
Malam pun tiba, Gricella terlihat sudah begitu cantik. Malam ini entah kenapa dirinya sangat ingin keluar malam, sekedar nongkrong di cafe atau di taman kota.
Gricella pun berpamitan pada kedua orang tuanya. Walau awalnya Naura tidak mengizinkannya keluar, akan tetapi Sean memberi penjelasan pada istrinya itu.
"Biarkan dia menikmati waktunya, Mom. Sebentar lagi Cella juga akan disibukkan dengan pengurusan restoran milikmu. Jadi biarkan saja putri kita memanjakan dirinya dengan berkumpul bersama teman-temannya. Kita 'kan juga pernah muda, Mom."
Begitulah ucapan yang Sean lontarkan saat memberi penjelasan pada Naura. Dengan terpaksa Naura pun mengizinkan putrinya keluar malam dengan syarat jam 10 harus sudah berada di rumah. Gricella pun tersenyum senang dan mengiyakan apa yang dipinta sang mama.
Malam ini Gricella hanya sendirian, tidak ada teman-temannya untuk sekedar menemaninya. Karena rasa sakit hati dan kecewanya pada ketiga temannya itu, membuat Gricella enggan untuk berkomunikasi lagi dengan mereka.
Cafe dengan menu western kekinian adalah pilihan gadis itu. Gricella keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam cafe tersebut. Sebenarnya ia sengaja tidak makan malam, karena ia memang sangat ingin keluar untuk menghirup udara malam ini.
Alunan musik pop menyambut kedatangan Gricella dan para tamu yang lainnya. Gricella memilih duduk di dekat jendela yang terbuka, sepertinya memang sengaja terbuka seperti itu kalau dilihat dari konsep cafe tersebut.
Seorang pelayan pun datang dam memberikan buku menu padanya. Saat bersamaan itu pula ada seorang pria duduk di kursi depannya. Keduanya sama-sama sibuk melayani hat buku menu cafe tersebut.
Tidak lama seorang pelayan mencatat pesanan keduanya. Setelah pelayan cafe tersebut pergi, tanpa sengaja mata Gricella dan pria itu bertemu.
[Deg…]
Jantung Gricella langsung berdegup kencang. Sungguh ia sangat terkejut melihat wajah pria yang tadi siang bertemu dengannya di mall dan berhasil memojokkan dirinya. Ya, pria itu adalah Chandra.
"Pria itu," gumam Gricella dalam hatinya.
"Cih, wanita sombong itu lagi. Kenapa aku harus bertemu dengannya disini?" Chandra bermonolog dalam hatinya dengan sangat kesal.
Sebenarnya Chandra sama hal nya terkejut seperti Gricella. Namun dengn cepat ia mengubah ekspresi keterkejutannya itu dengan wajah datarnya. Tatapannya pun berubah dingin, Chandra memutar bola matanya malas. Karena tidak ingin mengingat kejadian tadi siang, Chandra terlihat bersikap biasa saja dan enggan peduli pada Gricella yang duduk di seberang tempat duduknya saat ini.
Sementara itu Gricella langsung menundukkan wajahnya. Entah rasanya ia masih sangat malu pada Chandra. Gricella merutuki takdir yang mempertemukan dirinya dengan Chandra kembali setelah kejadian tadi siang. Padahal tadi sehabis balik dari mall, Gricella sempat meminta pada Tuhan untuk tidak dipertemukan lagi oleh Chandra.
"Rasanya ingin sekali pergi dari sini. Tapi kenapa rasanya berat seperti ini, sih?" Gricella kembali bergumam dalam hatinya.
Ya, entah kenapa tubuhnya terasa berat untuk sekedar pindah tempat duduk. Seperti ada lem dibawah kakinya, hingga membuat kakinya begitu berat untuk sekedar mengangkatnya.
Chandra yang masih bersikap biasa saja pun kini sedang fokus pada layar laptopnya. Sesekali ia membalas pesan dari Marvin yang hendak menyusulnya. Namun Chandra melarangnya, krena ia hanya sebentar saja di cafe itu. Walau itu hanya bualan Chandra saja.
Chandra memiliki alasan tertentu kenapa ia tidak ingin Marvin menemaninya di Cafe tersebut. Itupun tidak lain karena Gricella, Chandra tidak ingin sesuatu terjadi kembali seperti halnya tadi siang di mall.
Makanan pesanan mereka pun telah datang. Chandra sedikit menggeser laptopnya, lalu ia mulai memakan makanannya. Sedangkan Gricella merasa selera makannya menghilang begitu saja. Bahkan sesekali gadis itu melirik ke arah Chandra yang terlihat begitu menikmati makanannya.
