
(Gambaran dari denah sekolah lantai 2.)
("Kenapa anak-anak MM 10/12 ama TKJ 10/12 nya pada di lantai 2 thor?")
(Author : "Karena di bawah udah di isi banyak dan juga di atas kan anak MM 11 ama TKJ 11 juga kan PKL. d Jadi lebih baik Anak kelas 10/12 nya di lantai 2.")
("Anak 11 IPS dan MIPA juga kan di atas apa gak capek turun naik, terlebih Lab MIPA dan Perpustakaan ada di bawah?")
(Author: "Ya gitulah, tenang aja di atas udah ada kipas yang banyak.")
Matahari Yang Setia
Aku terkejut dan terbangun oleh perkataan Rosella, Kemudian aku tersadar ternyata itu adalah mimpi dari dua hari yang lalu. Setelah itu, aku melihat ke jendela, terlihat langit yang cerah serta matahari yang menyinari dunia. Setelah mimpi itu, tatapan ku terus tertuju pada Gita di sekolah. Dimana pun aku melihat Gita, pandangan ku tak akan lepas darinya. Setelah aku mengingat ingat dua hari yang lalu, kemudian aku siap-siap untuk mandi dan berangkat sekolah.
Setelah aku mandi dan menggunakan seragam ku, Aku turun kebawah untuk sarapan. Terlihat Ayah yang sedang membaca koran di sofa dan Ibu yang sedang masak. Kegiatan yang biasa, tak ada perubahan. Aku duduk di sofa dan menonton televisi sembari menunggu sarapan. Aku melihat berita lokal yang menunjukan pembukaan Game center di tengah kota.
Seketika aku tertarik mengunjungi pusat permainan itu, mungkin saja hari ini aku akan mengunjungi tempat itu bersama teman-teman ku. Ayah yang tadi nya sedang fokus melihat koran, seketika mengalihkan padangan nya dengan berita itu juga. Ayah pun seperti nya mengetahui pembangunan Game Center itu. Kenapa aku tahu? karena jika ia mulai memainkan dagu nya, ia pasti sudah menduga nya atau mengetahuinya.
"Jadi ini yang membuat macet kemaren..."
"Ayah tau tempat ini...?"
"Iya kemarin saat Ayah pulang, Ayah sempat melewati tempat permainan itu..."
"Gimana ramai...?"
"Jangan di tanya, membeludak hingga macet selama 12 menit...!"
"Lama juga ya, tapi apakah mungkin hari ini mulai sepi yah?"
"Tidak juga, karena itu tempat baru mungkin masih akan ramai."
Kemudian ibu memanggil kami untuk sarapan, kami pun langsung ke meja makan untuk sarapan.
"Kalian berdua membicarakan tentang apa sayang...?"
"Tidak bu ini tentang tempat permainan baru di kota, seperti nya itu menarik..."
"Tempat permainan? Nak jangan coba-coba kamu ke sana...!"
"Tapi kenapa bu...?"
"Bisa saja itu kasino berkedok Game Center, nanti uang yang kamu bawa akan lenyap di sana..."
"Tenang lah sayang itu hanya tempat permainan semacam Ding Dong, jadi kamu jangan khawatir."
"Ding dong kah... seperti masa lalu."
"Ya kau benar sayang."
"Memang kenapa?"
"Ya begitu lah, terkadang saat sore hari kami menghabiskan waktu bersama di tempat Ding Dong."
"Sekarang tempat itu dimana...?"
"Sekarang tempat itu sudah menjadi gudang perusahaan."
"Sangat di sayang kan sekali tempat yang sangat menyenangkan berakhir menjadi gudang benar kan sayang...?"
"Ya begitu lah, jaman cepat berlalu."
"Yasudah nak cepat makan nanti terlambat sekolah, oiya nak kamu kemarin bilang hari ini ada pelajaran olahraga kan? ibu sudah siapkan baju nya nanti kamu bawa ya."
Langit Yang BIru
Di depan kelas aku memutuskan berdiam diri di balkon untuk melihat para siswa/i yang baru datang. Tak lama Gifar dan Riyan datang mengejutkan ku dari belakang.
"Heyyy!!!"
"Astaga, bikin kaget aja..."
"Kamu udah dari tadi Ji...?"
(Author : "Riyan udah ter biasa manggil Rama dengan Raji sekarang karena ngikut sih Gifar dan lainnya." )
"Gak, baru dateng beberapa menit yang lalu."
"Yaudah naro tas dulu gih..."
Kemudian mereka berdua kembali menemani ku di balkon depan kelas.
"Ji, hari ini cerah yah..."
"Iya bener, tapi tau gak kemarin ada Game Center baru dibuka loh...!"
"Serius?"
"Oh Game Center yang ada di kota ya, aku sempet lewatin tempatnya kemarin bahkan ada orang TV loh...!"
"Wah berarti gede banget dong?"
"Pasti nya, gimana kita kesitu aja Sabtu..."
"Boleh tuh, berarti kita harus hemat uang jajan kita mulai dari sekarang."
Kami mengobrol dan bercanda selama 12 menit, tak terasa bell masuk berbunyi. Itu tanda untuk kami masuk ke dalam kelas.
Bell berbunyi....
"Wah bell udah bunyi, masuk yuk Yan..."
"Yaudah duluan Gip..."
"Iya...!"
Sebotol Air
Setelah perbincangan yang seru, kami masuk kelas kami masing-masing. Di kelas aku terkejut karena sudah banyak orang di kelas. Aku merasa baru datang 3 menit yang lalu, tapi sekarang sudah ramai orang di kelas. Aku dan Riyan duduk di bangku kami dan melanjutkan obrolan. Kami mengobrol dan bercanda sampai guru masuk ke kelas.
Ketika itu kami langsung memberhentikan obrolan kami, aku melihat ke arah kiri ku dan terlihat bahwa Gita sedang memperhatikan ku. Dengan tatapan serius, ia terus menatap ku sampai pembelajaran dimulai. Sejak saat itu aku berpikir, apa ada yang salah dengan ku hari ini. Setelah itu pelajaran pun dimulai.
Kemudian...
Tak terasa 2 pelajaran sudah di lalui, Bell istirahat sudah berbunyi. Ini saat nya untuk istirahat pertama, Aku mengajak Riyan untuk pergi ke kantin untuk membeli makanan. Kemudian Aku dan Riyan pun, langsung bergegas ke kantin. Di depan kantin sudah banyak sekali yang mengantri membeli makanan, sangking banyak nya ibu kantin kewalahan mengatur pembeli.
Disaat Aku dan Riyan mengantri, aku melihat Gita yang sedang membeli minum. Ia sepertinya kehabisan air minumnya. Gita selalu membawa bekal dan air minum, mungkin hari ini ia sangat haus hingga air minumnya habis. Memang hari ini sangat lah cerah dan semakin panas terik cahaya matahari, mungkin itu sebabnya. Gita pun membayar minuman yang ia pilih, kemudian ia ingin kembali ke kelas.
Sebelum ia kembali ke kelas, ia terjatuh oleh anak perempuan yang seperti nya kakak kelas yang tidak sengaja menyenggol Gita. Sontak aku bilang kepada Riyan untuk nitip makanan yang aku ingin beli kepadanya, Riyan pun mengiyakan perkataan ku dan aku segera membantu Gita.
"Gita Kamu gak apa-apa...?"
"Aku gak apa-apa, terima kasih Rama..."
"Sama-sama, kamu bisa kembali ke kelas?"
"Iya aku bisa, Aku duluan ya..."
"Oke, hati-hati ya Gita...!"