Keep Silent And You Got It

Keep Silent And You Got It
Part 24 - Masalah Di Hari Senin



Osis Yang Menyebalkan


 Di hari Senin pagi, Aku awali hari hari ku dengan biasa. Dengan sarapan pagi bersama keluarga ku, dan kemudian aku berangkat dengan motor ku ini. Sesampainya di depan gerbang sekolah, Aku bingung kenapa banyak sekali murid yang berjaga di sini dan membagikan formulir.


Tak lama Gita pun datang dengan mobil nya, Gita turun lalu Aku menyapa nya dengan cara yang lembut.


"Pagi Gita..."


Tatapan heran Gita terlihat saat dia melihat kerumunan murid di depan gerbang sekolah.


"Rama, apa yang sedang terjadi di sini? Kenapa ada banyak siswa yang berjaga dan membagikan formulir?" tanyanya dengan rasa penasaran.


"Aku tak tahu Git..."


Jawab ku keheranan.


"Gimana kita liat aja?"


"Boleh..."


 Setelah itu Aku dan Gita menghampiri salah satu siswa yang membagikan formulir.


"Maaf Kak, boleh kami tahu apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Gita sopan kepada siswa tersebut.


Siswa tersebut mengangkat kepalanya dan tersenyum ramah. "Oh, halo! Kami sedang melakukan kampanye untuk pemilihan calon OSIS baru," jawabnya antusias. "Kami berusaha untuk membagikan formulir kepada seluruh siswa agar mereka dapat mendaftar dan berpartisipasi dalam pemilihan nanti."


Aku menatap Gita dengan ekspresi penasaran. "Tapi, apa nggak biasa pemilihan calon OSIS dilakukan pada pertengahan tahun?"


Siswa itu mengangguk mengerti. "Iya Kakak ngerti, tapi memang biasa begini. Tapi tahun ini ada perubahan jadwal karena beberapa alasan. OSIS sedang berusaha untuk menyelaraskan jadwal pemilihan dengan agenda sekolah yang lainnya. Jadi, mereka memutuskan untuk melaksanakan pemilihan ini lebih awal."


Siswi yang di sebelah nya menambahkan. "Tapi bukan cuma OSIS hari ini, kita juga pendaftaran partisipasi ekstrakurikuler sekolah."


 Karena perkataan siswi itu, Aku teringat formulir yang di berikan Kak Freya minggu lalu. Tapi Aku lupa membawa nya ke sekolah hari ini, jadi Aku mengambil lagi formulir pendaftaran OSIS itu dan juga mengambil formulir ekstrakurikuler. Tiba-tiba Kak Freya lari menuju diri ku yang sedang berjalan menuju pintu gerbang utama, dia berlari sembari meneriaki nama ku.


"Raji...!!!"


"Iya, kenapa Kak Frey?"


 "Tolong, bantuin aku!" seru Kak Freya sambil terengah-engah. "Aku harus membagikan formulir pendaftaran ekstrakurikuler, tapi tumpukan formulirku jatuh dan berantakan di ruang OSIS. Aku butuh bantuanmu ama Gita juga untuk mengumpulin nya"


Aku dan Gita segera melakukan apa yang di suruh Kak Freya. Kami membantunya mengumpulkan formulir yang berserakan di ruang OSIS itu, sambil berusaha menjaga agar tidak ada yang tercecer atau rusak. Beberapa saat kemudian anggota OSIS lainnya yang baru datang pun langsung  turut membantu merapikan formulir yang berantakan.


Setelah semua formulir berhasil dikumpulkan dan dirapikan, Kak Freya menghembuskan napas lega.


"Terima kasih, Raji, Gita! Kalian benar-benar menyelamatkan hari ini. Tanpa bantuan kalian, Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."


"Sama-sama Kak Frey, tapi tadi emang gak ada bantuin sebelum kami bantu Kak Frey?"


"Ya gitu lah, mereka tuh kadang telat dan ada juga yang rumah nya jauh jadi gak bisa pagi-pagi."


"Hmm, Aku jadi capek pagi-pagi cuma gara-gara gini doang..."


"Udah lah Gita, sekali-kali kita bantuin Kak Frey."


"Sekali lagi terima kasih yah Raji, GIta."


"Iya, kita duluan yah Kak Frey."


"Ok, nanti turun ya kita kan mau upacara."


"Ok..."


"Oiya Ji, jangan lupa ya buat ngisi formulir nya."


"Ok siap Kak Frey."


