
(Gambaran Peta Sekolah) Lantai Dasar.
(Author: "Ini udah revisi ke berapa kali ya, pusing bener mikirin tata letak nya... Maaf kalau masih ada kesalahan ya.")
Rehat Sejenak
Setelah lelah menghadapi dua pelajaran, sudah saatnya bel istirahat berbunyi. Aku mengajak Riyan untuk berkeliling sekolah ini dan mengetahui tempat-tempat yang menarik untuk dilihat. Pertama-tama aku mau mengajak Riyan ke kantin sekolah ini. Riyan pun menyetujui usulan dari ku ini. Bergegas kami dari kelas untuk mengelilingi sekolah ini.
Tak jauh dari kelas, kami sudah sampai ke kantin sekolah. Disini sangat ramai, aku bahkan tidak melhat sang penjual sangking banyak nya siswa yang membeli. Riyan bilang kepada ku bahwa di kantin ini ada salah satu makanan enak yang selalu laris disini. Bahkan katanya saat sebelum membuka gerai di kantin, gerai yang satu ini pasti selalu ada siswa bahkan guru yang mengantri di depan gerai nya.
Aku dan Riyan menjadi semakin penasaran dengan rasa makanan tersebut, Kami segera mencari gerai makanan itu. Setelah beberapa lama kami menanyakan gerai itu, Ternyata gerai tersebut sedang tutup. Kami sangat kecewa dengan tutup nya gerai makanan yang dikatakan memiliki makanan terenak di sekolah ini. Kami memutuskan untuk mencari makanan pengganti.
Aku memutuskan untuk ingin memakan nasi goreng di kantin ini, sementara aku membayar nasi goreng yang aku beli, Riyan memilih untuk membeli Mie Ayam yang lumayan murah dan banyak. Kami duduk di tempat makan yang disediakan sekolah untuk siswa. Kami menikmati makanan ini dengan perlahan sembari melihat-lihat siswi sekolah ini. Sebelum makanan kami habis, Bambang dan Ikhsan mendatangi kami.
"Weh ada Razi makan apa ji...?"
"Makan nasi goreng."
"Beli dimana...?"
"Di sebelah tukang batagor."
"Oke, eh ini temen baru kamu...?"
"Iya ini Riyan, temen sekelas."
"Kenalin Riyan."
"Oiya kenalin Bambang nah yang ini Ikhsan."
"Gw Ikhsan salam kenal."
Setelah saling berkenalan, Bambang dan Ikhsan memutuskan untuk pergi membeli nasi goreng yang aku tunjukan tadi. Bersamaan dengan makanan kami yang sudah habis juga, Riyan ingin melanjutkan mengelilingi sekolah ini. Kami membuang sampah kami dan membeli minum. Setelah membayar minum kami keluar kantin dan menuju arah utara sekolah ini.
Di area ini ternyata area ruang lab MIPA yang sangat dingin, kami melalui lorong kelas dan menuju tangga ke atas. Di atas kami menemukan ruang organisasi photography di sebelah ruang lab komputer Multimedia dan TKJ. Kami berjalan kembali dan menemukan ruang operator sekolah, kami terus berjalan dan melihat-lihat ruang anak kelas 12 yang sedang pusing memikirkan masa depan mereka.
Anak kelas 11 ada yang sedang melaksanakan PKL di luar sekolah dan ada anak yang tidak contoh nya anak Jurusan MIPA dan IPS. Setelah berkeliling kami berdua penasaran dengan satu ruangan yang kami lihat dari atas. Yaitu ruangan yang ada di samping ruang kepala sekolah(sepertinya), karena ruangan itu sangat lah tertutup dan tak tahu dimana pintunya. Bahkan kami tak sadar ketika melewati ruangan itu saat bersebelahan dengan Ruang lab MIPA. Saat kami melihat ruangan itu dengan seksama, bell masuk telah berbunyi kami memutuskan untuk segera kembali ke kelas. Kelas kami ada di gedung sebelah, jadi kami hanya harus memutar dan berjalanan di atas ruangan yang kami maksud.
