
Di Atas Meja
Hari ini aku bertemu seorang gadis yang menemani ku di Game Center ini, karena teman-teman ku tidak ada untuk menemani ku hari ini. Aku jadi berkenalan dengan gadis ini setelah mengalahkan stage 10 itu, ia membawa ku untuk makan siang di sebuah kafetaria di dalam Game Center. Ia mentraktir makanan di kafetaria ini, karena tak enak aku memilih menu sederhana saja seperti minuman soda dan burger biasa.
Di dalam kafetaria ini, banyak sekali pemuda yang membawa pasangan nya untuk bermain. Ada yang membawa boneka, mungkin itu didapatkan di area dingdong capit. Kemudian makanan yang kami pesan datang, ia memesan sebuah spaghetti dengan minuman lemon. Aku berterima kasih pada nya untuk mentraktir ku hari ini, orang ini sangat cepat bergaul. Aku merasa baru kenal dia beberapa menit yang lalu kenapa kita bisa makan di satu meja seperti ini.
"Anu... Makasih banget udah mentraktir, kalau kita ketemu lagi bakal aku gantiin kok."
"Eh gak usah, ini berkat kamu yang membantu aku mengalahkan stage 10 tadi."
"Serius? Sekali lagi makasih banget ya."
"Oiya nama kamu siapa?"
"Aku Rama, tapi sering nya di panggil Raji."
"Kenapa harus Raji?"
"Nama panjang nya Rama Alfarizi, tapi temen-temen manggil nya Raji karena singkatan aja sih..."
"Oh gitu, nama ku Freya, ngomong-ngomong kamu kelas berapa?"
"Baru kelas 10..."
"Oh berarti kamu di bawah aku ya, aku udah kelas 11."
"Berarti aku manggil Kak Freya aja dong?"
"Serah kamu, tapi mending kamu manggil Frey aja biar lebih akrab."
"Kakak emang sekolah dimana?"
"Kan udah aku bilang jangan sebut kakak, mending Frey aja."
"Iya deh, kamu emang sekolah dimana?"
"Aku sekolah di SMA Al Jabar 2..."
"Eh Kita satu sekolah dong."
"Serius?"
"Iya aku juga sekolah di situ, kakak jurusan nya apa?"
"Kakak Multimedia."
"Kok kakak gak nyari tempat PKL?"
"Sebenernya pengen banget nyari, tapi temen nya lagi sibuk yaudah nunggu temenan aja."
"Oh gitu ya."
Setelah obrolan yang cukup panjang, akhirnya Freya memutuskan untuk pulang kerumah nya. Karena tak ada yang bisa kulakukan hari ini aku akhiri hari ini dan pulang kerumah. Sebelum pulang aku melihat ada 4 pemuda yang sedang cekcok satu sama lain, permasalahan nya karena salah satu teman nya kehilangan uang yang mereka butuhkan untuk naik bus.
Masalah yang sangat sepele, karena uang yang mereka butuh kan hanya 10 ribu. Jadi kuberikan mereka 10 ribu milik ku, Salah satu pemuda bernama Excel terlihat di nama yang ada di kalungnya. Setelah itu aku pergi ke parkiran untuk mengambil motor ku untuk pulang, kemudian aku keluarkan motor ku dari parkiran dan segera pulang ke rumah.
Minggu Pagi
Ke esokan pagi Bambang dan Ikhsan mengunjungi rumah ku, tapi karena ku tak ada di rumah untuk mengikuti ibu pergi ke rumah saudara. Mereka berdua ke rumah Ghiffar, setelah sampai ke rumah Ghiffar pula mereka tak dapat bermain dengan Ghiffar. Karena Ghiffar masih demam. Akhirnya mereka pergi ke Game Center dan begitulah mereka bersenang-senang di hari minggu.
Permen Dua Rasa
Hari ini adalah hari senin, hari yang paling menyebalkan bagi siswa seperti ku. Untuk mengawali hari di sekolah kami melaksanakan upacara pagi seperti tradisi di negeri ini. Aku dan Riyan seperti biasa masih mengobrol, kemudian aku teringat kemana saja ia saat weekend. ia menjawab bahwa ia tak bisa ikut karena ada urusan mendadak. Karena jawaban Riyan itu, aku hanya memaklumi nya.
"Yan kemaren pas Weekend kamu kemana?"
"Sorry ya Ji, Aku gak bisa ikut pas itu karena ya gitu keluarga ku ada urusan mendadak..."
"Oh gitu, gak papa Yan kira aku kamu sakit kaya Ghiffar dari kemaren."
"Oh iya? semoga dia cepet sembuh dah."
"Oiya Yan kamu tau Kak Freya MM?"
"Eh emang kamu gak tau?"