 Aku dan Gita berjalan menuju ruang kelas sambil membicarakan kejadian tadi. Meskipun sedikit capek, aku merasa senang bisa membantu Kak Freya. Setidaknya, kejadian ini menjadi pengalaman yang berharga bagiku. Tapi sepertinya tidak dengan Gita, ia nampak tak senang membantu Kak Freya. Apakah ia masih cemburu saat Aku bermain bersama Kak Freya, itu lah yang Aku pikirkan saat Aku berjalan menuju ruang kelas.


 Aku dan Gita menaruh tas kami di atas bangku kami, lalu kami turun lagi kebawah untuk bergabung melaksanakan upacara pagi. Aku dan Gita bergabung dengan siswa-siswa lainnya di lapangan sekolah untuk mengikuti upacara pagi, seperti nya hari ini giliran OSIS yang mengambil alih upacara pagi. Terlihat semua anggota pelaksanaannya adalah orang membantu ku tadi.


 Setelah upacara pagi selesai, Ghiffar dan Riyan menghampiri ku yang sedang bersama Gita.


"Raji, kok kamu ada di Tv kemarin Ji?"


Bersamaan dengan Gita yang tiba-tiba pergi saat Ghiffar mengatakan itu kepada ku.


"Iya, bener Ji kok kamu bisa masuk Tv?"


"Tv apa sih aku gak masuk Tv. Paling cuma orang yang mirip." Kata ku berbohong agar tidak ketahuan.


"Bener juga sih, seorang Raji mana mungkin masuk Tv kan ya."


"Tapi orang itu beruntung banget ya bisa dapetin suapan dari Clarissa..." Kata Riyan dengan nada cemburu.


"Kamu kenal Artis itu?"


"Aku ini penggemar berat Clarissa sebenernya." Kata Riyan dengan bangga.


"Tapi Aku tuh yakin Ji itu kamu yang ada di Tv..." Berkata Ghiffar dengan yakin nya


Aku merasa agak canggung dengan pertanyaan Ghiffar dan Riyan. Kemudian Aku mencoba menjelaskan dengan hati-hati, tetapi tetap ingin menyembunyikan kebenaran.


"Aku kemarin cuma membantu ibu di rumah, mana mungkin jika Aku ada di rumah bisa muncul di Tv.  Mungkin ada kesalahpahaman atau sekali lagi itu mungkin ada orang yang mirip denganku. Jadi, jangan terlalu percaya dengan rumor-rumor itu," kata ku dengan senyuman tipis.


Ghiffar dan Riyan saling pandang, tampak masih penasaran tapi akhirnya mengangguk mengerti. Mereka memilih untuk tidak meneruskan pembicaraan tentang hal tersebut.


"Udahlah, kita fokus ke kegiatan sekolah aja. Nanti ada banyak hal menarik loh yang bakalan terjadi, terutama pemilihan calon OSIS yang baru," kata ku mengalihkan topik.


 Ghiffar dan Riyan setuju dengan pernyataan Ku. Mereka berdua memutuskan untuk tidak memikirkan rumor dan gosip yang tidak jelas. Akhirnya, kami berjalan menuju ruang kelas kami. karena Ghiffar berbeda kelas dengan Aku dan Riyan, akhirnya Aku dan Riyan masuk duluan ke kelas kami. Pelajaran demi pelajaran di mulai, Aku menyelesai kan nya sembari melihat lembaran formulir ekstrakurikuler ini.


 Bel istirahat berbunyi, Aku buru-buru menuju kantin untuk membeli paket nasi standar buat ku makan sekarang. Akhirnya setelah perjuangan panjang, Aku mendapatkanya, lalu Aku buru-buru kembali menuju kelas untuk mengisi formulir itu. Tiba-tiba saat Aku sedang berlari, Kak Frey memanggil ku untuk membantu nya lagi di ruang OSIS. Nampak nya kali ini lebih para dari sebelum nya.


"Aduh, Kak Frey, aku baru mau mengisi formulir ekstrakurikuler nih. Ada apa lagi?" tanyaku sambil sedikit terengah-engah.


Kak Freya tersenyum kecut. "Maafkan aku, Raji. Ternyata ada masalah lagi di ruang OSIS. Sebagian formulir pendaftaran yang ekstrakurikuler tadi ada yang hilang dan kurang, Aku butuh bantuan lagi buat nyariin dan Aku bakal fotocopy ulang formulirnya. Aku minta tolong ya."


Aku menghela nafas, tetapi aku tahu bahwa Kak Freya butuh bantuan. "Baiklah, Kak Frey. Aku mau bantuin sekali lagi," jawabku sambil menenteng nasi paket ku.