
Pekerjaan Dan CInta
Di minggu pagi, telepon rumah ku berbunyi. Ibu menjawab panggilan itu dan ternyata itu dari Gita. Kemudian Ibu membangun kan ku yang masih tidur. Mulai dari hari dimana Gita mampir ke rumah ku, aku menjadi seorang asisten pribadi. Ibu mengatakan bahwa mobil Gita akan menjemput ku di depan gang rumah ku. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan terhadap keluarga Gita.
Kringg... Kringg...
(Ibu menjawab telepon)
"Hallo..."
"Hallo, Selamat pagi ini Mamah Rama ya...?"
"Iya, ini siapa ya?"
"Ini saya Gita bu."
"Oh, nak Gita ada apa pagi-pagi nelepon? kangen ama Rama?"
"Ah Ibu jangan gitu dong, tapi Rama nya ada?"
"Anak itu masih tidur, emang kenapa nak ada yang bisa ibu sampaiin?"
"Ini bu, kalau Rama udah bangun bilangin aku mau jemput dia 2 jam lagi di depan gang ya bu terima kasih..."
"Cuma gitu doang? gak ada kata-kata sayang nya?"
"Bu tolong dong aku malu nih kalau ibu bilang kaya gitu terus."
"Iya, iya ibu tutup ya telepon nya..."
"Iya bu permisi."
Setelah mendapatkan telepon dari Gita, ibu langsung masuk ke kamar ku tanpa basa-basi mendobrak pintu sampai aku terbangun karena kaget.
Brakkk....
"Bangun bujang..."
Dengan keadaan setengah sadar aku menjawab.
"Apa sih bu, ini kan hari libur Rama pengen tidur lagi."
"Gita tadi nelpon, katanya mau jemput kamu 1 jam lagi."
"APA!!!"
Yang awalnya aku masih setengah sadar, aku langsung bangun dari tempat tidur ku.
"Ibu serius...?"
"Iya, cepetan beresin kamar terus mandi, ibu mau bikin sarapan dulu."
"Oke."
(Author:"Padahal 2 jam lagi, emang kebiasaan ibu-ibu...")
Setelah membereskan kamar dan juga mandi aku langsung ke dapur menemui ibu untuk menanyakan apa yang sebenarnya Gita katakan di telepon.
"Bu..!"
"Kenapa nak?"
"Sebenernya tadi Gita bilang apa ke ibu?"
"Ya kaya yang ibu bilang ntar Gita pengen jemput kamu."
"Gak ada yang lain?"
"Ihh bujang ibu udah mulai ada main nih..."
"Ah ibu mah jangan gitu dong."
"Jangan gitu apa? emang Gita cuma bilang gitu ama ibu."
"Yaudah..."
Setelah itu aku menonton televisi, sembari menunggu sarapan di buat. Saat aku menonton televisi, Ayah datang dengan muka baru bangun nya keluar dari kamar.
"Selamat pagi Ayah...!"
"Pagi nak, tumben kamu bangun cepat di hari libur seperti ini..."
"1 jam lagi Gita akan menjemput aku."
Muka yang awalnya lemas menjadi serius setelah mendengar perkataan ku.
"Eh serius?"
"Iya kata ibu..."
"Sayang emang benar adanya?"
"Yaudah, hati-hati ya itu putri kesayangan sahabat ayah jangan buat ayah malu."
Setelah menunggu sarapan, akhirnya sarapan pun jadi. Ibu menyuruh kami untuk segera makan...
*********
Setelah selesai sarapan, ayah yang libur hari ini segera pergi keluar rumah untuk mengecek motor nya. Aku membantu ibu menaruh piring ke wastafel. Saat aku di wastafel, aku teringat perkataan ibu bahwa Gita akan menjemput ku 1 jam lagi. Aku segera memakai sepatu ku untuk pergi keluar, lalu ibu meneriaki ku bahwa Gita bukan menjemput ku 1 jam lagi, melainkan 2 jam lagi.
"Ih ini udah jam berapa, wah Gita udah nungguin ini."
Pergi ke depan pintu...
"Eh mau kemana Rama.!!!"
"Kan GIta mau jemput aku kan bu?"
"Ih Ibu tadi boongin kamu supaya cepet bangun, sebenernya Gita jemput kamu 2 jam lagi."
"Ih ibu mah, kalau tadi ibu bilang 2 jam lagi kan Rama bisa tidur lagi."
"Nah itu yang ibu gak mau liat, udah nonton TV dulu nanti masih satu setengah jam lagi."
