnya. Bahkan Lisna adalah orang yang paling menentang perjodohan antara Kanza dan mantan suaminya dulu. 


Mengingat kejadian dahulu, seketika itu juga Kanza teringat akan sosok yang sampai saat ini masih tidak bisa dilupakan. Sosok pria yang masih tersimpan di dalam lubuk hatinya. Sosok pria yang telah ia sakiti hatinya, sosok pria yang sangat ingin ditemuinya. Rasa rindu pada pria itu kini semakin terasa. Lalu ia pun menatap kembali ke arah Lisna yang sedang memangku Cha Cha. Ya, tadi saat Lisna datang, Cha Cha langsung minta pindah ke pangkuan Lisna. 


"Eum, mbak." 


Lisna pun mendongakkan kepalanya, menatap intens ke arah Kanza dengan dahi berkerut. 


"Kenapa, Za?" tanya Lisna. 


Kanza nampak meremas ujung daster yang dikenakannya. Lisna tahu ada sesuatu yang ingin di tanya atau ingin disampaikan oleh Kanza. 


"Kamu kenapa, Za?" tanya Lisna kedua kalinya. 


Kanza pun mendongakkan kepalanya, dan memberanikan menatap mata Lisna. 


"Eum, Mbak. Apakah Mbak tahu dimana Arlan sekarang? A-aku sangat ingin bertemu dengannya," tanya Kanza dengan suara terdengar lirih. 


Lisna pun cukup tercengang mendengar pertanyaan adik iparnya itu. Seketika satu pertanyaan melintas dalam benak Lisna. 


"Apa kamu masih mencintai Arlan, dan belum bisa melupakannya?" 


Pertanyaan dari Lisna mampu membuat Kanza tak berkutik. Wanita itu bergeming dan bungkam seribu bahasa. Bahkan dirinya pun bingung harus menjawab apa? Mengingat sudah hampir sepuluh tahun mereka tidak pernah bertemu. 


Apakah benar Kanza masih mencintai Arlan alias Chandra? Atau, apakah perasaan itu hanya perasaan karena rasa bersalahnya terhadap pria yang pernah mengisi hatinya? 


Entah, Kanza pun masih bingung dengan dirinya sendiri. Walau tidak dapat ia pungkiri, kalau dirinya sangat merindukan sosok pria itu.