
Pertemuan Chandra dan kedua sahabatnya pun berakhir. Kini mereka telah meninggalkan restoran cabang milik Gricella. Tidak lama meteka pergi, Kanza keluar dari kitchen karena di sana tidak terlalu sibuk.
Kanza pun bergegas keluar, ia berharap bisa bertemu dan menyapa Chandra. Namun sayang ia harus menelan kekecewaan, karena sosok yang ingin ditemuinya tidak ada disana. Seakan Tuhan belum menginginkan mereka untuk saling bertemu atau saling menyapa.
Dengan wajah murungnya, Kanza kembali bekerja. Walau rasanya tidak begitu semangat.
Sementara ditempat lain, Gricella senang mendapat kabar dari Surya kalau Chndra datang ke restoran cabang bersama teman-temannya.
"Seandainya aku tidak sibuk disini, mungkin saja aku bisa menemui Chandra di reatoran cabang B. Sayangnya aku harus tetap disini karena harus menggantikan Soraya," gumam Gricella.
Soraya hari ini tidak masuk, karena semalam pukul 12. Wanita itu memghubungi Gricella dan mengatakan kalau putra Soraya masuk ke rumah sakit dan harus dirawat beberapa hari ke depan. Akhirnya Gricella pun mengizinkan Soraya untuk cuti, dan fokus mengurus kesembuhan sang putra.
Hari pun berlalu, sudah hampir satu minggu Gricella disibukkan dengan restorannya. Kesibukan Gricella itu tentu saja membuat Chandra merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Biasanya setiap hari Gricella selalu memberi kabar dan mengirim beberapa makanan untuk pria itu. Namun hampir seminggu ini gadis itu seakan menghilang begitu saja. Membuat Chandra merasakan kehampaan dalam dirinya.
Chandra melirik ponselnya dan mengambilnya. Lalu ia melihat pesan terakhir percakapan antara dirinya dan Gricella.
"Sudah lima hari dia tidak menghubungiku. Apakah dia sudah menyerah?" monolog Chandra.
Karena rasa penasaran yang sangat ingin tahu keadaan gadis itu. Akhirnya Chandra menghubunginya, namun segera diurungkan niatnya. Chandra memilih mengirim sebuah chat saja daripada harus berbicara pada Gricella. Ia tidak mau kalau gadis itu tahu bahwa dirinya sangat gugup saat bicara.
Assalamualaikum, lama tidak ada kabar. Apakabar, Cell?"
Lucu, berkali-kali Chandra menghapus pesan yang akan dikirimnya. Akhirnya hanya kata-kata itu saja yang mampu ia ketik. Cukup lama pesan itu terkirim, namun sepertinya Gricella masih belum membalas pesan Chandra.
Chandra terlihat begitu gusar, ia berkali-kali mencoba tidak peduli dengan ponselnya dan mengalihkan perhatiannya pada layar laptopnya. Namun tetap saja, pria itu tidak bisa menutupi kegelisahannya, karena sudah hampir setengah jam Gricella tidak membalas pesannya.
Chandra terkejut saat tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dari luar. Setelahnya ia pun menyuruh orang itu masuk ke dalam ruangannya. Seorang wanita berpenampilan formal pun masuk ke dalam.
"Selamat siang Pak Chandra, maaf mengganggu waktu anda!" ujar wanita itu.
"Hmm, ada apa Mela?" tanya Chandra.
"Ini Pak, berkas laporan keuangan yang tempo hari Bapak minta!" Mela menyerahkan sebuah map pada Chandra.
Chandra pun mengambil map tersebut, dan mengeceknya. "Apakah Fedi sudah kembali?" tanya Chandra yang masih melihat-lihat berkas tersebut.
"Sudah, Pak! Baru saja Pak Fedi tiba di ruangannya. Tadi beliau sempat mengatakan kalau tidak bertemu dengan Nona Gricella karena beliau sedang sakit," jawab Mela yang sukses membuat Chandra terkejut.
"Apa? Gricella sakit?" tanya Chandra dengan wajah yang begitu panik.
Mela pun ikut tercengang melihat ekspresi bosnya itu. "I-iya, Pak. T-tadi Pak Fedi bilang begitu," jawab Mela tergagap.
"Cepat panggil Fedi, suruh dia kesini!" titah Chandra.
Mela mengangguk cepat. "I-iya, Pak "
Mela pun bergegas keluar dari ruangan Chandra, terlihat wajah bingung dari Mela. Wanita itu terus berjalan menuju ruangan Fedi. Fedi dapat melihat Mela dari kaca jendela dalam ruangannya, dahi pria itu berkerut membentuk tiga barisan.
"Ada apa denganmu, Mel?" Fedi langsung bertanya saat wanita itu baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Oh, eum, itu… kamu disuruh ke ruangan Pak Chandra," jawab Mela.
