
Bintang Merah
Gita yang cemburu, membuat ku kepikiran sampai malam hari. saat aku menarik selimut ku, aku seperti mendengar suara Gita yang sedang cemburu tadi sore. Dia itu perempuan yang lucu sekali, bahkan saat cemburu pun ia masih saja lucu. Malam ini, aku berharap bisa bertemu dengan nya sebagai Rose di di alam dunia mimpi. Aku memejamkan mata, dan berdoa semoga mimpi ku dan mimpi Gita dapat bersatu.
15 Menit Kemudian...
Setelah itu aku merasa ada gerakan yang mengganggu tidur ku, saat ku buka mata ku terlihat seorang gadis kecil menaiki badan ku di atas kasur. Tak tahu siapa ini, namun yang pasti aku masih ada di dalam mimpi. Aku meminta gadis kecil itu untuk turun dari badan ku, setelah itu ia mengikuti perkataan ku lalu ia turun dari badan ku. Aku bangun dari tempat tidur, lalu melihat bahwa ini bukan dunia mimpi yang biasa ku lewati.
Ini seperti dunia nyata, setelah itu gadis kecil itu keluar dari kamar. Setelah beberapa menit gadis kecil itu membawa seorang wanita, wanita itu sangat lah cantik dengan menggendong seorang bayi di tangan nya. Dia memarahi ku karena bangun terlambat, lalu gadis kecil yang membangun kan ku mencubit pipi ku. Terasa seperti nyata, namun aku tahu ini adalah mimpi.
Setelah itu adegan berubah di atas meja makan, terlihat aku sekarang berada di sebuah keluarga yang bahagia. Karena sedari tadi aku tak bisa mendengar suara mereka, akhirnya di atas meja makan ini aku bisa mendengar suara mereka. Suara wanita itu sangat jelas ku kenal, suara itu adalah Gita. Jadi berarti ini adalah mimpi bersama Gita di masa depan? Tanya ku dalam hati.
Tak terduga air mata ku menetes, gadis kecil itu melihat ku dan bertanya kepada ku.
"Papa, kenapa papa menangis?"
"Ah, tidak ada apa-apa, papa hanya mengingat masa lalu."
"Kenapa kamu ini Sayang, masa lalu apa yang kamu bahas. Sudah habisi makanan kalian, oiya sayang kunci mobil sudah ku taruh di atas meja." Berkata wanita itu(Gita) sembari menyuapi si bayi kecil yang ia gendong.
Aku mengusap air mataku dengan lembut, mencoba mengendalikan emosiku. "Maaf, sayang. Aku hanya terharu melihat betapa cepat nya keluarga kita tumbuh." ucapku sambil tersenyum.
Gita mengangguk dengan penuh pengertian, lalu ia menyuapi bayi kecil dengan penuh kasih sayang. Adegan di meja makan ini terasa begitu nyata, seolah-olah aku benar-benar berada di masa depan kami yang bahagia.
Setelah sarapan selesai, aku bersiap-siap untuk pergi bekerja. Kunci mobil yang ada di meja pun sudah ku ambil, kemudian adegan nya beralih di depan pintu keluar, disini gadis kecil ku sudah siap dengan seragam sekolah nya. Setelah itu aku dan gadis kecil ku berpamitan dengan Gita.
Gita tersenyum kepadaku sembari mengatakan, "Selamat bekerja sayang, Semoga di kantor menyenangkan. Tentu juga dengan kamu malaikat kecil ku selamat belajar ya..."
"Aku harap begitu juga, sayang," jawabku sambil mencium pipi Gita.
"Terima kasih mama..." Kata Gadis kecil ku sambil memeluk kaki Gita.
Adegan berganti, sekarang aku berada di dalam mobil bersama gadis kecil ku ini. Sesampainya di depan sekolah, aku turun dari mobil dan membuka pintu untuk gadis kecil kami. Dia melompat riang ke luar, siap untuk memulai hari yang penuh belajar dan petualangan di sekolah.
"Selamat belajar, sayang. Jangan lupa ramah dengan teman-temanmu," kata ku dengan lembut.
Aku memberikan ciuman di dahi gadis kecil ku. "Jaga dirimu baik-baik, nak. Nanti mama akan menjemput mu."
Setelah berpamitan, dia langsung menghampiri teman-teman nya yang sudah menunggu nya. Setelah itu dia melihat ke arah ku lagi sembari melambai kan tangan nya, lalu aku pun balas dengan lambaian tangan perpisahan. Kemudian adegan kembali berganti, sekarang adegan berada di dalam kantor yang sangat sibuk.