"Yaudah."
Satu setengah jam berlalu...
Satu setengah jam berlalu, Gita sudah menunggu ku di depan gang dekat rumah ku. Aku bergegas memakai sepatu dan juga pamit dengan kedua orang tua ku. Di depan gang rumah ku, sudah terlihat mobil putih di depan gang ku. Aku berpikir itu mobil nya, aku menghampiri mobil tersebut. Tiba-tiba, seorang wanita cantik membuka jendela dan juga melambai ke arah ku.
Aku tak mengenal wajah wanita itu, apakah itu Gita? Itulah pertanyaan pertama di pikiran ku. Saat aku sudah ada di dekat mobil, Sang sopir membuka kan pintu mobilnya untuk ku, aku di suruh duduk bersama wanita itu. Apakah benar aku di suruh duduk disini? Pikir ku. Tanpa basa-basi wanita itu menarik ku kedalam mobil lalu pintu mobil pun di tutup oleh sang supir.
"Selamat datang asisten pribadi, sudah saat nya kamu menyiapkan mental mu karena kamu sebentar lagi menemui banyak orang."
"Gita sebenernya aku ini asisten pribadi keluarga mu atau asisten pribadi kamu?"
"Papah sengaja mengatakan keluarga ku agar kamu selalu menjaga ku, dan juga papah juga sudah mengetahui hubungan kita. Lagi pula keluarga ku tidak butuh asisten lagi karena sudah banyak asisten pembantu."
"Jadi Gita kita mau kemana nih?"
"Udah kamu santai aja, kamu akan menjadi orang penting mulai saat ini."
Setelah itu Gita membawa ku ke sebuah gedung, di depan gedung itu sudah banyak wartawan membawa camera dan mic dari berbagai televisi. Tangan ku bergemetar, tapi saat itu Gita melihat tangan ku ia langsung menggenggamnya dan berkata bahwa ini semua kan berjalan lancar.
"Gmtttrrrr... Gmmtttrrr... "
Suara gigi ku yang bergemetar...
Kemudian Gita melihat tangan ku yang bergetar ini dan menggenggamnya.
"Udah jangan takut ini semua akan berjalan lancar, kamu tenangin diri dulu ya."
"Apakah kamu bisa sesantai ini Gita?"
"Aku sudah terbiasa seperti ini di hidup ku, yang tak biasa adalah bisa bersama mu saat ini."
"Sekarang kau membuat ku semakin bergemetar..."
"Maaf, udah pegang saja tangan ku ini."
"Oh iya sebelum nya kamu pake sarung tangan ini ya."
"Emang kenapa?"
"Udah pakai aja."
Setelah itu sang supir membuka kan pintu untuk kami berdua, saat itu karpet spesial sudah di sediakan di depan gedung. Di depan pintu sudah menunggu penjaga dan para wartawan. Gita turun terlebih dulu dan di susul diriku,
Aku berjalan di belakang Gita, di kiri-kanan kami di kelilingi penjaga dan tentunya para wartawan. Tiba-tiba dari balik wartawan ada seseorang yang melempar bunga kepada Gita dan ada sebuah secarik kertas yang ia ikat dengan tali.
Bunga itu terlempar hampir mengenai Gita, tapi beruntung aku segera menangkap nya. Aku memegang nya sampai kami masuk ke dalam gedung, didalam tak kalah ramai dari luar gedung. Kami langsung di bawa ke lift, untuk naik ke tempat yang di tuju.
Tempat yang di tuju...
Kami saat ini sudah berada di studio shooting, kami di bawa ke ruang belakang untuk mempersiapkan Gita yang akan tampil sebagai bintang tamu spesial di acara ini.
Aku dan Gita saat ini sudah berada di ruang belakang, Gita di sambut dengan artis-artis lainnya dan seorang pria berjas rapih, seperti nya ia adalah manajer Gita. Nampak muka Gita sangat membenci orang itu, memang sih aku merasa orang ini hanya mementingkan uang dan dirinya sendiri dan tidak mengkhawatirkan kesehatan mental dan fisik Gita.
Tiba-tiba pria itu mengambil bunga lalu memberikan nya kepada Gita dan berkata.
"Selamat kembali lagi tuan putri..."
"Jadi, apa yang kamu jika aku kembali hah?"
"Maaf, tapi para fans menunggu mu kembali."
"Fans yang mana, atau dompet mu yang menunggu ku kembali?"
Pria itu terdiam dan berbalik pergi, terdengar di disaat dia pergi ia berkata.
"Dasar murahan..."