
PART SPESIAL...
Demam?
Setelah mendapatkan mimpi yang sangat indah tadi malam, pagi ini malah hujan lebat yang membuat ku tak mau meninggalkan kasur karena sangking dingin nya hujan di luar. Tapi ibu berkata lain, ia sudah siap menyiram ku dengan gayung di tangan nya itu. Lalu aku terpaksa mandi dan memakai seragam, tapi sungguh pagi ini sangat dingin. Setelah itu sarapan sudah di buat, namun aku masih merasa kedinginan.
Setelah sarapan aku hendak berjalanan menuju pintu untuk mengambil sepatu ku, tiba-tiba aku ambruk karena pusing tak terhingga. Aku tak sadarkan diri di depan pintu, beruntung Ayah masih belum berangkat. Ia langsung mengangkat ku ke atas sofa, tak berdaya dan juga kepala yang berputar-putar aku tak bisa apa-apa. Ibu langsung memberi ku air hangat, Ibu ingin menelpon puskesmas terdekat.
Namun ia ingat, bahwa puskesmas buka jam 7. Jadi untuk sementara waktu, hanya ibu lah ynag bisa merawat ku.
"Nak! Kamu ini kenapa sih, sampe ambruk segala..."ucap Ibu sambil mengusap dahi ku, untuk mengecek suhu tubuh ku.
"Aku... Pusi..ng bu."kataku dengan susah payah karena tenggorokanku terasa sakit.
"Wah ini panas banget nak, aduh puskesmas belum buka lagi." ucap ibu panik setelah memegang dahi ku.
Ibu memahami keadaanku ini dan langsung mencoba memberikan perawatan sementara sambil menunggu waktu buka nya puskesmas. Ia membawa kain basah dan meletakkannya di dahi ku untuk meredakan demamku. Ia juga memberiku minuman lemon bercampur madu untuk membantu meredakan sakit tenggorokan.
"Kamu jangan banyak gerak, Nak. Biarkan Ibu yang merawatmu sekarang," ujar Ibu dengan penuh perhatian.
Aku merasa bersyukur memiliki Ibu yang begitu perhatian dan peduli, ia adalah ibu yang terbaik aku jadi ingin berterima kasih kepadanya. Meskipun aku merasa tak berdaya dan tak enak badan, kehadiran Ibu memberiku sedikit kenyamanan dan kehangatan. Ia duduk di sampingku, memegang tanganku dengan lembut, dan sesekali menyeka keringat yang menetes di dahiku.
"Nak, kamu hari ini di rumah aja ya." Ucap ibu sambil memegang telepon rumah.
"Iya, bu..."
Seiring berjalannya waktu, aku merasa agak lebih baik. Demamku yang awalnya sangat panas, sekarang mulai mereda dan pusingku yang tadi membuat ku berputar-putar juga sudah berkurang. Meskipun belum sepenuhnya pulih, aku merasa sedikit lega karena ada Ibu yang selalu ada di sisiku. Pada waktu yang sama, jam menunjuk kan waktu puskesmas beroperasi.
Ibu langsung menanyakan ku mau pergi ke puskesmas atau memanggil dokter saja ke rumah, lalu ku jawab.
"Nak, kamu bisa berdiri nggak? Kalau bisa kita pergi ke puskesmas. Kalau tidak ibu akan menelpon dokternya."
"Maaf bu, Ibu panggil saja dokter ke rumah. Aku merasa belum cukup kuat untuk keluar," kataku dengan suara lemah.
Ibu mengangguk mengerti dan segera menghubungi dokter. Sementara menunggu kedatangan dokter, Ibu terus merawatku dengan penuh perhatian. Kemudian untuk membuat ku semakin nyaman, ibu membawa ku ke kamar ku untuk istirahat yang cukup. Tak lama kemudian, dokter datang ke rumah. Ibu mengantar dokter ke kamarku, dan ia segera memeriksa kondisiku dengan cermat.
"Demamnya cukup tinggi ya bu, tapi jangan khawatir. Ini hanya flu biasa," kata dokter dengan penuh perhatian.
"Anak ibu butuh istirahat yang cukup dan cukup banyak minum. Jangan lupa minum obat-obatan ini sesuai dosis yang ditentukan."
Setelah memberikan perawatan yang diperlukan, dokter memberiku resep obat dan pesan untuk tetap menghubungi jika ada perubahan kondisi.
"Terima kasih, Dokter," ucap Ibu dengan tulus. "Kami akan mengikuti petunjuk Anda."