Misteri Terpecahkan
Waktu istirahat seakan hanya sekejap mata, kami memutuskan untuk kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Saat kami berjalan terlihat Ghiffar dan teman nya yang sedang membawa buku yang di suruh Guru. Aku bingung dari mana buku-buku itu tersimpan dan dimana Ghiffar dan teman nya dapatkan. Penasaran ku terus muncul sampai guru pelajaran PKN masuk ke kelas kami.
Aku hanya pernah memasuki perpustakaan hanya 2 kali dalam hidup ku, karena saat SMP perpustakaan di sekolah lama ku sedang ada perbaikan, lagi pula SMP ku dulu adalah SMP yang kurang diperhatikan. Tapi aku bersyukur sekali masuk ke sekolah ini. Didalam pak guru menyalakan proyektor dalam materi pembelajarannya, setelah itu pak guru memberikan kami materi tentang Integrasi sosial.
Terpejam Sesaat
Nama Guru PKN ku ini adalah Winarto, dia mengenal diri sebagai guru yang sudah ada di sekolah ini sejak 8 tahun yang lalu. Beliau nampak seperti guru tua biasanya namun semangat dalam dirinya seperti anak muda yang tak pernah lelah mencari wawasan.
Pembawaan materi dari Pak Winarto sangat lah asik, ia memberikan materi sekaligus dengan contoh masalah yang ada di masyarakat tentang pentingnya integrasi sosial. Dia menceritakan tentang peristiwa yang pernah ada Glodok, tentang peristiwa pemberontakan yang ada di negara ini, dan lain sebagainya.
Pembawaan yang seperti ini yang membuat ku mengantuk. Karena penjelasan materi seperti menceritakan dongeng kepada murid membuat ku mengantuk di pelajaran ini. Saat aku asik menyimak, tiba-tiba mata ku terpejam sesaat menikmati cerita dari Pak Winarto.
Saat aku terpejam, Aku terbangun oleh Riyan yang menyenggol ku agar bangun karena Pak Winarto memberikan Soal kepada kami tentang pengertian dari Integrasi sosial itu.
Karena aku hanya menyimak sedikit saja aku memilih untuk melihat jawaban Riyan.
Saat tugas sudah selesai, kami mengumpulkan tugas kami kepada Pak Winarto. Saat kami mengumpulkan, bell pelajaran berakhir menandakan pelajaran PKN sudah selesai.
Setelah itu Pak Winarto menyuruh siswi yang mirip dengan Putri Utara, supaya ia membantunya untuk membawa buku tugas-tugas itu. Sontak dengan inisiatif yang tinggi aku mengajukan diri untuk membantu mereka. Pak Winarto menyuruh kami menaruh buku-buku ini ke atas meja kerja Pak Winarto di Ruang Guru.
Seperti Adanya Hubungan
Setelah itu Aku dan Siswi yang mirip dengan Putri Utara pergi ke Ruang Guru. Di lorong kelas, Aku merasakan sesuatu yang membuat ku tertarik kepadanya. Rasa ingin memilikinya semakin banyak.
Wangi perempuan ini sangat lah harum, hampir mirip dengan Putri Utara. Bedanya Putri Utara lebih pekat daripada ini. Parfum seperti ini pasti hanya orang-orang tertentu yang bisa membelinya.
Aku jadi teringat tentang model yang ingin hiastus yang ku tonton pagi tadi, mata dari model itu indah dan tanpa pakai kacamata. Rambut nya indah menjulang, Aku berpikir bahwa ia satu angkatan dengan ku. Tapi setelah berpikir lagi tidak mungkin ada siswi seangkatan ku yang menyia-nyiakan karier nya untuk hal yang tidak pasti.
Setelah menulusuri lorong kelas, akhirnya aku dan dia sampai ke ruang guru. Seperti biasa aku menanyakan dimana meja kerja Guru tersebut.
"Permisi Pak, Meja kerja Pak Winarto dimana ya...?" Kata ku kepada guru yang sedang menilai tugas.
"Meja Pak Winarto ya, kalau itu di samping galon air itu meja Pak Winarto."
"Makasih Pak...!"
Setelah itu kami menaruh buku-buku itu di atas meja Pak Winarto yang telah di tunjukkan. Setelah itu kami keluar dari ruang guru untuk kembali ke kelas.
Diperjalanan menuju kelas perempuan ini mengatakan
"Terimakasih telah membantu ku."
Seketika suasana menjadi hening karena suaranya.