
Evening Becomes Night
Setelah rehat sejenak, waktu menunjukan jam 3 sore. aku pun bergegas mengganti setelan ku dan meminta duit yang ingin ibu berikan kepada ku. Aku keluar menggunakan jaket keren ku dan segera menyiapkan motor. Bensin ku masih banyak, jadi aku tidak perlu membeli bensin lagi sampai besok. Saat motor sudah siap, aku segera menuju kerumah Ghiffar.
Sesampainya aku di depan rumah Ghiffar terlihat bahwa ada Ghiffar yang sedang memanaskan motornya.
"Ghiffar maen yokk.."
"Eh Raji sebentar ya lagi manasin motor."
"Gpp lanjutin aja."
"Oh iya Gip kamu tadi diparkiran sekolah ketemu Bambang dan Ikhsan?"
"Iya emang kenapa Ji?"
"Kamu udah bilangin kan ama mereka?"
"Udah aku bilangin...!"
"Mereka jawab apa?"
"Iya mereka nanti nyusul gitu..."
"Yaudah."
Setelah motornya sudah siap Aku dan Ghiffar segera menuju stasiun untuk berkumpul dan menikmati pemandangan sore hari di stasiun. Jalanan hari ini lumayan padat, karena sore adalah jam-jam orang dewasa pulang dari kantor nya. Walaupun padat dengan kendaraan roda empat Aku dan Ghiffar dapat menyalib semua kendaraan yang ada dijalanan,
Sesampainya kami di stasiun, setelah menghadapi kendaraan roda empat yang pengemudinya ingin cepat-cepat pulang kerumah. Tiba lah kami berdua di stasiun, di area stasiun banyak sekali pedagang kaki lima yang mangkal di depan stasiun. Kami berdua memarkir kan motor kami di area parkir stasiun. Disaat yang sama Riyan datang dengan motor nya.
"Oy Riyan, baru dateng...!" Kata ku.
"Iya nih..."
Setelah kami saling sapa, kami memarkirkan motor kami dan lanjut berkeliling stasiun untuk mencari jajanan yang enak dan murah. Beruntung nya aku membawa uang yang cukup untuk jajan di stasiun. Aku melihat ada pedagang cimol(Aci digemol), basreng(Bakso goreng), Cilok(Aci dicolok)dan masih banyak lagi jajanan disini, bahkan ada es selandang mayang. Karena aku bingung aku memilih untuk memilih untuk membeli Seblak sedang.
Saat aku membeli seblak, Riyan memutuskan untuk membeli telur gulung, da Ghiffar membeli basreng(Bakso goreng) yang tadi kami lihat. Saat kami membeli makanan, Bambang dan Ikhsan baru datang. Aku melihat mereka mengarah ke area perkiran. Karena seblak ku sudah jadi, aku memutuskan untuk menghampiri mereka.
"Oy Bambang, Ikhsan...!!" Sambil melambaikan tangan.
"Oy Ji..!!"
Setelah itu aku menghampiri mereka.
"Lama amat..."
"Maaf tadi Ikhsan lama nih."
"Yaudah kalau begitu kita beli makanan dulu yok, kalian bawa duit kan...?"
"Bawa kalau duit mah tenang aja Ji."
Setelah itu Bambang dan Ikhsan membeli makanan. Aku yang sudah membeli makanan tinggal membeli minuman. Aku melihat pedagang es kelapa, aku jadi ingin meminum es kelapa di sore hari ini. Saat aku ingin membeli es kelapa. Riyan dan Ghiffar mendatangi ku dengan makanan dan minuman yang mereka beli disini.
"Mau beli apa lagi Ram...?"
"Ini mau beli es kelapa, nanti makan nya di tangga aja biar melihat pemandangan dari atas, kalau kalian mau duluan silahkan..."
Setelah aku berkata seperti itu, aku membeli es kelapa dan segera menuju tangga yang dimana mereka sudah menunggu ku. Ditangga ini aku melihat pemandangan yang luar biasa dari kota kecil ku ini. Terlihat dari bawah Bambang dan Ikhsan yang baru membeli makanan berteriak pada kami.
"Oy...!! Mau makan dimana..?"
"Disini aja, buruan angin nya lagi enak nih...!!" Kata ku dari atas meneriaki mereka yang ada dibawah.
