LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Rasa Aneh Yang Datang Kembali



Setelah kedatangan Chandra yang meluapkan kemarahannya pada Gricella tentang kepergian Vesha yang disebabkan oleh wanita itu dan sang ibu. Kini keduanya masih diam duduk bersisian, menatap lurus ke depan. Padahal di depan sana tidak ada pemandangan menarik, hanya ada sebuah meja kerja milik Gricella.


Chandra menghela nafasnya, sambil menyugar rambutnya yang sedikit gondrong itu. Lalu ia melirik sekilas ke arah Gricella yang masih menunduk dan sibuk meremas jemarinya.


"Maafkan aku!"


Ucapan Chandra sukses membuat Gricella menoleh, yang awalnya hanya diam menunduk. Hatinya merasa begitu mencelos saat mendengar kata maaf dari bibir Chandra. Bukankah yang seharusnya minta maaf itu adalah Gricella, tapi kenapa malah Chandra yang meminta maaf padanya.


"Maafkan aku yang sudah berbuat kasar padamu. Bahkan tadi aku juga sempat membentak dirimu," Chandra kembali berkata seraya tersenyum pada wanita di sebelahnya itu.


Gricella semakin tertegun mendengar ucapan Chandra. Bahkan jantungnya pun berdegup kencang kala melihat senyum manis yang Chandra berikan padanya. Chandra semakin tersenyum lebar saat melihat rona wajah Gricella. Sementara itu Gricella merutuki Chandra yang terlihat begitu manis dan tampan.


"Sial! Kenapa kamu setampan ini, Chan? Rasanya aku sangat ingin memeluk dan mencium bibirmu itu," gumam Gricella merutuki diri Chandra dalam hatinya.


Gricella menggelengkan kepalanya saat merasa dirinya bertingkah aneh. Wanita itu pun tersadar atas apa yang sedang dipikirkan olehnya tentang Chandra. Apa yang dilakukan Gricella tak luput dari pengawasan Chandra, bahkan saat ini pria itu sedang mengulum senyumnya melihat tingkah Gricella.


"K-kenapa k-kamu minta maaf padaku? Bukankah s-seharusnya aku yang minta maaf padamu, dan kau benar kalau aku harus minta maaf pada Vesha." jawab Gricella sambil bertanya dengan perasaan gugupnya.


Benar-benar gemuruh dihatinya membuat otak wanita itu sedikit tidak bisa berpikir jernih. Chandra tersenyum sambil mengalihkan pandangannya kembali ke arah lain. Lalu ia pun kembali menoleh ke arah Gricella dan lagi-lagi wanita itu terlihat gugup saat ditatap oleh Chandra.


"Bukankah tadi aku sudah jelaskan. Kenapa aku minta maaf padamu? Itu karena tadi aku telah memperlakukanmu tidak baik dengan membentak dirimu," jawab Chandra yang malah terlihat begitu santai.


Gricella tercengang saat menyadari kalau sikap Chandra malah seperti biasa saja. Sementara dirinya harus mati-matian menahan rasa gugup di hadapan pria itu.


Gricella memgangguk pelan. "A-aku pun juga minta maaf padamu," jawab Gricella sambil menundukkan kepalanya.


Lalu Gricella teringat dengan sosok wanita yang telah ia sakiti hatinya. Gricella pun kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Chandra.


"Apakah Vesha benar pergi dari kota ini? Kemana ia pergi? Aku ingin bertemu dengannya untuk minta maaf padanya," tanya Gricella.


"Eum, kami tidak tahu kemana Vesha pergi. Yang kami tahu Vesha pergi bersama sahabatnya, Shena. Marvin sudah mencari tahu kemana mereka pergi. Tapi hasilnya masih nihil," jawab Chandra.


Geicella menghela nafasnya. "Aku sangat menyesal telah menghasut Mommy untuk memisahkan Kak Bryan dengan Vesha," lirih Gricella.


Chandra menatap iba pada wanita di sebelahnya. Namun ia tidak mungkin membela wanita itu juga, karena Gricella pun juga salah.


