LET ME DOWN SLOWLY

LET ME DOWN SLOWLY
Klien Tak Terduga



Pagi ini chandra dan Fedi sudah bersiap untuk segera menuju perusahaan. Chandra membonceng Fedi, mereka ke perusahaan menggunakan motor kesayangan Chandra. Padahal Marvin sudah menawarkan Chandra untuk menggunakan mobilnya saja. 


Namun Chandra menolaknya, dengan alasan tidak ingin selalu merepotkan sahabatnya itu. Padahal Marvin sendiri tidak merasa direpotkan dan tidak pernah terbebani saat membantu Chandra. 


Setibanya di sana mereka disambut oleh beberapa pekerja. Ya, setelah membangun perusahaan dan memasang info lowongan kerja di situs pencarian pekerjaan. Kini Chandra sudah merekrut beberapa karyawan kurang lebih 30 orang, dengan beberapa posisi berbeda-beda. 


Chandra juga memperkenalkan Fedi sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadinya kepada seluruh karyawannya. Siang ini Chandra rencananya akan menemui kliennya di restoran Nau Cafe & Resto pukul 11 siang sembari makan siang di tempat tersebut. 


Chandra kembali mengajak Fedi untuk menemui klien mereka. Tapi kali ini Fedi yang mengendarai motor milik Chandra. 


"Setelah menemui klien kita ke showroom milik Marvin," ujar Chandra selagi mereka dijalan. 


Fedi mengangguk. "Mau beli mobil?" celetuk Fedi. 


"Hahaha, iya. Darimana kamu tahu?" tanya balik Chandra. 


"Kemarin Mas Marvin sendiri yang bilang ke aku, pas Mas Arlan lagi di dalam kamar." Fedi sedikit berteriak saat bicara karena sedang mengemudi tambah lagi berbenturan dengan suara bising kenalpot kendaraan lain. 


"Ibu sama Karina tahu?" tanya Chandra lagi.


Fedi menggelengkan kepalanya. "Gak, Mas. Mas Marvin bilang sama aku doang," jawab Fedi.


Chandra langsung bernafas lega. "Syukurlah, rencananya ini biar dijadiin surprise untuk mereka." 


Dibalik helm yang dikenakan Fedi, pria itu tersenyum. Betapa beruntungnya ia memiliki kakak sepupu seperti Chandra yang begiti peduli dan sayang dengan ibu dan adiknya. Bahkan Fedi juga beruntung mendapatkan pekerjaan menjadi asisten kakak sepupunya itu. 


Chandra sudah terlalu banyak menbantu keluarga Fedi. Maka dari itu, ia akan selalu mendedikasikan dirinya untuk selalu bersama Chandra dan menjadi kaki tangan yang setia untuk kakak sepupunya itu. 


Beberapa menit kemudian, mereka pun tiba di parkiran restoran yang ingin mereka datangi. Fedi mengendarai motor Chandra dengan baik, dan sesui arahan dari Chandra juga saat menunjukkan dimana alamatnya.  Keduanya pun masuk ke dalam dan mereka disambut oleh beberapa pegawa restoran tersebut. 


Setelah mengatakan maksud dan tujuan kedatangan Chandra dan Fedi, mereka pun dipersilakan menunggu di ruang VIP. 


Sementara itu, di ruangan lainnya. Seorang gadis sedang bersiap untuk menemui kliennya. Pintu ruangannya pun terbuka, dan menampilkan seorang pria masuk ke dalam. 


"Maaf, Nona! Klien yang akan kita temui sudah tiba. Mereka sudah menunggu di ruangan yang sudah kita siapkan," ujar pria itu. 


"Oh, baiklah. Kalau begitu kita segera temui mereka. Apakah kamu sudah siapkan kontrak kerjasamanya?" 


Pria itu mengangguk. "Sudah, Nona! Saya sudah menyiapkannya," jawabnya. 


"Oke, ayo!" 


Mereka berdua pun keluar dari ruangan terzebut dan segera menemui Chandra dan Fedi yang berada di ruangan VIP. Di sana Chandra dan Fedi terlihat sedang mempersiapkan semua berkas yang akan mereka tandatangani. Pintu pun terbuka dan membuat kedua pria yang berada di dalam ruangan tersebut menoleh. 


Mata Chandra membesar saat melihat siapa klien yang akan ditemui olehnya. Begitupun juga si wanita itu, ia terkejut melihat Chandra yang sedang duduk. 


"Surya, apakah mereka yang akan kita temui?" tanya wanita itu berbisik pada asistennya. 


"Iya, Nona." 


"Mampus aku!" gumam wanita itu dalam hatinya. 


Posisi Chandra pun tidak menyangka akan bertemu lagi dengan wanita yang sudah membuatnya kesal. 


Chandra dan Fedi berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan orang yang akan menjadi klien mereka.  Chandra harus tersenyum dan bersikap profesional demi kelancaran bisnisnya.