"Emang siapa aku kurang tau kakak kelas."
"Dia itu Ketua Osis loh yang bareng kepala sekolah pas penyambutan."
"Eh aku gak sadar ada Kak Freya pas itu..."
"Gak pengen tau aja..."
"Ikh suka ya?"
"Kagak sumpah..."
"Tenang aja Ji normal kok."
"Kagak."
Kemudian upacara dimulai, beruntung pagi ini matahari tertutup awan jadi kami tidak kepanasan walaupun sudah memakai topi. Upacara berjalan sangat khidmat dan tanpa ada halangan sama sekali, tak terasa upacara selesai setelah pembacaan doa dilangsungkan. Karena sudah selesai, dilanjutkan dengan pemberitahuan-pemberitahuan dari kepala sekolah.
Kami di persilahkan duduk ditempat dan mendengarkan perkataan kepala sekolah. Kepala sekolah naik ke podium, setelah itu kepala sekolah memberikan kami semacam ucapan telah melewati satu minggu di sekolah ini. Dan tiba-tiba pembina Osis dan Ketua Osis (Kak Freya) membawa gunting menuju kepala sekolah, oh tidak hari ini adalah Razia rambut.
Aku ingin sekali kabur menuju kelas, tapi karena ada anak osis lainnya yang menjaga aku tak bisa apa-apa. Kak Freya membawa gunting seperti ingin membunuh seseorang. Kemudian Riyan mengatakan sesuatu kepada ku.
"Oiya Ji, Kak Freya juga terkenal dengan kebengisan nya dan keteladanannya mengatur siswa..."
"Kau seharusnya mengatakannya lebih awal."
15 menit berlalu...
Kak Freya sudah menuju ke arah ku dan Riyan, setelah menggunting siswa yang berambut panjang/tidak rapih di baris depan. Sekarang Kak Freya sudah ada di depan mata ku, apa mungkin ia tak sadar bahwa ini adalah aku ia sibuk menggunting rambut Riyan di sebelah ku dan ini adalah giliran ku. Ia menarik rambut ku dan ia berkata.
"Eh kamu Raji kan?"
"Anu iya Kak Frey..."
"Kamu mah pendek rambut nya dah gak aku gunting kok, tapi ntar pulang rapihin rambut nya oke..."
Setelah itu ia lanjut memotong rambut siswa lainnya, dengan muka kebingungan Riyan di samping ku menggenggam rambut nya yang Kak Freya gunting.
"Eh Ji kok kamu gak di potong ama Kak Freya dan tadi kenapa dia tau nama kamu?"
"Rahasia..."
Setelah razia rambut, kami semua masuk kedalam kelas. Sebelum masuk kelas, Kak Freya memanggil ku.
"Raji kamu sini deh...!!"
"Iya...!!!"
Aku menghampiri Kak Freya...
"Ternyata bener ini kamu ya."
"Yang punya muka kaya gini cuma aku doang."
"Ih bisa aja kamu, Ji kamu ntar weekend mau main lagi?"
"Boleh aja, kalau aku ada waktu ya."
"Oke."
"Kak Frey gak masuk kelas?"
"Ayo kamu juga mau masuk kelas kan?"
"Iya..."
"Emang kamu jurusan apa?"
"Aku belum bilang ya? Aku Jurusan IPS tuh 10 IPS 2."
"Yaudah aku naik tangga deket kelas kamu aja."
Setelah itu Aku dan Kak Freya mengobrol, sampai di depan kelas ku, aku masuk dan Kak Freya naik ke atas untuk masuk kelas nya. Saat Aku masuk kedalam kelas, seluruh mata anak lelaki di dalam kelas ku menatap kepada ku, tak terkecuali Gita yang menatap ku serius. Riyan masih bertanya pada ku bagaimana bisa aku berkenalan dengan Kak Freya, perasaan di lihat oleh siswa lain membuat ku merinding.
Pulpen Dan Kertas
Setelah semua siswa sudah mulai tidak memperhatikan ku, Gita menghampiri ku saat siswa/i lain sedang istirahat makan siang. Sangat kebetulan sekali Riyan tidak ada bersama ku, Riyan pergi tanpa alasan yang jelas. Aku hanya membiarkan nya saja ia pergi keluar tak tahu kemana.
Di kelas Aku dan Gita memiliki tugas kelompok dari guru, Gita membahas apa yang harus ku lakukan di tugas kelompok ini. Walaupun membahas tugas, aku tetap makan dengan lahap apa yang ku beli di kantin. Gita menjelaskan panjang apa yang harus ku lakukan dengan suara nya yang lembut.
Tiba-tiba Kak Freya datang membuka pintu kelas ku dengan penuh semangat dan ia berkata.
"Ada Raji disini....?!!!!!"