"Ya, memang seharusnya kau merasakan penyesalan itu. Tapi jangan terlalu larut dalam penyesalan atas apa yang terjadi dan sudah kau perbuat. Jika nanti Vesha ditemukan, segeralah minta maaf padanya. Berdoalah semoga Vesha secepatnya ditemukan!" sahut Chandra sedikit ketus.


Gricella mengangguk pelan, kali ini ia membenarkan apa yang dikatakan Chandra. Bahkan ia tidak akan marah pada pria itu.


"Aku akan mencoba minta bantuan pada Kak Devan untuk mencari Vesha," ujar Gricella.


Chandra mengangguk. "Baiklah! Kalau begitu sebaiknya aku kembali ke kantor," cetus Chandra seraya berdiri dari posisinya.


Chandra memasukkan kedua tangannya ke kantong celana jeans nya. "Sekali lagi aku minta maaf atas sikapku tadi," tambah Chandra.


Gricella pun tersenyum dan ikut berdiri dari posisinya. "Iya, sama-sama. Aku pun juga minta maaf," jawab Gricella.


Keduanya pun tersenyum, namun tanpa diduga oleh keduanya. Tiba-tiba saja tangan Chandra terulur mengusap kepala Gricella. Membuat wanita itu terdiam dan membeku sejenak, tatapan keduanya pun saling mengunci. Chandra langsung menghentikan pergerakannya saat menyadari apa yang telah dilakukannya. Mengusap kepala Gricella tanpa izin wanita itu.


Perlahan Chandra menarik kembali tangannya. "M-maaf!" kata Chandra yang mulai salah tingkah.


Gricella hanya mengangguk kikuk, dia pun juga menjadi salah tingkah. Bahkan tangannya sudah berada di depan dadanya, karena tadi sempat merasakan debaran yang aneh disana. Bahkan saat itu juga Gricella merasakan seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam dirinya.


"A-aku pergi dulu," Chandra pun segera pergi dari ruangan Gricella.


Gricella menatap kepergian Chandra dengan tatapan bahagia. Bahkan saat ini wanita itu sedang tersenyum sambil memejamkan matanya. Gricella langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa itu kembali, rasanya ia sangat ingin menjerit bahagia.


"Ya Tuhan, jantungku." pekik wanita itu


Gricella memegang dada kirinya lagi, senyumnya terus merekah dengan wajah merona. Sementara itu Chandra yang masih berada di balik pintu ruangan Gricella, langsung memegangi dadanya. Chandra menelan salivanya dengan kasar. Lalu ia memilih untuk bergegas menuju toilet restoran itu.


"Astaghfirullah, kenapa dengan diriku? Ada apa dengan jantungku? Kenapa rasa ini kembali datang, seperti saat aku jatuh cinta pada Kanza?" monolog Chandra dalam hatinya.


Chandra segera menggelengkan kepalanya. "Tidak! Tidak mungkin aku jatuh cinta dengan wanita itu," Chandra kembali bermonolog dalam hatinya.


"Kau tidak boleh jatuh cinta dengannya, Chan. Tidak boleh!" gumamnya pelan.


Chandra kembali menegaskan dirinya untuk tidak jatuh cinta pada Gricella. Chandra membasuh wajahnya, lalu ia mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap wajahnya yang basah. Chandra menyugar rambutnya, dan merapikan sebentar. Lalu ia keluar dari toilet dan segera meninggalkan restoran milik Gricella.


*


Malam pun tiba, sesuai ucapan Gricella tadi bersama Chandra. Ia segera menemui pria bernama Devano itu di dalam kamarnya. Gricella mengetuk pintu kamar pria itu, tidak lama Devano pun membuka pintu kamar. Devan sempat heran melihat Gricella berada di depan kamarnya.


"Ada apa? Tumben sekali?" tanya Devan seraya mengernyitkan dahinya.


"Boleh aku masuk?"


