
Masa lalu memang menyimpan banyak kenangan, namun itu bukan alasan Chandra untuk tidak terus melangkah ke depan. Chandra bersyukur karena Tuhan memberikan sebuah kenangan buruk dalam hidupnya, karena itu ia dapat belajar untuk dapat lebih dewasa karena kenangan tersebut.
Rasa kesal tidak karuan masih melanda dirinya. Chandra melajukan kendaraannya menuju apartemen Gricella. Setelah tiba ia segera masuk ke dalam unit apartemen gadis itu, dimana gadis itu telah menunggunya dengan gelisah. Chandra langsung menekan beberapa digit tombol kunci apartemen tersebut. Sebenarnya Bryan sudah memberikan access card pada Chandra, namun pria itu malas mengambilnya dari dalam dompet.
Chandra masuk sambil mengucap salam, hal yang pertama ia lihat adalah sosok gadis yang tertidur di sofa. Chandra menggelengkan kepalanya, ia sebenarnya sudah tahu kalau Gricella menunggu di ruang tv. Karena Karina sudah memberitahukannya terlebih dahulu. Padahal Karina sudah mengajaknya untuk pindah ke kamar, namun Gricella menolaknya.
Chandra mendekat dan berjongkok di depan gadis yang masih terlelap itu. Seulas senyum terbit diwajahnya, tangannya pun terulur menyingkirkan rambut yang sedikit menutupi wajah Gricella. Entah kenapa setelah melihat wajah gadis itu, hati Chandra menjadi tenang. Bahkan ia hampir lupa kalau tadi habis bertemu dengan sang mantan yang telah membuat luka di hatinya. Entah kemana rasa kesal dan amarah itu menghilang.
"Cantik," gumam Chandra saat mengagumi wajah cantik Gricella.
Gricella merasa terusik dengan sentuhan Chandra, matanya mengerjap berkali-kali. Gricella tersenyum saat melihat sosok pria yang sejak tadi ia rindukan.
"Chand," panggil Gricella pelan.
Chandra membantu Gricella untuk duduk, lalu ia pun ikut duduk di sebelah gadis itu. Posisi mereka saat ini begitu dekat, entah sadar atau tidak atas tindakan mereka itu. Namun satu hal yang membuat Gricella senang adalah, Chandra terlihat menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Tentu saja itu mampu membuat Gricella tersipu malu.
Gricella menoleh dan tatapan keduanya pun saling mengunci. Degup jantung keduanya berdebar begitu kencang. Chandra menatap begitu intens ke dalam mata Gricella, lalu tatapan itu turun ke hidung, dan berakhir pada bibir ranum milik Gricella.
Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, kini bibir keduanya sudah saling menempel. Bahkan Chandra memberi ******* kecil pada bibir Gricella. Cukup lama mereka saling berbelit lidah dan saling mengecap. Hingga dirasa keduanya membutuhkan pasokan udara, barulah mereka berhenti untuk saling menyesap.
Nafas keduanya masih berburu, dada mereka naik turun menghirup udara sekitar. Chandra mengusap sisa salivanya yang ada di bibir Gricella.
"Maaf!" lirihnya.
Gricella melipat kedalam bibirnya, dan mengangguk pelan. Sebenarnya ia tidak mempermasalahkan jika Chandra menciumnya lagi. Hanya saja kali ini, Gricella dapat melihat tatapan penyesalan dari Chandra atas ciuman tadi.
Gricella menatap Chandra. "Apa kamu menyesal telah menciumku?" tanya gadis itu begitu gamblang.
Chandra tertegun mendengarnya. "B-bukan itu maksudku, Cella. Tapi…"
Geicella tersenyum getir. "Tidak apa, Chan. Maafkan aku juga karena telah lancang membalas dan menikmati ciuman itu," potong Gricella cepat.
"Ah, ya! Kamu membeli pesananku?" tanya Gricella mengalihkan pembicaraan mereka.
"Hmm, tentu. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya untukmu!" jawab Chandra sembari berdiri meraih bingkisan yang tadi ia bawa.
"Ini!" Chandra menyerahkan puding cup dengan rasa mangga.
Gricella tersenyum dan menatap berbinar. "Terima kasih," dengan cepat Geicella mengambil puding cup tersebut.
Chandra tersenyum sambil mengusap kepala Gricella dengan lembut. "Aku ke dapur dulu. Aku akan memasak makan malam untuk kita berdua," Chandra langsung berdiri dan meninggalkan Gricella yang masih mematung karena ulah Chandra tadi.
Tanpa sadar gadis itu pun meraba kepalanya dan tersenyum malu. Gricella terus menatap punggung Chandra dari tempatnya. Rasa kagum atas sosok Chandra kembali menguasai hatinya, bahkan saat ini ia berandai-andai kalau mereka adalah sepasang kekasih atau sepasang suami istri. Ah, Gricella pasti akan sangat bahagia jika bersuamikan Chandra. Gricella berjanji akan terus mencintai Chandra apapun yang terjadi, ia tidak akan meninggalkan Chandra. Walau nantinya ia akan kalah dengan masa lalu dari pria itu.