"Selamat siang Tuan Chandra dan.." 


"Fedi, dia asisten saya!" jawab Chandra memotong ucapan Surya. 


"Ah, ya. Selamat datang Tuan Fedi, perkenalkan ini Nona Gricella. Beliau adalah pemilik dari restoran ini," Surya memperkenalkan atasannya itu pada kedua kliennya. 


Gricella pun berjabat tangan pada Chandra dan Fedi. Saat berjabat tangan dengan Chandra, wanita itu merasakan adanya desiran aneh yang seperti sengatan listrik bervolume kecil. Gricella terlihat mulai gugup, tanpa wanita itu sadari kalau nyatanya Chandra juga merasakan hal yang sama. Tapi pria itu dengn cepat mengenyahkannya, Chandra kembali memasang wajah datar dan dinginnya di hadapan Gricella. 


Surya sempat menangkap gelagat aneh dari atasannya itu. Namun pria itu tidak ingin ambil pusing, baginya pertemuan kerjasama ini harus terlaksana. Mengingat restoran mereka semakin membutuhkan supplier untuk memenuhi bahan pokok makanan untuk restoran mereka diberbagai cabang. 


Dalam pertemuan mereka hari ini, yang lebih banyak berbicara adalah Surya. Sedangkan Gricella kadang-kadang menimpali dan menjawab seadanya. Begitupun Chandra dan Fedi yang terlihat lebih nyaman berbicara pada Surya. 


"Baiklah, kami sudah setuju akan menggunakan perusahaan anda sebagai suplier dinrestoran kami. Ini adalah surat kontrak kerjasamanya. Silakan dibaca terlebih dahulu! jika ada hal yang tidak bisa disetujui kita bisa menggantinya," ujar Gricella. 


Surya menyodorkan kontrak kerjasama tersebut pada asisten Fedi dan memberikannya pada Chandra. Chandra pun membaca semua poin-poin dari isi kontrak kerjasama tersebut. Tidak lama ia pun menandatangani surat tersebut. 


Diam-diam Gricella terus memperhatikan Chandra yang terlihat begitu serius membaca isi kontrak kerjasama mereka. Tanpa sadar wanita itu tersenyum.


"Serius aja cakep, apalagi kalau lagi senyum." batin Gricella yang masih memperhatikan Chandra. 


Fedi yang sempat menangkap tingkah Gricella pun mengernyitkan kedua alisnya. Lalu ia melirik sekilas ke arah Chandra, bahkan Fedi pun tersenyum tipis saat mengetahui Gricella sedang memperhatikan kakak sepupunya itu. 


"Sepertinya Nona ini terpesona pada Mas Arlan," gumam Fedi dalam hatinya. 


Jujur saja Fedi sangat ingin tertawa dan bersorak saat melihat sikap Gricella. Fedi sangat ingin memberitahukan Chandra kalau wanita dihadapan mereka itu sedang memperhatikan pria itu. Namun niatannya segera diurungkan mengingat mereka masih berada di jam kerja. Bagaimanapun juga Fedi harus bersikap profesional. 


Setelah berbincang-bincang mereka pun kini sedang menikmati jam makan siang bersama. Gricella merasa semakin gugup dan sulit bernafas, karena ini pertama kalinya ia berbincang lama oleh Chandra. Walaupun kali ini ditemani oleh kedua asisten mereka. 


Perbincangan mereka pun tidak luput dari menu makanan di restoran milik Gricella. Bahkan tidak malu-malu, Chandra memuji makanan di tempat ini. 


"Jujur saja makanan ini sangat  enak," ujar Chandra. 


Gricella tersenyum lebar menatap Chandra dengan mata berbinar. Entah kenapa pujian Chandra itu begitu membuat hati wanita itu senang. Padahal bukan dirinya yang masak, tapi rasanya sesenang itu. 


Gricella masih sering curi-curi pandang pada Chandra. Namun tiba-tiba saja Gricella tersedak saat tatapan matanya bertemu oleh mata Chandra. 


"Hati-hati, Nona!" Surya memberikan minum pada Gricella. 


Wanita itu pun langsung mengambilnya dan meminum air tersebut hingga tandas. 


"Terimakasih," ucap Gricella seraya mengusap bibirnya dengan tisu. 


Sementara itu Chandra mengulum senyumnya, karena berhasil menangkap basah Gricella yang terus memperhatikannya. Sambil mengunyah makanannya, Chandra mengangkat satu tangannya dan mendekatnya ke bibirnya. Sambil mengunyah, ia menahan tawanya.  


Gricella semakin merasa sangat malu, wajahnya pun memerah menahan rasa malu itu. Bahkan ia merutuki dirinya sendiri.


Chandra dan Fedi berpamitan setelah mereka makan siang bersama Gricella dan Surya.