"Demi kesembuhan anak, Bu. Pastikan dia cukup istirahat dan cukup minum," pesan dokter sebelum meninggalkan rumah.
Setelah dokter pergi, Ibu kembali merawatku dengan penuh perhatian. Ia membawakan buah yang ada di lemari es untuk membantu memulihkan kekuatanku. Aku merasa terharu dengan cinta dan perhatian Ibu yang selalu hadir dalam setiap momen berat dan bahagia dalam hidupku. Setelah meminum obat yang di berikan dokter, ibu menyuruh ku untuk istirahat.
Cemas
Waktu pelajaran pertama sudah dimulai, murid-murid memasuki ruangan kelas nya masing-masing. Didalam kelas yang sudah ramai, terdapat Gita yang bingung hari ini. Ia bingung dimana keberadaan Rama, lalu ia bertanya pada Riyan yang sedang mengobrol dengan teman sekelas.
"Aduh Rama dimana sih? Dia telat kah? Atau dia sakit ya..." Ucap Gita dengan perasaan cemas dan khawatir terhadap Rama.
"Riyan, Kamu liat Rama pagi ini?" Tanya Gita kepada Riyan
"Eh Gita, Aku belum liat Rama pagi ini? Tapi ia juga ya dia telat kah?" Jawab Riyan
"Aku juga nggak tau..."
"Gita, jangan terlalu cemas. Mungkin Rama ada urusan mendadak atau telat datang," kata Riyan mencoba menenangkan Gita.
Waktu terus berjalan, namun Rama belum juga muncul di kelas. Gita semakin cemas dan khawatir tentang keadaan kekasih hati nya itu. Hujan masih menyelimuti daerah sekolah, dan suasana hati Gita semakin gundah gulana karena kekhawatiran atas keberadaan Rama. Ia terus menunggu kehadiran Rama, dengan sabar dan tetap berharap Rama datang.
Namun, rasa cemas Gita tak dapat dihilangkan begitu saja. Ia merasa ada yang tidak beres terhadap kekasih hati nya itu dan merasa perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rama. Saat waktu pelajaran sedang berlangsung, Gita terus memantau pintu kelas, berharap melihat Rama masuk ke sekolah hari ini. Ntah kenapa, ia sangat takut kesepian.
Beberapa menit berlalu, akhirnya guru mereka masuk ke dalam kelas. Wajahnya tampak serius, dan Gita mulai merasa gelisah. Guru itu kemudian menyampaikan bahwa Rama sedang sakit dan tidak dapat hadir di sekolah hari ini. Ia memberitahukan bahwa Rama tengah beristirahat di rumah dan berharap agar semua teman-teman sekelasnya mendoakan kesembuhannya.
Mendengar kabar itu, Gita merasa semakin khawatir dan berharap Rama akan segera pulih. Ia ingin segera menjenguk kekasih hati nya itu setelah pulang sekolah. hawa dingin terus menyelimuti, hujan masih terus mengguyur daerah sekolah hingga siang hari. Waktu pulang sekolah akhirnya tiba, Gita langsung bergegas menuju ke rumah Rama diantar supir pribadi nya itu.
"Eh nak Gita, kamu mau jenguk Rama ya?"
"Iya bu, jadi gimana keadaan Rama sekarang Bu?" tanya Gita mencemaskan Rama.
"Awalnya Dia panas, tapi sekarang Dia sedang istirahat di kamar nya. Kalau mau kamu ke atas aja ke kamar nya, nak Gita." Ucap Ibu Rama.
"Apakah boleh bu?"
"Iya!"
Kemudian ia langsung masuk kekamar Rama, didalam kamar Rama yang sedang berselimut diri terkejut kehadiran Gita yang datang ke kamar nya. Rama yang masih terbaring di tempat tidur dengan wajah yang sedikit pucat tersenyum melihat kehadiran Gita. "Hai, Gita. Aku masih merasa agak lemas, jadi aku mohon maaf karena tidak masuk hari ini. Pasti kamu cemas ya karena aku tidak datang hari ini?"
Gita mengambil duduk di samping tempat tidur Rama, "Rama... Kenapa sih kamu buat aku cemas, aku takut kamu kenapa-napa tadi. Janji ama aku, kalau kamu gak bakal buat aku cemas lagi?"
"Iya, aku janji."
"Kamu harus benar-benar istirahat dengan baik, Rama. Jangan terlalu banyak beraktivitas ya, biar cepat sembuh."