Setelah kami sudah berkumpul, kami keluarkan makanan dan minuman yang kami beli. Kami menikmati angin yang sejuk dan melihat pemandangan kota kecil ku dari stasiun. Aku mencicipi seblak panas yang kubeli tadi, untung saja seblak nya murah dan banyak. Setelah nya kami saling mencicipi makanan masing-masing, seperti Riyan dengan telur gulung nya dan Ghiffar yang membeli basreng (Bakso goreng).
Setelah itu kami saling bercerita tentang kehidupan masing-masing, walaupun aku berempat sudah saling mengenal. Karena Riyan baru menjadi teman kami, kami mau tau lebih dalam tentang kehidupan nya tapi tidak dengan masalah-masalah yang kehidupannya hadapi. Kami hanya mengambil kehidupan yang lucu dan tak dapat dilupakan masing-masing dari kami.
Aku tahu mungkin Riyan berpikir bahwa dia orang baru jadi dia hanya sedikit bicara saat bertemu dengan teman-teman ku, tapi aku ingin ia bisa beradaptasi dengan teman-teman ku. Karena sebab itu aku mengumpulkan teman-teman ku di stasiun ini untuk bercerita tentang masing-masing. Walaupun bercerita tentang masing-masing, aku tidak akan menceritakan kejadian ku tadi siang.
Bercerita tentang kehidupan masing-masing memang sangat seru sekali, sampai-sampai matahari mulai tergelincir ke barat itu tanda nya bahwa kami harus pulang. Dari perbincangan yang kami lakukan aku mendapatkan informasi yang sangat mengejutkan tentang Ghiffar yang sebelum nya kami belum ketahui. Ghiffar ternyata seorang Wibu...!!!
Ini sangat mengejutkan kami sebagai teman lamanya, Aku tidak melihat tanda-tanda kewibuan yang ada pada Ghiffar. Yang selama ini aku lihat, Ghiffar anak yang rajin dan suka bermain diluar bersama kami. Karena menjadi seorang wibu identik suka didalam rumah dan suka karakter yang tidak nyata. Mereka selalu berkhayal Waifu nya(Istri khayalan nya) menjadi nyata, salah satu cara mewujudkannya dengan mendatangi event cosplay.
"Gip kita kaget loh pas kau bilang menjadi wibu..."
"Emang salah ya jadi wibu...?"
"Gak salah, tapi yang bener aja..." Kata ku
"Bener tuh kau kan anak alim dan sering main sama kita keluar..." Kata Bambang
"Bukannya biasa aja yah jadi wibu, aku juga lumayan suka liat anime..." Kata Riyan
"Emang sebagus itu yah anime itu, sampai ada orang yang nikahin karakter nya katanya..." Kata ku
"Iya artikel nya pernah ku baca tuh, ih segila itu yah dunia..." Kata Ikhsan
Membahas tentang wibu memang memakan waktu yang panjang, sampai-sampai kami lupa waktu. Matahari sudah mulai redup, ini saat nya kami pulang kerumah masing-masing. Kami mengeluarkan motor-motor kami dari parkiran dan segera keluar area stasiun. Sebelum pulang aku teringat pesan ibu yang ingin dibelikan Es Cendol, Aku segera mencari pedagang cendol langganan Ayah di sini.
Setelah berkeliling area pedangan akhir nya aku menemukan nya, Aku langsung membelinya untuk ibu. Beruntung uang yang diberikan ibu cukup untuk membeli 3 cendol, Aku juga membelikan cendol untuk ku dan ayah. Hari ini Aku pulang tanpa tangan kosong, Aku segera menyalakan motor ku dan langsung pergi pulang. Hari mulai gelap, Aku takut ibu memarahi ku jika tidak pulang sebelum malam.
Aku dengan rasa takut mengebut dengan sangat kencang, melaju seperti angin. Bahkan aku sudah bersebelahan dengan kereta yang ada disamping ku. Dengan rasa takut akan di marahi ibu, tak terasa aku sudah sampai di depan rumah. Akhirnya rasa takut ku kepada ibu membuat ku melaju dengan sangat cepat, Tanpa sadar aku telah menghabiskan bensin yang tersisa...