Keep Silent And You Got It

Keep Silent And You Got It
Part 15 - Awan Yang Merindukan Matahari



Pusat Game


 2 hari lalu merupakan hal paling memalukan dalam hidup ku, bisa-bisa nya seorang Rama Alfarizi pingsan saat jam olahraga. Tapi karena pingsan itu aku semakin dekat dengan Gita, hingga kemarin Gita mulai mengobrol dengan ku. Itu suatu kebahagiaan tersendiri untuk ku, terlebih dia semakin memerhatikan ku dimana pun dia melihat ku. Aku dan teman-teman ku mau pergi ke Game Center yang di perbincangkan itu.


 Hari yang di tunggu-tunggu sudah tiba, Aku menyiapkan uang dan juga jaket ku. Kemudian aku turun untuk sarapan, ibu sudah menyiapkan makanan sedari tadi. Di Bawah seperti biasa sudah ada di sofa, kali ini ia sangat fokus dengan berita yang ada di televisi. Di televisi menyiarkan berita tentang artis yang tertangkap karena menggunakan obat-obatan terlarang.


"Hush, gak dikira si ini pake obat.."


"Siapa yah?"


"Ini yang jadi pemeran utama di film biru langit."


"Oh si Aditya, waduh sayang banget padahal di salah satu film nya bagus banget apasih yah yang dia jadi temen nya ketabrak mobil?"


"Film 2000 Tahun Cahaya bukan sih, Ayah juga lupa ..."


"Seribu Cahaya sayang, kalau 2000 Tahun Cahaya itu judul lagu."


"Oh iya aku ingat, makasih sayang ku..."


"Yaudah kalian berdua makan, Rama kamu hari ini mau ke Game Center kan?"


"Iya bu..."


"Bareng temen kamu?"


"Iya nanti Rama samper."


 Setelah makan, Aku pamit kepada kedua orang tua ku dan kemudian aku menyalakan motor ku untuk pergi ke rumah Ghiffar. Di jalan menuju ke rumah Ghiffar aku menjumpai seorang kucing yang tertabrak, Aku tak tega melihat kucing itu di tengah jalan. Aku memberhentikan motor ku di pinggir jalan, kemudian aku memberhentikan kendaraan sebentar untuk mengambil kucing malang tersebut.


"Malang nya kucing ini, kayanya aku kubur aja dah."


 Setelah itu aku memutuskan untuk mengubur kucing ini di bawah pohon dekat tukang tambal ban. Aku menggali tanah yang akan ku jadikan kubur kucing ini, dan kemudian aku kubur kucing itu di sini. Aku pun melanjutkan perjalanan ku menuju Rumah Ghiffar. Sesampainya di rumah Ghiffar, Aku memanggil Ghiffar dari depan rumah nya. saat kupanggil bukan Ghiffar keluar dari rumah nya, melainkan Ibu nya.


"Ghiffar maen yokk...!!!"


"Eh ada Raji, masuk nak."


"Maaf bu, Ghiffar nya ada?"


"Ghiffar? maaf ya nak Raji Ghiffarnya lagi panas, baru tadi subuh ia berobat maaf ya..."


"Waduh, semoga cepet sembuh ya bu si Ghiffarnya."


"Iya nak Raji."


"Bu, maaf Raji boleh cuci tangan?"


"Emang kenapa?"


"Tadi saya abis nguburin kucing ketabrak..."


"Wah gitu ya, boleh-boleh kamu buka aja keran nya ya ibu mau masuk lagi."


"Makasih ya bu."


(Author : "Kenapa ibu nya Ghiffar juga memanggil Rama dengan sebutan Raji juga? Karena Rama ama Ghiffar kan udah lama kenalnya, bahkan udah sampe orang tua mereka saling tau.")


 Karena Ghiffar sedang sakit, Aku memutuskan untuk langsung pergi menuju Game Center. Aku berpikir bahwa Bambang, Ikhsan, dan Riyan sudah sampai disana dan menunggu ku. Jalanan yang ramai dengan angkutan umum, sangatlah menyebalkan. Terkadang membuat ku kesal, pasalnya angkutan umum sering berhenti di jalur kiri yang lambat saat mengambil/menurun kan penumpang.


