Keep Silent And You Got It

Keep Silent And You Got It
Part 2 - Radio Tua




Ilustrasi dari motor Rama. Gambar ada di (Pinterest)


Keharmonisan


 Hai nama ku Rama seorang pemuda biasa dari keluarga yang biasa. Aku terbangun dari mimpi ku yang indah setelah ibu membangunkan ku, padahal itu saat-saat yang sangat spesial. Putri Utara mencium bibir ku, Aku belum sempat merasakan bibirnya itu aku sudah terbangun payah sekali. Tapi tak apa, Aku sudah terbiasa dengan ibuku itu.


 Untung saja ibu membangunkan ku, kalau tidak aku bisa - bisa tertinggal di hari pertama ku sekolah. Aku cepat - cepat mandi dan memakai seragam khusus sekolah itu, memang aku ini anak yang biasa saja, namun aku bisa masuk ke sekolah ini tanpa uang apapun.


Aku sangat bangga dengan otak ku ini. Setelah memakai seragam, aku turun kebawah untuk sarapan bersama. Ayah masih seperti dulu menyetel Radio tua nya dan mendengarkan frekuensi musik RY6.09 di radio nya itu.


"Selamat pagi ayah."


"Pagi nak, apakah kamu udah siap di hari pertama masuk sekolah?"


"Ya begitulah, ayah masih seperti dulu mendengar radio tua itu."


"Etss.. jangan menyebutnya radio tua nak, radio ini sudah ada sejak ayah mu ini masih kecil."


"Iya mari makan dan kita lupakan cerita yang kau sering ucapkan." kata ibu


"Jangan begitu lah sayang, berkat radio ini kita kan bisa menjadi suami istri."


Keluarga ku sangat lah harmonis, mereka adalah orang tua terbaik yang kumiliki. Terlepas dari penghasilan ayah ku yang seorang montir, Keluarga ku bisa merasa cukup setiap hari.


"Nak mungkin kau sudah saat nya mengendarai motor ayah yang lama itu nak."


"Apakah ayah serius?"


"Ya begitulah, cepat makan kau akan terlambat ke sekolah jika kita hanya bercerita saja."


"Baik ayah, terimakasih."


Setelah aku sudah sarapan, Aku segera berangkat ke sekolah baru ku.


"Nak nanti kalau sudah pakai motor nya, taruh kunci nya di belakang pintu, oh iya motor nya sudah ayah panaskan dari tadi, kamu tinggal berangkat saja."


"Baiklah Ayah."


Kemudian aku salim kepada kedua orang tua ku, setelah aku salim kepada kedua orang tua ku. Dengan memakai motor tua ayah aku berangkat menuju ke sekolah.


Disekolah...


 Nama sekolah ku adalah SMA Al Jabar 2, Sekolah keren yang diisi orang-orang keren. Aku masuk jurusan IPS karena tidak mau pusing - pusing dengan fisika dan apalah itu.


Disekolah teman-temanku memanggilku Razi, karena aku memiliki ide-ide diluar nalar jika berkumpul dengan teman-teman. Julukan tersebut sangat jauh dari nama asli ku, Yaitu Rama Alfarizi.


Walau pun aku mendapatkan nama julukan Razi, tapi aku sangat senang dengan panggilan itu karena panggilan tersebut dari teman-teman ku yang senantiasa menemani ku.


 Saat ini aku sedang berada diparkiran, ternyata ada sahabat ku yang menemani ku dari SMP, Ia bernama Ghiffar.


"Yo ji apa kabar...?"


"Baik gip, tempat penyambutannya dimana?"


"Katanya sih di lapangan sekolah ini."


"Mendingan kita sama-sama saja."


 Aku dan Ghiffar bersama-sama menuju lapangan untuk menghadiri penyambutan siswa baru di sekolah ini. Aku dan Ghiffar bertemu dengan Bambang dan Ikhsan yang sudah ada didalam. Mereka berdua juga teman ku sejak SMP. Mereka merupakan kedua anak pintar, bahkan mereka pernah menjuarai perlombaan matematika. Mereka berdua menempati posisi kedua dan ketiga.


 Posisi kesatu di tempati oleh perempuan dari sekolah lain yang saat itu sangatlah pintar dan cerdik dalam menjawab pertanyaan matematika dari juri. Ia langsung menjawab tanpa banyak berpikir lama, sangking hebat nya orang ini IQ nya mencapai 137 Itu adalah angka yang sangat hebat bagi anak SMP. Dia adalah musuh tersulit yang tidak mungkin dikalahkan dengan mudah.


 Sayang nya aku lupa siapa namanya, namun aku masih ingat dengan muka dan suara nya. Ia adalah wanita yang sangat sempurna ciptaan tuhan. Mirip seperti model papan atas, Aku ingin bertemu dengan nya walau sekedar saling berkenalan dan menyapa.