Kemudian, ibu Rama datang kekamar untuk mengajak Gita turun kebawah sebentar. Setelah berbincang dengan Ibu Rama sejenak, Gita dan Ibu Rama memutuskan untuk membuatkan Rama makanan yang lezat untuk membantu memulihkan kondisinya. Mereka berdua pun turun ke dapur, dan Ibu Rama dengan penuh kasih mengajari Gita cara memasak makanan kesukaan Rama.
Gita merasa senang bisa belajar memasak bersama Ibu Rama. Ia dengan cermat mengikuti setiap langkah dan petunjuk yang diberikan. Mereka berdua berbincang dan tertawa bersama di dapur, menciptakan momen kebersamaan yang hangat dan menyenangkan. Setelah memasak bersama, akhirnya makanan yang lezat sudah siap.
Mereka menyajikan masakan itu dengan cantik di atas piring, dan Ibu Rama memandu Gita untuk membawa makanan tersebut ke kamar Rama. Gita membawa dengan hati-hati piring yang berisi masakan kesukaan Rama. Hatinya campur aduk, cemas namun juga bahagia karena bisa menjenguk dan menyajikan makanan untuk Rama. Ketika tiba di kamar Rama, wajahnya tersenyum lembut saat melihat Rama yang terbaring di tempat tidur.
"Rama. Aku bawa masakan kesukaanmu," ujar Gita dengan penuh kehangatan.
Rama tersenyum senang melihat Gita, "Terima kasih, Gita. Kamu sangat baik sekali."
"Dah ya, ibu mau kebawah mau lanjutin kerjaan dulu."
"Iya bu."
Gita duduk di samping tempat tidur Rama dan meletakkan piring di atas meja kecil. Ia membantu Rama untuk duduk, kemudian dengan penuh kelembutan, Gita menyajikan makanan tersebut dan memberikannya pada Rama.
"Supaya kamu merasa baikan, aku akan suapi kamu ya..."
"Eh jangan Git, aku bisa kok!"
"Gak papa, udah cepet buka mulut kamu."
Rama akhirnya mengikuti permintaan Gita dengan tertawa. Gita dengan penuh perhatian dan kasih sayang, sukses menyajikan makanan itu kepada Rama satu suapan demi suapan. Rama merasa sangat terharu dan bahagia, merasa beruntung memiliki wanita seperti Gita yang begitu peduli dan perhatian.
"Makasih ya, Gita. Kamu memang wanita yang terbaik di dunia ini." ucap Rama dengan senyum tulus.
Gita merasa senang bisa membantu Rama merasa lebih baik. Ia pun tertawa gembira dan menjawab, "Tentu saja! Aku akan selalu ada untukmu, Rama."
Mereka berdua kemudian melanjutkan hal itu dengan ceria. Gita terus menghibur Rama dan menciptakan suasana yang penuh keceriaan meskipun Rama masih dalam kondisi yang lemas. Momen ini memberikan kekuatan bagi Rama untuk sembuh dengan cepat. Rama memakannya dengan lahap masakan buatan Gita itu, sampai habis tak tersisa.
Setelah selesai makan, Gita menemani Rama sebentar sebelum ia pulang. Gita mengobrol santai dan menemani Rama selama beberapa waktu. Mereka berbicara tentang berbagai hal, dari pekerjaan rumah hari ini, catatan apa yang harus di tulis, dan lainnya. Tapi obrolan yang ingin Rama tanyakan, apakah ia juga bermimpi sama dengan nya tadi malam.
Namun saat, ingin membahas nya Ibu Rama masuk kekamar dan menyampaikan bahwa hari mulai sore dan sang supir pun sudah lelah menunggu di luar.
"Eh Git, kamu mimpi itu juga ga.." Ucap Ku, namun tak bisa dilanjut karena Ibu masuk memotong percakapanku.
"Nak Gita, ini udah sore loh. Supir kamu udah bosan di luar tuh, sebaiknya kamu pulang sebelum di carikan Papah mu." Ucap ibu yang masuk memotong percakapan ku.
"Oh iya, bu terima kasih ya udah izin kan saya buat masak tadi."
"Iya sama-sama, kalau kamu mau terus belajar masak pun kamu boleh dateng kapan aja."
"Makasih bu, Rama aku pulang dulu ya."
"Iya, Git. Hati-hati ya," Kata ku kepada Gita yang ingin pulang.
"Yuk nak ibu antar ke depan."
Setelah itu ia pulang kerumah nya, Gita pulang dengan perasaan tenang setelah menjenguk ku. Sakit ku juga mulai terasa terobati, namun rasa kesepian mulai terasa lagi. Setelah Gita pulang, rasa nya aku hanya bisa tiduran di kasur seharian ini.