LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Ada Yang Cemburu



"Kita menikah, dan akan sah dimata Tuhan dan negara. Jadi kita berdua mau ngapain saja tidak ada yang melarang," celetuk Gricella.


Chandra membulatkan matanya, pria itu merasa salah akan ucapannya tadi. Chandra menelan salivanya, dirinya pun menjadi salah tingkah.


Chandra menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Salah ngomong lagi 'kan!" Chandra menghela nafasnya saat bergumam dalam hatinya.


Gricella menatap Chandra dengan tatapan memohon, kilatan puppy eyes nya pun membuat Chandra tidak bisa berbuat apa-apa. Chandra langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Tangan Chandra mendorong pelan kening Gricella. "Tolonglah mengerti, Cella. Kenapa kamu jadi suka membahas pernikahan. Apakah kamu tahu arti dari sebuah pernikahan?" tanya Chandra.


Gricella tersenyum miring dengan tangan mengetuk-ngetuk dagunya. "Aku tahu, bahkan Kak Bryan dan Kak Vesha pun juga akan menikah. Bagaimana kalau kita menikah di hari yang sama dengan mereka," Gricella langsung bergelayut manja di lengan Chandra.


"Bukan itu, Cella!" tegur Chandra sambil berusaha melepaskan tangannya dari gadis itu.


Gricella merasa sangat kesal karena Chandra berusaha menyingkirkan tangannya. Gadis itu pun menghentakkan kakinya, lalu gadis itu pun segera masuk ke dalam kamarnya. Chandra memutar bola matanya malas, bahkan ia bingung harus berbuat apa. Sampai pada akhirnya ia pun mendatangi kamar Gricella karena dorongan dari hati kecilnya.


Pria itu mendekat ke arah Gricella yang sudah merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi pria itu.


"Cella, maaf aku harus segera pulang. Aku tidak bisa bermalam di apartemenmu, aku harap kamu mengerti!"


Tanpa menunggu jawaban dari Gricella, akhirnya Chandra pergi meninggalkan kamar gadis itu. Sepeninggalnya Chandra, Gricella pun menangis.


"Aku hanya ingin satu hari ini bersamamu, Chan. Aku masih sangat merindukanmu," ujar Gricella disela isak tangisnya.


Sementara itu Chandra sudah berada di dalam lift. Pria itu merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Perasaan yang begitu berat saat meninggalkan Gricella seorang diri. Bryan dan Devan sedang berada di luar kota, sementara itu tidak mungkin Chandra memberitahukan kedua orang tua gadis itu. Mengingat Gricella yang tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.


Dengan langkah gontai ia keluar dari dalam lift dan segera menuju parkir mobilnya. Sebelum masuk kedalam mobil Chandra kembali termenung. Ia menggigit bibir dalamnya sambil menghela nafas gusarnya. Chandra menengadahkan kepalanya sambil menyugar rambutnya kebelakang.


"Astagaaahhh," gusarnya.


Chandra berjalan bolak balik dengan tangan terkepal sambil memukul-mukul keningnya pelan.


"Sial, kenapa aku tidak bisa meninggalkan Gricella sendirian? Entah kenapa rasanya sangat tidak tenang," gumam Chandra.


Cukup lama berdiam diri di parkiran, akhirnya Chandra pun menghubungi Fedi dan mengatakan kalau dirinya akan menginap di apartemen Gricella. Beruntung sang ibu sedang tidak ada di rumah, saat ini Ayu sedang balik ke kampung. Karena salah satu kerabatnya ada yang sakit, jadi Ayu pulang ke Yogyakarta.


Di dalam kamar Gricella semakin terisak pilu. Meratapi kesendiriannya dengan perasaan rindu yang luar biasa pada pria yang sangat ia cintai. Walaupun baru saja mereka bertemu, tetapi rasa rindunya masih belum terobati.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Chandra memutuskan untuk kembali ke dalam apartemen Gricella. Pria itu bergegas menuju pintu masuk dengan menggunakan kartu akses.


Chandra bergerak perlahan masuk ke dalam unit apartemen gadis itu. Seperti seorang maling, Chandra mengendap-endap masuk ke dalam kamar dimana Gricella masih terisak dalam posisi meringkuk di atas kasur empuknya.


Perlahan Chandra duduk ditepi tempat tidur, dan pergerakan Chandra itu menyadarkan Gricella. Gadis itu pun dengan cepat menoleh dan betapa terkejutnya Gricella melihat keberadaan Chandra yang masih tersenyum.


"C-Chandra," lirih Gricella.


Chandra tersenyum, hatinya merasa teriris saat melihat mata sembab gadis yang berhasil mengusik hati dan hidupnya. Gricella pun merubah posisinya menjadi duduk, dengan cepat Chandra menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.


"Maaf!" lirih Chandra.


Gricella terkejut akan tindakan Chandra yang langsung memeluknya. Chandra menelusupkan wajahnya di ceruk leher Gricella, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu. Sementara itu, Gricella jangan ditanya lagi. Degup jantungnya berdebar semakin kencang, bahkan tubuhnya pun mulai bergetar.