Keajaiban


 Saat ini kami sedang berada di lapangan bersama anak-anak baru yang lain. Pak kepala sekolah menyambut kami dengan dengan pidato singkat dan dilanjut dengan perkenalan guru yang akan mengajar kami kedepannya. Hari ini ada pertunjukan dari ekskul panjat tebing dan sispala, mereka melakukan aksi berbahaya yaitu ingin meluncur dari menara paling tinggi di sekolah ini menuju tiang yang sudah disediakan.


 Dua orang di persiapkan untuk naik ke atas menara itu dan memakai peralatan lengkap. Mereka di pantau langsung oleh pembina mereka agar sesuai rencana dan seperti apa yang mereka sudah latih. Setelah kedua orang itu sudah sampai di atas menara tinggi. Mereka menyiapkan sesuatu di tas yang mereka bawa, ternyata sebuah bendera. Mereka mengkaitkan pengaman ke tali yang sudah di siapkan untuk meluncur.


 Kedua orang itu pun meluncur satu persatu dan mengibarkan bendera masing-masing yang mereka bawa. Orang pertama membawa bendera lambang sekolah yang sangat lebar, saat di pertengahan orang pertama mengisyaratkan kepada orang kedua bahwa itu giliran nya. Orang kedua pun segera meluncurkan setelah isyarat orang pertama.


Saat orang kedua sedang di tengah jalan, sebuah keajaiban datang dari orang kedua itu.


Disaat ia ingin mengibarkan bendera negara, celana yang ia pakai melorot di tengah jalan membuat celana yang ia pakai hampir terjatuh.


Kejadian tersebut di saksikan oleh seluruh siswa dan guru, Kepala pembina ekskul mereka merasa malu dan memalingkan wajahnya dari kejadian itu. Pak kepala sekolah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat orang kedua itu meluncur dengan celana melorot.


Seluruh murid tertawa dan bertepuk tangan dengan aksi orang kedua itu, sangat memalukan.


Beberapa saat berlalu, setelah kejadian itu ia turun dan mengurung diri di sebuah kelas. Sudah saatnya pembagian kelas oleh Bapak Ketua di bidang Kurikulum. Bapak di bidang kurikulum membagi kedalam 8 kelas, 2 Kelasan IPS, 2 Kelasan MIPA, 2 Kelasan Multimedia, dan 2 Kelasan TKJ.


Karena aku dan Ghiffar memilih Jurusan IPS, maka kami berpisah dengan Bambang dan ikhsan yang memilih jurusan MIPA. Keberuntungan sedang tidak bersama ku hari ini, Aku tidak satu kelas dengan Ghiffar. Aku berada di IPS 2 dan Ghiffar berada di IPS 1.


Tak apa beda kelas bukan berarti tidak akan bertemu. Wali kelas ku adalah seorang Guru wanita, nampak jelas bahwa guru tersebut seorang wanita yang murah senyum.


Nampak nya tidak sepenuhnya keberuntungan ku menghilang, kelasan ku kebanyakan seorang perempuan dan aku menjadi 1 dari 18 siswa dari 48 murid di kelas.


Aku dan Kelasan ku menuju ruang kelas yang dipimpin oleh wali kelas kami.


Perkenalan


Saat ini Aku dan Kelasan ku sudah memasuki ruang kelas baru kami. Wali kelas kami duduk di bangku guru dan memperkenalkan diri nya.


"Selamat pagi anak-anak.."


Semuanya


"Selamat pagi Bu.."


"Seperti yang ibu ucapkan di lapangan, Ibu ulangi perkenalan pagi ini, Nama ibu adalah Chintya Sari, Ibu mengajar di pelajaran matematika, dan kalian bisa memanggil ibu Sari atau Bu cinta."


"Baik Bu..!!"


Kemudian seluruh Murid memperkenalkan diri masing-masing. Hingga giliran diriku tiba, aku menyebutkan nama ku dengan lancar dan Tanpa terbata-bata.


Saat aku menyebutkan namaku, aku menjadi salfok melihat perempuan yang tak mencolok bagi yang lain namun mencolok bagi ku, seorang wanita yang menggunakan kacamata dan memakai masker. Ia sangat berbeda dari Perempuan Kelasan ku lainnya, Seperti nya ia belum memperkenalkan dirinya.


Mencolok Namun Tak Terlihat...


Setelah aku memperkenalkan diriku, tiba lah saatnya perempuan itu memperkenalkan dirinya.


"Nak silahkan buka masker mu agar teman teman mu bisa mengingat wajah mu." Kata Bu Cinta


Saat Ia membuka masker nya tiba tiba...