Keep Silent And You Got It

Keep Silent And You Got It
Part 25 - Gita Yang Cemburu



Keberuntungan Yang Manis


 Hari ini, mungkin adalah salah satu hari yang paling menyebalkan menurutku. Aku tahu bahwa kak Freya membutuhkan bantuan, tapi sebagai ketua OSIS apakah Kak Freya terlalu memanjakan anggota-anggotanya dengan tidak memanggil mereka saat ia membutuhkan bantuan.Aku memandang Kak Freya dengan pandangan campuran antara kekesalan dan kekhawatiran. Aku juga memahami bahwa Kak Freya memiliki tanggung jawab besar sebagai ketua OSIS, dan mungkin ia terjebak dalam situasi yang sulit.


Setelah menggigit bibirku sejenak, aku memutuskan untuk memberikan kesempatan terakhir. Aku menghela nafas dan mengatakan."Baiklah, Kak Frey. Aku mau bantuin sekali lagi," jawabku sambil menenteng nasi paket ku.


Kak Freya melepas senyum lega. "Terima kasih, Raji. Aku benar-benar menghargai bantuan mu. Sekarang kamu bisa kan ke Ruang OSIS?"


"Tapi aku boleh makan di ruang OSIS nggak?"


"Boleh nanti kamu di temenin Dika ama Citra buat nyariin lembaran yang hilang, Aku sekarang mau fotocopy di luar."


"Yaudah Kak Frey."


 Setelah itu Aku mengikuti Kak Freya ke Ruang OSIS sambil membawa nasi paket ku. Sesampainya di sana, aku melihat Dika dan Citra sedang sibuk mencari lembaran yang hilang di dalam lemari dan juga di antara tumpukan berkas-berkas yang belum di check. Aku memasuki Ruang OSIS dengan hati yang berdebar-debar, takut jika aku tidak dapat membantu menemukan lembaran yang hilang. Kak Dika dan Kak Citra terlihat begitu terfokus pada pencarian mereka, dengan tatapan yang penuh tekad. Aku pun meletakkan nasi paket ku di meja dan bergabung dengan mereka.


"Kak Dika, Kak Citra, ada yang bisa aku bantu?" tanyaku dengan suara lembut.


Kak Dika mengangkat kepalanya sejenak, melepaskan pandangannya dari tumpukan berkas yang belum terurut. "Kamu Raji kan ya? Akhirnya kamu datang juga. Ya tentu dong, kamu tolong cari di antara stapler ama buku-buku catatan di sudut itu. Lembaran itu mungkin terjatuh ke sana."


Aku mengangguk dan bergerak ke sudut ruangan yang dimaksud. Hatiku berdetak cepat, berusaha mengatasi kecemasan dan berfokus pada pencarian. Aku mulai memindahkan stapler dan menyusun buku-buku catatan dengan hati-hati, berharap menemukan lembaran yang hilang.


Beberapa menit berlalu, dan setelah beberapa kali pindah dan menyusun benda-benda, akhirnya mataku menangkap sesuatu yang menarik perhatianku. Di balik tumpukan buku-buku catatan, tersembunyi lembaran yang tampaknya menjadi incaran.


"Aha! Aku menemukannya!" seruku dengan sukacita.


Kak Dika dan Kak Citra segera menghampiriku dengan ekspresi campuran antara lega dan terkejut. Kak Dika meraih lembaran tersebut dengan tangannya yang gemetar, seolah tidak percaya akan penemuan ini.


"Raji, kamu luar biasa!" ucap Citra dengan penuh kekaguman.


Aku tersenyum malu, merasa bangga dapat memberikan bantuan mereka. "Ini tim kerja kita. Kita saling membantu."


Tak lama setelah itu, Kak Freya kembali masuk Ruang OSIS dengan hasil fotocopyan yang dibutuhkannya. Dia melihat kami dengan senyuman lebar yang penuh rasa terima kasih.


"Hebat, kalian berhasil menemukannya!" puji Kak Freya. "Terima kasih banyak, Raji, Dika, dan Citra. Kalian benar-benar menyelamatkan kami."


 Kami mengangguk dengan rasa bangga, bahagia bahwa kami dapat memberikan bantuan yang diperlukan. Rasanya semua kekhawatiran dan kekesalan yang ada di awal hari ini telah hilang. Keberuntungan yang manis akhirnya datang pada saat yang tepat. Setelah berhasil menyelesaikan pencarian lembaran yang hilang, suasana di Ruang OSIS menjadi lebih ceria dan penuh kepuasan. Kami berempat, yaitu Aku, Kak Dika, Kak Citra, dan Kak Freya, saling mengucapkan terima kasih satu sama lain atas kerjasama yang baik.


