LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Marahnya Chandra



Beberapa hari kemudian, seperti biasa Chandra selalu disibukkan dengan pekerjaannya. Namun hari ini sedikit berbeda, karena terlihat ada aura kemarahan dalam diri Chandra. Pria itu terlihat buru-buru keluar dari kantornya.


Fedi yang melihat Chandra keluar tergesa-gesa pun sempat memanggilnya. Namun sayangnya pria itu tidak mempedulikan panggilan asisten sekaligus adik sepupunya itu.


"Ada apa dengan Mas Arlan, kenapa dia terlihat buru-buru sekali?" monolog Fedi.


Chandra segera mengendarai kendaraannya dan meninggalkan kantornya begitu saja tanpa menitip pesan pada Fedi. Sementara itu, Fedi hanya bisa menghela nafasnya menatap bingung kepergian Chandra.


Cukup lama Chandra dalam perjalanan, hingga akhirnya beberapa menit kemudian ia tiba di sebuah restoran. Seperti biasa Chandra memasang wajah datar dan dinginnya, ia berusaha menutupi kemarahannya kali ini. Ia tidak ingin gegabah dan berujung melukai seseorang.


Chandra hanya mengangguk saat seorang pelayan menyapa dirinya dengan sopan. Beberapa pelayan disana ada beberapa yang mengenal Chandra. Karena pria itu tiap dua minggu sekali suka datang ke restoran tersebut untuk mengecek barang yang dikirimkan oleh perusahaannya sebagai supplier di restoran tersebut.


"Dimana Nona muda kalian?" tanya Chandra.


Pegawai restoran yang tadi menyapa Chandra sedikit merasakan takut. Pegawai itu merasakan aura berbeda dari sosok pria di hadapannya itu.


"N-Nona a-ada di dalam ruangannya, TTuan. M-mari saya antar!" jawab pegawai restoran itu yang begitu gugup.


Chandra pun tidak berkata apapun, ia langsung mengikuti pegawai restoran tersebut. Setelah mengantarkan Chandra sampai di depan pintu ruangan Gricella, Chandra meminta pegawai itu untuk segera pergi.


Chandra mengetuk pintu beberapa kali, lalu setelahnya ia membuka pintu tersebut setelah mendengar suara mempersilakan Chandra masuk.


Gricella terkejut saat melihat kedatangan Chandra yang tiba-tiba tanpa memberitahu dirinya. Gricella tersenyum dan langsung berdiri dari duduknya. Gadis itu baru saja memulai kembali datang ke restorannya. Akan tetapi saat ini Gricella tidak datang ke restoran cabang, kali ini ia datang ke restoran pusat. Restoran yang pertama kali didirikan oleh Naura.


"Ada apa, Chand? Tumben tidak memberi kabar padaku kalau kamu ingin datang ke sini," tanya Gricella yang begitu senang akan kedatangan Chandra.


Chandra bergeming, pria itu masih menatap lekat ke arah Gricella dengan wajah dinginnya. Senyum Gricella semakin luntur kala melihat wajah tidak bersahabat Chandra. Saat itu juga Gricella merasakan rasa takut pada sosok pria yang mulai mencuri hatinya itu. Ya, diam-diam Gricella mulai mengagumi sosok Chandra dan diam-diam juga Gricella mulai menyukai pria itu.


Perlahan Chandra mulai mendekat ke arah Gricella. Membuat wanita itu refleks memundurkan langkahnya.


"C-Chand," panggil Gricella dengan suara gemetar.


Chandra semakin mendekat, hingga Gricella berhenti dan tidak mampu lagi memundurkan langkahnya. Karena kakinya sudah terbentur meja kerjanya. Gricella langsung menundukkan kepalanya saat melihat tatapan tajam Chandra.


"Katakan padaku! apa yang telah kau dan Ibumu lakukan pada Vesha?" tanya Chandra dengan suara begitu datar terkesan dingin.


Gricella langsung mendongakkan kepalanya. Jujur saja ia sangat terkejut mendengar pertanyaan Chandra.


Ya, Chandra sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Vesha. Marvin tanpa sengaja menceritakan semuanya pada Chandra, saat tanpa sengaja Chandra mendatangi rumah Vesha kemarin malam. Malam iti juga Chandra bertanya pada Sagara dan Langit, namun semuanya tidak mengetahui kemaman Vesha pergi. Hingga pada akhirnya, Chandra mengajak keduanya menemui Marvin. Saat pertemuan berlangsung Marvin menceritakan apa yang membuat Vesha pergi meninggalkan Jakarta. Marvin mendapat kabar itu dari Shena.