"I-ini mimpi gak, sih? A-aku beneran dipeluk Chandra," gumam Gricella dalam hatinya.


"Oh my God…." jerit kegirangan Gricella dalam hatinya lagi.


Perlahan Gricella pun mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Chandra. Gricella memejamkan matanya, merasakan kenyamanan dalam pelukan pria yang sangat ia cintai. Cukup lama mereka saling berpelukan, hingga Chandra merenggangkan pelukannya.


Chandra terkekeh saat melihat Gricella cemberut. Gadis itu memang sangat tidak senang saat Chandra merenggangkan pelukan mereka.


Membuat gadis itu kesal dengan ulah pria itu. "Sakit," kesal Gricella.


Chandra tertawa terbahak-bahak, lalu ia kembali memeluk gadis itu.


"Sudah tidak sedih lagi kan?" goda Chandra.


"Aww," Chandra meringis saat perutnya dicubit oleh Gricella.


Namun pria itu masih saja tertawa dan membuat Gricella semakin kesal. Dibalik rasa kesalnya, gadis itu nampak tersenyum.


"Apakah kamu akan menginap?" tanya Gricella.


"Hmm, aku akan menginap malam ini. Aku tidak ingin membuat anak gadis orang menangis semalaman karena diriku," jawab Chandra.


Gricella kembali mendengus kesal mendengar jawaban Chandra. Sementara pria itu sudah kembali tertawa terbahak-bahak.


Gricella mendongakkan kepalanya. "Terima kasih, karena sudah mau menemaniku di sini malam ini!" ujar Gricella.


Chandra tersenyum, bahkan jarah wajah mereka begitu dekat. Tatapan keduanya pun saling mengunci, membuat getaran cinta Gricella pada Chandra semakin besar. Begitupun dengan Chandra yang merasa jantungnya semakin berdebar kencang. Bahkan dia menelan salivanya begitu kasar saat melihat bibir ranum milik Gricella. Saat itu juga ia teringat dengan kejadian tadi siang.


"Cella," panggil Chandra dengan suara sedikit tercekat.


"Ya," Gricella melihat tatapan Chandra yang diselimuti kabut gairah.


Namun gadis itu tahu kalau saat ini Chandra sedang menahan hasratnya itu.


"Jangan terlalu dekat! Kau membuat jantungku tidak baik-baik saja," ujar Chandra.


Gricella membulatkan matanya, lalu ia pun melepaskan pelukannya dan sedikit berjarak.


"Apakah itu artinya kamu memiliki perasaan yang sama denganku, Chan?" tanya Gricella.


Chandra menelan salivanya kembali, bahkan ia masih bingung dengan perasaannya. Tapi entah kenapa saat berdekatan dengan Gricella membuatnya terasa nyaman. Bahkan ia sadar saat hatinya kesal setelah tanpa sengaja bertemu dengan Kanza tadi, tiba-tiba saja hatinya merasa damai saat melihat wajah Gricella. Ada rasa nyaman dalam hati pria itu saat memandangi wajah Gricella.


Gricella tersenyum getir, ia tahu kalau Chandra masih belum bisa membuka hatinya untuk dirinya. Gricella menepuk pundak Chandra dengan pelan.


"Maaf! Sudah, jangan kamu pikirkan. Lupakan saja pertanyaanku tadi!" pinta Gricella seraya bergeser dan turun dari ranjangnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Chandra yang ikut berdiri.


"Ke kamar mandi," jawab Gricella tanpa menoleh kebelakang.


Chandra menghela nafasnya, sambil menyugar rambutnya kebelakang. Chandra membasahi bibirnya yang terasa kering dengan lidahnya.


"Apakah aku melukai hatinya?"


Chandra berdecak kesal, bukan kesal karena Gricella. Akan tetapi ia kesal dengan dirinya sendiri, kenapa ia merasa sangat sulit untuk mengerti apa yang saat ini sedang ia rasakan.


Disaat Chandra termenung, terdengar suara ponsel Gricella tang berdering. Chandra melirik ke arah nakas, dimana benda pipih itu berada. Dahinya berkerut saat melihat sebuah nama asing telah menghubungi nomor Gricella.


"Ben," gumam Chandra.


Panggilan itu pun terputus, tidak lama sebuah pesan pun masuk. Chandra kembali mengerutkan dahinya dengan tangan terkepal kuat. Tanpa sengaja ia membaca pesan dari Ben, walau Chandra hanya membaca kalimat awalnya saja. Tapi ia tahu apa maksud dari isi pesan itu. Perasaannya semakin tidak baik-baik saja, rasa tidak suka kalau Gricella berkirim pesan dengan pria lain.


"Siapa Ben? Apa hubungan Gricella dengan orang itu?"


Chandra bergumam sendiri dengan perasaan kesal dan tidak suka, sambil melirik ponsel Gricella dan menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup. Apakah Chandra sadar kalau dirinya telah cemburu?