 Saat ini aku sedang ada di tengah kemacetan di minggu pagi yang cerah, seperti minggu pagi biasa ibu-ibu pergi ke pasar untuk membeli sayuran dan ada pengendara arogan yang tak tahu aturan yang bisanya hanya marah-marah saja ke pengendara lain yang sebenarnya dia lah yang salah. Negeri ku ini memang lucu, terkadang berkendara tak tahu aturan.


 Setelah melewati kemacetan yang sangat menyebalkan, aku akhirnya sampai Game Center. Aku masuk kedalam, sekali masuk aku harus membayar tiket parkir seharga 4rb. Setelah aku memarkir kan motor ku, aku masuk kedalam Game Center ini. Tak ada tanda-tanda ada teman ku disini, mungkin hari ini aku nikmati sendiri di Game Center ini.


Didalam sini sangat lah dingin, pendingin ruangan ada dimana-mana. Aku terdiam bingung harus bagaimana, melihat tanda area bermainnya. Setelah itu lewat seorang wanita pegawai Game Center, cepat-cepat aku bertanya pada nya untuk menanyakan tempat bermainnya.


"Anu permisi kak..."


"Iya, ada yang bisa dibantu?"


"Kalau tempat bermainnya dimana?"


"Kakak baru ya disini? yaudah kakak tinggal ikutin aja lorong ini nanti kakak bikin kartu untuk bermain."


"Makasih ya kak..."


Setelah bertanya, aku langsung menuju apa yang dikatakan kakak itu. Sangat memalukan saat baru memasuki tempat yang baru. Lorong nya mulai gelap, tapi aku tetap masuk kedalam nya. Saat di ujung lorong, aku sangat terkejut dengan mesin-mesin arcade/Dingdong dimana-mana. kemudian ada seorang pegawai yang menyambut ku.


"Selamat datang kak, kakak pemain baru ya?"


"Iya kebetulan baru nih."


"Silahkan jika Kakak ingin bermain harus membuat kartu dulu."


"Boleh, berapa satu kartu?"


"15 satu kartu. tambah saldo jadi 25 ya..."


"Baik..."


"Kartu nya sudah dibuat, jadi silahkan bersenang-senang."


 Setelah Aku sudah mendapati kartu bermain, Aku ingin menyoba salah satu permainan perkelahian. Saat itu Aku melihat Gadis yang sangat jago bermain permainana perkelahian yang ada di sebelah ku, aku melihat kontrol permainan nya sangat simpel namun ribet. Tanpa basa-basi aku langsung memainkan permainan ini. Karena aku sudah melihat contoh dari permainan Gadis ini, aku jadi mulai paham bagaimana memainan permainan ini.


20 menit kemudian...


 20 menit sudah berlalu, aku sangat ketagihan memainkan permainan ini. Aku sekarang sudah sampai ke stage 10 yang dimana lawan ku semakin sulit. Tombol demi tombol sudah ku tekan, kombo demi kombo aku keluarkan untuk mengalahkan stage 10 ini. Tanpa basa-basi aku kalah melawan musuh stage 10 ini, sangat mengecewakan. Tanpa sadar dibelakang ku sudah ada gadis itu dan orang-orang yang melihat cara permainan ku.


"Bang kamu keren bisa sampe ke stage 10..." Kata seorang bocah.


"Eh keren, emang sesusah itu ya buat ke stage ke 10...?"


"Bukan sekedar keren lagi itu udah kaya pro player."


"Iya bener, kamu jago banget aku aja baru bisa stage 6..." Kata gadis yang ada disebelah ku tadi.


"Gak kok itu cuma beruntung aja aku tadi..."


"Kamu bisa ajarin aku?"


"Eh ajarin kamu?"


"Iya mau kan?"


"Boleh sih, aku jadi semacam pelatih aja ya..."


"Oke..."


20 menit kemudian...


 Gadis ini memang cepat belajar ya, dia sekarang sudah sampai ke stage 10 sama seperti ku tadi. Lawan stage 10 ini memiliki kekuatan api yang bisa keluar dari tanah, itu lah yang membuat ku kalah tadi. Tapi kali ini, stage 10 akhirnya di selesai kan oleh gadis ini. Gadis ini berterima kasih kepada ku, dan Aku jadi merasa tak enak terlalu banyak sanjungan untuk hari ini...