Fedi menaikkan satu alisnya. "Untuk apa?" tanya balik Fedi.
Mela menaikkan kedua bahunya, entah pertanda ia tidak tahu atau ragu menyampaikannya.
"Aku tidak tahu, mungkin saja kamu dipanggil mengenai Nona Gricella." jawab Mela.
"Nona Gricella?" beo Fedi.
Fedi menghela nafasnya, seakan ia tahu apa yang akan ditanyakan kakak sepupunya itu. Fedo pun berpamitan pada Mela dan segera menuju ruangan Chandra. Sesampainya di ruangan itu, benar dugaannya kali ini kalau Chandra akan bertanya mengenai Gricella.
"Lalu dia dirawat di rumah sakit atau…"
"Nona Gricella tidak akan pernah mau ke rumah sakit, Tuan. Bu Soraya mengatakan hal itu tadi. Nona Gricella ada di apartemennya," Fedo langsung memotong pertanyaan Chandra dengan menjawabnya lebih cepat.
"Oh, oke!" Chandra langsung berdiri dan membuat Fedo bingung.
Chandra menatap Fedi. "Tolong kamu handle semuanya! Aku pergi dulu, mungkin tidak akan kembali ke kantor. Aku akan langsung pulang ke rumah," pinta Chandra.
Fedi pun tersenyum tipis, bahkan hatinya saat ini merasa sangat senang melihat kakak sepupunya itu terlihat sangat khawatir terhadap Gricella. Chandra pun langsung meninggalkan Fedi sendirian di ruangannya.
"Semoga kamu bisa menerima Nona Gricella, Mas. Aku hanya bisa mendoakan kalian agar selalu bersama," gumam Fedi dalam hatinya saat menatap punggung Chandra.
Sementara itu Chandra sudah mengendarai mobilnya, sepanjang perjalanan ia mencoba menghubungi ponsel Gricella.
"Assalamualaikum," ucap Gricella setelah sambungan terhubung.
Namun kali ini suara gadis itu terdengar begitu serak, seperti orang yang baru saja bangun tidur.
"Waalaikumsalam, bagaimana keadaanmu?" tanya Chandra.
Diseberang sana, Gricella nampak mengerutkan dahinya. Lalu ia pun melihat kembali siapa yang telah menghubunginya. Matanya menatap tajam saat mengetahui bahwa Chandra lah yang menghubunginya.
"Chandra?"
"Iya, ini aku. Kamu ada di apartemen?" tanya Chandra.
"Iya," jawab Gricella dengan suara lemahnya.
"Sebentar lagi aku akan sampai, apakah kamu sudah makan?"
"Aku malas makan,"
Terdengar suara helaan nafas diseberang sana. "Tunggu aku!"
Chandra langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Membuat Gricella bingung, lalu ia pun segera menaruh ponselnya begitu saja di samping bantal. Lalu ia pun kembali memejamkan matanya, kepalanya rasanya begitu berat dan hanya ingin memejamkan matanya saja.
Chandra berkali-kali menekan bel apartemen Gricella. Namun tidak dibukakan juga, sehingga ia menemui petugas resepsionis untuk meminta membukakan pintu unit apartemen Gricella. Chandra mengatakan kalau dirinya ingin mengantarkan obat dan makanan untuk Gricella yang sedang sakit. Namun sayangnya pihak apartemen tidak mengizinkan Chandra masuk dengan alasan privasi si pemilik. Bahkan Chandra diminta untuk menitipkan obat dan makanannya di meja resepsionis.
Chandra terpaksa menghubungi Bryan dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Bryan sungguh sangat terkejut mendengar sang adik sakit. Bryan pun sempat berbicara pada pihak manajemen apartemen dan setelahnya mereka pun mengizinkan Chandra untuk masuk ke unit Gricella.
Setelah melewati prosedur keamanan dari manajemen apartemen. Kini Chandra bersama dua petugas apartemen itu pun sudah berhasil membuka pintu unit apartemen Gricella.
"Terima kasih, Pak!" ujar Chandra.
"Sama-sama Tuan, kalau ada perlu apa-apa anda bisa langsung menghubungi petugas resepsionis." jawab petugas apartemen itu.
Chandra pun masuk ke dalam setelah kedua petugas apartemen itu pergi. Karena waktu sudah menunjukkan sore hari, akhirnya Chandra menyalakan lampu ruangan tersebut. Ini pertama kalinya Chandra masuk ke dalam unit apartemen Gricella.
Setelah semua lampu dalam ruangan itu menyala, Chandra menaruh bungkusan yang dibawanya tadi ke atas meja makan. Lalu ia mencari keberadaan Gricella yang sejak tadi telah membuatnya khawatir.
Chandra membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Ruangan itu terlihat gelap, hanya sedikit sinar matahari sore yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Chandra pun menekan saklar lampu kamar Gricella.
"Cella,"