
Malam Menuju Mimpi
Aku pulang dari stasiun dengan perasaan takut akan dimarahi Ibu, sampai-sampai bensin yang tersisa habis setelah aku pakai untuk melaju dari stasiun sampai pulang kerumah. Perasaan yang luar biasa, perasaan yang ada ketika pulang dengan terburu-buru dan sampai kerumah dan melihat ibu dan Ayah yang sudah menunggu di meja makan. Aku seperti nya pulang tepat waktu, waktu makan bersama belum dimulai.
Kemudian Aku melepaskan sepatu dan salim kepada kedua orang tua ku. Ibu berkata kepada ku dengan perasaan lega di wajah nya .
"Nak, Ibu khawatir banget kamu darimana tadi...?"
"Anu Bu, sebelum pulang aku beli cendol yang ibu mau tadi, nih cendol nya..." Aku memberikan cendol kepada Ibu.
"Kamu pulang petang gini cuma beli cendol yang ibu mau, Terimakasih nak..."
"Yaudah Bu aku ganti baju dulu ya..."
"Iya, cepetan ibu udah bikin sop daging..."
"Okee...!"
Setelah itu aku langsung masuk kamar untuk mengganti baju dan celana ku. Kemudian aku langsung bergegas untuk pergi ke bawah untuk ikut makan bersama. Ibu dan Ayah sudah menunggu ku, aku langsung duduk untuk makan.
"Silahkan pimpin doa Ayah..."
Berdoa...
"Selesai, ayo ibu tolong ambilkan nasi."
"Ibu aku juga mau..."
"Bersabarlah kalian berdua, masih banyak nasi yang tersisa...!"
Kemudian Ibu menuangkan nasi kepada kami.
"Yah, Ayah bisa isikan bensin ku yah...?"
"Memang kenapa nak, habis...?"
"Iya, tadi pulang aku tak sengaja melajukan motor dengan cepat jadinya habis bisa kan yah...?"
"Gimana kalau kamu yang beli sendiri nanti ayah kasih uang nya."
"Yasudah, kalian makan lah lauknya masih banyak ibu tau kalian lapar."
(Author: "Sebenernya Rama udah kenyang karena makan seblak tadi, tapi emang perut karet dia malah makan." )
Cahaya Rembulan
Setelah beberapa saat kemudian, Ayah memberikan uang untuk membeli bensin. Ayah berkata bahwa uang ini akan cukup untuk 2 liter bensin. Kemudian setelah mendapat uang dari Ayah, Aku langsung mengeluarkan motor dan menyalakan nya.
Mengendarai saat malam memang sangat menyenangkan, udara malam memang menyejukkan. Lampu jalan seakan-akan menyapa ku di malam ini, bulan melihat ku dengan sinarnya yang cerah.
Aku sampai di tempat pom bensin, ternyata tidak aku saja yang ada disini. Banyak sekali pengendara malam ini, seperti sekelompok orang yang gila kerja. Aku menunggu dan terus menunggu, hingga saat nya aku untuk mengisi motor ku.
Seperti yang Ayah katakan, uang yang ku pegang ini cukup untuk membeli 2 liter bensin.
"Bang, isi 2 liter...!"
"Siap, dimulai dari nol ya..."
Pengisian...
"Nih uang nya bang, makasih..."
Setelah itu aku menyalakan motor, dan melaju pulang kerumah. Saat menyalakan motor, aku melihat mobil yang seperti biasa mengantarkan Gita pulang dari sekolah. Saat aku lewati, memang betul ini seperti mobil yang biasa mengantarkan Gita pulang.
Aku lewati mobil itu, dan terlihat samar samar wajah wanita seperti artis yang ingin hiatus di televisi. Aku berpikir bahwa mobil seperti ini juga dimiliki banyak orang kaya di luar sana, Setelah itu aku melajukan motor ku sampai pulang.
