
Pelukan Yang Tiba-Tiba
Setelah resminya Riyan menjadi ketua kelas, Bu Cinta mempersiapkan kelas untuk pulang.
"Anak-anak karena kita sudah menentukan struktur kelas, sudah saat nya kita pulang."
Semua
"Baik bu..."
"Silahkan Riyan sebagai ketua kelas untuk menyiapkan kelas untuk kelas."
"Duduk siap, berdoa mulai..."
"Selesai beri salam..!"
Semua
"Assalamualaikum warahmatullahi wabbarakatuh...!"
"Waalaikumsalam, silahkan anak-anak untuk pulang. Langsung pulang yah jangan main sebelum bilang orang tua kalian...!" Kata Bu Cinta
Setelah itu kami pamit dan keluar kelas, semua kelas sepuluh pulang tanpa terkecuali. Karena seminggu ini hanya untuk masa percobaan masuk sekolah. Setelah nya kami keluar kelas dan berpamitan kepada Bu Cinta, Aku berkeinginan untuk berkeliling stasiun nanti sore. Aku mengajak Riyan untuk pergi ke stasiun untuk nemani ku sore nanti.
Riyan menyetujui usulan ku, kami pun turun kebawah. di tangga kami bertemu dengan Ghiffar yang baru keluar dari kelasnya.
"Hey Gip, baru keluar kelas...?"
"Iya nih Ji, sangking seru nya materi nya."
"Oh pasti guru PKN ya...!"
"Loh kok kamu tau Ji?"
"Iya dong, soalnya Pak Winarto orang nya asik dimata ku."
"Emang bener ya kalau guru PKN kalau sudah cerita serasa tidak mau pulang."
"PKN memang seru kalau di jelaskan, tapi pusing saat di soal ujian."
"Bener banget..."
"Gip, ntar sore ada acara...?"
"Gak ada tuh emang kenapa?"
"ke stasiun yuk, ntar aku samper...!"
"Yaudah jam berapa?"
"Jangan sore banget, paling jam 4 kita kumpul di sono."
Perkenalan
"Oh iya Gip, kenalin ini Riyan."
"Kenalin Riyan."
"Ghiffar salam kenal yah."
"Gimana nih kalian mau gak?"
"Ayo aja aku mah ..!" Kata Riyan
"Yaudah jam 4 kita kumpul di stasiun."
"Oke..!"
Setelah itu kami, bergegas menuju parkiran sekolah untuk mengambil motor kami. Saat di depan ruang osis aku tersadar bahwa kunci motor ku tidak ada di kantong celana ku. Aku baru teringat bahwa kunci motor ku sempat aku taruh di meja ku. Setelah itu aku meminta mereka untuk duluan pulang dan aku mengambil kunci motor ku yang tertinggal di kelas.
Bergegas aku pun menuju kelas ku. Sesampainya didepan kelas ku, aku melihat ada Gita dan tiga lelaki di dalam kelas. Aku tak tahu para lelaki itu. Aku pun segera menegur mereka dengan suara lantang.
"Hey kalian sedang apa kalian disini!!!"
Terkejut dengan perkataan ku, wajah mereka tertuju kepada ku.
"Siapa kau hah?!!!"
"Ini kelas gw, kalau begitu kalian siapa hah!!?!"
"Emang kenapa kalau kami disni..!!"
"Ya ini bukan kelas lu pada..!!!"
"Lu ketua nya disini..!?!"
"Bukan emang napa kalau bukan ketua hah!!!"
"Weh ngajak ribut nih anak.!!"
Saat mereka menghampiri ku, Pak Winarto datang dan memukul pintu dengan sangat keras.
"Ada apa ini, kenapa kalian ribut-ribut."
"Maaf pak, tapi mereka masuk kekalas saya dan gangguin Gita pak...!"
"Maaf pak..!"
"Dah kalian balik kekelas kalian, dan kalian berdua cepet pulang yah."
"Baik pak."
Beruntung Pak Winarto datang, kalau tidak aku akan habisi mereka. #Pede
"Kamu gak apa apa Gita...?"
"Aku gak apa apa kok..." Gita menangis sembari mengatakan itu
"Ih kenapa kamu nangis, nih tisu punya ku." Beruntung aku memiliki tisu di kantong belakang ku.
"Terima kasih..."
"Kalau mereka gangguin kamu lagi bilang aja sama aku yah." Aku berpose seperti seorang pahlawan
"Iyah...!" Ia tertawa melihat ku berpose aneh
Setelah itu aku bergegas mencari kunci motor ku, aku menghampiri meja ku dan melihat di bawah kolong ternyata benar ada kunci motor ku bersama pulpen ku yang tertinggal. Aku mengambil kedua nya dan segera menuju pintu. Di saat aku mau keluar Gita mencegah ku untuk tidak pulang dan ia ingin aku menemani nya sebentar sembari menunggu jemputan nya tiba.