Tanpa menunggu persetujuan Devan, Gricella sudah lebih dulu menerobos masuk ke dalam kamar pria itu. Devan hanya bisa menghela nafasnya sambil memutar bola matanya malas. Pria itu pun menutup kembali pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Devano kedua kalinya.


Gricella memilih duduk di sofa sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Kak, aku ingin minta bantuanmu."


Perkataan Gricella membuat Devano menaikkan satu alisnya. Lalu ia pun mendekat dan mengambil kursi yang ada di sudut ruangan. Devan pun duduk di hadapan Geicella dan ikut menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Apa?" tanya Devan.


Gricella mengatupkan bibirnya, ada rasa ragu dalam dirinya. Namun segera dienyahkan kembali olehnya, karena Gricella tidak ingin membuang-buang waktu.


"Aku ingin minta bantuanmu dalam mencari keberadaan seseorang," jawab Gricella.


Devan mengerutkan dahinya. "Siapa yang ingin kau cari, hmm? Apa masalahmu dengan orang itu, sampai kau memintaku untuk mencari keberadaanya?" selidik Devano.


Gricella melepas lipatan tangannya, lalu ia menundukkan kepala dan menggigit bibir dalamnya. "A-aku ingin kau mencari Vesha," jawabnya dengan suara lirih.


Devan sedikit terkejut mendengar permintaan Gricella. Namun ia dapat menyembunyikannya dengan sangat baik. Devan juga tahu siapa Vesha, karena Bryan pun juga meminta dirinya untuk mencari keberadaan gadis itu.


"Aku memang sedang mencarinya, dan juga sudah mendapat informasi tentang keberadaannya." jawab Devano.


Gricella mendongakkan kepalanya, menatap Devano dengan tatapan penuh harap.


"Benarkah? L-lalu dia dimana, Kak?" Gricella bertanya dengan penuh harap.


Devan semakin heran dengan sikap Gricella yang begitu sangat ingin tahu kabar dari Vesha.n


"Sebenarnya ada denganmu, Cell? Tidak biasanya kau begitu semangat ingin tahu keberadaan Vesha. Bukankah kau dan Mommy sangat tidak menyukai wanita itu?" Devan menaikkan satu alisnya saat menginterogasi Gricella.


Wajah Gricella berubah muram. "A-aku sangat ingin bertemu dengannya dan minta maaf padanya, Kak. Aku mengakui kesalahanku pada Vesha," jawab lirih Gricella.


Devano menautkan kedua alisnya. Senyumnya mengembang setelah mendengar penuturan Gricella. Tangannya pun terulur mengusap kepala wanita di hadapannya itu. Adik perempuan angkatnya yang selalu manja terhadap dirinya dan juga Bryan.


"Nanti kau juga akan bertemu dengannya, Cella. Bersabarlah, karena saat ini Kakak mu yang bucin akut itu sedang menjemput Vesha. Dia saat ini sedang berada di Surabaya," ujar Devano.


Gricella semakin menatap kakak angkatnya itu dengan tatapan penuh binar. Rasanya ia sangat bahagia dan lega setelah mendengar kalau kakaknya sedang menyusul Vesha.


"Doakan saja Kakakmu itu, agar bisa membujuk kedua orang tua Vesha dan membawa calon Kakak iparmu kembali ke Jakarta. Karena yang aku tahu, kalau seorang wanita yang sudah merasakan sakit hati akan sulit untuk dibujuk. Jadi doakan Bryan supaya bisa meluluhkan hati Vesha kembali,"


Gricella mengangguk dengan cepat setelah mendengar perkataan Devano. Dia akan selalu mendoakan sang kakak agar berhasil mengajak Vesha untuk kembali bersama. Namun jika sang kakak tidak berhasil, maka Gricella juga akan ikut membujuk wanita itu. Dan itu artinya Gricella akan berangkat ke Surabaya untuk menjalankan misinya. Misi membawa Vesha kembali ke Jakarta, dan misi minta maaf pada wanita baik yang sudah ia sakiti.