Entah kekuatan dari mana, tiba-tiba saja tubuh yang terasa lemas tadi kini telah terlihat begitu segar. Gricella pun berjalan menghampiri Chandra dan tentu saja membuat pria itu terkejut.
"Lho, kenapa kamu ke sini?" Chandra segera menghampiri Gricella dan memasaknya untuk duduk di kursi. Namun gadis itu menolak.
"Aku ingin membantumu," jawab Gricella.
Chandra menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh, kamu masih lemas!" larang Chandra.
"Aku sudah sedikit lebih baik, Chan. Aku ingin membantumu memasak," kekeh Gricella.
Chandra berhasil dibuat gemas oleh Gricella. Karena saking gemesnya, akhirnya pria itu mendudukkan gadis itu di meja pantry. Lalu ia pun mendekatkan wajahnya pada Gricella.
"Tidak bisakah kamu menuruti perintahku lagi? Ini demi kebaikanmu, aku tidak ingin kamu terluka atau kembali merasakan pusing," bisik Chandra yang mampu membuat gadis itu membeku.
"Kenapa, hmm? Kamu ingin aku menciummu lagi." Chandra menaikkan satu alisnya.
Gricella nampak tersipu malu, gadis itu menundukkan kepalanya. Lalu Chandra kembali menarik dagu gadis itu.
"Jadilah gadis penurut," pinta Chandra seperti sebuah mantra yang mampu membuat Gricella mengangguk patuh.
Chandra tersenyum melihat Gricella yang begitu patuh padanya. Gricella tertegun melihat senyum tulus di wajah Chandra. Ia pun ikut tersenyum lebar.
"Kalau begitu aku akan duduk disini saja, boleh ya?" mohon Gricella.
Chandra menghela nafasnya dan mengangguk pelan. "Baiklah, diam-diam disitu!"
Gricella kembali mengangguk patuh atas perintah Chandra. Gricella tak berhenti mengagumi Chandra, terlebih saat pria itu berkutat dengan pisau dan peralatan memasak lainnya.
Saat memasak, Chandra sempat meminta saran akan rasa pada Gricella. Setelah mendapatkan anggukan dan pujian dari gadis itu Chandra pun tersenyum. Satu menu masakan telah siap disajikan oleh Chandra.
Kini pria itu tengah memasak satu menu lagi, menu akhirnya adalah salad buah. Itupun permintaan Gricella.
"Chandra, maukah kamu menikah denganku?"
Tak…
"Ssshhh," Chandra meringis saat tanpa sengaja jarinya teriris pisau.
Gricella pun langsung loncat dari atas meja pantry. Lalu ia menarik tangan Chandra dan mengisap jari yang berdarah tersebut. Chandra tertegun melihat apa yang dilakukan oleh Gricella. Lalu gadis itu menunduk Chandra ke wastafel dan mengguyur jarinya dengan air.
"Tunggu sebentar!" Gricella segera berjalan menuju meja televisi.
Tak lama gadis itu kembali sambil membawa kotak P3K dan mengeluarkan hansaplast untuk menutup luka di jari Chandra.
"Makanya hati-hati! Aku kan hanya memintamu untuk menikah denganku, kenapa kamu malah memotong jarimu. Untung tidak putus," protes Gricella yang nampak tak bersalah.
Chandra tercengang mendengar perkataan Gricella. "Yak, bagaimana aku tidak terkejut dengan apa yang kamu ucapkan tadi. Tiba-tiba kamu mengajakku menikah," sahut Chandra.
Lalu tangan pria itu dengan cepat menempel di kening Gricella. "Apa demammu itu telah membuat otakmu bermasalah? Atau sebaiknya kita periksa ke rumah sakit!"
Gricella menggeleng dengan cepat. "Jangan bawa aku ke sana! Aku tidak apa-apa, dan otakku juga tidak bermasalah. Aku serius dengan ucapanku tadi," Gricella mencebikkan bibirnya.
Chandra terkekeh dan masih tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran gadis itu. Bahkan Gricella tidak merasa malu atau gugup saat mengatakan hal itu.
"Sebaiknya kita makan. Duduklah, aku akan menyiapkannya!" titah Chandra.
Gricella masih merengut kesal karena ajakannya tidak ditanggapi serius oleh Chandra. Chandra yang melihat gadis itu merengut hanya bisa terkekeh kecil. Mereka pada akhirnya makan malam dengan Gricella yang terus mengoceh betapa lezat dan nikmatnya masakan Chandra.
Gricella menatap sendu ke arah Chandra. Pria itu pun tersenyum tipis. Chandra mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
"Ini sudah larut malam, dan aku harus pulang. Besok pagi-pagi sekali aku kesini lagi," ucap Chandra.
"Mendingan menginap saja. Jangan pulang, temani aku disini!" rengek Gricella.
Sejak tadi Chandra terus berusaha membujuk Gricella. Entah kenapa Chandra merasa sangat gemas dengan sikap Gricella yang terlihat begitu manja padanya.
"Tidak bisa, apa kata orang nanti. Kalau aku menginap di apartemen kamu. Apalagi kita bukan suami istri," ujar Chandra memberi penjelasan pada gadis itu.
"Kalau begitu kita menikah saja,"