LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Firasat Tidak Enak



Di dalam kamar Gricella kembali termenung. Hati dan pikirannya kian gelisah, entah apa yang sebenarnya akan terjadi. Gricella melirik jam dinding yang ada di atas dekat meja riasnya.


"Setengah sepuluh," gumamnya.


Gricella menghela nafasnya, lalu ia pun memilih mengambil jaket dan kunci mobil serra dompetnya. Entah mau kemana gadis itu malam-malam seperti ini.


Gricella keluar dari kamar tanpa mempedulikan Naura melihatnya atau tidak. Malam ini Sean tidak ada, karena masih berada di luar kota. Naura mengetahui kalau putrinya keluar, wanita itu dapat melihatnya dari balkon kamarnya.


"Gricella? Mau kemana anak itu?" monolog Naura.


Sementara itu Gricella segera melajukan mobilnya, petugas keamanan sempat bertanya mau kemana pada Gricella. Namun gadis itu hanya menjawabnya ingin pergi ke minimarket. Nampaknya Gricella sengaja berbohong, karena ia yakin kalau petugas keamanan di rumahnya itu akan memberitahukannya pada sang mommy.


Gricella terus melajukan mobilnya keluar dari wilayah perumahannya. Sementara jti, Naura langsung menyusul putrinya, ia berteriak memanggil nama sang supir yang mungkin saat ini sedang beristirahat.


"Lama sekali, sih! Cepat antar aku , kita susul Gricella!" titah Naura yang tidak mungkin dibantah.


"Baik Nyonya, tapi kemana Nona Gricella pergi malam-malam begini?" tanya supir itu.


"Mana saya tahu. Cepat nyalakan mesin mobilnya, dan jangan banyak tanya lagi. Kita cari saja kemana Gricella pergi," sahut Naura dengan ketus.


Supir Naura pun bungkam, ia kemudian menyalakan mesin mobilnya dan segera keluar dari rumah itu. Sebelum mobil Naura benar-benar keluar, ia bertanya pada sang petugas keamanan. Benar saja, petugas keamanan itu mengatakan apa yang dikatakan oleh Gricella tadi.


Naura nampak gelisah, ia terus melihat ke arah jalanan. Memperhatikan setiap mobil yang ada di depan dan sampingnya. Berharap ia menemukan mobil yang dikendarai oleh Gricella.


"Dia ke minimarket mana sih? Dari tadi kita sudah melewati beberapa minimarket, tapi tidak ada mobil Cella."


"Kita coba saja cari di jalan lain, Nyonya. Siapa tahu Nona Gricella ingin ke minimarket yang agak jauh dari rumah," jawab sang supir.


"Ya sudah! Kita jalan terus saja," ujar Naura.


Di mobil lain, Gricella membelokkan mobilmya ke arah kanan setelah dipertigaan jalan. Sedangkan mobil yang dinaiki Naura malah berbelok ke kiri.


Beberapa menit berlalu, kini Gricella sudah tiba di tempat tujuannya. Matanya terus menelisik jalan saat memasuki perumahan yang baru saja ia sambangi.


"Sepertinya benar ini perumahannya. Tinggal cari bloknya saja," gumam Gricella yang masih terus melajukan mobilnya.


Setelah melewati beberapa blok, akhirnya Gricella dapat tersenyum lebar saat menemukan alamat yang sejak tadi dicarinya.


"Ini dia rumahnya. Tapi, kok sepi sekali ya?" gumam Gricella.


Ia terus memperhatikan rumah yang terbilang minimalis. Cukup lama Gricella berada di sana, menunggu di dalam mobil. Berharap ada tanda seseorang berada di dalam yang masih belum tidur. Karena rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Gricella turun dari mobil dan menghampiri rumah tersebut.


Gricella menekan bel sambil mengucapkan salam, namun beberapa kali melakukan itu hasilnya tetap nihil. Hingga ada salah satu tetangga sebelah rumah itu keluar.


"Cari Vesha, ya?" tanya orang itu.


Gricella nampak gugup, dan akhirnya mengangguk. "I-iya, Pak. Vesha nya ada gak ya, Pak? Rumahnya sepi sekali," jawab Gricella yang kemudian balik bertanya.


"Kalau Vesha nya sih ada, tapi kayaknya dia sedang keluar bersama temannya. Kalau orang tuanya Vesha sedang berada di Surabaya," ujar bapak itu.


Gricella ber oh ria sambil menganggukan kepalanya. "Kalau begitu saya balik saja, Pak. Besok saja saya kesini lagi. Terimakasih ya, Pak!" cetus Gricella.