"A-apa maksudmu, Chand?" bukannya menjawab pertanyaan Chandra, wanita itu malah balik bertanya pada Chandra.n


Chandra berdecak seraya tersenyum sinis. "Kau ini pura-pura tidak tahu atau pura-pura lupa dengan apa yang telah kau dan Ibumu lakukan pada Vesha di perusahaan Bryan, saat Kakak mu itu tidak ada di Indonesia?" Chandra kembali bertanya.


Chandra mencengkram kedua bahu Gricella. "Jawab pertanyaanku, Gricella! Katakan apa yang sudah kau dan Ibu mu lakukan pada Vesha, hingga dia pergi tanpa memberitahukan kami?" bentak Chandra.


Gricella terkejut mendengar bentakan dari Chandra. Beruntung ruangan kerja Gricella kedap suara, jadi suara sekencang apapun tidak akan terdengar dari luar. Terlebih restoran itu sedang begitu ramai pengunjung, otomatis semua pegawai terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Tubuh wanita itu mulai bergetar, Gricella tidak berani menatap ke arah Chandra. Ia memilih menundukkan kepalanya saja.


"M-maafkan aku dan Ibuku, Chan." lirih Gricella menjawab pertanyaan Chandra.


Chandra melepaskan cengkraman tangannya di bahu wanita itu dengan begei kasar, bahkan pria ituberdecak kesal mendengar kawaban Gricella.


"Cih, maaf katamu? Kau tahu apa yang sudah kau dan Ibumu itu lakukan sangat tidak pantas. Apakah kau dan Ibumu itu tidak memikirkan dampaknya? Asal kau tahu, kalian telah membuat Vesha pergi dari kota ini!" ujar Chandra dengan begitu geram.


Bahkan saat berkata dengan begitu murkanya, Chandra sampai menunjuk ke arah lantai. Tanpa sadar Gricella telah meneteskan air matanya, sungguh ia sangat menyesali atas perbuatannya. Terlebih saat Vesha dengan begitu ikhlas membantu mendonorkan darahnya untuk Naura yang saat itu sesang kekukarang darah.


Tangis wanita itu kian pecah kala mengingat semua perbuatan yang dilakukannya terhadap Vesha. Gricella menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"M-maafkan aku, maaf!" Gricella kembali berkata lirih. Bahkan suaranya terdengar begitu sesak.


Chandra memejamkan matanya seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Chandra menghela nafasnya seraya menengadahkan kepalanya ke atas. Ia tidak sanggup melihat wanita dihadapannya menangis. Bahkan ia sendiri bingung kenapa bisa seperti itu. Chandra bersikap begiti hanya pada Ayu, Karina dan mantan kekasihnya dulu, Kanza.


Chandra merasa terenyuh mendengar tangisan Gricella. Terlebih wanita itu sudah terduduk di lantai bawah sambil terisak pilu. Seketika saat itu juga hati Chandra bagai es balok yang mencair, entah kemana sikap dingim dan rasa marah, serta kesal itu pada Gricella. Memang susah, karena pada dasarnya Chandra memang memiliki hati yang lembut.


"Maaf!"


Kembali terdengar suara Grocella meminta maaf, dan kali ini suaranya begitu serak dan lirih. Entah dorongan dari mana, Chandra akhirnya memajukan langkahnya dan berjongkok di depan Gricella.


Lalu ia mengusap kepala wanita itu dengan lembut. Gricella perlahan mendongakkan kepalanya menatap Chandra dengan air mata berlinang. Diperlakukan lembut seperti itu oleh Chandra, sungguh mampu membuat tubuh Gricella sedikit bergetar dan luluh atas sikap lembut pria itu.


"Tidak perlu menangis," ujar Chandra yang masih berkata datar.


Gricella bergeming dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya. Tidak lama wanita itu pun mengangguk pelan.


"Minta maaflah pada Vesha, karena disini yang sangat terluka adalah dia. Wanita baik yang kalian sakiti," saran Chandra pada Gricella yang langsung dibalas dengan anggukan kepala olehnya.


"Berdirilah!" pinta Chandra seraya membantu wanita itu untuk berdiri dari posisinya.


Gricella pun menurut dan tidak membantah. Chandra membantu Gricella dalam menuntunnya untuk duduk di sofa. Chandra melihat ke samping dimana Gricella masih sesegukan sambil menundukkan wajahnya. Chandra kembali menghela nafas gusarnya, tatapannya lurus ke depan.


"Maafkan aku yang sudah membentak dirimu," ujar Chandra.


Gricella menoleh dan tatapan mereka pun bertemu. Chandra tersenyum tipis, membuat Gricella tertegun melihatnya. Gricella kembali menundukkan wajahnya, Chandra tersenyum lebar melihat wajah wanita di sebelahnya yang terlihat memerah. Mungkin karena rasa malu, membuat wanita itu merona.


Chandra mengulum senyumnya. "Wajahnya memerah, lucu sekali!" gumam Chandra dalam hatinya.