 Tak terasa bel masuk sudah berbunyi, saat nya kami masuk kedalam kelas. Aku dengan raut muka yang kecewa, melihat paket nasi standar ku yang sudah dingin. Melihat kejadian itu Freya pun merasa bersalah dengan ku. Saat matahari semakin condong ke barat dan sore mulai menjelang, Freya melihat ke arloji di tangannya dan tersenyum. Dia merasa berutang budi pada ku atas bantuan ku kepadanya. Freya memutuskan bahwa dia ingin menunjukkan penghargaannya dengan cara yang istimewa.


"Raji!" ujarnya dengan nada serius namun penuh kehangatan.


"Iya kenapa Kak Frey."


"Dengar, Raji. Aku sangat berterimakasih atas  bantuan mu hari ini Raji. Aku ingin menghargai bantuanmu dengan cara yang istimewa. Bagaimana kalau kita makan malam di restoran favoritku? Ini traktiranku untukmu."


Terkejut dan senang mendengar tawaran itu. Aku tidak menyangka bahwa bantuanku akan berbuah suatu penghargaan seperti ini. Namun karena masih ada urusan nanti, Aku akhirnya menunda ajakan Kak Freya dengan lembut.


"Hmm Anu Kak Frey, terima kasih atas ajakan nya namun seperti nya kita bisa lakukan lain hari. Sungguh, aku nggak bermaksud buat mengecewakan Kak Frey namun Aku masih punya urusan nanti."


"Oh seperti itu ya, tidak apa tawaran ku masih berlaku kok. Jadi sampai ketemu di hari sabtu."


"Baiklah Kak Frey."


Setelah itu Kak Freya keluar dari kelas ku, ia menuju ke ruang OSIS dengan perasaan kecewa. Tak diduga dan di sangka Gita yang mendengar ajakan Kak Freya kepada ku, Ia merasa kesal. Kemudian Gita tanpa ragu langsung menghampiri ku dan mencubit pipi ku, kemudian ia berkata kepada ku dengan nada kesal.


Gita menatapku dengan ekspresi cemburu. "Apa-apaan dengan kamu Rama, kamu selingkuh depan mata ku. Sejak kapan kamu sangat dekat dengan dia Rama?!"


"Gita, kenapa kamu melakukan itu? Apa yang salah?"


Aku mencoba menjelaskan situasinya.


"Gita, jangan salah paham. Kak Freya cuma ingin menghargai bantuan yang aku berikan kepadanya. Kita hanya teman. Gak ada hubungan apa-apa." Kata ku dengan nada sedikit tinggi.


Mendengar hal itu Gita menundukkan kepalanya, lalu ia menggenggam tangannya sendiri. "Maafkan aku, Rama. Aku terlalu sensitif dan cemburu tanpa alasan yang jelas. Aku tidak ingin kamu pergi dari hidup ku."


Mendengar permintaan maaf dari Gita membuat ku tidak enak dengan nya, kemudian Aku meminta maaf kepadanya.


"Gita, Aku minta maaf Gita soal tadi. Maaf kan Aku yang tidak memahami perasaan mu tadi, maaf kan pria yang tidak peka ini Gita."


Gita mengangguk, senyum kecil mulai terlihat di wajahnya. "Rama, kamu adalah pria yang paling baik yang pernah ku kenal. Dan ini juga adalah kisah cinta pertama di hidupku, Aku tidak ingin membiarkan rasa cemburu yang tinggi ini merusak hubungan kita. Jadi mari kita berbaikan ya."


"Terima kasih telah mengerti Gita..."


 Kami duduk di depan gerbang sekolah, berbicara dengan jujur dan terbuka tentang perasaan dan kekhawatiran kami. Kami berbagi kegembiraan dan kesedihan, memperkuat hubungan kami. Saat mobil jemputan Gita sudah terlihat di ujung jalan, Kami berpelukan sebagai tanda perdamaian dan janji untuk selalu saling mendukung. Keberuntungan yang manis muncul dalam bentuk rekonsiliasi dan kekuatan cinta kami yang lebih kuat dari sebelum nya.


 Setelah itu Gita pulang dan Aku pun pulang kerumah...