"Iya, Neng. Hati-hati ini sudah malam,"


Gricella pun tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Lalu ia memilih kembali ke dalam mobil, Gricella berdecak saat baru menyadari kalau dirinya lupa membawa ponsel.


Gricella kembali menyalakan mesin mobil dan segera meninggalkan kawasan perumahan dimana Vesha tinggal. Sepanjang perjalanan, lagi-lagi Gricella merasakan firasat yang tidak baik. Gadis itu terus menggelengkan kepalanya seraya merasakan sesak dalam dadanya.


"Ini ada apa ya, kok firasat aku gak enak gini?" monolog Gricella dalam hatinya.


Berkali-kali pula gadis itu beristighfar dalam hatinya, tak lupa juga ia membaca doa agar harinya sedikit tenang. Beberpaa menit berlalu, akhirnya Gricella tiba di rumah besar. Saat masuk, ia disambut oleh salah satu pekerja di rumah itu.


"Lho, Non Cella gak bareng sama Nyonya?" tanya Mbak Dini yang bekerja di rumah itu.


Dahi Gricella berkerut. "Gak, Mbak. Memangnya Mommy keluar?" tanya Gricella balik.


Terlihat kebingungan dan sedikit khawatir dari raut wajah Mbak Dini. "Tadi Nyonya minta Mang Surip untuk menemani Nyonya yang ingin menyusul Non Cella," jawab Mbak Dini.


Jawaban mbak Dini membuat Gricella cukup tercengang dan juga bingung harus menjawab apa. Karena memang dia tidak tahu kalau mommy nya menyusul dirinya. Di sela kebingungannya, suara telepon rumah membuyarkan lamunan Gricella. Mbak Dini segera berlari untuk menerima telepon.


Gricella masih berdiri di tempatnya, memperhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh Mbak Dini. Bahkan Gricella terkejut saat tiba-tiba Mbak Dini agak histeris setelah menerima telepon.


"Siapa yang telepon, Mbak?" Gricella langsung menghampiri Dini yang sudah mengeluarkan air matanya.


"T-Tuan, Non.." jawab mbak Dini terbata-bata.


Grisella segera meraih telepon rumah yang masih dipegang mbak Dini. Lalu ia berbicara pada Sean.


"Ada apa, Dad?" Tanya Gricella yang penasaran dan firasatnya semakin tidak enak.


"Kamu dari mana saja, Cella? Sejak tadi Daddy menghubungi ponselmu,"


"Maaf, Dad. Tadi Cella keluar sebentar dan lupa membawa ponsel," jawab Cella.


Gricella dapat mendengar helaan nafas dari seberang sana. Ia tahu kesalahannya itu.


"Cella, dengarkan Daddy baik-baik." Sean menjeda ucapannya sejenak.


"Iya, Dad. Cella mendengarnya,"


"Barusan anaknya Tante Dewi menghubungi Daddy, dan mengatakan kalau Mommy kamu dan Mang Surip mengalami kecelakaan. Daddy sudah dijalan, sebentar lagi akan tiba di rumah, kita ke rumah sakit bersama-sama. Ingat, tenangkan dirimu!"


Gricella langsung bergeming dan mengangguk pelan, seakan Sean melihatnya. Gricella tidak dapat berkata apa-apa lagi, namun air matanya sudah turun membasahi pipinya. Mbak Dini yang sejak tadi berdiri di dekat Gricella pun mendekat dan menuntun nona mudanya itu untuk duduk. Lalu mbak Dini mengambil alih telepon rumah yang dipegang Gricella.


Sambungan telepon masih tersambung, akhirnya mbak Dini pun berbincang sebentar dengan Sean. Terlihat mbak Dini menatap sendu pada Gricella. Setelah menutup dan meletakkan kembali telepon rumah itu, mbak Dini segera menghampiri Gricella.


"Non," panggil lembut mbak Dini pada Cella.


Gricella yang menangis dalam diamnya pun menoleh. "Mba.." lirih Gricella dengan bibir bergetar.


Gricella langsung memeluk tubuh mbak Dini. Gadis itu meluapkan tangisnya, begitupun juga mbak Dini yang ikut menangis. Diusapnya punggung Gricella dengan lembut.


"Sabar ya, Non. Kita doakan agar Nyonya dan Mang Surip baik-baik saja," ujar mbak Dini memberi ketenangan pada Cella.


"Ini salah Cella, Mbak...."


Tangis Gricella pun semakin pecah, mbak Dini semakin mengeratkan pelukannya. Tangannya tidak berhenti untuk terus mengusap punggung nona mudanya itu.


"Ssst, jangan bilang begitu! Ini bukan salah Non Cella. Nyonya dan Mang Surip kecelakaan itu karena musibah," mbak Dini kembali menenangkan Gricella.