"Cih, bahkan dia makan begitu lahap. Sementara aku disini harus menahan rasa malu dan tidak enak hati padanya. Haruskah aku minta maaf padanya atas kejadian tadi siang?"
"Uuh, rasanya malu sekali!"
Pikiran dan hati Gricella berperang begitu dahsyat hingga membuatnya merasa begitu frustasi. Chandra pun selesai dengan makan malamnya, ia mengusap bibirnya dan sekilas melirik ke arah 0Gricella.
"Astaga, ada apa dengan jantungku? Kenapa setiap aku melihat tatapan matanya, aku merasakan sesuatu yang aneh di jantungku?" Gricella kembali bermonolog dalam hatinya.
Chandra hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis saat menatap Gricella. Tidak lama ia pun berdiri, Gricella hanya bisa memperhatikan kemana Chandra pergi.
Chandra menuju kasir dan membayar pesanannya, namun tiba-tiba saja Chandra menoleh ke arah Gricella. Gadis itu dengan cepat mengalihkan wajahnya ke arah lain. Gricella merasa begitu malu, saat kepergok sedang memperhatikan Chandra.
Tidak lama Chandra pun kembali ke mejanya, pria itu terlihat mengambil rokok dan kunci motornya yang tertinggal. Chandra pun segera pergi dari tempat itu, Gricella menyadari kalau Chandra sudah akan pergi dari cafe itu.
Dengan cepat ia menuju kasir, namun petugas kasir mengatakan kalau pesanannya sudah dibayarkan oleh Chandra.
"Pria yang baru keluar tadi?" tanya Gricella yang hanya diangguki kepala oleh pegawai tesebut.
Gricella diam sejenak, dalam benaknya bertanya-tanya kenapa Chandra membayarkan semua pesanan makanannya. Gricella pun menoleh ke arah luar, ia dapat melihat Chandra yang baru saja menaiki motornya.
Dengan cepat Gricella keluar dari cafe tersebut dan menghampiri Chandra. Gadis itu berlari, agar tidak kehilangan Chandra. Terlihat Chandra sudah mengenakan helmnya, ia pun menyalakan motornya.
"Tunggu!" teriak Gricella.
Chandra yang hendak memundurkan motornya sambil dibantu sang juru parkir pun terpaksa menghentikan gerakannya. Chandra kembali membuka helmnya dan turun memarkirkan kembali motornya. Chandra menatap datar pada Gricella.
"Mau apa lagi, Nona? Apa kejadian tadi siang kurang membuatmu malu?" tanya Chandra.
Gricella mengatupkan bibirnya, dadanya terasa tersayat saat Chandra mengungkit kejadian tadi siang. Gricella yang memang tinggi gengsinya, ia tidak ingin kembali dipermalukan di depan umum.
Gricella melipat kedua tangannya. "Ck, kau tenang saja Tuan. Aku tidak akan membahas kejadian tadi siang. Aku sudah memaafkan kalian, terutama di wanita itu."
Chandra tercengang mendengar ucapan Gricella. Chandra pun tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Pria itupun ikut melipat kedua tangannya di depan dada.
"Luar biasa sekali anda ini, benar-benar tinggi rasa percaya diri anda. Sampai anda tidak sadar kalau anda sudah mempermalukan diri anda sendiri. Oops," Chandra langsung menutup mulutnya dengan satu tangannya.
Chandra menurunkan tangannya dari bibirnya. "Aku lupa, kalau anda ini tidak punya rasa malu." sindir Chandra yang masih tertawa sinis.
Gricella mengepalkan kedua tangannya mendapatkan sindiran dari Chandra. Chandra pun memilih menaiki motornya, dan menghindari perdebatan pada Gricella. Wanita yang gila menurut Chandra.
"Mau kemana kamu, heoh?" tanya Gricella dengan kesal.
Chandra yang hendak memakai helm pun mengerutkan dahinya. "Kau tidak bisa lihat? Aku mau pulang, minggir!" Chandra mengusir Gricella dengan cara mengibaskan tangan kanannya agar wanita itu menjauh darinya.
Gricella semakin kesal pada Chandra yang tidak peduli dengan keberadaannya. Sungguh Chandra berhasil membuat Gricella merasa diabaikan. Ini pertama kalinya Gricella diperlakukan seperti itu pada seorang pria. Biasanya jika Gricella menghampiri seorang pria, maka pria itu akan sangat senang jika didekati oleh wanita itu. Tapi berbeda dengan Chandra.
"Tunggu sebentar!" cegah Gricella seraya menahan stang motor Chandra.
Chandra pun berdecak kesal, lalu ia membuka kaca helmnya. "Mau apa lagi, sih?" bentak Chandra.