"Anu Rama, kamu bisa temenin aku sebentar...?"
"Jemputan mu masih lama ya...?"
"Kok kamu tahu?"
"Aku sempet liat kamu kemarin."
"Jadi boleh kan temenin aku sebentar."
"Yaudah."
15 menit kemudian...
Setelah percakapan yang panjang dengan Gita, jemputan Gita sudah dekat dengan sekolah dan aku di boleh kan untuk pulang oleh Gita. Setelah Obrolan dengan Gita, aku jadi prihatin dengan nya. Sebab semasa SMP ia tidak memiliki banyak teman, SMP nya bahkan adalah Sekolah khusus perempuan. Jadi tidak heran bahwa ia pendiam di sekolah ini.
Ia hanya memiliki dua teman semasa SMP, tapi setelah mereka semua lulus tak ada satupun teman nya yang melanjutkan sekolah yang sama dengan Gita. Aku pun berkata bahwa "Kau boleh memiliki sedikit teman, namun mereka dapat membuat mu senang dan dapat membuat mu berkembang." Seperti itu lah yang aku katakan kepada Gita.
"Terima kasih yah udah nemenin aku bahkan mendengar keluh kesah ku."
"Gak apa apa, jemputan kamu udah mau sampe?"
"Sepertinya iya..."
Setelah itu aku pun menuju pintu untuk keluar kelas. Saat aku ingin keluar Gita memelukku dari belakang dan mengatakan dengan suara pelan.
"Terima kasih pangeran."
Setelah itu ia berlari keluar kelas dan turun menuju gerbang. Aku terkejut dengan pelukan yang tiba-tiba itu. Aku terdiam sejenak setelah ia memeluk ku. Aku berjalan perlahan menuju tangga dengan perasaan yang tak diduga akan mendapatkan pelukan dari perempuan. Aku pun berpikir bahwa mungkin benar Gita adalah Putri Utara/Rosella yang ada didalam mimpi ku.
Sesampainya di parkiran, Aku mengeluarkan motor ku dan menyalakan nya. Terlihat didepan gerbang ada Gita yang sedang memasuki mobil, saat aku mengeluarkan ku dari gerbang sekolah. Aku melihat mobil Gita membukakan jendelanya. Didalam mobil Gita memberikan ku Kiss Away atau Cium jauh dari mobil nya. Lagi dan lagi aku mendapatkan kejutan yang tak terduga dari Gita.
Bagai suara kilat yang sangat besar, jantung ku berdebar sangat kuat. Kaki dan tangan ku bergetar, bibir ku tak bisa mengucapkan satu patah kata pun. setelah itu aku pun mengendarai motor ku dengan sangat pelan karena tangan ku masih bergetar karena hal yang tak terduga yang diberikan Gita kepada ku. Didalam perjalanan pun aku masih melamun dan tak percaya pada kejadian hari ini.
Rehat Sejenak
Sesampainya di rumah, terlihat bahwa rumah dalam keadaan kosong. Aku memarkirkan motor lalu masuk kerumah dengan kunci cadangan. Saat didalam aku membuka sepatu ku lalu segera menuju kamar ku. Dikamar aku masih bertanya kepada ku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi hari ini dan kenapa Gita melakukan itu kepada ku hari ini. Semua imajinasi ku keluar sampai akhirnya ibu pulang dan membuka pintu.
Aku segera turun kebawah untuk menemui ibu untuk salim dan memberitahu bahwa aku akan pergi berkeliling ke stasiun untuk nyore bersama teman-teman.
"Ibu baru pulang?"
"Iya nak, ibu barusan beli gula dan bahan lainnya yang habis di dapur."
"Ibu Rama boleh gak main ntar sore bareng Ghiffar ke stasiun...?"
"Ngapain kamu ke stasiun?"
"Nyore sambil jajan, boleh kan?"
"Oh nyore, boleh aja asal pulang nya jangan sampe malem ya."
"Kalau boleh minta duit sekalian bu."
"Buat apa? uang jajan kamu masih ada kan?"
"Masih tapi Rama takut kurang aja."
"Itu mah akal-akal kamu aja."
"Ah ibu boleh lah..."
"Yaudah ntar pas kamu berangkat nanti ibu kasih duitnya."
"Ibu mau nitip apa ntar...?"
"Kalau ada Cendol yang sering ayah beli ibu mau itu, kalau gak ada ibu mau surabi yah...!"
"Oke bu."