Sampai nya aku pulang kerumah, Aku memarkirkan motor ku dan langsung segera ingin masuk ke dalam rumah. Aku ketuk terlebih dahulu rumah ku dan Ibu membuka kan pintu, Ibu menanyakan kepada ku apakah sudah selesai mengisi bensin ku.
"Sudah di isi nak...?"
"Sudah Bu..."
"Kamu istirahat, nanti tidur jangan malem-malem...!!"
"Baik Bu..."
Aku mencuci kaki dan tangan ku di kamar mandi, setelah itu aku langsung naik ke kamar ku untuk istirahat. Seperti nya hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuk ku, seperti kejadian tak terduga dari Gita, ngumpul bareng temen, dan terakhir keluar malam dengan motor. Seharian ini Aku serasa tak memiliki istirahat yang cukup, Aku beristirahat hanya ketika pulang sekolah.
Dan waktu itupun Aku gunakan untuk menonton televisi.
Debu Biru
Saat malam sudah terasa dingin, ini waktunya aku tidur. Jika Aku tidur di atas jam 11 pasti aku di marahi ibu dan juga aku akan batuk-batuk karena dingin nya malam. Sekali lagi aku ke kamar mandi untuk memastikan aku tidak kencing saat tidur, setelahnya aku minum segelas air dan langsung segera ke kamar.
Aku bersihkan kasur ku dari debu dan juga kerikil yang ada di atas kasur dengan sapu lidi. Sapu yang sangat serba guna, sapu yang dapat digunakan ketika memukuli ku dan menjadi alat untuk membersihkan kasur dan debu. sangat serba guna sekali sapu ini.
Wind Of Change
Waktunya untuk menarik selimut ku dan memejamkan mata, tiba-tiba aku merasakan sensasi ketika Gita membisikan terimakasih nya kepada ku. Rasanya seperti sejuta makna, aku tidak mengerti ketika ia mengatakan kata pangeran kepada ku. Sensasi luar biasa yang tak bisa ku lupakan, kejadian yang luar biasa ketika ada seorang wanita memeluk ku dan berbisik kepada ku.
Angin dingin berhembus masuk kedalam kamar ku, seketika aku sudah ada di perahu dayung dia atas sungai yang tenang membawa ku kearah cahaya cerah yang ada didepan. Di sekitar sungai ada banyak bunga kuning bersinar terang, bunga itu sangat lah besar.
Bunga yang sangat cantik dilihat dan hangat. Bunga itu mengeluarkan cairan biru yang menetes di atas kepala ku, saat kurasakan cairan itu sangat lah manis dan dingin. Tak pernah aku merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya.
Setelah Aku mencicipi cairan itu, area sekitar ku menjadi terang benderang. Aku didalam ruangan cahaya putih dan hanya aku saja disini. Tak ada perahu, tak ada sungai dan bunga. Aku duduk dan termenung apa yang akan selanjutnya terjadi.
Angin Sejuk Membangunkan
Setelah aku duduk di ruangan cahaya putih, tiba-tiba angin sejuk mengarah kepada ku. Saat aku membuka mata, aku sudah duduk di bawah pohon bersama Rosella. sekarang aku sudah kembali menjalani cerita Joseph dan Rosella.
Saat aku melihat ke arah Rosella, dia sangat lah cantik bahkan jika dilihat lebih dekat makin cantik. Harum rambut nya, indah bibir nya, putih kulit nya, dan nafas pelannya yang membuat nya semakin menarik.
Saat aku ingin menyentuh pipi nya, ia membuka matanya. Mata yang indah terlihat seperti mutiara di lautan, ia sangatlah cantik.
kemudian aku berkata.
"Selamat pagi..." (Author : "Sebenernya udah sore...")
"Pagi, sedang apa aku disini...?"
"Sepertinya kita sudah tertidur disini..."
"Oh ya benar, kerajaan mu akan pulang malam ini yah...?" Muka yang tampak kecewa
"Mungkin kau benar, apakah kita bisa bertemu lagi...?"
"Tentu, kapanpun yang kau mau."