Namun aku tak tahu harus apa aku disini, dengan cepat adegan berganti di siang hari dengan diriku membuka bekal yang Gita buat tadi pagi. Masakan nya terlihat sangat lezat, sama seperti masakan ibu. Tapi ku pikir-pikir Gita seperti nya pernah belajar masak dengan ibu saat itu, jadi pantas saja masakan nya sama. Tapi tak apa, aku suka masakan kedua nya.
Aku memakan bekal dari Gita dengan penuh bahagia, sampai-sampai aku sedikit menetes kan air mata. Saat aku meneteskan air mata, salah satu teman kerja ku menepuk bahu ku. Saat ku lihat, ia adalah Riyan. Muka nya tidak berubah, aku sempat berpikir ia akan mengganti gaya rambut nya. Jadi di sini Riyan dan Aku masih menjalin hubungan pertemanan, aku sangat bersyukur karena hal itu. Ia nampak dari kafetaria kantor, ia membawa kopi kaleng di tangan nya.
"Ji, kamu di bekali istri mu lagi?" Tanya ia dengan nada iri.
"Iya nih, aku di buatin tadi."
"Sehat, ya begitu lah ia sekarang jadi ibu rumah tangga."
"Wah kalau di pikir-pikir kita udah lama ya berteman."
"Haha iya, aku jadi keinget kamu jadi ketua kelas..."
"Eh itu hal yang paling menyebalkan dalam hidup ku."
"Yah masa lalu..."
"Dah ah aku mau ke bangku ku lagi Ji, selamat istirahat."
"Ya!"
Adegan kembali berganti, dimana malam sudah menyelimuti kota. Bel pulang kantor berbunyi, saat nya ku pulang. Tiba-tiba adegan kembali berubah, sekarang aku sudah ada di dalam rumah tepat nya di depan pintu. Disini aku melihat Gita yang tertidur kelelahan saat menyetrika baju. Hatiku meleleh melihat kecantikannya bahkan saat ia sedang dalam tidur yang nyenyak. Aku menyentuh tangannya dengan lembut, dan ia terbangun perlahan.
Gita menggosok-gosok matanya, sedikit bingung. "Oh, kamu sudah pulang," ucapnya dengan suara lembut.
Aku tersenyum dan mengangguk. "Ya, sayang. Maaf aku mengganggumu. Kamu tampak lelah, jadi aku mau memindahkan mu ke atas kasur tadi."
"Tidak apa, kerjaan ku masih banyak."
"Sudah, ayo kita ke kasur. Malam ini aku akan menyelesaikan sisanya."
"Benarkah, terima kasih..." Berkata Gita sambil menguap.
Setelah itu aku gendong Gita ke atas kasur, kemudian aku melanjutkan pekerjaan Gita tadi.
Adegan berganti saat aku mengganti baju ku dan aku sudah menyelesaikan pekerjaan Gita, Saat aku menyetrika aku sangat berhati-hati, berusaha untuk tidak membuat suara yang mengganggu Gita dan anak-anak yang sedang tidur. Pikiranku melayang pada betapa beruntungnya aku memiliki Gita sebagai istriku. Setelah selesai menyetrika, aku mematikan setrika dan mematikan lampu di ruangan itu.
Aku berjalan ke tempat tidur dan duduk di samping Gita yang masih terlelap. Melihat wajahnya yang tenang, aku merasa terharu. Dalam keheningan malam, aku menggenggam tangan Gita dengan lembut.
"Terima kasih, sayang," bisik ku dengan lembut. "Terima kasih telah menjadi pendamping hidupku, telah menjadi ibu yang luar biasa bagi anak kita."
Tangis haru kembali menyelinap di pipiku saat melihat Gita tersenyum dalam tidurnya. Aku mengusap air mataku dan mencium kening Gita dengan lembut. "Aku mencintaimu, Gita. Selamat malam, cinta sejati ku."
Kemudian Aku rebah kan badan ku di samping Gita, saat aku mulai memejamkan mata. Gita tiba-tiba mencium pipi ku dan memeluk ku, aku terkejut karena itu. Aku pikir ia sudah lelap tertidur, namun ternyata tidak.
Kemudian ia berkata.
"Terima kasih suami ku tersayang, aku cinta kamu." Kata nya perlahan.
"Aku juga, terima kasih istri ku tersayang." Kata ku sembari memegang tangan nya.
Kemudian, Aku dan Gita memejamkan mata. Tak lama saat memejamkan mata, Aku mendengar suara berisik. Aku pun terbangun karena suara itu, kali ini bukan gadis kecil ku. Melainkan Ibu, yang sedang menenteng gayung berisikan air yang siap menyiram ku...